Foto

2208 Kata
Gia berjalan dengan tenang sembari sesekali bersenandung menuju kelasnya pagi ini. Gadis tersebut memang rutin memotivasi dirinya sendiri ketika baru bangun tidur agar bisa terus bahagia sepanjang hari. "Neng Gia!" sapa Arhan yang dengan cepat langsung berlari menyusul Gia ketika berkas fotocopy milik kelompoknya telah selesai. Gadis tersebut sedikit terlonjak saat Arhan merangkul bahunya. Namun hal itu sudah biasa, ia telah memperingatkan temannya berulangkali, bahkan Desta pun juga pernah memarahinya. Tetapi Arhan tetaplah Arhan, lelaki itu tidak pernah mendengarkan ucapan orang lain kecuali sudah merasa kapok. Ketika Gia menolehkan wajahnya ke arah Arhan, pemuda itu reflek membulatkan matanya sekaligus memegang ujung bibir Gia yang ternyata masih membiru. Sedangkan sang pemilik bibir sendiri pun tak kalah terkejut, ia memundurkan tubuhnya dari jangkauan Arhan hingga bersandar ke tembok. Gia tidak terkejut ketika Arhan memegang lukanya, tetapi terkejut akibat lupa bahwa sudut bibirnya masih membekas pukulan dan tak memakai masker. Ah, kenapa baru ingat ketika telah sampai kampus? Gia yakin sejak tadi sudah menjadi perhatian beberapa mahasiswa yang lewat. "Ujung bibir lo kenapa, Gi?" tanya pemuda itu. Gia saat ini berusaha lari dari tatapan Arhan, ia sama sekali tidak menyiapkan alibi apapun. Dari arah keduanya datang tadi, ada Yena yang berjalan dengan wajah serius dan mulut menggerutu karena tingkah laku menjengkelkan dari sang kakak membuatnya hampir saja terlambat. Mata Yena mengernyit ketika melihat Arhan dan Gia tengah berdiri saling berhadapan di luar kelas. Tau bahwa kelas belum dimulai, gadis itu sedikit mempercepat langkah kakinya untuk mendekati kedua orang tersebut. "Ada apa nih?" tanyanya hingga berhasil mengejutkan Arhan yang menunggu jawaban. Merasa memiliki teman yang akan membantunya mengintrogasi Gia, dengan cepat Arhan memegang bahu si gadis agar beralih menghadap ke arah Yena yang raut wajah seketika berubah menjadi terkejut. "Bibir lo kenapa, Gi? Ada yang mukul?" Pertanyaan berbeda namun memiliki inti yang sama lagi-lagi terlontar untuk ketiga kalinya. Gia bimbang, akankah ia menceritakan hal ini dengan konsekuensi para teman-temannya yang tak terima atas perlakukan Desta, atau hanya diam saja sembari terus menerus mendengar omelan dari Yena dan Arhan. Namun, belum sempat Gia membuka mulutnya, suara berat dari belakang membuat mereka bertiga terkejut. "Kalian bertiga ini kenapa selalu berdiri di tengah jalan? Mau masuk kelas saya atau tidak?" ucap dosen mata pelajaran kalkulus yang pernah mengusir Gia, Yena, dan Arhan di hati pertama kuliah dimulai. Ketiganya mengangguk kompak lalu memberi jalan dosen berkumis tebal tersebut masuk terlebih dahulu kemudian mengikutinya dari belakang. "Bolos aja, yuk!" usul Arhan yang langsung mendapat pukulan kepala ringan dari Yena. "Gue nggak mau ya nanti jadi kontributor kampus gara-gara ikutin lo. Ingat, duduknya agak jauh dikit. Dan Gia, lo punya hutang penjelasan sama gue!" bisik Yena kepada kedua orang tersebut hingga membuat Gia dan Arhan mengangguk patuh. Pukul 1 siang, ketiganya menghela nafas lelah seraya meletakkan kepala masing-masing di atas meja restoran jepang yang berada tak jauh dari kampus. Akhirnya, setelah melewati 2 mata kuliah tanpa henti karena sang dosen ada urusan mendadak di jam normal mengajar, mereka bertiga bisa terlepas dari soal-soal serta materi antah berantah. "Sumpah, dosen jenius kalau ngajar bisa sampai menggila gitu ya," gerutu Arhan, ia masih tercengang dengan metode pembelajaran dari dua dosen yang cukup cepat hingga sulit menembus bagian hippocampus otaknya. Yena mengangguk mengiyakan, "Bagus deh. Jadi lo nggak perlu khawatir bakal jadi gila," celetuknya. Mendengar ucapan dari Yena membuat Arhan mengangkat kembali kepalanya. Sejenak lelaki tersebut berusaha mencerna apa yang telah dikatakan oleh sang teman hingga ketika sadar, raut wajah bingung dari Arhan berubah menjadi serius. "Jadi kalau gue nggak gila, berarti nggak jenius gitu?" tanyanya berusaha memastikan. Yena kembali menganggukkan kepalanya sembari menopang dagu, "Terbukti, kan? Kata-kata gue aja lo masih butuh waktu buat mencerna." Satu-satunya lelaki yang duduk di ruang makan paling pojok tersebut membulatkan matanya tak terima, dengan cepat Arhan membawa kepala teman gadisnya ke dalam rangkulan ketiak kemudian ia pukul pelan menggunakan botol air minum mineral yang telah kosong. "Sini, coba ngomong lagi!" serunya. "Arhan, lepas! Lo bau matahari!" teriak Yena tak kalah keras, ia terus berusaha agar kepalanya bisa terlepas. Sedangkan Gia justru tertawa melihat kelakuan kedua temannya saat ini. Di samping sikap keduanya yang cukup menjengkelkan dan suka adu mulut, Arhan sekaligus Yena juga selalu sukses membuat suasana hatinya membaik. "Hei, tolong diam! Kami sedang makan." Adegan kekanak-kanakan yang dilakukan oleh dua mahasiswa kampus ternama tersebut terpaksa harus berhenti ketika mendengar terguran dari balik tripleks tipis yang digunakan sebagai penyekat antara pengunjung restoran. Yena akhirnya bisa terlepas dari rangkulan Arhan. Sembari menyisir rambutnya menggunakan tangan, gadis yang saat ini memakai vest berwarna merah muda tersebut kini berganti menatap Gia. "Heh jangan ketawa terus! Ayo jelasin kenapa bibir lo bisa sampai biru gitu?" tegur Yena. Tawa Gia seketika terhenti, gadis tersebut menengguk ludahnya kasar ketika melihat tatapan Arhan dan Yena berubah menjadi serius. Baiklah, mungkin ini saatnya untuk berkata jujur sembari berdoa agar kedua temannya tak marah. "Kena pukulan kak Desta," cicit Gia. Brak! Yena memukul meja kayu tersebut menggunakan telapak tangan karena kesal sekaligus terkejut. Bisa-bisanya seorang lelaki dewasa memukul wanita yang jauh lebih lemah darinya, apalagi wanita tersebut adalah adalah kekasihnya sendiri. Tak ingin kembali mendapat teguran atau bahkan diusir dari restoran karena menganggu kenyamanan pengunjung lain, Arhan kembali mendudukkan Yena dan menuntunnya untuk menarik serta menghembuskan nafas secara teratur agar sedikit tenang. "Yena jangan marah dulu, Gia belum selesai ngomongnya," ucap Gia sembari memajukan bibir. Gadis tersebut tak suka jika sang teman berubah menjadi monster yang menyeramkan. Setelah sedikit tenang, Gia mulai bercerita tentang bagaimana awal mula dirinya mendapat pukulan pertama kali dalam 20 tahun itu. Gia menceritakan kejadian secara detail tanpa terlewat satu pun, mulai dari memasukkan dasi milik Melvin ke dalam tas ransel hingga ketika Desta tak sengaja memukulnya karena berusaha melindungi sang senior. "Serius karena nggak sengaja? Jangan-jangan kak Desta emang udah niat pukul lo," ucap Yena berusaha memanas-manasi Gia. Jujur saja, dari awal pertemuan yang tidak cukup baik dengan Desta ketika malam acara moon and star campus dilaksanakan, Yena memang ingin membuat hubungan Gia dan lelaki itu berakhir. Ia benar-benar tidak menyukai aura angkuh dan penuh intimidasi yang Desta miliki. Melihat raut wajah sedih dari Gia membuat Arhan memukul ringan lengan bagian atas Yena, "Ya jelas nggak sengaja lah, masa iya pacar sendiri di pukul? Pasti pas pembagian otak lo dapet antrian paling akhir," cibirnya. Belum sampai Yena kembali membuka mulut untuk membalas kalimat cibiran dari Arhan, seorang pelayan datang sembari mendorong troli makanan berisi Yakiniku lengkap, satu mangkuk mie udon, dua porsi yang masing-masing berisi 5 sushi, serta teh hijau dan air putih pesanan mereka bertiga. "Ada satu puding gratis untuk pembelian di atas 100.000, selamat menikmati makanan," ucap pelayan berbalut pakaian chef khas Jepang tersebut dengan ramah sembari meletakkan satu persatu makanan. Setelah sang pelayan pergi, netra ketiga mahasiswa tersebut berbinar, harum masakan dari daging sapi yang telah dilapisi saus dan dibakar menggunakan grill pan masuk ke indra penciuman masing-masing hingga membuat cacing di perut mereka meraung. "Banyak banget, bisa habis nggak ya," ucap Yena. Ketiganya sama sekali tidak memikirkan hal tersebut sebelum memesan makanan. Gia dan Arhan menggelengkan kepala, "Pasti habis. Otak kita kan habis kebakar di kampus, jadi kita harus senang-senang disini nggak peduli mau pulang jam berapa!" seru lelaki tersebut. Restoran Jepang ini bukan merupakan restoran all you can eat, mereka bertiga bisa makan sepuasnya tanpa harus takut dengan batas waktu atau mendapat denda ketika makanan tidak habis. Lagipula kekasih Gia juga sedang ada urusan, gadis itu akan bermain bersama teman-temannya hingga malam. "Kita harus bahagia hari ini, horas!" Imbuh Yena sembari mengangkat tinggi-tinggi daging tersebut diikuti oleh Arhan yang mengangkat sushi menggunakan sumpit. "Tapi bukannya kalau terlalu bahagia nanti tiba-tiba dapet kesedihan, ya?" ucap Gia lirih. Yena dan Arhan kompak menatapnya. Menurut si gadis, ketika kita sedang merasa sangat bahagia, pasti kita juga akan mengalami kesedihan dalam jangka waktu singkat. Tidak semua seperti itu, namun sebagian pasti juga akan berasumsi seperti Gia, kan? Apalagi jika sudah mengalami hal tersebut. Dulu, Gia kecil juga merasa sangat bahagia saat bisa naik pesawat bersama kedua orang tuanya dan merayakan natal di Singapura. Tetapi kebahagiaan itu tiba-tiba berubah menjadi kesedihan yang teramat dalam ketika pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan hingga merenggut nyawa mama dan papanya. "Kalau lo udah ngomong kayak gitu, pasti bakal kejadian karena dari awal asumsi lo udah buruk. Kata-kata adalah doa, jadi jangan bicara buruk, oke?" Yena merangkul pundak Gia sembari menepuknya perlahan agar rasa cemasnya perlahan menghilang. Gadis tersebut mengangguk kemudian tersenyum samar. Mereka bertiga mulai menikmati makanan masing-masing, ditemani oleh lagu dan nuansa khas Jepang yang sangat kental hingga membuat ketiga orang yang sama-sama mengagumi negara tirai bambu tersebut merasa nyaman. Di sela-sela kegiatan makan siang, Desta teringat akan sesuatu. "Foto-foto waktu acara bulan dan bintang kampus udah selesai dicetak. Berhubung nggak sempat ambil, akhirnya gue suruh pemilik percetakan buat antar ke alamat kalian masing-masing," tuturnya. "Oh, iya. Sekalian sama foto lo bareng bang Melvin tiga hari lalu ya, Gi," imbuh Arhan. Yena menghentikan aktifitas makannya sejenak kemudian menatap Gia dan Arhan, adakah hal yang gadis tersebut lewatkan? "Tiga hari lalu? Foto apa?" tanya Yena. Dengan mulut penuh mie serta satu potong tipis daging sapi, Gia menggelengkan kepalanya diikuti kedua bahu terangkat. Gadis tersebut juga tidak tau foto apa yang saat ini dibicarakan sekaligus ditanyakan oleh Arhan dan Yena. Sedangkan Arhan kini membuka fitur galeri yang berada di ponsel, lalu memberikannya kepada Yena hingga sepersekian detik kemudian membuat wanita itu terkejut dan tersenyum jahil ke arah sang teman. "Foto ini loh, Gia. Kalian lagi main drama Cinderella sama pangeran?" Godanya. Yena saat ini tengah melambai-lambaikan ponsel milik Arhan yang menampilkan sebuah foto dua orang seperti sedang berdansa tepat di wajah Gia. Gia hampir saja tersedak ketika melihat foto itu. Dengan mata yang membulat sempurna sembari berusaha menelan makanan yang belum sepenuhnya halus, tangan Gia terulur untuk mengambil alih ponsel tersebut. "Ih Yena!" —— Di sisi lain, Desta baru saja keluar dari dalam mobil yang sengaja ia parkir di depan gedung apartemen karena akan segera kembali pergi. Lelaki itu berbohong kepada Gia tentang dirinya yang ikut serta dalam acara pembukaan cabang 'Mula Cafe' di Bogor. Sejak kemarin, Desta sebenarnya berada di kelab malam untuk berpesta dengan beberapa teman sekaligus menikmati malam indah bersama para gadis-gadisnya. Sekitar pukul 4 pagi, Desta pulang ke apartemen untuk mengambil beberapa barangnya sekaligus meletakkan kantung kresek berisi makanan dan notes kecil di pintu kamar Gia karena ponsel sang kekasih tidak aktif. Desta lalu memutuskan untuk melanjutkan pestanya sendirian di rumah yang baru saja ia beli beberapa minggu lalu. Dua pesta berbeda dengan kenikmatan yang sama. Lelaki yang saat ini memakai kaos polos berwarna hitam dengan celana senada berjalan santai menyurusi lobi apartemen, ia akan berganti baju kemudian lanjut bekerja. Walaupun kegiatannya sangat pada dari kemarin malam hingga siang hari, Desta tidak pernah sekalipun merasa lelah. "Permisi, mbak. Saya mau antar paket atas nama Gianefa, tapi pengirimnya nggak ngasih keterangan nomor kamar, sama nomor teleponnya juga nggak bisa dihubungi. Bisa saya minta tolong buat di cek? Mendengar ucapan dari arah meja resepsionis membuat Desta menghentikan langkah kakinya. Mata lelaki itu menangkap seseorang tengah berdiri sembari memegang amplop cokelat berukuran sedang. Melihat penampilannya yang berbalut kemeja membuat Desta tidak yakin bahwa orang tersebut adalah kurir. "Bisa, boleh saya minta nama panjangnya?" jawab resepsionis wanita yang bertugas pagi ini. "Gianefa Felicia Maureen?" Kedua orang tersebut kompak menatap ke arah Desta yang entah sejak kapan sudah ikut bergabung di samping sang pengirim paket. Sedangkan laki-laki berkemeja tersebut menganggukkan kepala setelah membaca nama yang berada di bagian pojok amplop. Desta tersenyum ramah, "Itu pacar saya. Dia lagi kuliah dan kasih pesan kalau ada paket, biar saya aja yang ambil," tuturnya kemudian menengadahkan tangan untuk mengambil alih paket itu. Tanpa berpikir panjang dan tidak ingin menutup toko percetakannya semakin lama, lelaki yang sempat diutus Arhan untuk mencetak sekaligus mengantarkan foto itu akhirnya memberikan amplop tersebut kepada Desta dan pamit pulang. Desta sendiri langsung melanjutkan perjalanan menuju lantai dua sembari membolak-balik amplop yang sudah berada di pegangan tangannya. Ia menimang-nimang apa agaknya isi dari amplop ini dan kenapa tidak tertulis nama sang pengirim? Berhubung di dalam lift hanya ada dirinya sendiri. Pemuda itu mengangkat kedua bahunya tak peduli kemudian bergerak membuka tali amplop dan mengeluarkan isinya. Desta mengernyit ketika melihat ada sekitar 7 lembar kertas foto yang terbalik hingga hanya menampilkan sisi bagian belakangnya. Belum sempat lelaki itu membalik, pintu lift yang telah sampai di lantai dua terbuka lebih dulu. Langkah kakinya berjalan dengan cepat menyusuri lorong lalu masuk ke dalam kamar. Desta duduk di sofa yang berada tak jauh dari pintu masuk tanpa melepas alas kakinya terlebih dahulu karena tak sabar untuk kembali melihat foto-foto tadi. Amplop cokelat tersebut kembali dibuka, kali ini lebih cepat namun tetap hati-hati agar bagian luar maupun dalamnya tidak rusak. Hingga sepersekian detik kemudian, ketika beberapa foto tersebut terjatuh di atas meja, mata Desta membulat tak percaya, tangannya meremas amplop yang masih berada di genggaman diikuti bunyi gemeretak yang berasal dari giginya. "Kurang ajar! Mau main-main ternyata," monolog Desta seraya menyeringai dengan mata yang amat jelas menyiratkan amarah. Foto-foto yang berada di dalam amplop tersebut adalah foto ketika acara moon and star campus dilaksanakan. Desta sebenarnya tidak masalah jika Gia berfoto dengan orang banyak. Tetapi yang membuatnya kesal adalah ketika melihat potret sang kekasih hanya berdua bersama Arhan serta Melvin. Amarahnya semakin memuncak ketika melihat adegan romantis Gia dan Melvin yang membuatnya ingin memukuli siapapun saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN