Seperti biasa Satya datang ke club malam salah satu sahabatnya yang bernama Ivan. Sahabatnya semasa kuliah di London yang juga seorang pengusaha muda. Bedanya, Ivan sudah memiliki tunangan yang amat ia sayangi.
" Jadi gimana hari pertama loe?" tanya Ivan pada Satya yang bersandar di sofa VVIP lantai atas klub malam mewah tersebut.
Satya tersenyum miring mendengar pertanyaan Ivan barusan.
" Gue udah ketemu sama dia." jawab Satya singkat lalu meraih gelas minumannya.
Ivan dan Ghea tunangannya lalu saling menatap dengan heran.
" Ketemu siapa?" tanya Ivan.
" Bokap loe? Bukannya lagi liburan?" timpal Ghea.
Satya menggeleng sambil menunduk. Kepalanya langsung memutar adegan pertama kali ia keluar dari lift dan mendapati Amanda yang berdiri menyambutnya.
" Lalu?" tanya Ivan penasaran.
" Kalian ingat gue pernah cerita kalau udah dua kali gue ketemu sama cewek yang waktu terakhir kali gue pulang kesini?" tanya Satya santai.
Ivan mengangguk sementara Ghea nampak tidak mengerti.
" Nanti aku ceritain" ujar Ivan yang seperti mengerti kebingungan kekasihnya yang kini mengangguk.
" Trus?" lanjut Ivan lagi.
" Gue nggak tahu tau pernah berbuat kebaikan apa sebelumnya sampai Tuhan ngasih gue kesempatan untuk ketemu dia saat ini. Tapi gue selalu yakin, everything happens for a reason."
" Dan gue nggak tahu apa alasan ketemunya gue ama dia. Dan asal kalian tahu, gue selalu gugup dekat dia"
" Wah... Wah... Seorang Satya gugup sama perempuan?!"
" Kamu jatuh cinta sama dia, Sat?" tanya Ghea.
" I dont know. But i do like her. Sejak pertama ngelihat dia setahun yang laluTapi untuk jatuh cinta, well you know kalau gue nggak kenal kata itu." jawab Satya santai.
" Udah coba loe dekatin?"
Satya menatap sinis pada Ivan.
" Aneh- aneh aja. Gue ini bosnya. Masa iya gue deketin dia dihari pertama gue. Lagian gue belum tahu seperti apa dia. Bisa aja kan dia seorang sugar baby, atau lesbian, atau istri orang, atau mantan narapidana, atau punya seks menyimpang, BSDM maybe..." ujar Satya panjang lebar dengan santai meski dalam hatinya ia berharap itu semua bukanlah kenyataan.
" Yang, kayaknya kamu bener deh. Dia sedang jatuh cinta" ujar Ivan yang langsung membuat Ghea mengangguk cepat.
" Terserah kalian. Yang jelas dua kata itu nggak ada dalam hidup gue!"
Satya lalu mengangkat tangannya pada seorang gadis yang sejak tadi melirik padanya. Tak lama kemudian gadis dengan pakaian sangat minim itupun datang mendekati Satya dan kawan- kawannya. Arka, sahabatnya yang sejak tadi lebih memilih untuk tetap fokus pada ponsel pintarnya namun tetap memasang telinga akan percakapan kedua sahabatnya itu sesekali hanya tersenyum menanggapi lelucon Ivan pada Satya.
Ketiga sahabat itu memang berbeda karakter. Ivan orang yang ceria, santai, humoris, dan romantis. Petualangan cintanya usai ketika ia bertemu Ghea yang merupakan karyawan di salah satu restaurant miliknya. Arka adalah seorang pengacara sukses di firma hukum orangtuanya. Dia adalah yang paling kalem, pendiam, dan tenang diantara mereka bertiga. Meski mereka selalu menghabiskan waktu bersama, namun Arka tidak menyukai ditemani oleh wanita panggilan. Ia lebih memilih untuk menunggu kedatangan seseorang yang membuatnya jatuh cinta untuk menggantikan kekasih lamanya yang telah menikah. Sedangkan Satya yang cenderung emosional, kekanak- kanakan, playboy, namun dialah yang tertampan dan terkaya diantara mereka bertiga. Meski berbeda karakter, mereka selalu saling mendukung, saling menyayangi dan saling menghargai.
Dan saat mereka memasuki klub malam, sudah dapat dipastikan mereka adalah incaran utama gadis- gadis seksi yang bahkan akan dengan senang hati melepaskan pakaian mereka meski tanpa bayaran. Namun untuk Ivan, itu sudah tidak berlaku karena ia selalu mengajak Ghea bersamanya.
" Guys, gue duluan" ujar Satya singkat sambil berjalan dan mengulurkan tangannya pada gadis yang kini telah berada di hadapannya lalu kemudia saling merangkul dan berlalu.
Ketiga orang yang masih duduk di meja mereka hanya bisa menggeleng dan menganggap itu adalah hal biasa.
" Satya... Satya... Kirain ketemu tuh cewek malah tobat. Eh ternyata...ckckkckc" ucap Ivan.
Arka meletakkan ponselnya dan meneguk satu gelas kecil minumannya. Terasa sedikit pahit namun juga ada sensasi manis dan asam di pangkal lidahnya namun minuman itu tetap ia habiskan.
" Dan kalau dia jatuh cinta, gue akan jadi orang pertama yang akan ketawain dia"
" Bener. Suatu saat dia akan ngemis sama perempuan yang dia cintai. Suatu saat dia akan bertekuk lutut sama satu wanita. Dan semoga bukan Freya lagi. Cheers..." tambah Ivan yang kini menaikkan gelasnya ke atas yang diikuti oleh Ghea dan Arka.
" Untuk cinta sejati Satya"
" Untuk perempuan yang akan buat dia nangis dan ngemis" imbuh Ghea yang langsung mengundang tawa Ivan dan Arka bersamaan.
***
Satya memegangi kepalanya karena sensasi alkohol yang ia teguk bersama gadis yang bersamanya hingga pagi ini. Kepalanya sangat pusing dan juga badannya serasa akan remuk.
" Pagi ganteng... Kamu hebat banget semalam. Aku sampai kewalahan. Bisa kita ulangi sekarang?" ujar gadis berambut hitam panjang tersebut yang kini masih berada di dalam selimut dan menatapi punggung telanjang Satya.
Otak Satya lalu dengan cepat memutar kejadian semalam sebelum ia benar- benar mabuk dan meniduri wanita yang ia bahkan tidak tahu namanya.
Satya ingat ia terus dicumbu oleh wanita tersebut sambil saling menuangkan minuman keras yang Satya pesan dari hotel tempat mereka menginap.
( " Amanda?" ) itulah kata yang terakhir Satya ucapkan ketika wanita tersebut melepaskan pakaiannya dan mengibaskan rambut hitam panjangnya. Ia terus mencumbu tubuh mulus itu sambil terus membayangkan wajah Amanda seolah wanita yang telah berada di bawah kungkungan tubuhnya itu adalah sekertarisnya sendiri.
(" Shittt!!! ")
" Sorry, saya harus kerja. Kamu boleh pergi. Ada supir saya yang akan mengantar kamu pulang. Dia akan tunggu di bawah. Uangnya juga akan di berikan." ucap Satya santai.
" Sebenarnya kamu nggak perlu bayar aku. Aku juga menikmati yang semalam."
" Jangan. Saya tidak mau berhutang apapun. Silahkan ambil dan pergi"
Satya lalu dengan santainya berjalan tanpa busana menuju kamar mandi dan meninggalkan wanita tersebut dengan pandangan yang seolah ingin menerkam Satya.
" Sialan, padahal gue masih pengen. Dia mau make gue sampe malam nonstop pun gue terima." ujarnya sambil mengingat bagaimana Satya mencumbu dan sangat menikmati setiap inchi tubuhnya.
Bahkan hanya membayangkannya saja, kewanitaannya sudah kembali melembab dan meminta lebih. Ia lalu mencari pakaiannya yang berserakan dan mulai mengenakannya disaat Satya juga telah keluar dari kamar mandi dan seolah tidak mempedulikan kehadiran wanita yang kini sisa merapikan rambutnya.
" Beruntung banget ya si Amanda itu" ucapnya sambil meraih tas miliknya dan mencari pemoles bibirnya.
Satu kening Satya terangkat mendengar nama Amanda dari mulut wanita tersebut.
" Amanda?" tanya Satya.
Wanita tersebut mengangguk dengan yakin dengan senyum smirk di wajahnya.
" Sejak semalam kamu hanya menyebut namanya. Oh baby, Amanda ku sayang, oh amanda... Apa dia pacar kamu?"
Satya yang nampak malu kini hanya mencoba membuang muka.
" Bukan siapa- siapa dan bukan urusan kamu. Supir saya sudah di bawah" ucap Satya lalu berjalan untuk mencari ponsel miliknya yang kini bergetar.
" Halo, siapa?" tanya Satya akhirnya karena nomer ponsel asing tersebut sudah beberapa kali meneleponnya.
" Saya Amanda, pak. Sekertaris pak Satya."