Amanda hanya bisa mengangguk paham pada setiap penjelasan yang Satya berikan tentang apa yang baru saja mereka lewati. Untung saja sewaktu makan malam tadi, Amanda dan Satya tidak perlu banyak bicara karena keluarga Ghea sendiri lebih menyukai makan dengan tenang. Dan itu membuat Satya bisa bisa memandangi wajah Amanda dari tempatnya dengan diam- diam ketika wanita tersebut mengobrol dengan Ghea.
Ghea sendiri adalah wanita yang sederhana namun tegas. Hal yang membuatnya sangat cocok untuk Ivan. Mereka saling melengkapi satu sama lain. Dan biasanya, Ghea tidak menyukai teman wanita mereka yang kadang membuatnya tidak nyaman. Namun dengan Amanda, ia merasa jika Amanda adalah wanita yang kurang lebih berasal dari kalangan yang sama dengannya hingga merekapun nampak akrab bahkan bertukar nomor.
" Jadi, maksudnya pak Satya bisa jadi tolak ukur seseorang bisa berubah? Begitu pak?" tanya Amanda.
Satya yang masih mengemudikan kendaraanya mendelik ke arah Amanda dengan sinis.
" Maaf pak." sambung Amanda ketika melihat kekesalan di mata Satya.
" Tapi akhirnya Ivan bisa sedikit dapat kepercayaan dari ayahnya Ghea. Buktinya mereka sudah diminta untuk mencari tanggal pernikahan".
" Iya, bener pak"
" Kamu berencana menikah?" tanya Satya tiba- tiba. Meski sebenarnya ia hanya ingin mengetahui apakah Amanda memiliki kekasih atau tidak.
" Ng... Tidak pak" jawab Amanda getir. Ia sedikit menunduk menatap kedua ibu jarinya yang kini ia mainkan.
" Kenapa? Apa pacar kamu belum siap?" tanya Satya lagi penasaran.
" Saya nggak punya pacar pak. Mana ada yang mau sama saya."
(" Yess... That's good baby. But wait...") batin Satya.
" Kenapa?"
Amanda menggeleng dengan cepat dan memperbaiki posisi duduknya.
" Kalau bapak sendiri? Apa bapak belum mau menikah?"
Satya hanya tersenyum mengejek dengan pertanyaan Amanda barusan.
" Kenapa pak?"
" Amanda, apa kamu sadar kalau sedang bertanya hal pribadi sama saya?"
(" Lah, dia sendiri ngapain nanya- nanya?") batin Amanda.
" Oh, maaf pak. Bukan maksud saya mau---"
" Saya nggak menikah. Dan saya rasa saya nggak mau menikah."
Amanda menaikkan sebelah alisnya.
" Well.... Saya bahkan nggak percaya sama yang namanya cinta. There is no such thing" sambung Satya yang membuat Amanda mengangguk pelan. Ia setuju akan pemikiran Satya.
" Kenapa bapak ngomong gitu?" tanya Amanda penasaran. Meski pemikirian mereka sama untuk hal ini, namun tentu alasan mereka berbeda.
" Karena pada dasarnya semua hanya karena kebutuhan. Nggak perlu ada cinta apalagi pernikahan yang pada akhirnya akan hilang. Kebutuhan akan satu sama lain akan berubah suatu hari nanti. Lalu kemana perginya cinta yang mereka sebutkan kalau akhirnya nanti akan saling mengkhianati dan berpisah hanya karena kebutuhan yang sudah berubah." jelas Satya pada Amanda. Hal yang memang sudah tertanam dalam pikirannya sejak lama. Satya tidak menyadari jika apa yang ia katakan saat ini bisa menyusahkannya suatu hari nanti.
" Ng... Saya nggak ngerti dengan maksud bapak. Tapi saya setuju."
" Apanya?"
Baru saja Amanda akan menjawab, namun ponsel miliknya tiba- tiba berdering dan itu mengganggu konsetrasi Satya yang sedang mengemudi.
" Angkat saja. Lagian suara hape kamu kayak karnaval. Memangnya tidak ada nada dering yang lain apa?" protes Satya.
" Maaf pak."
Amanda lalu menggeser ikon berwarna hijau pada layar datar ponsel miliknya.
" Iya halo, Bu" jawab Amanda dengan sedikit berbisik.
" Manda, udah pulang?"
" Ini udah di jalan, bu. Ada apa?"
" Oh... Kalau gitu mampir beli obat demam ya nak."
" Buat siapa bu?" tanya Amanda mulai khawatir.
" Itu Man, Safa agak hangat badannya."
Seketika wajah Amanda langsung berubah panik.
" Sejak kapan bu?"
" Baru aja. Pas ibu suapin makan dia kayak lemes. Ternyata nggak enak badan."
" Ya udah. Nanti aku mampir untuk beli. "
" Kamu hati- hati ya nak"
" Iya, bu. Makasih"
Amanda lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
" Pak, saya turun di depan saja."
" Oh... Baik"
(" Ya ampun, basa basi kek nanya kenapa? Atau nawarin kek sampai ke rumah.")
Satya lalu sedikit memutar setirnya ke sebelah kiri dan menghentikan kendaraannya.
" Disini?" tanya Satya.
" Iya pak. Kalau begitu, terima kasih. Saya permisi." ucap Amanda yang hanya membuat Satya mengangguk dan disusul oleh Amanda yang segera meninggalkan mobil milik atasannya tersebut.
***
" Safa...." panggil Amanda dengan lembut pada anak perempuan kecil yang nampak sangat mirip dengannya.
Safa yang masih berusia 5 tahun, langsung terduduk dari posisi tidurnya dan langsung memeluk mengulurkan tangan pada Amanda yang baru memasuki kamar tidurnya.
" Mama..." rengeknya dengan manja. Bibir mungilnya memerah dan sedikit bergetar dengan mata yang nampak berkaca- kaca.
Amanda lalu berjalan dan duduk di samping gadis kecilnya dan langsung memeluknya dengan erat.
" Anak mama sakit ya?"
Safa hanya mengangguk dan semakin mempererat pelukannya.
" Adek sakit gara- gara kaka, Ma."
" Loh kok aku sih?" protes Rafa yang baru memasuki kamar tidurnya dengan membawa botol minuman milik adiknya. Rafa dan Safa adalah anak kembar yang Amanda lahirkan lima tahun yang lalu hasil pernikahannya bersama mantan suaminya.
" Iya, karena kakak yang ngajak adek main." tangis Safa sudah akan pecah.
" Udah... Udah. Lain kali nggak boleh lagi main ujan- ujanan yang lama."
" Tapi kan kata mama boleh." protes Rafa lagi yang duduk di hadapan Amanda dan Safa.
" Emang boleh kok, kak. Tapi nggak boleh lama- lama. Apalagi kalau belum makan. Nanti malah masuk angin." jawab Amanda dengan lembut dan satu tangannya mengusap rambut anak lelaki dihadapannya.
" Maaf, ma." jawab Rafa.
" Ya udah. Kalau mama lagi kerja, kakak jagain adek ya. "
" Mama, aku udah jagain adek. Tapi dianya bandel nggak mau di bilangin. Orang aku udah selesai, dia malah masih main hujan."
" Iya tapi kakak kan yang duluan ngajakin" protes Safa.
" Loh kok malah berantem sih? Mama nggak suka loh kalau kalian berantem. Mama nggak suka kalau anak mama nggak saling sayang"
" Ma, emang kalau berantem atau marah itu artinya nggak saling sayang ya?" tanya Safa polos.
" Ya nggak juga sih. Kadang kita marah karena kesel atau khawatir."
" Tapi Safa sayang sama kakak kok. Biarpun suka marah. Suka usil. Suka---"
" Iya bawellll" ucap Rafa yang mencubit lembut pipi adiknya dan membuat mereka bertiga tersenyum.
" Mama sayang banget sama kalian berdua. Kalian segalanya buat mama. Jadi jangan suka berantem ya sayang. Dan cepat sembuh anak cantik mama. Mama sedih kalau pulang kantor dan nggak disambut kalian"
" Maafin adek ya ma..."
Mereka bertiga lalu saling memeluk dan tersenyum hangat.
(" Mama yang minta maaf nak. Tidak bisa merawat kalian sepanjang hari. Tapi mama janji mama akan menjadi apapun yang kalian butuhkan)"