Alexa dan Brayn masuk ke dalam mobil. Dengan cepat Brayn langsung membawa mobilnya pergi dari area itu.
"Makasih ya," ucap Alexa tiba-tiba.
"Jangan makasih, gue ngelakuin ini semua karena mama. Mama yang nyuruh gue dan maksa gue buat jemput lo dan cari desainer untuk baju pernikahan kita. Lo gak perlu kepedean, karena gue gak suka sama lo. Tadi itu gue lakuin karena gue gak mau harga diri gue hancur hanya karena orang yang bakalan jadi istri gue dianiayai sama mantan pacarnya yang gak bisa move on. So, jangan kepedean, lo," Brayn langsung dengan cepat menjelaskan tujuannya pada Alexa, agar Alexa tak kepedean.
Alexa menahan senyumnya. Menurut Alexa, Brayn ini benar-benar sangat imut sekali.
"Iya, mas. I love you too," balas Alexa dengan senyum senangnya.
Brayn menoleh ke arah Alexa, menyaksikan wajah girang Alexa yang menurutnya aneh, "Lo emang benar-benar cewek teraneh dan tersinting yang pernah gue lihat," ucapnya kemudian.
"Iya sayang, aku juga cinta kamu kok," balas Alexa tak tahu malu.
Brayn mendengus kesal. Dia benar-benar tak habis pikir dengan keanehan Alexa. Agar tak emosi, Brayn langsung mengalihkan pandangannya, Brayn melihat ke arah depan, dia fokus pada jalanan saja.
*****
"Mas-"
"Brayn! No mas!" Baru saja Alexa ingin bicara pada Brayn, tapi masih dalam sesi memanggilnya saja Brayn sudah membentaknya.
"Kenapa sih? Aku mau panggil kamu mas loh. Kok kamu marah-marah aja? Aneh kamu ya," Alexa mendengus kesal saat Brayn membentaknya tadi.
"Uda gue bilang berkali-kali sama lo, gue bukan kakak lo. So, jangan panggil gue dengan sebutan mas lo itu," Brayn berucap dengan tegas.
"Mas-mas, mas apaan? Mas 24 karat? Mas Paijo? Mas--alalu? Heboh banget pake panggil gue mas-mas segala. Ogah gue dipanggil mas sama lo," tidak berhenti begitu saja, seorang Brayn tak akan puas berbicara bila tak mengomel.
Alexa memanyunkan bibirnya, bola matanya ia putar-putar kan, lidahnya ia julurkan untuk mengejek Brayn yang sedang mengomel.
"Lo itu uda jelek, jangan dijelek-jelekin lagi. Mau jadi apa lo? Jadi zombie?" Brayn ini, mulutnya memang benar-benar pedas sekali.
Alexa membelalakkan matanya seketika. Ucapan Brayn kali ini tak bisa didiamkan begitu saja.
"Heh!!!!" tiba-tiba Alexa membentak dengan suara lantangnya, sampai-sampai Brayn refleks terkejut.
"Kamu pikir kamu uda ganteng banget hah?!!!" tanya Alexa membentak pada Brayn.
"Ya emang ganteng sih, tapi songong," sambung Alexa dalam hati.
"Jangan mimpi kamu ya!!! Masih banyak yang lebih ganteng dari kamu!! Jangan merasa paling ganteng!! Kalau yang lebih dari kamu ya banyak yang antri untuk dapatkan aku," Alexa berlaga sok oke. Dia mengomel pada Brayn tanpa berpikir panjang. Yang ada di otak Alexa saat ini adalah bagaimana caranya agar Brayn tak bicara suka-suka padanya lagi.
Brayn mengangkat sebelah alisnya, lalu Brayn tertawa meremehkan, "Kalau yang lebih oke dari gue masih banyak yang ngantri untuk dapatin lo, ngapai lo mau-mau aja dijodohin sama gue? Yaudah batalin aja perjodohan ini, gue bakalan bahagia banget kalau gak jadi nikah sama lo," balas Brayn dengan blak-blakan.
Jlebbb ...
Alexa menelan salivanya dengan susah payah.
"Mampus gue, kalau dia bersikukuh buat batalin perjodohan ini, alamat jadi gembel lagi deh gue," Alexa merutuki kebodohannya itu dalam hati.
"Ya- ya-- bukan gitu juga kali. Aku mau nerima perjodohan ini itu karena ada Bella. Aku uda terlanjur sayang sama Bella. Lagi pula aku mau bantu tante Alice. Kasihan tante Alice, sering kena ghibahin kalau anaknya itu homo. Mana tega aku biarin tante Alice dan Bella penuh dengan penghinaan," Alexa mengelak. Dia berusaha mengarang cerita supaya dirinya tak malu. Dan yang paling utama, supaya Brayn tak membatalkan perjodohan mereka.
Mendengar jawaban dari Alexa, Brayn hanya diam. Dia tak ingin membalas Alexa lagi, percuma, Alexa tak akan pernah ingin mengalah.
"Turun," ujar Brayn saat mobilnya berhenti di depan butik ternama.
"Mau ngapai? Kamu mau nurunin aku di pinggir jalan?" tanya Alexa pada Brayn dengan raut wajah terkejutnya.
Alexa menggelengkan kepalanya tak menyangka, "Gak nyangka ya aku sama kamu. Ternyata sebegitu pengecutnya kamu, tega nurunin aku di pinggir jalan sendirian. Walaupun aku anak jalanan, yang selalu dagang di pinggir jalan, tapi gak semestinya kamu sebagai lelaki bersikap seperti ini. Itu namanya pecundang," raut wajah Alexa berubah menjadi lebih serius. Dia bicara serius, bukan bercanda.
Brayn memutar bola matanya malas. Ini salah satu hal yang tak Brayn sukai dari Alexa, Alexa selalu saja cepat menyimpulkan sesuatu tanpa harus melihat dulu kebenarannya.
"Apaan sih? Gila ya lo? Gue nyuruh lo turun, kita uda sampe ke butik temannya mama. Gue di suruh antar lo kesini sama mama buat pilih baju nikahan lo. Negatif aja pikiran lo, dasar aneh," Brayn membuka sabuk pengamannya, lalu Brayn langsung turun duluan tanpa menunggu Alexa.
Mulut Alexa menganga lebar, "Hah?? Jadi Brayn mau nyuruh gue turun karena uda sampai ke tempat tujuan?" tanya Alexa pada dirinya sendiri.
"Duhh ... bodoh banget sih gue, oon banget gue, asal ngomong aja, gak mikir dulu," Alexa merutuki kebodohannya itu.
"Brayn marah gak ya sama gue," dengan cepat Alexa langsung turun dari mobil dan menyusul Brayn yang sudah masuk duluan ke dalam butik.
Alexa masuk ke dalam butik dengan langkah cepat, hatinya sedikit lega saat menemukan Brayn yang sedang duduk di atas sofa.
"Brayn ...," panggil Alexa.
"Oooh ... jadi ini calon istri kamu, Brayn?" tanya seorang ibu-ibu yang baru saja datang membawa beberapa gaun pengantin.
Alexa yang tak tau apa-apa hanya diam dan melihat interaksi ibu-ibu itu bersama Brayn.
"Iya tante, dia orangnya," jawab Brayn singkat tanpa ekspresi.
Ibu-ibu itu mengangguk-anggukkan kepalanya, "Ngapain disitu? Sini, kamu pilih coba gaun mana yang kamu suka untuk akad nikah nanti," ibu-ibu itu memanggil Alexa yang sejak tadi masih berdiri di depan pintu.
Alexa tersenyum canggung, lalu Alexa berjalan perlahan untuk menemui ibu-ibu itu.
Sedangkan Brayn, dia hanya diam melihat interaksi Alexa dan teman mamanya itu.
"Hallo ... nama kamu siapa?" tanya ibu-ibu itu dengan ramah saat Alexa sudah ada di sampingnya.
"Hallo juga, buk, saya Alexa," Alexa memperkenalkan dirinya.
Brayn melotot, "What?!! Ibu? Dasar malu-maluin aja! Emang dipikirnya tante Rina itu ibu dia apa?!" Brayn mengumpat dalam hati. Dia benar-benar malu saat Alexa menyapa tante Rina dengan sebutan ibu.
Rina tersenyum manis pada Alexa, "Nama yang bagus, sayang. Nama tante Rina, panggil aja tante Rina," Rina memperkenalkan dirinya pada Alexa.
Alexa balas tersenyum pada Rina, "Iya, tante."
"Kamu mau yang mana gaunnya, Alexa? Ini rancangan tante sendiri loh. Kamu pilih aja yang mana yang kamu suka," Rina menunjukkan semua koleksi gaun pernikahannya yang sudah terpampang rapih di patung.
"Alexa pilih dulu ya tante," Alexa berjalan menuju jajaran patung yang dipajang gaun pengantin itu. Dia mulai memilih gaun yang mana yang akan dipakainya saat akad nikah nanti.
"Ini kayaknya Alexa suka deh tante," Alexa menunjuk gaun putih yang simpel tapi elegan. Gaun putih yang tak terlalu seksi, tapi cukup membuat aura kecantikan yang memakainya menguar.
"Itu koleksi terbaru tante, kalau kamu suka yang itu buruan coba deh sana," ujar Rina pada Alexa.
Pegawai butik membuka gaun itu dari patung, lalu memberikannya pada Alexa. Setelah itu Alexa langsung mencoba gaun pengantinnya.
"Kok mama kamu milihnya dia sih?" tanya Rina pada Brayn.
Brayn mengedikkan bahunya, "Gak tau, tante. Brayn cuma nurut aja," jawabnya singkat.
Rina mengangguk mengerti.
Beberapa menit berlalu, kini Alexa sudah kembali dengan gaun pengantinnya.
"Ya ampun, cantik banget kamu. Pas banget sama kamu tau, iihh klop banget lah sama kamu, cocok banget," Rina tak henti-hentinya memuji Alexa.
Alexa tersipu malu, dia senang saat dipuji oleh Rina.
"Gimana, mas-"
"No mas!! Gue gak mau dipanggil mas-mas!" Belum siap Alexa bertanya, Brayn sudah memotong pembicaraannya dengan marah-marah.
Alexa mendengus kesal, "Apaan sih?! Marah-marah terus, uda tua, makin tua kamu," omel Alexa pada Brayn.
Brayn menatap Alexa tajam, dia langsung berdiri tegap, menyorot Alexa dengan kobaran api yang menyala-nyala di matanya.
"Lo!! Enak banget lo ngomong gue t-".
"Iya, sayang. Aku juga sayang kamu kok. Aku juga cinta kamu kok, I love you too, my boy," tiba-tiba Alexa langsung memeluk Brayn dengan erat.
Rina membelalakkan matanya, "Ooh astaga ... manis banget sih kalian, unyu-unyu gimana gitu. Jadi keinget masa muda ihh," Rina tersenyum malu saat menyaksikan adegan uwu Alexa dan Brayn.
Brayn yang terkejut karena tiba-tiba di peluk Alexa, langsung memberontak dan ingin melepaskan pelukan Alexa dari tubuhnya.
"Iya, sayang. Aku tau kok kamu lagi rindu sama aku, aku peluk ya, biar rindunya hilang," dengan tak tau malunya Alexa semakin mempererat pelukannya pada Brayn.
Brayn mengepalkan tangannya kuat, "Dasar cewek gila!!! Agresif banget, gak tau malu!" geramnya kesal. Alexa mendengar itu, tapi berhubung Brayn mengatakannya agresif dan tak tau malu, maka Alexa dengan senang hati mengabulkan ucapan Brayn tersebut.
"Uda cocok untuk foto prewedding tuh. Tinggal Brayn aja yang pakai baju nikahannya," goda Rina pada Alexa dan Brayn.
"Hehehe ... iya, tante. Brayn emang gini, suka banget tiba-tiba rindu dan pengen peluk aku. Kalau gak aku peluk, entar Brayn jadi bad mood terus seharian," Alexa masih bertahan memeluk Brayn walaupun Brayn sudah memberontak ingin lepas.
"Jangan ngarang cer-"
"Iya, sayang. Udah ya, jangan bad mood lagi. Kan aku uda peluk kamu, sayang. Ini kan yang kamu mau? Kan udah aku lakuin," Alexa memotong dengan cepat ucapan Brayn.
"Aku-"
"Aku juga sayang dan cinta sama kamu kok. Jangan khawatir aku pergi, aku bakalan tetap ada untuk kamu selamanya, sayang," Alexa kembali memotong ucapan Brayn.
Rina terkekeh kecil, "Duhh ... ngiri banget nih tante liat adegan uwu kalian, suka banget ihh. Unyu-unyu gimana gitu," Rina gemas sendiri melihat tingkah Alexa dan Brayn.