" Halo, siapa?" tanya Satya akhirnya karena nomer ponsel asing tersebut sudah beberapa kali meneleponnya.
" Saya Amanda, pak. Sekertaris pak Satya."
Satya langsung berdehem dan mencoba biasa saja meski kini ia seperti seseorang yang sedang dipergoki berbuat kesalahan.
" Saya tahu. Ada apa?"
" Maaf pak. Bapak baik- baik saja? Saya sejak tadi pagi coba menghubungi bapak tapi tidak dijawab. Saya khawatir bapak kenapa- kenapa karena bapak baru di kota ini“ ujar Amanda yang sedikit membuat Satya menghangat karena merasa Amanda memperhatikan dan mengkhawatirkannya.
" Saya baik- baik saja. Dan saya bukan orang baru disini."
" Syukurlah pak. Soalnya ibu khawatir sejak semalam karena bapak tidak angkat telepon dari ibu."
" Maksudnya? Bentar... Jadi mama yang suruh kamu telepon?"tanya Satya sedikit kesal.
" Iya pak. Saya menelepon karena di suruh ibu dan karena kita ada meeting jam 10 di---"
Tuuttt Tuuttt
Satya langsung mengakhiri panggilan Amanda karena kesal.
***
Amanda sedang tergopoh- gopoh berjalan menuju kamar hotel yang tadi disebutkan oleh atasannya melaui pesan singkat dengan membawa satu paper bag di tangannya dan satu kopi pesanan Satya di tangan lainnya.
Ia sedikit menghela nafas ketika sudah berada di dalam lift tanpa harus menunggu lama dan membuat bosnya yang omosional menjadi harus menunggu.
" 801, 803, 805, nah ini dia, 807." ucap Amanda lalu mengetuk pintu kamar atasannya meski ia nampak sedikit kerepotan.
Satya lalu membuka pintu dengan hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian pinggangnya ke bawah.
Amanda tentu saja sedikit terkejut akan pemandangan yang menyambutnya hanya bisa dengan cepat menggelengkan kepalanya secara perlahan.
" Mau berdiri terus disitu?" tanya Satya sinis.
" Oh... Iya pak" jawab Amanda sedikit gugup dan langsung masuk melewati Satya yang masih berdiri di ambang pintu.
Amanda lalu memandang keadaan kamar yang atasannya tersebut tempati dan bisa langsung mengetahui aktivitas yang telah terjadi semalam di ruangan tersebut. Kedua keningnya terangkat ketika melihat sebuah vas yang sepertinya terjatuh dan pecah dengan tidak sengaja.
" Siapkan barang- barang saya. Saya akan ganti baju. Kopi saya?"
" Oh, ini pak. Maaf..." ujar Amanda yang langsung mengulurkan kopi yang tadi ia beli.
Namun baru saja Satya hendak meneguknya, ia langsung mengulurkan kembali gelas kertas tersebut kepada Amanda.
" Coba dulu"
" Ng... iya pak" jawab Amanda gugup karena Satya masih bertelanjang dadaa seolah itu bukan hal yang luar biasa. Meski kenyataannya sangat mengganggu pandangan seorang wanita normal seperti Amanda.
Satya mengamati wajah Amanda dan langsung meraih kembali gelas dari tangan sekretarisnya tersebut. Akan tetapi, baru satu tegukan, wajah Satya nampak tidak menyukai kopi tersebut dan Amanda memperhatikan hal tersebut.
" Kenapa pak?"
" Beruntung sekarang saya sedang buru-buru, lain kali jangan pernah kasih saya kopi yang sudah dingin."
Satya mengambil paper bag dari tangan Amanda dengan sedikit kesal dan kembali memberikan Amanda gelas kopi miliknya.
" Habiskan !" perintah Satya lalu meninggalkan Amanda sendirian.
Amanda terus memperhatikan Satya yang melangkah menjauhinya yang masih berdiri terpaku. Ia bahkan dapat melihat tattoo kecil dengan siluet burung elang yang berada di bagian belakang pundak kanan kokoh pria tersebut.
(" He's hot!") batin Amanda yang tentu saja sama dengan pikiran wanita lain yang melihat tubuh Satya.
(" Sadar Manda....")
Amanda lalu menggelengkan kepalanya agar lamunannya akan Satya bisa hilang.
Beberapa saat kemudian, Satya keluar dari kamar mandi sudah dalam keadaan tampan dan rapih seperti biasa.
Amanda lalu membuka ponselnya dan membacakan aktivitas Satya untuk hari ini.
