"TIDAK!!!" Aku berteriak histeris saat pisau tajam itu menusuk tepat di jantung Reksya. Mataku menatap nanar sang pembunuh yang dengan gampangnya kembali menyembunyikan senjatanya di balik mantel coklat yang ia kenakan, setelah lebih dulu membersihkan sisa darah Reksya di jas putih nya. Mataku mengedarkan pandangan ke segala arah, melihat karpet merah itu di percikan dengan banyaknya darah dari orang-orang Reksya. Jev sedang membuka borgol Mama dan Kak Dera, terlihat santai saja walau dia baru saja menghabiskan beberapa nyawa. Tatapku kembali tertuju kearah Reksya yang juga tengah menatapku dengan mata abunya yang kesakitan. Aku menangis melihat deritanya, tak terlalu yakin kalau itu orang yang sama yang baru beberapa menit yang lalu ingin menikahiku. Aku mendongak melihat sepatu Lucas

