Trip

1008 Kata
" Kamu menyetir. Saya masih ngantuk" ucap Satya sambil melemparkan kunci mobil pada Amanda yang baru saja meletakkan kopi mereka di dalam mobil. " Saya pak?" tanya Amanda. " Kamu bisa nyetir kan" tanya Satya yang diangguki oleh Amanda. " Ya sudah. Ayo berangkat." ucap Satya santai sambil mengenakan kacamata hitam miliknya yang senada dengan celana dan baju kaos yang dipakainya. Amanda mengerjapkan matanya lalu dengan cepat menggelengkan kepala ketika sadar hari ini Satya terlihat lebih santai dan lebih sesuai dengan umurnya. Dan tentu saja, dimata siapapun, bosnya tersebut selalu sangat tampan dan gagah. Amanda lalu berjalan memutari mobil atasannya untuk menuju kursi kemudi dan sedikit melambaikan tangan pada Rama yang hanya tersenyum melihat mereka. " Kamu dekat sama Rama?" tanya Satya kesal karena melihat kedua karyawannya tersebut saling melemparkan senyum. " Maksudnya pak?" " Lupain saja. Saya ngantuk." " Bapak nggak tidur semalam?" tanya Amanda sambil mengenakan sabuk pengamannya. " Gara- gara kamu! Udah buruan nyetir. Hati- hati kamu nyetirnya. Saya tahu kamu nggak biasa bawa mobil sport. Jadi kamu har---" Ucapan Satya terhenti ketika Amanda langsung menginjak pedal gas dengan kecepatan sedikit tinggi dengan percaya diri dan melajukan kendaraan mahal milik Satya dengan santai lalu berhenti dengan mulus sebelum belokan menuju jalan raya. " Kamu siapa sih?" tanya Satya kesal dan hanya dibalas dengan senyuman smirk dari Amanda yang nampak sangat cantik. *** Past lives couldn't ever hold me down Lost love is sweeter when it's finally found I've got the strangest feeling This isn't our first time around Past lives couldn't ever come between us Some time the dreamers finally wake up Don't wake me I'm not dreaming Don't wake me I'm not dreaming ( Past lives - Borns) Amanda terus menyenandungkan lagu yang sedang diputar di music player mobil yang masih ia kemudikan sementara pemiliknya nampak masih tertidur pulas. So save that heart for me Cause girl you know that you're my destiny Swear to the moon, the stars The sons, and the daughters Our love is deeper than the oceans of water Amanda sedikit terkejut karena Satya tiba- tiba ikut bersenandung bersamanya dan langsung meneguk sisa kopi miliknya sambil memperbaiki posisi duduknya lebih tegak. Amanda tersenyum karena ia tidak tahu jika atasannya tersebut ternyata bisa sedikit bernyanyi. Hey, I need you now I've waited oh so long yeah Baby love, I need you now I've waited oh so long Lalu mereka berdua pun tertawa bersama. " Bapak tahu lagu ini?" " Pernah dengar sih. Kamu?" " Udah lama ada di playlist saya pak." jawab Amanda santai dan Satya hanya mengangguk paham. " Baby child... i lost without your love..." lirih Amanda. Satya dapat melihat jika ada sisi ceria di dalam diri Amanda yang ternyata tersembunyi selama ini. Sewaktu ia membuka mata tadi, ia tetap mengamati Amanda yang bahkan tidak sadar jika ia sudah terbangun karena asik bersenandung dengan tanpa sadar sedikit menggoyangkan bahunya seolah sangat menikmati apa yang sedang ia lakukan. Through all of my lives I never thought I'd wait so long for you The timing is right The stars are aligned ( Senandung mereka berdua bersamaan) Satya lalu menekan tombol yang langsung membuka atap mobil sport miliknya karena kini mereka sudah memasuki daerah yang jarang penduduk dan cuaca sangat teduh. " Oh, sorry..." ucap Satya karena melihat Amanda kini merapikan anak rambutnya dan hendak menutup kembali atap mobil miliknya. " Eh, nggak usah pak. Saya suka kok. Malah sejak tadi mau saya buka tapi bapak masih tidur. Takut bapak nggak suka" jawabnya santai. " Tapi saya boleh minjam kacamata bapak nggak? Soalnya takut mata saya masuk angin" Satya hanya tersenyum mendengar mata Amanda yang akan masuk angin. Meski terdengar rancu, namun Satya mengerti maksudnya dan memberikan kacamata lain yang ia simpan di dalam dashboard mobil miliknya. Ia kembali menatap Amanda yang kini sangat menyenangkan menurutnya. Bukan wanita serius yang hanya berkutat dengan pekerjaannya seperti yang selama ini ia lihat dalam beberapa hari. Ia juga berbeda dengan wanita yang biasanya akan menolak jika Satya membuka atap mobil miliknya karena takut tatanan rambut dan dandanannya akan rusak. " Kita gantian. Biar saya yang nyetir. Kamu sudah sejak tadi menyetir" " Pak Satya nggak ngantuk lagi kan?" " Masih sangat ngantuk! Ayo minggir" Amanda hanya menoleh sesaat karena tahu Satya pasti hanya bercanda. Ia kemudian menepikan kendaraannya dan keluar dari mobil dan seketika langsung nampak sangat takjub akan apa yang ia lihat saat ini. " Wwaaaaahh... Bagus banget...!!! Bagus banget kan pak? Lihat deh" seru Amanda pada Satya yang baru keluar dari mobilnya sambil menunjukkan hamparan laut yang berwarna biru kehijauan di bawah sana. " Biasa aja" jawabnya santai. " Biasa? Pak ini---" Amanda sangat bersemangat ketika hendak menunjukkan pemandangan tersebut pada Satya tepat ketika pria itu sedang berjalan di dekat Amanda dan hendak menuju kursi kemudinya dan membuat mereka saling bertubrukan. Posisi mereka berdua kini kembali begitu dekat dan sangat intens. Satya bahkan dapat melihat ke dalam iris mata coklat Amanda dengan dekat. Tatapan matanya beralih pada bibir merah muda segar yang kini nampak mecoba menghembuskan nafas karena gugup. Kedua telapak tangan Amanda berada di d**a bidang atasannya entah dengan sadar ataupun tidak. " Ma--- Maaf pak..." " Ayo cepat naik" ucap Satya akhirnya. Mereka berdua lalu saling melepaskan tubuh masing- masing dan kembali ke tempat duduk mereka dengan salah tingkah namun ada sedikit senyum di sudut bibir mereka berdua. Mereka berdua lalu kembali melanjutkan perjalanan mereka tanpa berbicara apapun lagi. Satya tetap menatap fokus pada jalanan di hadapannya juga maps yang menuntun mereka sejak tadi. Sedangkan Amanda sibuk mengambil beberapa gambar ketika melihat hal- hal ataupun pemandangan yang menurutnya indah dengan kamera milik perusahaan yang memang sengaja ia bawa. Sesekali Satya memperhatikan Amanda dari kaca spion ataupun dengan ekor matanya. Ia ikut tersenyum ketika Amanda nampak tersenyum puas dengan tangkapan kameranya dan itu nampak lucu dan menggemaskan bagi Satya yang kini melihat Amanda tidak sama lagi dengan sebelumnya. Sosok serius dan membosankan itu tiba- tiba sirna dan kini Amanda nampak seperti gadis remaja yang baru merasakan kebebasannya. Ia bagaikan kura- kura yang keluar dari cangkangnya. (" Apa gue beneran suka sama dia?")
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN