Tumpangan

1989 Kata
"Dari atap apartemen, kak. Sendirian kok, soalnya lampu-lampu kota kalau dari atas kelihatan cantik." Jelas Gia dengan tangan yang fokus menekan nomor apartemen agar terbuka. Desta mengangguk-angguk tanpa ingin bertanya lagi. Ia sudah mengenal Gia, gadis itu memang menyukai pemandangan dari tempat tinggi. "Kamu udah makan malam?" Sang dominan kembali bertanya sembari mengikuti Gia masuk ke dalam apartemen. Gia menggelengkan kepala, "Tadi cuma makan roti yang sisa setengah di lemari. Kalau lapar lagi, Gia bikin s**u hangat," jawabnya. Mendengar jawaban dari gadisnya membuat Desta sedikit merasa iba. Sosok manis yang semua kemauannya selalu dituruti dan tidak pernah kekurangan satu pun makanan, kini justru terlihat seperti mahasiswa akhir bulan yang uang kirimannya telah habis. Namun dengan keadaan yang seperti ini, Desta yakin Gia akan terus bergantung dengan dirinya. "Kakak bawa 2 croissant sama s**u cokelat, kamu makan aja," lanjut Desta. Mata Gia berbinar ketika mendengar nama croissant, sudah lama sekali rasanya ia tak mencicipi pastry buatan kekasihnya itu. Kalau dipikir-pikir, ia juga hampir satu bulan tidak mengunjungi 'Mula Cafe'. "Makasih, kak Desta. Gia jadi pengen ke Mula Cafe," gumamnya. Desta tertawa kecil melihat raut wajah Gia yang tengah memajukan bibirnya, tangan besar itu kemudian ia bawa untuk menepuk ringan puncak kepala Gia hingga berhasil menciptakan rona merah di pipinya. "Lain waktu, ya. Sekarang kakak harus pergi lagi, kakak kesini mau ambil jaket yang waktu itu ketinggalan," ucap Desta hingga membuat senyuman yang lebih mudah luntur. "Kakak mau kemana?" Jujur saja, Desta tidak suka jika Gia menanyai kemana, sedang apa, dan bersama siapa. Sudah cukup lelaki itu berhubungan dengan wanita yang selalu ingin tau keberadaannya. Ia merasa dirantai. "Gia, nggak semua hal kamu harus tau. Kakak nggak suka kalau kamu tanya gitu. Jangan diulangi ya, sayang," lembut Desta. Pada jam yang sama namun di tempat berbeda, seorang wanita berbalut piyama tidur satin dengan warna merah muda, tengah berjalan keluar dari kamar menuju pintu dengan langkah gontai. Dokter Rachel bukan sedang tidur, ia baru saja selesai membaca dokumen-dokumen dari beberapa pasiennya. Kegiatannya itu dimulai pukul 9 hingga setengah sebelas malam dan terpaksa berhenti ketika mendengar suara ketukan pintu dari luar apartemennya. Ceklek! Pintu terbuka, menampilkan Melvin dengan pakaian yang masih sama seperti pagi tadi namun telah mandi terlebih dahulu di rumah Nanon. Tugas besar membuatnya sering lupa waktu. "Loh, Melvin. Kok nggak bilang kalau mau kesini?" tanya Rachel seraya mempersilahkan Melvin masuk ke dalam. "Piyama lo bikin kepala gue pusing, kak." Bukannya menjawab, Melvin justru mengomentari warna piyama Rachel yang membuatnya sedikit merasa mual entah kenapa. Dan seperti biasa, Rachel hanya tersenyum karena sudah menjadi makanan sehari-hari mendapat kritikan dari sang adik. Berhubung piyama yang Rachel kenakan berbahan jatuh, perempuan dengan warna rambut baru tersebut menutupi bagian atasnya menggunakan jaket. Kejadian atau hal buruk bisa saja terjadi walaupun keduanya adalah saudara kandung. Melvin merebahkan tubuhnya di atas sofa, memejamkan mata sejenak sampai sang kakak kembali datang membawakan s**u jahe hangat kesukaan Melvin ketika malam hari. "Kak, yang katanya lo mau selidiki Desta itu, nggak jadi?" tanya yang lebih muda. Rachel ikut merebahkan punggungnya di sofa single kemudian mengangkat satu kakinya agar bertumpu ke kaki yang lain, "Jadi, tapi kakak nggak ada bukti sama sekali. Kamu tau sendiri kan kalau beberapa rekaman cctv di rumah Gama terhapus." Melvin mengangguk mengiyakan. Jika terus menunggu bukti yang masih abu-abu, ia takut Desta akan semakin menyakiti Gia. "Tadi sore gue dipukul sama Desta gara-gara dasi gue ada di Gia. Terus Gia ikutan kena pukul juga," ucap Melvin dengan santai. Rachel membulatkan matanya, "Kamu serius? Terus Gia gimana?" Sang adik menghela nafasnya, Rachel selalu bersikap lebih perhatian kepada Gia daripada Melvin, luka samar di pipi sebelah kanan lelaki itu bahkan diabaikan. "Ujung bibirnya biru. Tapi tenang aja, adik lo yang jantan ini udah kasih dia salep," tutur Melvin membuat Rachel kembali merasa lega. Ternyata adiknya ini masih memiliki rasa kemanusiaan. "Tapi mending lo suruh cek kesehatan ke rumah sakit deh, kak. Entar kalau ada apa-apa biar tau lebih awal," usulnya. Rachel mengangguk sembari berpikir, ini memang sudah dua minggu sejak Gia berkunjung ke rumah sakit. Tetapi jadwalnya sudah penuh dengan pasien yang akan berkonsultasi besok. "Lusa kakak suruh ke rumah sakit, Vin. Kalau besok udah penuh sama pasien," jawab Rachel. Kali ini Melvin ikut mengangguk, "Jaman sekarang banyak banget ya yang kena penyakit mental, miris." Ketika mendengar ucapan sang adik, tangan Rachel bergerak menuju bahu Melvin, "Penyakit mental bisa dimulai dari hal yang paling kecil. Seseorang bisa tiba-tiba menjadi pendiam, susah bersosialisasi dan menutup diri terkadang karena omongan atau kritikan pedas dari orang di sekitarnya," tutur psikolog itu. Melvin melengos, "Lo nyindir gue, kan? Ini gue udah berusaha hilangin kritikan pedas. Itu salah satu dari 5 hal yang harus dicapai dalam tahun ini," ucapnya hingga membuat dokter Rachel tertawa kecil. —— "Kamu berangkat kuliah sendiri dulu, ya. Kakak ikut tim opening Mula Cafe di Bogor <3" Sebuah sticky note kecil yang menempel di bagian luar pintu apartemen milik Gia berhasil membuat bibirnya maju beberapa senti. Ia tak tau kapan Desta kembali, lelaki itu tak mengiriminya pesan sama sekali dan justru meletakkan kresek berisi onigiri serta s**u kotak di gagang pintu. Lalu, bagaimana cara Gia berangkat kuliah jika tak memiliki uang sepeserpun baik tunai maupun di dalam dompet elektroniknya. Haruskah ia berjalan dari apartemen menuju kampus? Gia menggelengkan kepala, itu hal yang bodoh, batinnya. Tangan kecil gadis itu terulur untuk mengambil ponsel yang biasa ia letakkan di bagian wadah minum tas ranselnya, cukup teledor namun juga terkadang dilakukan oleh sebagian orang. Awalnya Gia hendak mengubungi Arhan atau Yena agar salah satu dari mereka bisa memberi tumpangan. Namun tiba-tiba ia menepuk dahinya sendiri tatkala suara dari operator seluler menyapa telinganya, menyatakan bahwa pulsa dan paket internet gadis tersebut telah habis. "Selamat pagi!" sapa seseorang dari samping sembari sedikit menengokkan kepalanya agar bisa melihat wajah merunduk Gia dengan jelas. Gia yang tengah fokus menggerutu dalam hati seketika terkejut dan memundurkan tubuhnya beberapa langkah ke belakang seraya memegang dadanya, "Ya Tuhan, kak Gemilang!" Gemilang dengan setelan seperti biasa tertawa ketika melihat wajah terkejut dari si gadis hingga matanya seolah menghilang. "Maaf, kalau saya buat kamu kaget. Kamu mau kuliah, Gia?" lanjut Gemilang setelah beberapa menit berhasil meredakan tawanya. Gia menganggukkan kepala, ia sama sekali tak merasa tersinggung ketika Gemilang menertawakannya. Gadis tersebut justru sempat memuja paras Gemilang yang sangat tampan di dalam hati. "Iya, Gia mau kuliah. Tapi nggak tau berangkat sama siapa. Kak Desta nggak bisa antar, Gia juga nggak punya uang buat naik ojek," keluhnya sembari mengayunkan kresek berisi makanan serta s**u di genggaman tangannya. "Kamu kuliah di universitas MG, kan? Mau berangkat sama saya aja, nggak? Kebetulan searah sama sekolah tempat saya mengajar." Tak berpikir panjang, Gemilang langsung menawari gadis manis yang jauh lebih muda darinya tersebut untuk berangkat bersama, motornya sudah keluar dari bengkel dan terlihat seperti baru sekarang. Kepala yang tadinya menatap ke arah dua pasang sepatu berwarna hitam itu kemudian beralih menatap sang dominan. Mata Gia berbinar cerah ketika mendengar Gemilang akan memberinya tumpangan seakan berhasil memenangkan sebuah lotre. Namun tak lama kemudian senyumannya kembali luntur ketika mengingat suatu hal, "Tapi Gia nggak punya helm. Nanti kalau kena tilang gimana?" keluhnya sekali lagi. Di jalan raya sekitar apartemen menuju kampus memang sering terjadi aksi penilangan, Desta saja terhitung sudah dua kali mendapat surat tilang karena tak memiliki SIM B dan mengharuskannya menembak orang dalam agar mendapat SIM tanpa melalui tes terlebih dahulu. Tentu saja dengan biaya yang juga lebih mahal. "Tenang aja. Saya punya dua helm, ayo berangkat!" Ucap Gemilang penuh semangat kemudian menggandeng tangan Gia untuk segera turun menuju parkiran. Sedangkan tangan kecil yang berada di dalam genggaman tersebut hanya diam mengikuti langkah kaki didepannya sembari sesekali mengulas senyuman. Sudah lama rasanya Gia tak pernah merasa setenang ini, kehidupannya beberapa hari terakhir bisa dibilang cukup berat dan melelahkan. Perjalanan keduanya hanya diselingi senyap, baik Gemilang maupun Gia sama-sama tidak ingin membuka suara. Menikmati udara segar ditambah sedikit polusi serta menyelip diantara mobil-mobil yang mengalami kemacetan ternyata sangat menyenangkan. Ini juga menjadi hal pertama bagi Gia untuk menaiki motor di pagi hari. Sekitar 15 menit kemudian, motor matic berwarna putih dengan garis biru milik Gemilang yang dibeli secara second berhenti di sebelah pagar kampus. "Sini, biar saya saja yang buka." Tangan Gemilang terulur untuk membuka pengait helm yang dipakai oleh si gadis. Lelaki tersebut memang selalu membawa dua helm ketika di sekolah maupun tempat les untuk berjaga-jaga apabila ada orang tua murid yang terlambat menjemput putra putrinya, dan sudah menjadi kebiasaan Gemilang lah yang akan mengantar mereka pulang. "Oh, iya. Kalau boleh tau, pacar kamu kemana kok sampai nggak bisa antar?" tanyanya. Gemilang memang sudah mempersiapkan pertanyaan singkat itu sejak dalam perjalanan tadi. Sembari merapikan rambutnya Gia berkata, "Katanya ikut acara opening pembukaan cafe baru di Bogor. Namanya Mula Cafe, kakak pasti tau, kan?" Tentu saja, nama Mula Cafe bahkan sudah terkenal di luar provinsi sekalipun. Cafe yang mengambil nuansa klasik dengan dua ruangan nyaman serta harga makanan dan minuman yang murah selalu menjadi tujuan utama untuk berkumpul bersama ataupun mengerjakan suatu tugas tak peduli tua atau muda. Namun, satu hal yang membuat Gemilang bingung adalah, "Bukannya di Bogor sudah ada Mula Cafe, ya?" ia kembali bertanya. Pasalnya, tidak mungkin kan di suatu wilayah yang tak cukup luas tersebut dibangun dua cabang sekaligus? Tetapi tak menutup kemungkinan juga jika hal itu benar. Gemilang hanya ingin memastikan. Gia menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia juga tak tau, dirinya saja tidak pernah pergi ke luar daerah selain memutari Jakarta. Sebenarnya Gemilang masih ingin bertukar cerita dengan Gia, namun mengingat bahwa mereka berdua berada di pinggir jalan dengan si gadis yang akan mengikuti kelas pagi dan dirinya yang harus sampai ke sekolah sebelum bel tanda masuk, Gemilang pun mengurungkan niatnya. Dalam hati ia berdoa supaya Desta tidak pulang terlalu cepat agar lelaki itu bisa berbincang dengan Gia di apartemen sore nanti. "Kalau gitu saya berangkat ke sekolah dulu ya, Gia." Sang pemilik nama mengangguk beberapa kali hingga membuat Gemilang menepuk kepala Gia karena tak tahan akan sifatnya yang menggemaskan tersebut. Gemilang sama seperti Desta, selalu tersenyum cerah jika berada di dekat Gia dan selalu melakukan sentuhan-sentuhan sederhana yang mampu membuat jantung Gia merasa tak aman pula. Tapi itu dulu, saat hubungan mereka masih baru. Sikap Desta sekarang cenderung lebih kasar, namun entah kenapa Gia masih ingin terus bersamanya, karena lelaki tersebut pernah menjadi salah satu orang yang berhasil membuat Gia merasakan apa itu cinta sekaligus memberi berbagai warna di hidupnya yang monokrom. Setelah terlebih dahulu memastikan Gia masuk ke dalam area kampus hingga punggungnya tak terlihat, Gemilang kembali menyalakan mesin motor, memakai helm, dan melaju menuju ke sekolah tempatnya mengajar. Di depan kampus, terdapat sebuah toko alat tulis kecil yang biasa digunakan oleh para mahasiswa untuk mencetak serta melipatgandakan tugas maupun materi. Di tempat tersebut berdiri tiga orang laki-laki yang sejak tadi mengawasi gerak-gerik Gia dan Gemilang. "Baru kali ini liat tukang ojek penampilannya rapih gitu, ngasih servis tepukan kepala pula," celetuk Nanon yang berada diantara Melvin dan Arhan. Melvin memutar bola matanya jengah. Sungguh, walaupun tidak tau siapa lelaki yang mengantar Gia, hal itu tak membuatnya berpikir bahwa sosok tersebut adalah tukang ojek. "Bukan, bang. Dia namanya kak Gemilang, tetangga barunya Gia," jawab Arhan setelah sebelumnya membayar tagihan fotocopy materi presentasi hari ini. Mendengar ucapan tersebut membuat Melvin menatap sang junior, "Kenal udah lama?" tanyanya. Arhan menggelengkan kepala, "Kata Gia baru pindah satu mingguan. Tapi gue sama Yena udah kenal karena waktu itu pernah makan siang bareng. Dia supel sama ganteng banget loh!" tutur Arhan penuh semangat hingga tak sadar telah membuat Melvin dan Nanon salah paham. "Lo suka ya sama si Gemilang itu?" tuduh Nanon. Arhan membulatkan mata, "Enak aja!" protesnya. "Mending suka sama bang Melvin. Udah ganteng, pintar, populer juga," imbuh lelaki tersebut. "Dih! Melvin mah punya gue!" Tak mau kalah, Nanon kini justru menarik lengan Melvin agar bisa lebih dekat dengan dirinya. Sedangkan Melvin sendiri saat ini tengah menghela nafasnya. Nanon kini telah memiliki teman yang satu frekuensi, ia hanya bisa berdoa supaya tidak ikut tertular virus aneh mereka dan tetap dalam kewarasannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN