Hari ini Satya sangat bersemangat ke kantor karena setelah akhir pekan yang menurutnya sangat membosankan karena kedua sahabatnya telah memiliki acara sendiri, ia akhirnya akan kembali bertemu Amanda setelah dua hari lamanya.
" Selamat pagi, pak Satya" sapa Amanda pada Satya yang baru saja keluar dari liftnya dan disusul oleh Rama yang sedikit tersenyum padanya.
Meski bagi Satya saat ini Amanda nampak terlihat sangat cantik dan fresh dengan rambut yang ia ikat ekor kuda dan kemeja berwarna putih serta rok highwaist hijau botol selututnya, ia mencoba untuk terlihat biasa saja bahkan seolah tidak memperhatikannya.
" Pagi " jawabnya cuek lalu berjalan menuju ruangannya diikuti oleh Rama dan juga Amanda sendiri.
" Bacakan jadwal saya. Rama, kamu boleh pergi."
" Baik, pak. " jawab Rama yang sebelum pergi sedikit melambaikan tangan pada Amanda dan itu mendapat tatapan sinis dari Satya yang kini telah duduk di kursi kebesarannya.
" Kamu kenapa?" tanya Satya ketika melihat Amanda yang seolah menahan senyumnya.
" Nggak, pak. Saya cuma keingat sesuatu"
" Sesuatu?"
" Iya pak. Jadi kemarin saya ketemuan sama pak Rama di mall. Lalu---"
" Saya tidak peduli" potong Satya cepat. Ia tidak menyukai jika ternyata Amanda dan Rama bertemu dan bersenang- senang bersama sedangkan dirinya hanya berdiam diri di apartemennya.
Amanda yang heran langsung menghentikan senyumnya dan membacakan jadwal Satya hari ini.
" Kamu yakin saya tidak punya meeting lainnya?"
" Tidak pak. Hanya yang di lantai 5 setelah makan siang." jawab Amanda.
" Baik."
" Pak, maaf saya mau menanyakan kapan bapak bisa mengunjungi pemilik lahan?"
" Untuk Laqava?" tanya Satya yang diangguki oleh Amanda.
Satya nampak berpikir.
" Lusa. Kamu bisa?"
" Saya? Kenapa pak?"
" Saya dan Rama baru disini. Dan beberapa hari ini Rama harus memeriksa laporan beberapa divisi. Kenapa? Apa kamu keberatan? Atau saya harus minta ijin kamu dulu?"
" Oh tidak pak. Bisa... Tentu saja bisa pak." jawab Amanda.
" Baik. Dan kopi saya?"
Amanda tersenyum lalu berjalan menuju meja kecil berada di dekat Satya.
" Ini kopi bapak. Hati- hati gelasnya mungkin panas. Saya sudah membeli alat penghangat minuman untuk bapak. Jadi kapanpun bapak datang, kopinya nggak akan dingin. Silahkan pak" jelas Amanda lalu mengulurkan gelas kopi untuk Satya.
(" Kamu perhatian sekali") batin Satya.
" Kalau begitu saya permisi pak. Saya akan ingatkan kembali lima belas menit sebelum meeting. Berkas- berkas yang bapak harus tanda tangani ada di map biru dan materi meeting nanti ada di map kuning." lanjut Amanda ketika Satya hanya menyesap kopinya bahkan tidak mengucapkan terima kasih.
" Baik"
Amanda hanya mengangguk dan berjalan meninggalkan ruangan milik Satya yang kini masih sibuk menyesap kopinya.
***
" Saya mau ketemu Satya." ujar seorang wanita yang tiba- tiba berdiri di hadapan Amanda.
Amanda menatap wanita yang kini ada di depannya sambil melipat kedua tangannya di depan dadaa dengan angkuh. Sekilas Amanda pun menoleh pada ruangan Satya yang berada tepat di depannya. Dan ia yakin pria irit bicara dan galak itu pasti bisa melihat kedatangan wanita tersebut.
" Maaf, dengan siapa?"
" Sheila. Bilang saja nama saya. Dia pasti tahu"
" Tapi maaf, apa mbak Sheila sudah punya janji dengan pak Satya?" tanya Amanda dengan sopan.
" Belum. Tapi kalau dia tahu saya yang datang, dia pasti akan nerima saya. Ayo cepat" perintah Sheila dengan kasar.
" Baik mbak. Tapi saya minta maaf, sayangnya pak Satya sekarang sedang tidak di kantor dan mungkin mbak Sheila bisa menghubungi beliau"
" Eh, kamu jangan bohong ya. Saya tahu dia ada di dalam. Sekarang kamu kasih tahu dia kalau saya datang. Bos kamu nggak bisa ya seenaknya menghilang gitu aja"
( " Gila, baru juga semingguan disini, udah punya cewek aja!") batin Amanda.
" Sayangnya pak Satya memang sedang tidak di tempat mbak. Beliau sedang meeting"
" Baik. Tapi sampaikan sama bos kamu, saya akan datang lagi. Dia harus jelasin sama saya kenapa dia nggak pernah menghubungi saya!"
" Baik, mbak"
" Ini kontak saya. Jangan sampai bos playboy kamu alasan kalau kontak saya hilang". ucap Sheila sambil menuliskan kontak miliknya di sebuah kertas dan pulpen yang ada di atas meja kerja Amanda.
Sheila lalu meninggalkan Amanda dengan kesal dan menekan lift untuk membawanya kembali ke lobby.
Baru saja pintu lift yang Sheila masuki tertutup, telepon di atas meja Amanda langsung berdering dan tentu saja itu dari Satya.
" Ke ruangan saya!"
Satya langsung menutup panggilannya bahkan sebelum Amanda sempat menjawabnya.
***
TOK TOK
" Masuk" seru Satya dari dalam ruangannya dan membuat Amanda langsung mendorong pintu kaca tersebut dan melangkahkan kakinya untuk masuk.
" Ada yang---"
" Siapa tadi?" potong Satya penasaran.
" Namanya Sheila dan mau ketemu sama bapak."
" Lalu kenapa tidak kamu suruh untuk masuk?"
" Karena saya tahu bapak bisa melihat dari dalam tapi bapak tidak meminta untuk mempersilahkan dia masuk. Ibu Sheila juga kelihatan kesal. Lagipula, bapak ada meeting dua puluh menit lagi. Jadi saya mengira kalau bapak juga tidak kenal dan hanya akan membuang waktu bapak. Tapi dia menitipkan kontaknya" jelas Amanda yang membuat Satya sedikit tenang.
(" Pantas aja papa suka cara kerja dia. Dia mengatasi masalah bahkan tanpa disuruh.") batin Satya.
" Lalu dia bilang apa?"
" Dia hanya bilang kalau bapak... Bapak tidak bisa menghilang begitu saja dan nggak menghubungi dia"
Satya tiba- tiba merasa kikuk di hadapan Amanda saat ini.
(" Sialan. Siapa sih Sheila ini? Mana gue udah lupa lagi udah ngomong apa sama dia?")
" Ng... Bapak kenal?"
" Tidak. Maksud saya, mungkin saya kenal. Hanya saja saya sudah lupa"
" Sudahlah. Pastikan dia tidak datang kesini lagi. Dan kenapa bisa dia bisa naik kesini? Resepsionist lantai 1 harus saya peringati" sambung Satya lalu meraih gagang teleponnya.
Amanda yang melihat aksi Satya tersebut langsung dengan refleks meraih gagang telepon tersebut dari tangan Satya dan kembali meletakkannya.
" Kamu ngapain?" tanya Satya kesal.
" Maaf pak. Hanya saja kalau bapak menegur mereka secara langsung, mereka bisa saja beranggapan yang tidak- tidak sama bapak."
" Kenapa? Ini perusahaan saya, terserah saya."
" Saya tahu pak. Hanya saja, untuk masalah seperti ini, biar saya yang menegur. Bapak nggak perlu turun tangan." kilah Amanda.
Sebenarnya Amanda hanya tidak ingin mood atasannya berubah semakin buruk karena hari ini ia berencana untuk memberitahu masalah latar belakangnya.
" Baik. Batalkan meeting hari ini"
" Ke... Kenapa pak?"
" Kita makan siang diluar"