" Kenapa? Apa kamu mau saya membela kamu? Kenapa? Apa penilaian saya penting untuk kamu?" tanya Satya dengan menatap intens ke dalam mata indah sekertaris cantiknya tersebut.
" Bu--- Bukan gitu pak... Saya..."
Amanda yang kini menyadari posisi tubuhnya yang masih berada dalam pelukan Satya merasa seolah jantungnya akan melompat. Ini pertama kalinya ia berada dalam posisi begitu dekat dengan seorang pria setelah beberapa tahun yang lalu ia berpisah dengan mantan suaminya.
Tentu pernah ada yang mencoba mendekati dirinya dengan terang- terangan, namun dengan cepat Amanda bisa menarik batasan sehingga akhirnya hubungan mereka tidak berlanjut ke arah yang lebih jauh. Terlebih ketika dulu saat Amanda bekerja sebagai pelayan restaurant di kota kelahirannya, ia sempat dituduh oleh istri pemilik restaurant jika ia dan suaminya memiliki hubungan dan akhirnya mempermalukannya karena tahu akan status dirinya.
Sejak saat itu, Amanda sadar ia tidak punya tempat dalam kehidupan siapapun lagi. Bahkan dalam masyarakat, statusnya kadang dipandang sebelah mata. Ia sudah membuang jauh mimpinya akan memiliki pendamping hidup dan hidup bahagia dengan keluarga yang lengkap.
Baginya saat ini yang terpenting hanyalah anak- anaknya, masa depan mereka, kesehatan dan kebahagiaan mereka. Amanda tidak pernah lagi memikirkan dirinya. Ia hanya akan mencoba menjadi apapun yang anak- anaknya butuhkan.
" Pak Satya, bisa lepaskan saya?... Saya nggak enak dilihat orang" ucap Amanda salah tingkah dengan tatapan intens dari atasannya.
" Baik. Ayo pulang" ucap Satya akhirnya dan mulai melepaskan lengannya dari pinggang Amanda namun sempat mengusap pipi Amanda dengan ujung ibu jarinya sebelum akhirnya berjalan mendahului wanita tersebut.
(" s**t! Gue kenapa sih?!") umpat Satya pada dirinya yang tadi sempat berpikir ingin mencium Amanda.
***
" Kamu pulang saja. Saya juga mau pulang." ucap Satya acuh.
" Tapi di kantor..."
" Kalau saya suruh kamu pulang, berarti saya mau kamu pulang. Dan soal tadi... Saya tidak tahu kenapa dia ngomong seperti itu sama kamu."
" Bukan salah bapak"
Satya lalu membalikkan tubuhnya dengan berkacak pinggang menghadap Amanda yang berjalan di belakangnya.
" Tentu saja !. Tentu saja itu bukan salah saya. Trus kenapa tadi kamu marah sama saya?"
Amanda lalu nampak salah tingkah dan menggaruk tengkuknya.
" Saya juga nggak tahu pak. Lagian saya nggak marah sama pak Satya kok. Ini juga bukan hal yang baru juga buat saya" jawab Amanda sambil menunduk.
" Maksudnya?"
" Bukan apa- apa pak. Kalau gitu, saya permisi pak, saya pulang duluan. Dan makasih pak Satya sudah tolongin saya barusan." ujar Amanda lalu berjalan lebih cepat mendahului Satya yang bahkan tidak sempat menawarkan tumpangan padanya.
" Luar biasa kamu Amanda.!"
***
" Mama...." seru Safa dan Rafa bersamaan ketika melihat sosok Amanda yang nampak menunggu mereka di lobby mall dimana ia meminta ibunya untuk mengantarkan mereka.
" Sayang..." ucapnya menyambut pelukan kedua buah hati kesayangannya.
" Mama kok ajakin kita main sih? Mama nggak kerja?" tanya Safa.
" Idihh, udah bagus diajakin main. Nggak usah nanya- nanya..." protes Rafa.
" Abang kok gitu sih ngomongnya? Kan adek cuma nanya" jawab Safa.
" Udah... Kok malah berdebat sih? Oma mana?" tanya Amanda menanyakan keberadaan ibunya.
" Ada kok di belakang. Tuh disana!" seru Rafa ketika wanita yang berumur sekitar 60 tahunan itupun melambaikan tangan dan tersenyum pada Amanda dan kedua cucunya tersebut.
" Anak ini bener- bener deh. Begitu tahu mamanya udah nungguin, main tinggalin oma gitu aja."
" Maaf, oma..." jawab Safa sambil menyengir dan memeluk paha Amanda.
" Mama, main yuk" sambungnya.
" Adek, kita baru sampai masa kita langsung main"
" Mama, abang protes terusss... Safa pusing dengernya"
" Abisnya suka ngomong nggak jelas sih"
" Abang yang nggak ngerti maksud pikiran adek..."
(" Nggak jelas? Maksud pikiran? Ya Tuhan, dimana mereka denger kata- kata gitu?")
" Lucu banget sih kalian..." ucap Amanda langsung menciumi pipi anak- anaknya.
" Ya udah, abang mau apa dulu?" tanya Amanda pada Rafa.
" Makan."
" Kalau adek?"
" Main" jawab Safa.
" Hmmm... Kalau gitu, kita nyari tempat makan yang ada tempat mainnya aja mau nggak?"
" Terserah mama aja" jawab Rafa.
" Nggak deh, mainannya cuma sedikit. Paling cuma luncuran aja." timpal Safa.
" Trus gimana dong? Berarti harus ada yang ngalah." tanya Amanda.
" Ya udah ma, main aja dulu." jawab Rafa sedikit lesu.
" Beneran nggak apa- apa sayang?" tanya Amanda bijak.
" Iya nggak apa- apa" jawab Rafa santai.
" Anak baik kesayangan mama. Makasih ya udah mau ngalah sama adek" Amanda mengusap lembut rambut putranya.
" Iya, ma"
" Hore..!!! Makasih abang. Oma, kita jalan duluan yuk." ucap Safa girang.
" Ih, dasar anak kecil"
Amanda tertawa kecil mendengar ucapan Rafa yang menyebutkan adiknya masih kecil. padahal kenyataannya mereka berdua adalah anak kembar yang lahir hanya terpaut beberapa menit.
" Iya anak besar...." ejek Amanda sambil mencubit pipi putranya.
" Mama nggak kerja?" tanya Rafa akhirnya sambil berjalan dengan menggenggam erat tangan Amanda.
" Tadi bos mama ada meeting tapi batal. Trus besok mama harus ke luar kota, jadinya mama boleh pulang duluan."
" Bos baru mama baik ya?" tanya Rafa lagi yang membuat Amanda memikirkan beberapa kejadian yang kini kembali membuatnya tersenyum simpul.
" Iya sayang. Bos baru mama baik."
***
" Selamat pagi, pak" ucap Rama yang telah menunggu Satya di lobby apertement atasannya tersebut.
" Pagi. "
Rama lalu dengan sigap langsung meraih koper kecil yang ditarik oleh Satya dan berjalan beriringan dengan Satya yang sedang menatap layar ponselnya yang bergetar.
" Halo, ma."
" Udah jalan sayang?" tanya Sofia.
" Ini baru mau jalan."
" Ya udah, kamu hati- hati ya. Dan jangan nyusahin Amanda!"
" Iya, Ma."
" Kamu tahu jalan kan?"
" Ada maps, ibu Sofia... Dan lagian kami hanya semalam. Itupun kalau urusan aku cepat selesai, kami bisa pulang nanti sore. Tenang saja."
" Sat, jangan macam- macam ya sama Amanda ya Nak. Mama akan sangat marah sama kamu kalau kamu apa- apain dia. Dia itu anak baik- baik, nggak seperti cewek- cewek kamu!" ujar Sofia lagi yang memang telah tahu betul cerita hidup Amanda. Dan sesama wanita, ia sangat mengerti perasaan Amanda.
" Ma, mestinya mama itu khawatir dia yang godain aku. Bukannya malah aku yang godain dia!" bantah Satya.
" Kamu bukan tipenya. Mama yakin sampai hari inipun, dia nggak pernah ngelirik kamu. Iya kan?" goda Sofia pada putra semata wayangnya.
Langkah Satya terhenti ketika sosok yang mereka bicarakan nampak sedang berjalan dari arah parkiran menuju pintu masuk lobby apartement dimana Satya sedang menunggu Rama mengambilkan kendaraan yang akan ia gunakan.
" Oke, mama. I love you. Bye" ucap Satya karena sedikit kesal dengan sedikit kebenaran yang Sofia ucapkan. Hingga saat ini, Amanda memang tidak pernah terlihat tertarik padanya. Ia bahkan cenderung menghindar dan tidak peduli akan pesona sang atasan.
Satya terus memandangi Amanda yang terlihat lebih segar dan lebih santai dengan celana jeans hitam dan baju bergaris hitam putih dan sepatu sneakers berwarna putih sambil memegang dua gelas kertas yang sudah bisa dipastikan isinya adalah kopi untuk mereka berdua.
" Selamat pagi pak Satya..." sapa Amanda dengan ramah.
Satya melirik jam tangannya dan menatap dingin pada Amanda.
" Kamu terlambat. Kamu mestinya ada disini satu jam yang lalu. Apa saya harus nunggu kamu dan juga nunggu untuk masukin barang bawaan kamu disini? "
" Maaf, pak Satya. Saya sudah sejak tadi disini. Barang saya juga sudah ada di mobil sejak tadi. Saya hanya ke depan beli kopi buat bapak. Ini pak, kopinya" jelas Amanda.
(" Kamu cantik sekali hari ini. Dan kamu tahu Amanda, sejak kemarin, aku nggak sabar mau ketemu kamu") batin Satya yang terus mengamati Amanda yang nampak membenarkan ikatan rambutnya.