Sesampainya di rumah Nanon, Melvin langsung masuk ke dalam tanpa permisi karena ia sudah hafal bahwa kedua orang tua temannya itu tak pernah berada di rumah, melainkan bekerja hingga larut malam.
"Disini, Vin!" seru Nanon dari balik sofa, lelaki berbalut kaos polos berwarna putih tersebut kini tengah asik bermain PlayStation di ruang tamu.
Melvin mengernyit, sejak di luar tadi ia juga tak melihat keberadaan teman satu kelompoknya yang lain, di dalam pun hanya ada Nanon dengan makanan ringan serta es jeruk di atas meja.
"Temen-temen yang lain pada kemana?" tanya Melvin tetap berdiri di tempatnya berada.
"Tadi ada Dika sama Neo kesini, tapi laptop Neo yang isinya setengah tugas kita tiba-tiba mati. Jadi ke kosan anak teknik buat servis," tutur Nanon yang dijawab anggukan mengerti oleh Melvin.
Melvin kemudian berjalan duduk di sebelah Nanon, namun menolak uluran stik PlayStation padahal tengah memainkan FIFA 19, salah satu permainan favoritnya. Entah kenapa, ia tiba-tiba memikirkan keadaan Gia saat ini, padahal gadis itu pasti akan diobati oleh kekasihnya, kan?
Tapi tetap saja, mengingat bahwa Desta sempat marah padanya dan Gia tadi membuat Melvin tidak bisa berpikir positif, bisa jadi junior manisnya itu saat ini justru tengah disakiti oleh Desta.
Baiklah, satu-satunya jalan adalah Melvin harus memastikannya sendiri. Bukan datang ke apartemen Gia seolah dengan senang hati menyerahkan diri kepada Desta. Ia lebih memilih cara yang sedikit aman, yaitu menghubunginya lewat sebuah pesan.
"Adik lo kemana, Nan?" tanya Melvin.
Nanon yang masih fokus dengan permainan hanya melirik lelaki itu sekilas, sedikit heran namun tak terlalu peduli, "Ada di kamar atas," jawabnya singkat.
Mendengar jawaban dari Nanon membuat Melvin kembali berdiri dari sofa lalu berlari menaiki tangga menuju kamar Yena yang entah berada di mana. Ke atas dulu, nanti ketuk satu persatu, pikir Melvin.
"Eh, mau kemana lo?" tanya Nanon.
"Mau ke kamar Yena," jawab Melvin tak acuh sembari terus berjalan menaiki anak tangga.
Nanon mendelik ketika mendengar ucapan Melvin. Entah apa urusannya, tetapi sebagai seorang kakak yang baik, Nanon juga harus tau.
"Ngapain ke kamar adik gue? Lo suka sama Yena ya!" tuduh lelaki tersebut hingga membuat Melvin jengah kemudian berhenti tepat di pertengahan anak tangga.
Siapa juga yang mau berpacaran dengan gadis bermulut pedas serta sabuk cokelat karate tersebut, cibir Melvin dalam hati.
"Mau minta nomor Gia, lagian gue juga udah punya pacar," balas pemuda itu.
Kini ganti Nanon yang memutar bola matanya jengah, sudah berulang kali temannya itu berkata bahwa ia memiliki kekasih, namun sampai saat ini pun Nanon belum mengetahui bagaimana rupa dan nama kekasih Melvin sama sekali. Jangankan Nanon, sang kakak saja meragukan hal itu.
"Tunggu disini aja, dia lagi mandi. Habis ini pasti turun kok, tadi izin mau keluar sama Arhan," cegah Nanon.
Ia hafal betul bahwa sang adik pasti akan memaki habis-habisan orang yang menganggu kegiatan mandinya. Maka dari itu, Nanon tidak ingin Melvin tercengang sekaligus menjadi korban berikutnya.
15 menit kemudian, seorang gadis berbalut hoodie putih turun menyusuri anak tangga sembari sesekali bersenandung ria. Melvin yang sejak tadi menggerakkan kaki karena tak sabar akhirnya mengulas senyum seolah menemukan sosok penolong di tengah bencana.
"Yena, sini!" seru pemuda itu ketika melihat Yena terus berjalan menuju depan pintu, Arhan sudah menunggunya di gerbang sana.
"Ada apa kak? Gue mau keluar sama Arhan, nih. Kasihan udah nunggu diluar dari tadi," keluh Yena namun tetap memutar tubuhnya berjalan menuju sofa dan berdiri tepat di depan Melvin.
Sang senior kemudian mengeluarkan ponsel pintarnya dari dalam saku, membuka fitur kontak lalu memberikannya kepada Yena, "Kasih gue nomor Gia," ucapnya.
"Jangan banyak tanya, kasihan Arhan udah nunggu di luar dari tadi," imbuh Melvin menirukan ucapan Yena beberapa saat lalu agar gadis tersebut tidak menanyakan hal yang aneh-aneh.
Yena mengernyit dan tak menerima uluran ponsel itu, ia beralih menatap Nanon yang masih fokus bermain PlayStation, "Kak Nanon punya nomor Gia, kok. Kenapa nggak minta ke dia aja?"
Mendengar hal tersebut seketika membuat Melvin menatap Nanon tak percaya. Kenapa temannya ini tak memberi tau sejak tadi bahwa memiliki nomor Gia? Dan tunggu, untuk apa juga Nanon menyimpan nomor gadis itu?
"Waktu itu kak Nanon pengen deketin Gia, tapi ditarik sama kak Melvin duluan. Eh ternyata Gia udah punya pacar sendiri, kasihan deh kakak-kakak ini," ejek Yena hingga membuat Melvin dan Nanon melengos pelan.
Benar-benar ucapan yang tidak bermutu, batin keduanya.
Tak lama kemudian, Yena menangkap sesuatu yang aneh dari wajah tampan Melvin. Ada bekas merah samar di pipi sebelah kanannya, lelaki itu pun terlihat sesekali meringis menahan nyeri.
"Kak Melvin pipinya kenapa? Habis berantem?" tanya Yena.
Melvin mengangguk mengiyakan setelah sebelumnya mengambil alih ponsel milik Nanon untuk mengirim nomor Gia, "Udah, pergi sana. Katanya Arhan udah nunggu di luar."
Gadis itu mendelik, ia bahkan berada di rumahnya sendiri. Tetapi ucapan Melvin tadi seakan tengah mengusirnya agar segera pergi. Tidak ingin beradu mulut dengan seniornya yang terkesan kaku dan dingin tersebut, Yena memilih untuk mengalah dan pergi keluar menemui Arhan yang telah menunggu sejak 16 menit lalu.
Di depan gerbang rumah yang tak terlalu besar namun juga tidak bisa dibilang kecil, seorang lelaki dengan kaos lengan panjang bergaris tengah duduk di atas jok motor miliknya.
Arhan sesekali menggerutu karena cuaca sore ini masih terik namun Yena memaksa agar dirinya membawa sepeda motor saja daripada mobil. Agar bisa menembus kemacetan serta lebih cepat sampai mall, ucap Yena beberapa waktu lalu saat Arhan menelponnya.
Walaupun menggerutu, anehnya pemuda itu tetap menuruti kemauan sang teman, ia juga langsung terdiam ketika melihat Yena setengah berlari menuju ke arahnya saat ini.
"Maaf nunggu lama. Tadi ada kak Melvin minta nomor Gia," ucap Yena setelah membuka gerbang rumah.
Arhan mengangguk tanpa ingin bertanya lebih jauh, itu bukan urusannya dan ia tidak mau kembali diingatkan oleh Yena seperti kala itu. Tidak semua hal kita harus tau, dan terkadang kita tidak perlu mengetahui sesuatu jika tidak ingin merasa patah.
"Eh, bentar. Ada sesuatu di rambut lo." Tahan Arhan ketika melihat Yena hendak memasang helm di kepalanya.
Tangan pemuda itu bergerak ke belakang kepala Yena, raut wajah yang terlihat sangat meyakinkan membuat si gadis ikut terdiam dengan dahi mengkerut.
Hingga tak lama kemudian, tangan Arhan kembali ke depan wajah Yena. Ada sebuah cokelat berbentuk persegi kecil di genggamannya.
"Buat lo. Katanya kalau makan cokelat bisa bikin kita ngerasa makin bahagia. Apalagi kalau gue yang beliin," tutur Arhan seraya tersenyum menampilkan deretan giginya yang putih dan rapi.
Yena menerima cokelat tersebut dengan senyuman yang tak kalah merekah. Beberapa daun berwarna keemasan yang terjatuh akibat diterpa angin sore membuat suasana menjadi romantis, jarang sekali keduanya terlihat akur seperti sekarang.
"Kok kecil, sih. Nanggung amat, pasti nggak ikhlas nih!" cibir Yena kesal lalu memasukkan cokelat tersebut ke dalam tas selempang yang ia pakai.
Senyuman Arhan seketika luntur, gadis ini memang tidak pernah diajari bagaimana sikap yang baik untuk berterimakasih, persis seperti sang kakak, gerutunya dalam hati.
"Itu juga cokelat bonus waktu beliin keponakan gue. Daripada diomelin mamanya karena kebanyakan makan cokelat, jadi gue kasih ke lo. Cepet naik!" Balas Arhan seraya menepuk pelan jok motor bagian belakang agar Yena segera naik.
Kedua orang tersebut akan pergi ke mall untuk membeli beberapa buku serta menuruti permintaan si wanita yang ingin menonton sebuah film baru di bioskop.
Sedangkan di tempat lain, ada seorang gadis yang kini tengah duduk sendirian sembari bermain ponsel genggam. Dia adalah Gia, ia saat ini berada di kantin apartemen untuk memesan beberapa makanan karena entah kenapa, Desta tiba-tiba tidak bisa dihubungi.
Setelah sampai di apartemen pun Desta hanya memperingatkan Gia untuk tidak melakukan hal-hal yang membuat lelaki itu kembali marah lalu pergi begitu saja.
Luka di sudut bibir Gia belum sembuh, bahkan sama sekali tak tersentuh obat karena ia tak memiliki kotak P3K di apartemen miliknya. Saat ini pun ia mengutuk dirinya sendiri karena lupa memakai masker dan lukanya yang membiru pasti akan menjadi perhatian banyak orang.
Sejak 15 menit lalu, sembari menunggu makanan siap, Gia bertukar pesan dengan Melvin. Lelaki itu langsung mengirimkan pesan untuk bertanya keadaan Gia tepat setelah menerima nomornya dari Nanon.
Karena pesan terakhir yang gadis tersebut kirimkan hanya dibaca oleh Melvin, Gia memutuskan untuk mengalihkan atensinya dari ponsel menuju ke arah sekitar hingga tiba-tiba terkejut ketika melihat seseorang duduk di hadapannya sembari bermain ponsel pula.
"Kak Gemilang?" panggilnya.
Gemilang baru saja duduk di hadapan Gia sekitar 5 menit lalu, melihat si gadis yang masih fokus menatap ponsel sembari menundukkan kepala membuatnya mengurungkan niat untuk menyapa Gia.
Bukan hanya Gia yang terkejut, Gemilang juga ikut terkejut ketika melihat lebam biru di sudut bibir gadis itu. Senyuman yang sudah Gemilang siapkan sejak tadi pun langsung hilang begitu saja.
"Bibir kamu kenapa?" Mode bicaranya berganti serius diikuti dengan kedua alis yang menyatu.
Gia tersenyum kecil, "Nggak apa-apa," jawabnya.
Gemilang tau, luka tersebut seperti bekas pukulan dan itu bukanlah hal yang 'tidak apa-apa'. Namun, siapa yang memukul Gia? Bahkan sebagian laki-laki pun tidak akan tega memukul seorang wanita, kan? Kecuali jika itu sudah dibutakan oleh amarah.
"Gia, kamu bisa cerita apa aja ke saya. Ya, walaupun kita baru bertemu beberapa hari, tapi saya bisa kok jadi teman cerita kamu," tutur Gemilang mulai lembut karena tak ingin Gia menjadi takut akan gaya bicaranya yang dingin tadi.
Gia mengangguk kepala, sebenarnya ia juga memiliki banyak teman bercerita seperti dokter Rachel, Yena, dan Arhan. Namun dirinya sendiri memilih untuk memendam semuanya selagi bisa dan menangis di tengah malam apabila sudah tidak tahan.
Jam di ponsel milik Gemilang telah menunjukkan pukul 5 sore, ia harus bergegas menuju tempat bimbingan belajar dan menyiapkan materi sebelum para murid bimbingannya memulai pelajaran pukul 6 nanti.
Sebelum pergi, lelaki berbalut kemeja putih tulang dengan bawahan celana kain berwarna cokelat tersebut memberikan sebuah kartu nama miliknya kepada Gia.
"Itu ada nomor ponsel saya. Kalau ada apa-apa, sebagai tetangga yang baik, kamu harus langsung hubungi saya ya!" ucap Gemilang sembari tersenyum manis lalu mengedipkan sebelah matanya hingga sukses membuat Gia mematung.
Sangat tampan.
Gia menggelengkan kepala dengan cepat ketika sadar bahwa dirinya telah memuji laki-laki lain. Sungguh, ia tidak berniat begitu. Tetapi wajah Gemilang memang sangat pantas untuk dipuji.
Gemilang Arcandra.
Adalah nama panjang lelaki tersebut. Gia membaca dengan teliti apa saja yang terdapat di dalam kartu nama kecil itu, ada alamat tempat tinggal, profesinya sebagai guru SD dan tutor di lembaga bimbingan belajar, serta yang terakhir adalah nomor ponsel dan beberapa akun sosial medianya.
Belum sempat Gia memasukkan nomor ponsel milik Gemilang ke dalam kontaknya, sebuah pesan masuk dari Melvin membuat gadis tersebut membulatkan mata.
@Melvin
[Gue di deket ruko samping apart lo, cepetan kesini!]
Tanpa bertanya, Gia langsung beranjak dari tempat duduknya, mengambil nasi goreng yang ternyata telah matang beberapa menit lalu di salah satu stand kantin kemudian berlari ke tempat dimana Melvin berada.
Di sisi lain, Melvin yang awalnya berada di kediaman Nanon langsung beranjak pergi setelah membaca pesan dari Gia bahwa gadis tersebut belum mengobati lukanya. Dan kini ia telah berada di salah satu ruko yang tutup, tepat di samping apotek tempatnya membeli salep untuk mengobati luka memar.
Tak butuh waktu lama, manik hitam pemuda itu menangkap kedatangan Gia dengan sudut bibir membiru namun tetap terlihat cantik. Ia saja merasa nyeri ketika dipukul oleh Desta, apalagi Gia yang notabene perempuan serta terlihat sangat lemah ini.
"Kak Melvin ada apa kesini?" tanya Gia, ia sekarang ikut duduk di samping Melvin karena merasa tak sopan jika terus berdiri.
Melvin tetap diam, ia mengeluarkan sebuah salep dari dalam kresek hitam kepada sang junior. Meskipun bingung, Gia menerima benda berbalut kotak kubus kecil tersebut lalu membolak-balik kemasannya.
"Itu salep buat memar biar cepat sembuh, lo nggak mau kan diinterogasi Arhan sama Yena gara-gara luka itu?" tutur Melvin dengan mata yang menatap jalanan sekitar.
Lelaki itu memang terkesan tak peduli terhadap beberapa orang. Tapi ketika melihat luka di sudut bibir Gia, entah kenapa hatinya ikut merasakan ngilu dan iba. Gia mendapat pukulan karena dirinya, ia gagal menjaga Gia seperti apa yang diperintahkan oleh seseorang.
Sedangkan gadis yang berada di sampingnya kini menganggukkan kepala, membuka kemasan lalu memutar tutup salep. Berhubung ia tak tau dimana letak lukanya berada, Gia harus membuka fitur kamera di ponsel untuk mengoleskan salep tersebut tepat di sudut bibirnya.
"Jangan main ponsel, rawan pencurian!" Seru Melvin mengambil alih ponsel milik Gia untuk ia letakkan di antara keduanya.
Melvin juga mengambil salep yang Gia pegang, memencetnya perlahan hingga sebagian isinya keluar lalu memutar tubuh Gia agar menghadap ke arak lelaki itu.
"Diem aja, biar gue yang olesi," imbuhnya.
Perlahan, telunjuk Melvin mulai memberi gerakan memutar pada ujung bibir Gia, sangat lembut dan hati-hati hingga hanya menyisakan rasa dingin tanpa nyeri untuk gadis yang kini terdiam layaknya anak kucing.
Tanpa disangka, telunjuk Gia juga bergerak mengoleskan salep itu ke pipi Melvin yang sempat terkena pukulan Desta tadi. Jarak mereka yang cukup dekat membuat sang senior menengguk ludahnya kasar.
Dalam hati Melvin mati-matian berkata bahwa dirinya telah memiliki seorang kekasih dan tetap berusaha sadar jika gadis di depannya ini adalah Gia, bukan kekasihnya.
"Gue pergi dulu, ada kerja kelompok. Lo ambil aja salepnya," ucap lelaki tersebut setelah sekian lama terdiam.
Melvin kemudian berdiri, membersihkan bagian belakang celananya yang entah kotor atau tidak, memakai helm serta menaiki motornya, lalu melambaikan tangan kepada Gia sebelum kembali pergi ke rumah Nanon.
Gia menjawab lambaian tangan itu, ia benar-benar bingung dengan sifat Melvin yang terkadang dingin, perhatian, dan aneh seperti saat ini.
Begitu juga Melvin, lelaki itu terkadang sukses dibuat terkejut dengan sifat Gia yang berubah-ubah dari pendiam menjadi ceria, lalu kembali menjadi pendiam lagi.