" Dasi saya?" tanya Satya di sela- sela ucapan Amanda yang masih memperhatikan ponselnya.
" Ya Tuhan, kamu tuli?" kesal Satya karena merasa Amanda tidak mendengarkan pertanyaannya.
" Iya pak? Maksud saya tidak saya tidak tuli"
" Trus? Mana dasi saya? Dan ingat, saya tidak suka mengulangi perkataan saya. Kalau kamu tidak becus, saya akan cari sekertaris yang baru"
" Maaf, pak. Soalnya bapak tadi bicara pas saya juga lagi ngomong dan saya---"
" Jadi saya yang salah?" tanya Satya ketus.
" Bukan... Bukan... Saya yang salah. Ini dasinya pak" jawab Amanda sambil membuka tas miliknya dan memberikan dasi cadangan yang selalu sengaja ia bawa di dalam tasnya untuk berjaga- jaga.
Satya lalu kembali mengambil dasinya dari Amanda dan menatap dasi tersebut.
" Punya siapa?"
" Punya saya pak. Maksud saya, bukan punya siapa- siapa. Saya hanya selalu bawa di dalam tas untuk jaga- jaga kalau pak Sandy atau siapapun atasan saya butuh tiba- tiba." jelas Amanda.
Satya nampak tak acuh akan ucapan Amanda lalu mulai mengalungkan dasi tersebut di lehernya tepat disaat ponsel didalam saku celananya bergetar.
" Ya..."
" Udah bangun loe?! Kirain masih on top of---"
" Ada apa?"
Amanda yang melihat Satya nampak kerepotan mengikat dasinya sementara ia sedang menelepon, dengan refleks langsung mengambil alih dasi tersebut dan berdiri sangat dekat di hadapan atasannya tersebut.
Satya yang terkejut akan pergerakan Amanda hanya bisa menelan salivanya karena gugup dengan jantung yang tiba- tiba tak karuan. Berbeda dengan Amanda yang nampak biasa saja dan tetap fokus pada kerah kemeja dan dasi Satya.
" Gini bro, gue butuh bantuan loe"
" Ekheemm... Bantuan apa?"
" Nanti malam gue ngajak orang tua Ghea makan malam. Dan loe tahu sendiri kalau papanya Ghea nggak begitu suka sama gue. Belum percaya gue sih lebih tepatnya. Katanya kita anak orang kaya pasti suka main perempuan, nggak bisa berkomitmen, pokoknya gitu lah..."
" Hubungannya sama gue?" tanya Satya masih dengan mata yang terus menatap tajam pada wanita yang berdiri di hadapannya.
(" Cantik. Kamu cantik sekali.") batin Satya menatapi setiap apa yang ada di wajah Amanda dan menurutnya semua sangat sempurna.
" Bisa nggak loe tiba- tiba datang atau kita pura- pura nggak sengaja ketemu dan loe gabung sama kami. Biar nggak tegang- tegang amat. Gue bisa mati karena tegang, bro"
" Bukannya bagus?" ejek Satya.
" Sudah pak. Sudah selesai" ucap Amanda sambil merapikan kerah baju Satya dengan kedua tangannya.
(" s**t!. I like her smell")
" Siapa Sat?" tanya Ivan ketika mendengar suara Amanda.
" Bukan siapa- siapa. Dan gue nggak bisa janji. Kenapa juga harus gue? Kenapa nggak Arka?"
" Yaelah... Kalau Arka yang ada malah jadi acara diem- dieman. Tahu sendiri dia irit ngomong. Sat, gimana kalau loe datang dengan sekertaris loe itu? Bilang aja dia temen dekat loe."
Satya menatap Amanda yang kini sibuk merapikan barang miliknya.
" Kenapa harus gitu?"
" Ya karena biar bokap Ghea percaya kalau orang kayak loe aja bisa berubah, berarti guepun bisa. Please lah Sat..." mohon Ivan dengan memelas.
" Kayak gue?"
" Yess... Loe kan terkenal banget banyak cewek. Jadi---"
TUT TUT TUT
" Sialan! Udah mau minta tolong, ngatain lagi!" maki Satya setelah mengakhiri panggilan Ivan.
Baru saja Satya membalikkan tubuhnya, Amanda pun hendak berjalan menuju Satya dan membuat mereka akhirnya saling bertabrakan.
Satya yang secara refleks memeluk pinggang Amanda agar tidak terjatuh, kini berdiri begitu dekat dengan tubuh sekertarisnya tersebut.
(" Can i kiss you?") batin Satya.