Oh God

1056 Kata
" Pak, ini kita mau kemana?" tanya Amanda ketika Satya memutuskan untuk menyetir sendiri kendaraannya dan meminta Amanda untuk ikut setelah pertemuan bisnis mereka berakhir di salah satu hotel ternama. Satya lalu melepaskan dasi yang ia pakai dan memasukkannya ke dalam saku celana yang ia kenakan. " Diam. Dan ikut saja. Atau kamu punya urusan lain?" " Nggak. Maksud saya tidak, pak" jawab Amanda singkat lalu duduk tenang tanpa sepatah katapun lagi. " Rumah kamu dimana?" tanya Satya akhirnya setelah beberapa menit mereka hanya salinh diam. " Nggak perlu pak. Saya bisa naik taksi kok. Bapak nggak---" " Siapa bilang saya mau ngantar kamu pulang?" tanya Satya mengejek. " Oh... Maaf, saya kira bapak... Sudahlah. Oh ya, saya tinggal di salah satu rumah milik perusahaan. Milik pak Sandy. Katanya kebetulan rumah itu kosong dan sayang kalau tidak ditempati malah akan rusak. Daripada saya nyewa, mending saya merawat rumah itu" " Sendirian?" Pertanyaan santai Satya barusan langsung membuat Amanda kebingungan dan gugup karena tidak tahu harus menjawab apa. Pasalnya ia belum tahu apakah Satya mengetahui masalah latar belakangnya dan belum tahu apakah ia akan bisa menerimanya atau tidak. " Ng... Saya tinggal sama ibu." " Berdua saja?" " Ng... itu... Ada... Ada dua keponakan saya juga." Satya lalu mengangguk paham. " Oke. Kita sampai." ucap Satya ketika mobil mereka berhenti di lobby hotel yang Ivan sebutkan di dalam pesan teksnya. Satya lalu dengan segera turun dari mobilnya dan menyerahkan kunci mobil miliknya pada petugas valet lalu merogoh saku di bagian dalam jas yang ia kenakan untuk mengambil ponsel miliknya. " Gue udah di lobby" ucapnya singkat lalu kembali memasukkan benda pipih tersebut. Amanda kini berjalan di belakang Satya dengan pertanyaan di kepalanya tentang apa yang akan mereka lakukan di tempat ini. (" Apa jangan- jangan dia mau ngajak gue nginap di hotel? Atau dia mau gue--") batin Amanda menerka nerka akan apa yang akan mereka lakukan di hotel tersebut. Mereka lalu naik ke dalam lift yang hanya ada mereka berdua di dalamnya. Hal yang kembali membuat Satya yang sudah sangat mahir dengan segala jenis wanita, kini harus gugup. Namun tidak begitu halnya dengan Amanda. Ia terlihat santai dan tenang meski begitu banyak pertanyaan di dalam kepalanya. TING Suara lift yang berhenti dan pintu yang terbuka membuyarkan lamunan Satya yang kembali mengingat kejadian tadi pagi sewaktu ia dan Amanda bertabrakan. " Ayo..." ajak Satya ketika mereka tiba di restoran yang Ivan maksudkan. Mereka berdua lalu berjalan untuk mencari meja yang telah Ivan pesan dan bersikap seolah mereka tidak sengaja bertemu. " Satya..." sapa seorang wanita. Wajah Satya yang nampak tidak mengenali wanita tersebut hanya mencoba untuk bersikap biasa saja meski ia yakin jika wanita tersebut pasti salah satu wanita yang pernah menghangatkan tempat tidurnya. " Hai..." jawab Satya santai. " Lama nggak ketemu. Kemana aja? Aku kangen ngobrol sama kamu" tentu saja ngobrol yang ia maksudkan sangat berbeda dengan arti sebenarnya. Amanda yang nampak biasa saja dan mencoba untuk tidak mencuri dengar percakapan bosnya, tiba- tiba terkejut ketika Satya memeluk pinggangnya. " Kenalkan, pacar saya" ucap Satya singkat yang langsung membalas tatapan terkejut dan heran Amanda dengan tatapan yang seolah memerintah dan menghipnotis. " Pacar?" tanya wanita itu dengan heran dan menatap Amanda dari ujung kaki. Amanda yang merasa tidak menerima dengan tatapan meremehkan gadis berambut coklat dengan potongan pendek sebatas telinga itu, langsung mengalungkan satu lengannya ke pinggang Satya dengan mesra. " Iya. Saya pacarnya. Dan kamu?" tanya Amanda ketus. " Saya---" " Oh... One of them. It's okay." Potong Amanda dengan sedikit memutar matanya dengan malas Jantung Satya bahkan serasa sudah sampai di telapak kakinya karena tidak menyangka Amanda bisa seperti saat ini. " Udah lama juga kan sayang? " Luar biasa. Satya serasa akan terbang saat ini. Matanya bahkan tidak bisa berpaling sedikitpun dari wajah Amanda yang nampak sangat berbeda dengan wanita yang biasa berbicara dengannya. (" Sayang? Iya, panggil aku sayang") batin Satya. " Sayang, bisa kita makan sekarang? Aku udah lapar" ucap Amanda manja seolah wanita tersebut tidak ada dihadapan mereka. Satya bahkan tidak dapat berkata apapun dan hanya mengangguk sambil berjalan meninggalkan wanita tadi. " Sialan!" maki wanita itu pada Satya dan Amanda. Mereka berdua lalu berjalan dengan lengan Satya yang masih tetap berada di pinggang Amanda. " Pak, maafkan saya. Saya bukan bermaksud menyinggung mantan pacar bapak atau bapak. Saya hanya tidak suka cara dia melihat saya" bisik Amanda menjelaskan tindakannya tadi pada Satya. " Dia bukan mantan pacar saya." Amanda menghentikan langkahnya. " Lalu? Keluarga bapak? Rekan bisnis?" tanya Amanda khawatir. " Hanya teman tidur saya sekali" ucap Satya santai dan berjalan sambil mengangkat tangannya pada Ivan yang seolah nampak terkejut melihat kedatangan Satya. " Satya? Hei bro. Kebetulan banget. Sama siapa?" tanya Ivan tepat disaat Amanda sudah berada di dekat meja mereka. " Ini... Hmm... Ini sekertaris saya. Sekaligus, well... Calon pacar saya.." jawab Satya dengan sedikit tertunduk tidak berani melihat reaksi Amanda. " So, ini Amanda?" tanya Ghea yang kini juga ikut berdiri bersama mereka. Amanda yang heran karena Ghea mengetahui namanya, menatap Satya seolah ingin mencari jawaban dari pria yang hanya mengangkat kedua bahunya dengan acuh itu. " Iya. Saya Amanda" jawab Amanda mencoba santai. " Well... Kami udah dengar banyak hal tentang kamu. Satya nggak pernah berhenti cerita soal kamu. Dan aku senang kita akhirnya ketemu. Aku Ghea. Tunangannya Ivan" jelas Ghea yang membuat Satya memberi kode agar ia bisa sedikit menyimpan rahasia. Amanda hanya tersenyum dengan manis meski ia tidak tahu apapun. (" Cantik. Kamu cantik sekali. Saat kamu marah tadi kamu cantik. Kamu anggun. Dan saat kamu senyum begini, kamu juga cantik. Sangat manis") " Sat, gimana kalau gabung sama kita aja? Kalian mau makan malam kan? Boleh kan ma? Pa?" tanya Ghea yang mendapat persetujuan sukarela dari kedua orang tuanya. " Gimana Manda? Kamu nggak masalah kan kalau kita duduk disini?" tanya Satya dengan lembut. Hal yang membuat Ivan dan Ghea saling bertukar pandangan karena kali ini Satya terlihat sangat gentleman dan berbeda dengan Satya yang biasanya hanya memerintahkan keinginannya pada wanita yang bersamanya. (" Manda? Oh Tuhan, kenapa pak Satya sekarang seperti gini?") " Iya... Tentu saja nggak masalah" " Good." ucap Satya lalu menarik satu kursi untuk Amanda duduki dan membuat wanita tersebut sangat tidak nyaman karena merasa atasannya tidak perlu melakukan hal seperti ini. " Saya jelaskan nanti" ucap Satya sedikit berbisik di telinga Amanda. (" Oh God, apa ini?")
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN