Want Her

1046 Kata
Setelah beberapa jam perjalanan dan langsung dilanjutkan dengan pertemuan bisnis mereka yang berjalan dengan lancar, kini mereka akhirnya bisa beristirahat di kamar mereka masing- masing. Amanda langsung mengguyur tubuhnya dengan air hangat dan berencana akan segera tidur untuk memulihkan kembali tenaganya di kamar yang berada tepat di sebelah Satya. Dan setelah semua ritual sebelum tidurnya ia tuntaskan, akhirnya Amanda memilih tidur dengan mengenakan jubah mandi yang melekat ditubuhnya karena sudah terlalu malas dan lelah untuk mengambil koper miliknya yang ternyata tadi diantarkan ke kamar Satya. Baru beberapa saat ia memejamkan mata, Amanda terpaksa harus terbangun karena suara ketukan yang muncul dari arah pintu kamar yang ia tempati menuju pintu yang masih diketuk sesekali. Amanda lalu berjalan gontai sambil membenarkan ikatan rambut dan juga jubah mandi yang ia kenakan. " Pasti koper aku" ucapnya dengan mata yang masih sedikit terpejam untuk membukakan pintu kamarnya. " Masuk, mas. Simpan di dalam aja. " ucapnya santai ketika membuka pintu dan langsung kembali melengos menuju tempat tidurnya dengan malas. Amanda masih bisa mendengar suara pintu yang tertutup dan suara roda koper miliknya yang sedang ditarik namun terlalu mengantuk untuk membuka matanya. " Nggak makan dulu? Ini saya bawakan makanan" tanya pria yang membawakan koper milik Amanda. " Simpan disitu saja pak Satya. Saya..." seketika Amanda langsung membuka matanya dengan sempurna ketika sadar jika suara itu adalah milik atasannya. " Pak Satya?!" Amanda langsung terlonjak dan berdiri dari posisi tidurnya dengan cepat. " Maaf pak Satya. Saya kira pak Satya orang lain. Saya kira room---" " Ayo makan. Saya udah lapar banget. Makanan yang tadi nggak bikin saya kenyang. Ada air putih?" potong Satya yang langsung menarik salah satu kursi di sebuah meja makan kecil yang ada di kamar Amanda. " Ada pak. Tunggu sebentar" ucap Amanda langsung mencarikan Satya sebotol air mineral dan gelas untuk minum. " Ayo duduk" ucap Satya ketika Amanda meletakkan minuman untuknya. " Baik pak" Mereka berdua lalu makan dengan diam dan saling melirik beberapa kali dengan sembunyi- sembunyi. Amanda yang awalnya juga merasa biasa saja dengan atasannya itu, kini merasa selalu gugup jika harus berhadapan langsung sejak kejadian yang selalu mendekatkan mereka berdua. Sebenarnya bisa saja mereka berdua pulang malam ini, namun entah mengapa Satya merasa ini saat yang tepat untuk lebih mengenal Amanda dan masing ingin bersama dengannya lebih dekat, hingga memutuskan untuk menginap. Ponsel milik Amanda berdering dan Amanda langsung mencari benda tersebut karena tidak ingin mengganggu Satya yang masih nampak asik dengan makanan dihadapannya. " Pak, saya angkat telepon dulu" ucap Amanda yang hanya diangguki santai oleh Satya dan langsung membuat Amanda sedikit menghindar untuk menjawab panggilan yang ternyata dari ibunya. " Halo..." jawab Amanda. " Mama...!" seru Safa. " Halo sayang..." (" s**t! Sayang? Gue nggak salah dengar kan?") batin Satya yang mencuri dengar pembicaraan Amanda namun terlihat cuek sambil menghentikan kegiatan makannya dan menatap layar ponsel miliknya. " Mama ngapain?" " Lagi makan aja sih. Kamu udah makan?" " Udah dong ma... Banyak lagi. Abang tuh, makannya dikit" " Bo'ong ma... Aku makan banyak kok!" seru Rafa yang Amanda yakini pasti kini kesal dengan keusilan adiknya. " Kok belum tidur?" " Dikit lagi, ma... Adek kangen mama... Mama kangen nggak?" ucap Safa manja. " Kangen lah... Kangen banget" ( " Cih... Kangen? Emang berapa lama sih mereka nggak ketemu? Apa karena itu dia nggak pernah ngelirik gue?") batin Satya mulai kesal. " Ya udah. Adek bobo ya ma... Besok mama pulang cepet ya..." " Iya sayang... " " Adek sayang mama. Love you mama..." " I love you more baby..." (" s**t! s**t! s**t!") Setelah mengakhiri obrolannya dengan Safa, Amanda lalu kembali mendekati Satya yang telah selesai dengan makanannya dan hendak berdiri untuk kembali ke kamarnya dengan kesal. " Pak Satya, sudah selesai?" " Hmmm.." " Pak, apa boleh saya minta tolong?" Satya lalu menoleh dengan malas pada Amanda yang kini nampak ragu dan menggigit bibir bawahnya yang sialnya sangat seksi bagi Satya saat ini. " Apa?" " Ng... itu pak... Pak Satya punya charger?" " Punya " " Bisa saya pinjam?" " Ke kamar saya" " Ba--- Baik pak“ Amanda lalu dengan segera mengikuti Satya menuju kamarnya untuk mengambil charger ponsel yang ia butuhkan karena ternyata ia melupakan charger miliknya. Sebenarnya Amanda ingin mengganti pakaian terlebih dahulu, namun karena melihat mood atasannya tiba- tiba buruk dan posisi kamar mereka yang hanya bersebelahan, maka menurutnya tidak mengapa jika ia hanya mengenakan jubah mandi tersebut sesaat. Satya lalu membuka pintu kamarnya dan berjalan santai sambil mengulurkan key card miliknya pada Amanda untuk menyambungkan aliran listrik di dalam ruangan tersebut. " Cari saja. Tadi saya simpan di meja. Saya mau mandi. Jangan lupa tutup pintunya" ucap Satya bahkan tanpa menoleh pada Amanda dan langsung memasuki kamar mandi yang berada di hadapannya. (" Dia kenapa sih?") batin Amanda. Amanda lalu dengan cepat mencari benda yang ia butuhkan tersebut ke seluruh penjuru ruangan dengan seksama. Amanda mencari hingga ke kolong tempat tidur yang nampak mustahil, ke bawah bantal yang nampak belum di tiduri, ke sisi sofa, ke bawah meja, ke belakang nakas tempat tidur, bahkan ke meja kecil di sudut ruangan. Amanda terus membungkuk jika saja benda tersebut terjatuh dan luput dari penglihatannya. Namun karena terlalu serius mencari charger tersebut, ia bahkan tidak sadar jika ia membungkuk tepat di hadapan Satya yang kini hanya mengenakan handuk hingga sebatas pinggangnya. Satya POV Aku keluar dari kamar mandi setelah meredakan kekesalanku pada Amanda yang ternyata telah memiliki kekasih. Hal yang membuatku kesal adalah ia bahkan tidak pernah terlihat tertarik padaku. Namun betapa terkejutnya aku ketika aku keluar, Amanda masih berada di dalam kamarku dan kini sedang membungkuk tanpa menyadari keberadaanku. Aku bahkan dapat melihat belahan dadaanya dari tempatku berdiri. Shit! Aku membayangkan bentuknya dan rasanya akan seperti apa didalam sana. Seketika keinginan liar yang selama ini bersarang di kepalaku, muncul di permukaan. Dan terlebih lagi karena ia telah melukai harga diriku sebagai lelaki dengan tidak pernah melirik padaku. Aku ingin membuktikan padanya jika aku bisa lebih baik dari kekasihnya. Ciumanku lebih hebat dari ciuman kekasihnya. Sentuhanku lebih memabukkan dari sentuhan kekasihnya. Aku akan membuktikan itu padanya. Dan setelah itu, biarkan dia yang memutuskannya. Ghea benar, aku menyukainya. Bukan, aku bahkan sangat menyukainya. Entah karena apa, entah mengapa, entah sejak kapan, tapi yang kutahu, aku ingin menyentuh dan memilikinya. Terserah apapun istilahnya, yang kutahu, aku menginginkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN