Bertengkar

1929 Kata
Pukul 6 sore, mobil yang ditumpangi oleh Gia, Yena, dan Arhan berhenti tepat di depan pintu masuk gedung apartemen. Mereka bertiga menghabiskan waktu sejak siang sampai malam hari dengan mencicipi berbagai makanan lalu bermain di mall. Meskipun tidak membawa uang sama sekali, Yena dan Arhan dengan tulus mentraktir Gia secara bergantian. Mereka benar-benar memanfaatkan ketidakadaan Desta untuk bermain bersama hingga lupa waktu. "Martabaknya jangan lupa dibawa. Gue udah kirim pesan ke kak Nanon buat kirimin lo kuota internet," tutur Yena yang duduk bersama Gia di kursi belakang. Walau memiliki banyak uang yang dihasilkan oleh kedua orang tuanya, Nanon lebih memilih untuk memenuhi keinginan pribadinya dengan berjualan. Jiwa bisnis kakak lelaki Yena tersebut menggebu-gebu hingga tak merasa malu meskipun berjualan paket internet serta voucher WiFi di rumahnya yang megah. Bagi Nanon, semua hal pasti bisa menghasilkan uang. Gia menganggukkan kepala ketika mendengar ucapan dari Yena. Temannya yang satu ini meskipun cukup pemarah, tetapi ia memiliki sifat lembut serta baik yang tersembunyi di dalam lubuk hati. "Makasih ya, Yena, Arhan. Kalian udah mau Gia bikin repot seharian ini," ucap Gia sebelum turun dari mobil. Yena tersenyum kemudian bergerak memeluk tubuh Gia dengan erat diikuti anggukan kepala serta ucapan 'ya' dari Arhan yang bertugas sebagai supir di depan. "Itu kan gunanya teman, Gia. Udah, kamu turun gih! Nanti kalau misal kak Desta balik, kamu kasih aja martabak ini," ujarnya seraya menepuk-nepuk pelan punggung teman perempuannya. Setelah Gia turun dari mobil sembari melambaikan tangan lalu masuk ke dalam apartemen, Yena dan Arhan tersenyum lega. Setidaknya mereka bisa mengajak Gia berjalan-jalan dan tersenyum sumringah hari ini. Entah kenapa, menurut mereka berdua, akhir-akhir ini Gia sering murung dan tidak bersemangat. "Udah, ayo pindah depan. Masa gue berasa kayak lagi jadi supir gini," gerutu Arhan. Yena tertawa singkat kemudian pindah dari kursi belakang menuju samping Arhan, "Bukannya lagi training buat jadi supir pribadi saya ya, mas?" godanya hingga membuat si lelaki semakin menampakkan wajah kesalnya. Gia masuk ke dalam apartemen dengan bersenandung pelan. lalu menggoyang-goyangkan keresek berisi martabak yang berada di tangan kanannya ke depan dan belakang layaknya anak kecil. Sebuah notifikasi dari ponsel yang sejak tadi berada di saku kemeja membuatnya menghentikan langkah tepat di depan meja resepsionis. Melihat sebuah pesan masu berupa informasi bahwa nomor ponselnya telah diisi paket kuota oleh kakak lelaki Yena membuat Gia tersenyum samar. Ia berjanji akan mengganti uang Yena dan Arhan jika sang kakak telah mengiriminya nanti. "Permisi, mbak Gia?" Gia dengan cepat memutar kepala ke arah samping ketika mendengar suara seorang resepsionis yang memanggilnya. Wanita berbalut jas abu-abu serta berambut sebahu tersebut tak sengaja membaca nama Gia dari name tag yang gadis itu kenakan. Sangat kebetulan, batinnya. "Ya?" Gia membuka suara setelah kurang lebih 3 menit keduanya saling bertatap. "Ah, maaf. Saya hanya ingin memberi tau bahwa ada paket atas nama mbak Gia yang sudah diambil sama mas Desta siang tadi," tutur resepsionis tersebut. Gia mengernyit, ia kira sang kekasih akan pulang larut malam atau sore hari. Namun ketika mendengar bahwa Desta mengambil paket dari Arhan tadi siang membuat Gia bingung. Apakah acara pembukaan cabang baru 'Mula Cafe' hanya membutuhkan waktu sesingkat itu? Sebenarnya, bukan itu yang Gia pikirkan saat ini. Gadis tersebut bingung mencari alasan yang tepat untuk menjelaskan keterlambatannya kepada sang kekasih. Mengingat kampusnya tidak pernah memulangkan mahasiswa lebih dari jam 4 sore, membuat Gia harus merancang alasan yang lebih logis agar Desta percaya. Mata Gia kemudian menatap ke arah martabak manis yang masih berada di genggaman tangan. Akankah Desta luluh jika ia memberinya makanan yang biasa digunakan untuk mencuri hati calon mertua tersebut? Tak ada cara lain, Gia harus mencobanya sendiri. "Terima kasih atas informasinya. Kalau gitu, saya permisi dulu." Setelah berkata demikian, tanpa menunggu jawaban dari sang resepsionis, Gia langsung berjalan pergi menuju lift dan akan berhenti di lantai dua, tempat dimana kamar Desta berada. Sedangkan di depan pintu kamar yang menjadi tujuan Gia, terdapat Desta bersama seorang wanita yang tengah ia tahan agar tidak pergi. Wanita berambut gelombang hingga punggung tersebut adalah seseorang yang pernah menemui Desta di kelab malam kala itu. Bau alkohol jelas menguar dari badan masing-masing, menandakan bahwa keduanya telah berpesta minuman di dalam kamar, atau bisa juga lebih dari itu. "Jangan pulang dulu, ayo main lagi," rengek Desta seraya meletakkan kepalanya di atas pundak sang wanita. Bukannya tidak mau melanjutkan acara minum alkohol, tetapi wanita bergaun hitam selutut tersebut juga harus segera berangkat ke kelab malam untuk bekerja. Ia tidak bisa terus-terusan bersama dengan Desta disini. "Sayang ...," ucapan itu terdengar mengalun indah dengan nada manja diikuti tangan yang merangkul leher sang lelaki. "Aku harus kerja, kamu bisa ke sana nanti kalau udah nggak mabuk, oke?" lanjut si wanita. Desta menganggukkan kepalanya, mata lelaki tersebut tidak bisa terbuka sepenuhnya akibat meminum lebih dari 2 botol alkohol. "Oke, tapi mau cium lagi," jawab Desta lirih. Tanpa meminta persetujuan dari wanita tersebut, Desta langsung memegang tengkuknya kemudian ia arahkan mendekat ke wajah dan segera menciuminya dengan kasar. Kejadian itu berlangsung di depan kamar apartemen yang untung saja sangat hening dan sepi. Meskipun hening, bukan berarti tidak ada seseorang yang melihat kelakuan mereka berdua. Gia berdiri tepat di depan pintu lift bahkan sejak keduanya baru keluar kamar, gadis itu menutup mulutnya tak percaya ketika melihat apa yang dilakukan oleh Desta. Kekasihnya, berciuman dengan wanita lain. Lebih dari dua bulan menjalin kasih, Gia tidak pernah sama sekali berciuman seperti itu dengan Desta. Lelaki tersebut benar-benar berhasil membuat kesan manis yang ia buat di depan Gia menghilang sepenuhnya. Lalu, kenapa ia masih berdiri disini seakan kedua kakinya tidak bisa dibuat melangkah ke depan maupun berbalik ke dalam lift? Gia tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang. Srak! Tanpa sadar, kresek martabak yang ia genggam terjatuh begitu saja di atas lantai hingga membuat Desta dan lawan mainnya segera menghentikan aktifitas mereka. Desta tentu saja terkejut bukan main ketika melihat Gia menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Gia!" Gia menggelengkan kepala sembari tetap menutup mulutnya kemudian berlari masuk menuju lift lalu menekan tombol yang mengarah ke lantai tiga. Dengan cepat Desta juga berlari menyusulnya sebelum pintu lift tertutup. "Gia, hei! Tunggu!" cegahnya. Terlambat, ketika tangan Desta terulur untuk memegang bahu Gia yang semakin mundur ke dinding berbahan stainless, pintu lift tiba-tiba tertutup hingga membuat lengannya terjepit diikuti dengan erangan kesakitan. Tak ada cara lain, Desta harus segera mengeluarkan tangannya agar terhindar dari cedera atau lebih buruknya akan patah. Lelaki itu berlari menuju tangga darurat dan meninggalkan sang wanita yang berhasil dibuat kebingungan setelah sebelumnya kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambil amplop berisi foto-foto tadi Beruntung jarak antara lift dan kamarnya sangat dekat, Gia dapat berlari mendahului Desta yang ternyata sudah berdiri sembari mengatur nafasnya di ujung kamar apartemen. Lagi-lagi Desta terlambat mencegah sang kekasih untuk tetap berada di luar kamar atau setidaknya membiarkan dirinya masuk ke dalam dan menghakimi gadis tersebut. Tidak, Desta sama sekali tak merasa bersalah atau takut ketika Gia memergokinya tengah berciuman dengan wanita lain. Lelaki itu justru akan membahas masalah foto yang sangat tidak layak dilakukan oleh seorang wanita yang telah memiliki kekasih. "Gia, buka pintunya!" teriak Desta dari luar, tangannya tak berhenti mengetuk pintu kamar tersebut dengan keras. Gia yang saat ini tengah berada di balik pintu menggigit ujung jarinya sendiri karena merasa ketakutan sekaligus masih tidak menyangka tentang apa yang dilihatnya beberapa saat lalu. Wanita tersebut sendiri yang memergoki, ia pula yang merasa takut. Sedangkan Desta kini menarik nafasnya lalu ia hembuskan perlahan, pemuda itu berusaha kembali tenang agar bisa membuat gadis di dalam sana mau membukakannya pintu. "Sayang, buka dulu pintunya. Kalau kayak gini kakak nggak bisa jelasin ke kamu," ucap Desta dengan nada yang sangat lembut namun juga tegas di waktu bersamaan hingga membuat Gia menuruti permintaannya. Perlahan namun pasti, gadis tersebut mulai membuka pintu hingga menampilkan sosok Desta dengan rambut yang tak beraturan tengah tersenyum manis menatapnya, senyuman itu berhasil membuat Gia membuka pintu lebih lebar seakan terhipnotis. Tak mau menyia-nyiakan waktu, Desta memegang gagang pintu agar Gia tak kembali menutupnya. Dengan cepat ia masuk ke dalam lalu menutup pintu cukup keras, seulas senyum manis beberapa menit lalu kini berubah menjadi seringai menakutkan hingga membuat Gia memundurkan diri beberapa langkah. "Ikut kakak!" Ucap Desta lalu mencengkeram erat tangan Gia dan membawanya masuk ke dalam kamar. Bug! Jika ada yang berkata bahwa terjatuh di atas kasur itu tidak menyakitkan, maka salah. Tubuh kecil Gia mengerang ketika Desta mendorongnya dengan kekuatan penuh di atas kasur. Bukan mendorong, lebih tepatnya melempar. Setelah itu Desta tampak fokus membuka isi amplop yang sempat ia bawa dari kamar apartemen. Gia tau, amplop tersebut adalah kiriman dari Arhan. Namun belum sampai tangannya terulur untuk mengambil alih, Desta sudah memegang foto yang menampilkan pose romantis gadis tersebut dengan Melvin. "Ini apa? Kamu selingkuh di belakang kakak? Hah!?" bentak Desta tepat di depan wajah Gia hingga membuatnya tak berani membuka mata. "Jawab!" lanjut lelaki tersebut. Gia tetap terdiam, air mata serta tangan yang gemetar ketakutan kini telah mengambil alih tubuhnya. Sedangkan Desta sendiri justru tertawa frustasi sembari menggaruk kepalanya dengan kasar. "Ternyata di balik sifat kamu yang polos, kamu juga suka main sama cowok ya? Udah berapa yang kamu deketin, Gia? Atau jangan-jangan kamu juga godain dosen di kampus biar dapat nilai A?" caci Desta. Gia tercengang, baru kali ini dirinya mendengar kalimat cacian dari orang lain, bahkan orang tersebut adalah kekasihnya sendiri. Kepala Gia yang semula menunduk kini perlahan ia angkat agar bisa menatap Desta, air mata mulai mengalir membasahi pipi gadis itu. Melihat keberanian Gia membuat Desta bertepuk tangan, "Hebat, sekarang udah berani angkat kepala kalau dimarahi. Kenapa? Karena pernyataan kakak tadi benar? Kamu beneran wanita panggilan?" Plak! Gia pernah diajari oleh sang kakak agar menampar siapapun yang berani menjatuhkan harga dirinya tanpa bukti, dan gadis itu melakukannya sekarang. Satu tamparan keras mendarat dengan pas di pipi sebelah kanan Desta. Lelaki itu membulatkan matanya terkejut, ia terdiam sejenak untuk berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Sedangkan Gia sendiri juga tidak menyangka bahwa ia akhirnya menampar pipi sang kekasih, di dalam otaknya hanya ada ucapan Gama yang terus terngiang-ngiang. "Terus yang kakak ciuman sama wanita lain itu apa? Kenapa selalu Gia yang salah? Apa cuma Gia yang nggak boleh deket sama laki-laki lain sedangkan kakak bisa main sama banyak wanita!" Entah mendapat keberanian dari mana, Gia berbalik membentak Desta. Desta yang memiliki sifat tidak ingin disalahkan serta menjadi poros masalah tentu saja semakin marah ketika mendengar ucapan dari Gia. Lelaki itu ingin sekali menjambak rambut gadisnya seperti kala itu, dan mungkin juga akan memberi beberapa tamparan. Tetapi hal tersebut harus ia tahan, Desta tidak bisa melihat Gia bertemu dengan teman-temannya dalam keadaan terluka atau dirinya akan kembali terpojok. "Kenapa kak Desta diam aja? Semua itu benar, kan? Kakak selalu larang semua hal yang bisa bikin Gia senang, tapi kak Desta sendiri malah ...," ucapan tersebut menggantung ketika melihat Desta mencengkram amplop yang ia pegang hingga berbentuk bulatan abstrak. Desta mundur beberapa langkah, ia berbalik menatap dirinya sendiri di depan kaca meja rias Nafasnya memburu, keringat membanjiri dahinya yang dihiasi beberapa urat menonjol. Desta benar-benar tidak bisa menahan tangannya agar tidak memukul Gia saat ini. Lalu dengan gerakan cepat, tangan Desta memukul kaca tersebut hingga pecah. Gia menatap kekasihnya tak percaya, rasa takut kembali menyelimuti ketika Desta berbalik menatapnya, tangan pemuda itu berlumur darah saat ini. "Kamu tau? Kakak pengen banget pukul kamu kayak pukul kaca tadi. Tangan kakak rasanya gatel pengen jambak rambut sama tampar pipi kamu," lirih Desta, tangannya yang terluka ia biarkan menyusuri rambut serta pipi halus milik sang kekasih. Gia sendiri memejamkan matanya, ia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Sebuah kesalahan besar memberi bentakan kepada Desta beberapa saat lalu, lelaki tersebut kini benar-benar berubah menjadi monster.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN