Roof top

2185 Kata
Pukul 10 malam, GIA berguling dari tempatnya tidur ke kanan lalu ke kiri. Gadis tersebut menatap ponselnya nanar, tak ada pesan masuk sama sekali dari sang kekasih. Ingin mengirim pesan terlebih dahulu pun ia tak berani. Kemana again Desta sejak sore hingga malam ini? Apakah lelaki itu tidak takut Gia akan mati kelaparan? Gerutu Gia dalam hati lalu berjalan keluar dari kamar. Setelah keluar, ia bingung apa yang akan dilakukan lebih dahulu. Menonton film atau mencari makanan pengganjal perut hingga besok pagi di dalam lemari kecil yang berada di dapur. Ketika tengah menyapukan pandangannya ke arah ruang tamu, gadis itu harus sadar bahwa belum menutup gorden yang mengarah ke balkon apartemen. Sebuah ide tiba-tiba terlintas hingga membuat Gia berlari kecil ke arah dapur, menuangkan s**u dalam kotak besar ke gelas, mengambil sepotong roti isi, lalu kembali berjalan membuka pintu kaca balkon. Untuk malam ini, sesi menonton film hingga ketiduran akan berganti menjadi kegiatan memandangi suasana malam serta menghirup udara segar dari atas balkon hingga kantuknya tiba. Gia menggeser pintu kaca tersebut dengan hati-hati karena kedua tangannya membawa makanan dan minuman. Setelah dirasa tubuhnya muat, ia mulai keluar dan membiarkan tangannya bertumpu pada penyekat yang juga terbuat dari kaca. Balkon apartemen ini sebenarnya tidak terlalu besar, tak seperti balkon kamar yang berada di rumahnya sendiri. Namun, pemandangan indah dari atas membuat Gia lebih nyaman berada di sini. Gugusan lampu-lampu gedung berwarna putih dan kuning keemasan terlihat sangat apik dari atas, Gia juga bisa melihat bagaimana kendaraan berlalu lalang walaupun sudah malam. Jakarta memang benar-benar tidak pernah tertidur barang sejenak. Ketika tengah asik mengamati kendaraan dari atas, sebuah teriakan dari seorang laki-laki yang memanggil namanya membuat Gia seketika membalikkan badan. Ia kira itu Desta yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar apartemen. Namun mengingat bahwa sang lelaki tak memiliki nomor password apartemen Gia, gadis tersebut kembali mengarahkan kepala ke bawah, mungkin seseorang yang memanggilnya berasal dari bawah, batinnya. "Gia, di samping kanan!" teriakan itu kembali terdengar, namun diikuti kalimat arahan yang membuat Gia menengokkan kepalanya sesuai instruksi. Ah, Gemilang rupanya. Tengah melambaikan tangan heboh dengan setelan yang masih sama seperti sore tadi. Gia yakin, laki-laki tersebut baru saja sampai apartemen atau mungkin malas berganti baju setelah pulang mengajar. Gia ikut melambaikan tangan lalu tersenyum manis walaupun sudah dipastikan Gemilang tak bisa melihat senyuman Gia karena lampu balkon yang gadis itu gunakan berwarna kuning temaram. "Kamu ngapain? Kok belum tidur?" Tau bahwa jarak antara kamar Gia dan Gemilang dipisahkan oleh 3 kamar, lelaki tersebut berteriak agar Gia bisa mendengar suaranya. "Belum ngantuk, lagi mau makan roti," jawab Gia tak kalah keras. Gemilang tersenyum, setidaknya Gia mau menjawab pertanyaannya walaupun tidak kembali bertanya, lebih baik daripada hanya mengangguk atau menggelengkan kepala saja. "Biasanya tidur jam berapa?" lelaki tersebut kembali bertanya. "Nggak ada jam tidur tetap. Kalau kakak kenapa belum tidur?" Tuk! Tuk! "Berisik!" Gemilang dan Gia kompak mengatupkan bibirnya ketika mendengar seruan peringatan dari salah satu penghuni kamar yang merasa kebisingan oleh suara mereka berdua. Namun detik berikutnya Gemilang justru tertawa dan meminta maaf diikuti oleh Gia dari balik balkon. Lelaki itu kembali menatap Gia, berhubung lampu balkon yang ia gunakan cukup cerah, Gemilang mengangkat ponselnya lalu ia goyangkan, berusaha agar Gia dapat melihatnya. Berhasil menangkap apa yang diisyaratkan oleh Gemilang, gadis itu lantas membalik ponselnya. Gia mengeluarkan sebuah kartu nama yang ia simpan di balik pelindung ponsel berwarna hitam itu lalu memasukkan nomor Gemilang pada kontaknya. @Gianefa [Ini nomor Gia, kak Gemilang^^] Lagi-lagi seulas senyuman tipis menghiasi wajah si lelaki. Gemilang dan Gia memilih untuk duduk di kursi santai yang menjadi furniture bonus apartemen tersebut sembari bertukar pesan dengan sesekali tertawa kecil. @Gemilang [Gia, mau ke atap gedung, nggak? Kalau malam suasana di sana lebih seru daripada di balkon, loh!] Gia menegakkan badan kemudian memutar kepalanya menatap Gemilang, ia memang tidak pernah mengelilingi gedung apartemen ini lebih dalam. Ke kantin saja hanya ketika Desta tidak memasak. Merasa ditatap, Gemilang juga ikut berdiri. Lelaki itu memberi isyarat lambaian tangan lalu mengetik sebuah pesan dan kembali masuk ke dalam kamarnya. @Gemilang [Saya nggak maksa kamu ikut. Tapi kalau mau, pakai jaket, ya! Udara di atas lumayan dingin.] Gia sempat bimbang antara pergi atau tidak, dirinya belum merasa mengantuk sama sekali, ia juga tengah membutuhkan seorang teman untuk diajak mengobrol ringan bersama. Namun di satu sisi, Gia takut jika tiba-tiba Desta datang dan mencarinya. Gadis itu kembali membuka ruang obrolannya bersama sang kekasih, informasi terakhir dilihat Desta sekitar pukul 9 malam. Itu berarti Desta saat ini sedang berkumpul bersama para teman-temannya atau dalam perjalanan pulang entah darimana. Baiklah, Gia memutuskan untuk menyusul Gemilang ke atas. Ia masuk ke dalam kamar lalu memakai jaket rajut berwarna kunyit dan berlari keluar dari apartemennya menuju atap. Perkara Desta akan ia urus nanti, dirinya bahkan sudah pandai membuat alibi saat ini. Gadis tersebut bersenandung ria menyusuri tangga darurat dari lantai tiga hingga empat dan berakhir di sebuah pintu besi berwarna merah yang mengarahkannya menuju atap. Beberapa saat lalu Gia sedikit mengutuk perbuatan bodohnya karena tidak menggunakan lift agar bisa naik ke lantai empat dalam waktu singkat. Namun nasi telah menjadi bubur, roti yang dirinya makan sembari menaiki satu persatu anak tangga pun tak membuatnya merasa kenyang sama sekali. Perlahan Gia mulai membuka pintu tersebut. Pesan yang Gemilang kirim tadi memang benar, baru setengah badannya yang keluar, udara dingin menerpa hingga membuat rambutnya terbawa angin. Baiklah, kini Gia semakin menyesal karena tidak membawa ikat rambut. "Selamat malam, Gia!" Lambaian tangan dari Gemilang yang berada di ujung membuat Gia tersenyum, ia lalu menutup pintu tersebut dan berjalan mendekati tetangga kamarnya itu. "Tadi saya baru pulang dari tempat bimbel jam 9 malam karena harus nyusun soal ujian. Pas pulang otak saya langsung panas, jadi ke balkon buat nikmati angin malam. Eh malah ketemu kamu," tutur Gemilang menjawab pertanyaannya yang belum sempat ia jawab karena dipaksa diam oleh penghuni kamar lain. Gia yang berada di samping Gemilang hanya mengangguk lalu kembali mengalihkan atensinya ke jalanan di bawah sana. Di sini memang lebih dingin, tetapi Gia juga lebih puas karena suasana serta pemandangannya ternyata lebih indah walaupun terkadang harus merasa kesal karena kedua matanya tertutup oleh anak rambut. "Oh iya, cerita kakak waktu makan siang sama teman-teman Gia bukannya belum selesai ya? Gia mau denger boleh?" tanya gadis itu setelah beberapa menit terdiam. Ia cukup tertarik untuk mendengar kelanjutan cerita dari Gemilang. "Boleh. Tapi sebelum itu, coba kamu hadap sana dulu deh," ucap Gemilang dengan lembut. Gia berbalik membelakangi Gemilang sesuai dengan instruksi lelaki itu, entah apa yang akan dilakukan olehnya, Gia pun tidak tau. Namun ketika rambut panjangnya tiba-tiba disentuh, gadis tersebut sedikit memekik dan menjauhkan tubuhnya dari Gemilang. Sungguh, itu hanya sentuhan lembut yang bahkan tidak akan terasa sakit, tapi reaksi Gia menunjukkan seolah Gemilang akan menjambak rambutnya. "Maaf, saya niatnya mau kuncir rambut kamu supaya nggak kena angin," jelas Gemilang agar Gia tidak salah paham. Gia tau itu, hanya saja ia merasa trauma ketika rambutnya dipegang oleh orang lain, terutama seorang laki-laki. Bayangan bagaimana sakitnya dijambak oleh Desta beberapa waktu lalu otomatis terputar di kepala Gia hingga membuatnya takut. "Nggak apa-apa, kak. Gia tadi cuma kaget," jawab Gia seraya menampilkan senyuman semanis mungkin agar terlihat baik-baik saja. Gemilang seorang guru, ia juga telah mengikuti beberapa parenting tentang sifat dan sikap para anak-anak didiknya. Sikap Gia ini sangat mudah dibaca, lelaki itu yakin bahwa Gia memiliki trauma terhadap suatu hal. "Jadi, boleh saya kuncir rambut kamu?" izinnya. Gia menganggukkan kepala pertanda setuju lalu kembali membelakangi yang lebih tua. Sedangkan Gemilang merogoh saku celananya kemudian mengeluarkan sebuah tali rambut berwarna hitam dengan hiasan bintang kecil di tengahnya yang sempat ia beli di penjual pinggir jalan. Awalnya, Gemilang akan memberikan tali rambut itu kepada salah satu murid SD perempuan yang berhasil mendapatkan nilai 100 di ujian. Namun karena takut dicap pilih kasih, akhirnya ia memberikannya kepada Gia. "Oke, udah bagus. Sekarang waktunya saya cerita! Mau berdiri atau duduk aja?" tanya Gemilang setelah sebelumnya bertepuk tangan ketika melihat hasil karyanya yang bisa dibilang cukup rapi tersebut. "Duduk aja deh, kak. Nanti takut capek kalau berdiri terus," jawab sang lawan bicara. Gemilang menganggukkan kepala, membersihkan bagian bawah menggunakan sapu yang entah siapa pemiliknya lalu duduk sembari menyilangkan kaki diikuti oleh Gia yang berada di sisi sebelah kanan. "Kemarin dari mana ya," gumamnya lirih, ia mencoba mengingat sampai mana ceritanya terpaksa berakhir karena kedatangan Desta. "Berangkat naik pesawat, mau ke Australia!" jawab Gia bersemangat seakan tengah menjawab sebuah kuis. "Oh, iya. Jadi waktu itu ...." Flashback on Gemilang dan keluarganya sampai di bandara sekitar 10 menit sebelum pesawat yang mereka tumpangi berangkat. Sebenarnya jarak rumah ke bandara hanya membutuhkan waktu 15 menit, tetapi karena mobil sang papa yang tiba-tiba bocor akhirnya membuat mereka berempat harus mencari bengkel terlebih dahulu. "Kak Gemilang, bantu Ganda bawa robot. Ganda nggak bisa buka tas kalau pegang ini," pinta anak laki-laki berusia sekitar 9 tahun. Gemilang menghela nafas, sejak dari rumah hingga sekarang Gesta selalu membuatnya kerepotan. Apakah sang adik yang selalu dibanggakan oleh kedua orang tua dan kakek neneknya itu tidak tau bahwa barang bawaan Gemilang lebih banyak daripada dirinya? Sungguh, Gemilang sangat kesal jika harus ditinggal berdua oleh Gesta, orangtuanya saat ini tengah membelikan mereka berdua roti di sebuah toko. "Nggak bisa. Kamu nggak lihat kalau aku bawa barang juga? Jangan manja!" bentak Gemilang, ia tak peduli dengan beberapa orang dewasa yang kini menatap mereka. Gesta mengeluarkan decakan, ia memang lebih sering mengeluh dan manja daripada Gemilang. Tetapi prestasinya di sekolah dasar membuat anak itu selalu menjadi prioritas utama hingga membuat Gemilang merasa iri. Tentu saja, ketika masih berusia 4 tahun, kasih sayang orang tuanya harus terbagi dengan kedatangan Gesta. Sampai sekarang pun Gemilang masih merasa bahwa orang tuanya tidak adil meskipun keinginan remaja 13 tahun tersebut untuk sekolah di luar negeri telah dituruti. "Kak Gemilang kenapa sih? Gesta cuma minta bantuin gini aja nggak mau. Kakak nggak suka ya sama Gesta? Atau kakak merasa kalah kalau dekat-dekat sama aku?" Cara bicara Gesta memang seperti itu, ia akan mengeluarkan kalimat-kalimat pedas jika Gemilang tak menuruti keinginannya. Karena kesal, Gemilang kecil mendorong tubuh Gesta hingga terjatuh di lantai. Keduanya kini benar-benar menjadi perhatian banyak orang. Bisik-bisik mengenai perilaku buruk Gemilang tentu saja terdengar di telinga anak itu. "Gemilang!" bentak sang papa ketika melihat Gesta menangis dan memeluk mamanya yang baru saja datang. "Kamu kenapa? Ini di tempat umun, nak. Nggak seharusnya kamu dorong Gesta," tutur mama Gemilang. "Tapi–" Belum sempat melanjutkan perkataan, tatapan tajam dari sang papa membuat Gemilang kembali mengatupkan bibir. Sudahlah, ia jelaskan sampai mulutnya berbusa pun mereka pasti tidak akan percaya, Gesta memiliki banyak wajah! Gemilang memegang erat koper berwarna hitam yang berada di tangan kanannya, gigi lelaki itu mengeluarkan gertakan menahan emosi. "Kenapa sih papa sama mama selalu bela Gesta? Aku juga pengen di bela, aku juga pengen kelihatan baik di depan papa mama. Kalau boleh pilih, mending aku hidup sendiri daripada harus jadi pusat kesalahan!" bentaknya tak kalah keras kemudian pergi ke arah pintu masuk yang terhubung dengan pesawat. —— "Kak Gemilang dulu kayak gitu?" tanya Gia tak percaya ketika mendengar cerita si lelaki. Gemilang mengangguk kemudian tertawa kecil. Melihat sikapnya yang sekarang membuat beberapa orang sulit percaya dengan perilakunya ketika kecil dulu. "Iya. Dan kamu tau, ucapan kakak itu langsung jadi kenyataan," lanjut Gemilang hingga kembali membuat Gia membulatkan matanya tak percaya. Namun, belum selesai lelaki itu melanjutkan ceritanya, sebuah dering panggilan masuk dari ponsel milik Gia berbunyi. Di layar ponsel tertera nama Desta dengan embel-embel 'kak' di depan serta emoticon hati berwarna kuning di belakang. Gemilang mengangguk memberi isyarat kepada Gia agar mengangkat telepon itu. Tanpa menunggu lama, gadis tersebut menggeser ke atas tombol berwarna hijau yang berada di dalam tampilan ponselnya. "Halo?" lirihnya. "Dimana? Kakak di depan kamar kamu, udah panggil dari tadi tapi nggak ada balasan. Kamu lagi keluar ya?" jawab Desta dari seberang sana. Gemilang tau bahwa kekasih Gia itu tengah berteriak. Karena walaupun tanpa loud speaker pun, suara Desta dapat masuk ke telinganya dengan sangat jelas. "Iya. Sebentar, Gia balik. Kakak tunggu di sana dulu ya!" Setelah berkata demikian, Gia mematikan ponselnya lalu memasukkannya ke dalam saku dan menatap Gemilang yang kini juga tengah menatapnya dengan tatapan hangat. Bahkan udara malam pun tak terasa karena melihat manik mata si lelaki. "Maaf, kak Gemilang. Gia balik ke kamar dulu ya, selamat malam," izin Gia kemudian pergi dari atap apartemen tanpa menunggu jawaban Gemilang. Lelaki itu menghela nafas, lagi-lagi ceritanya harus terpotong oleh orang yang sama. Tidak apa, Gia pasti akan bertemu dengannya lagi karena merasa penasaran dengan kelanjutan cerita tersebut, pikirnya. Gemilang berdiri, menyeruput sebuah kopi dalam cup yang sempat ia bawa pulang dari tempat bimbingan belajar tadi. Suhunya saat ini bahkan sama dengan udara malam ini, namun rasanya tetap sama seperti kopi, Gemilang bukan termasuk orang yang pemilih. Menikmati keindahan malam ditemani bintang dan kopi adalah kegiatan liburan sederhana di tengah sibuknya mengajar Ting! Pintu lift terbuka, menampilkan Gia dengan rambut yang tak tertata namun ikatan di belakang masih melekat sempurna. Gadis itu berjalan sedikit lebih cepat menemui sang kekasih yang beruntungnya masih berada di depan kamar. Walaupun kasar, tetapi Gia juga tetap merindukan sosok pangerannya. "Kamu dari mana?" tanya Desta sembari melipat kedua tangannya di d**a dan membiarkan manik matanya menghunus jantung Gia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN