Minggu Depan Aku Kawin

1117 Kata
Alexa memeluk Brayn dengan erat, dia mendusel-duselkan kepalanya ke d**a bidang milik Brayn. "Eumm ... sayang ... uda gak sabar deh pengen sah sama calon suami yang tampannya gak ketulungan," Alexa masih menikmati wangi parfum di tubuh Brayn. Sementara Brayn benar-benar tersiksa, dia bahkan menahan nafas saat Alexa memeluknya. "Say-" "Astaga!!! Gila sih ini gila!! Ternyata kalian uda saling suka dan uda saling jatuh cinta?!! Ini benar-benar progres yang baik untuk hubungan kalian!! Kalian nikah minggu depan!!" Tiba-tiba Alice datang bersama Bella. Alice benar-benar sangat senang dan exited melihat Alexa dan Brayn sedang berpelukan. Karena kepergok oleh mamanya, Brayn langsung ingin melepaskan pelukannya dengan Alexa. Tapi Alexa menahannya. Alexa memeluknya semakin kuat. "Duhh ... gak mau dilepas pula itu. Uda sesayang itu ya kalian berdua ...," Alice menggoda Alexa dan Brayn yang masih dalam posisi berpelukan. Alexa tersenyum lebar, lalu perlahan dia melepaskan pelukannya pada Brayn. "Hehehe ... iya nih tante. Maaf banget ya, Brayn emang suka gitu. Suka banget peluk-peluk aku dari tadi," Alexa menjelaskan pada Alice. Brayn melotot lebar saat mendengar kebohongan yang keluar dari Alexa. "Enggak ma-" "Enggak salah lagi kan, sayang," Alexa langsung memeluk lengan Brayn dengan kuat. "Kamu gak usah malu-malu, kan bentar lagi juga kita sah. Iya kan, tante?" Alexa bertanya pada Alice. Alice tersenyum lebar, lalu dia mengangguk cepat, "Lusa nikah juga gak apa-apa, mama yang urus semuanya," balas Alice dengan raut wajah gembiranya. "Dasar cewek gila!! Benar-benar bringas sekali dia!" Brayn mengumpat dalam hati. Dia benar-benar kesal melihat Alexa yang sangat-sangat tak tahu malu. ***** "Jadi gimana kepastiannya? Dua Minggu lagi kalian akan menikah. Setuju kan?" Alice bertanya pada Alexa dan Bryan. Saat ini Alice sedang menyidang Alexa dan Brayn. Sejak melihat Alexa dan Brayn yang berpelukan tadi, Alexa dan Brayn langsung dipaksa duduk berdampingan dihadapan Alice. Brayn memasang ekspresi tak setujunya, dia tak ingin menikah dengan jangka waktu secepat itu. "Oohh ... boleh dong tante, jangan kan dua Minggu lagi, dua hari lagi juga Alexa siap kok tante," Alexa tersenyum lebar pada Alice. Alice juga kontak tersenyum pada Alexa, "Nahh ... cocok itu mah, tante setuju kok. Santai aja lah, tante bakalan siapin semuanya. Bakalan sempurna deh nikahan kalian nanti," Alice sangat bahagia mendengar persetujuan Alexa. "No!! Gak mau!! Aku gak mau mama. Mama enak aja sih suruh aku nikah cepat-cepat. Aku gak mau, pokoknya gak mau. Aku belum siap!" Brayn menolak keras. Alexa menatap Brayn dengan bibir manyunnya, "Kamu kok gitu sih, mas? Kan kita nikah juga gak ngeganggu bisnis kamu atau hidup kamu. Nikah malah pasti bakalan buat hidup kamu semakin bahagia pastinya, gak bakalan semakin suram deh. Aku jamin," Alexa bersusah meyakinkan Brayn. Brayn menatap tajam ke arah Alexa, "Lo apaan sih?! Kan uda gue bilang, jangan pernah panggil gue dengan embel-embel mas! Gue bukan kakak lo!" bentak Brayn tak suka. "Apa sih kamu Brayn?! Ya bagus lah kalau Alexa panggil kamu dengan sebutan mas. Malah sopan, kan kamu calon suaminya. Iya kali Alexa panggil kamu dengan sebutan lo gue, mas itu uda bagus kok," Alice langsung menyambar. Dia tak suka dengan kelakuan anaknya yang selalu membentak-bentak Alexa. Hal kecil pun Brayn selalu saja memojokkan Alexa. "Iya tante, benar banget tuh. Alexa kan pengen gitu ya jadi istri yang berbakti dan punya rumah tangga yang harmonis. Masa iya manggilnya lo gue gitu. Manggil mas, sayang, beb, honey, sweet heart, gitu kan romantis. Bikin mood naik terus. Mas Brayn aja nih kadang sok cuek dan jual mahal sama Alexa," Alexa mengadu pada Alice. "Brayn! Kamu jangan pernah marahin Alexa atau bentak-bentak Alexa lagi ya! Kalau mama tau, mama gak mau jadi mama kamu lagi!" Alice mengancam Brayn dengan tatapan tajamnya. Brayn menghela nafasnya kasar, kemudian dia memutar bola matanya jengah, "Benar-benar membosankan!" ujarnya kesal. "Brayn pamit ke atas dulu, ma," Brayn bangkit dari duduknya. Tapi, baru saja Brayn ingin melangkah kan kakinya pergi, Alice langsung menarik tangannya dengan cepat. "Eitsss ... kau kemana kamu, hm?" tanya Alice sambil menaikkan-turunkan alisnya. "Mau kabur ya?" tanyanya kembali. Alice mendudukkan Brayn ke tempatnya semula kembali. "Enak aja kamu kamu mau kabur. Kita lagi membahas soal pernikahan kamu dengan Alexa. Kamu harus ikut andil dalam pembahasan ini. Kan kamu yang mau menikah, jadi kamu yang menentukan tempat, dan waktunya," Alice sudah ngebet pengen punya mantu. "Mama ... mama aja deh yang nyiapin semuanya. Brayn malas, ma. Ribet. Brayn mendingan ngurus perusahaan aja deh," Brayn menolak perintah sang mama. Mendengar penolakan Brayn, Alice langsung melemparkan tatapan tajamnya pada Brayn, "Enggak! Kamu harus putusin kapan kamu dan Alexa menikah. Dimana tempat kalian menikah, biar mama yang handle semuanya. Kamu tinggal kasih tau waktu dan tempatnya aja," sangking inginnya melihat sang putra satu-satunya menikah, Alice rela menjadi seksi repot pernikahan Brayn dan Alexa. "Harus banget Brayn yang nentuin ini ma?" tanya Brayn memastikan. "Ya iya lah. Harus kamu yang nentuin. Kan kamu yang mau nikah, masa iya mama sih," Alice menjawab dengan mantap.c "Oke kalau begitu," balas Brayn. "Brayn mau nikah tanggal 15 Juli," sambung Brayn kemudian. Alice yang mendengar jawaban Brayn langsung cengo, "Hah? Maksud kamu apa? Kan 15 Juli itu tiga hari yang lalu," tanya Alice pads Brayn. Brayn tersenyum, "Ya iya, ma. Brayn mau tanggal segitu," ujarnya. "Tahun depan," lanjut Brayn kembali. Plakk !!! Alice langsung menepuk lengan Brayn dengan kuat. "Awwshh ... sakit mama. Mama apa-apaan sih?" Brayn meringis kesakitan setelah ditepuk kuat oleh mamanya. "Ya habisnya kamu sih!! Aneh-aneh aja kamu, malah minta nikahnya tahun depan. Enggak-enggak!! Mama gak setuju sama pendapat kamu!" Alice langsung menolak mentah-mentah pendapat Brayn. "Iya, mas. Lama banget nikahnya, mana kuat aku nunggu kamu lama-lama sih. Nanti keburu akunya dilamar orang lain, mas," Alexa yang sejak tadi diam kini ikut mengompor-ngompori. "Mama gimana sih? Tadi aku yang disuruh buat nentuin waktu dan tempat. Tapi disaat aku kasih waktu itu kalian malah berontak semua. Gak jelas, tau gak?." Brayn benar-benar kesal pada sang mama. Menurutnya mamanya tak pernah setuju dengan keputusannya. "Serah mama lah, suka mama maunya gimana," Alexa langsung memasang wajah murungnya. "Iya, emang bagus gitu. Pokoknya mama mau kamu menikah dengan Alexa Minggu depan. Titik!" ujar Alice tegas tanpa ingin bantahan dari siapa pun. "Tapi ma-" "Gak ada tapi-tapian! Minggu depan kamu kawin! Pokoknya Minggu depan!" Alice memotong ucapan Brayn yang ingin protes. "Yeeee ... kawin!!" Alexa bersorak kegirangan. "Kawin kawin Minggu depan aku kawin ... amiinn ... aminnn ... tidur ada yang menemani bilang aamiinn ... aamiinn ...," Alexa bersenandung kesenangan sambil berdiri dan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Alice hanya menatap geli ke arah calon nantinya itu. Sementara Brayn, dia menatap sinis ke arah Alexa. Dan setelah muak melihat tingkah Alexa yang tidak jelas, Brayn langsung pergi meninggalkan Alexa dan Alice di ruangan itu. "Lahhh ... kabur," Alice menatap kepergian Brayn dengan senyum anehnya. Sedangkan Alexa, dia masih bergoyang-goyang kesenangan sambil bersenandung riang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN