Lunch

1051 Kata
Satya dan Amanda sedang menunggu makanan mereka datang dan membuat Satya sedikit salah tingkah. Ini tentu bukan pertama kalinya Satya makan siang dengan seorang wanita cantik, namun kali ini entah mengapa Satya merasa tidak begitu merasa percaya diri. Terlebih ketika Amanda sejak tadi nampak biasa saja dan sibuk dengan ponsel miliknya. Ia bahkan tidak segan untuk menjawab telepon yang menanyakan keberadaan atasannya. Harus Satya akui, Amanda memang cakap dan praktis. Ia selalu nampak tenang dan percaya diri. Meski beberapa kali Satya juga melihat Amanda yang nampak sedih dan lelah dari kaca pintu kantornya. " Pak Satya, saya permisi mau ke toilet" ucap Amanda. Satya hanya mengangguk dan Amanda pun segera berlalu menuju toilet dengan tatapan mata Satya yang terus mengikutinya. " She is pretty" bisik Satya pada dirinya sendiri dengan senyum smirk khas dirinya. *** Amanda datang disaat makanan pesanan mereka sudah berada di atas meja namun Satya masih nampak memainkan ponsel miliknya dengan malas. " Kamu ngapain sih di toilet? Tidur? Udah tahu saya nggak sarapan!" Amanda lalu duduk di kursinya yang berada tepat di depan Satya dan memasang wajah heran. " Kenapa bapak belum makan? Bapak tungguin saya?" " Iya. Ayo cepat makan. Kenapa juga mesti lama banget di toilet?!" " Maaf pak, tadi di toilet ada orang yang minta tolong untuk saya bantu" " Memangnya kamu dinas sosial?" tanya Satya sengit. Amanda yang tahu jika Satya sudah kesal, langsung tidak lagi memperpanjang masalah dan mulai memotong daging steik pesanannya. Namun karena terburu- buru memotong, tanpa sengaja saus blackpepper yang telah Amanda tuangkan ke atas daging steak miliknya terciprat dan mengenai mata Amanda hingga membuat wanita tersebut nampak merasa perih di bagian bawah matanya. Satya yang sedang menikmati makanan yang sama dengan Amanda, entah mengapa langsung refleks berdiri dan mendekati Amanda dengan instens. " Masuk ke mata kamu?" tanyanya khawatir dan hanya di angguki oleh Amanda yang mengerjap- ngerjapkan matanya sambil mengibaskan telapak tangan. " Mari sini..." ucap Satya langsung meraih kepala Amanda dengan kedua telapak tangannya lalu mendekatkan wajahnya ke depan wajah Amanda dan meniup mata Amanda dengan perlahan dan penuh perhatian. DEGH... (" Pak Satya lagi ngapain?") tanya Amanda dalam hati karena wajah mereka berdua kini sangat berdekatan. Amanda bahkan dapat mencium dengan jelas wangi parfum dan juga nafas segar dari pria yang kini masih meniup matanya dengan telaten. Ia bahkan mengusap air mata yang berada si sudut mata Amanda dengan ujung ibu jarinya. " Makanya kamu hati- hati" ucap Satya lagi yang entah mengapa membuat Amanda merasa Satya tidak seperti biasanya. Amanda pun hanya mengangguk. " Udah mendingan?" " I...iya pak. Makasih" Satya lalu dengan kikuk melepaskan kedua tangannya dari kepala Amanda dan mencoba nampak santai kembali ke kursi tempat ia duduk tadi. " Makasih pak..." ucap Amanda yang sedikit merapikan rambutnya. Satya tidak menjawab dan langsung kembali memotong- motong daging yang ada di piringnya. Dan setelah semua telah terpotong dengan ukuran sekali makan, Satya bukannya langsung memakannya melainkan mengangkat piring miliknya dan menukarnya dengan piring yang ada di hadapan Amanda. " Ke-- Kenapa pak?" " Saya nggak mau punya sekertaris yang buta." jawab Satya singkat dan enggan menatap Amanda. (" Begooo... Begooo... Kenapa gue jadi lebay gini sih?") " Makasih, pak Satya." Mereka berdua lalu kembali menyantap makan siang mereka tanpa ada percakapan apapun lagi meski kini pikiran mereka berada pada satu kejadian yang sama yakni ketika wajah mereka berdua begitu dekat. " Satya?" sapa seorang wanita yang kini berdiri di samping meja mereka. " Ya Tuhhaaannn..." desis Satya. " Hai" jawab Satya. Gadis dengan make up tebal dan rok yang mungkin hanya sejengkal tangan Satya itu kemudian menatap remeh pada Amanda yang mencoba sopan dengan tersenyum pada wanita tersebut. " Jadi sekarang kamu jalan sama yang modelan gini?!" Satya tetap mencoba tenang dengan meneguk air minumnya dan tersenyum terpaksa. " Aku bisa kok kalau cuma dandan jadi perempuan baik- baik. Tapi akunya nggak suka pura- pura sih." ucapnya lagi dengan sinis. " Maaf, maksudnya apa?" tanya Amanda masih dengan mencoba tersenyum. " Ya nggak ada. Cuma ngomong aja. Satya tuh nggak---" " Terima kasih. Tapi kami sedang makan siang" " Iya Satya sayang, aku tahu kamu makan siang. Kita juga dulu awalnya makan malam aja kan? Eh tau- taunya pas bangun---" " Oke. Kita ngobrol nanti. Saya lagi sibuk" " Jadi sekarang sukanya main siang- siang nih? Sama modelan kayak gini?" Amanda lalu berdiri dengan kesal dan menatap tajam pada wanita yang kini ada dihadapannya. " Maaf, saya bukan perempuan kayak kamu. Saya permisi pak Satya" ujar Amanda langsung meraih tas miliknya dan meninggalkan Satya yang nampak terkejut. " Amanda?" lirih Satya yang terkejut dengan reaksi Amanda barusan. *** Satya sedikit berlari mengejar Amanda yang sudah lebih dulu meninggalkan hotel tempat mereka makan siang tadi. Ia masih bisa melihat sosok Amanda namun jarak mereka sudah cukup berjauhan. Satya lalu mempercepat gerakan kakinya karena kini Amanda sudah berjalan menuju parkiran luar hotel mewah tersebut dan sepertinya tidak berniat untuk pulang bersama dirinya. " Amanda!" seru Satya agar sekertarisnya tersebut menghentikan langkah kakinya namun tidak mendapat reaksi apapun dari wanita tersebut. Satya semakin mempercepat larinya ketika Amanda nampak tidak memperhatikan mobil yang baru saja akan menanjak naik dan keluar dari arah parkiran basement yang berada di arah belakangnya. " Amanda!" seru Satya yang langsung menarik tangan Amanda tepat disaat wanita tersebut akan melintas di depan mobil tersebut. Satya dengan sigap memeluk tubuh Amanda dengan satu tangan yang mengusap rambutnya dengan raut wajah khawatir. " Kamu nggak apa- apa?" tanya Satya cemas dan memperhatikan wajah dan tubuh Amanda dengan seksama. " Pak Satya... Saya nggak apa- apa" " Syukurlah kalau gitu" ucap Satya masih dengan nafas mereka berdua yang nampak berlomba karena terkejut dan kelelahan. " Kamu kenapa sih lari begitu aja? Saya sampai capek ngejar kamu. Gimana kalau kamu ada apa- apa tadi? Gimana kalau saya nggak narik kamu tepat waktu? Gimana kalau kamu ketabrak tadi?" cecar Satya dengan marah. " Dan kenapa bapak nggak belain saya tadi?!" tanya Amanda dengan tak kalah kesalnya. Entah keberanian darimana yang ia dapatkan hingga melontarkan pertanyaan seperti itu pada atasannya. (" Dasar gue! Kenapa juga aku harus nanya kayak gitu? Emang dia punya kewajiban apa belain aku?") batin Amanda menyesali ucapannya barusan. " Kenapa? Apa kamu mau saya membela kamu? Kenapa? Apa penilaian saya penting untuk kamu?" tanya Satya dengan menatap intens ke dalam mata indah sekertaris cantiknya tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN