Dengan cepat Gemilang dan Arhan menarik lengan gadis tersebut agar kembali ke tempat duduknya semula. Yena yang pada awalnya ingin menemui Gia dan Desta sekaligus memberitahu sifat lelaki tersebut di belakang sang teman dengan terpaksa kembali duduk.
"Kenapa kalian berdua halangi gue sih? Oh, atau jangan-jangan sifat cowok emang kayak gitu semua?" tuduh Yena seraya menatap tajam Arhan dan Gemilang secara bergantian.
Baiklah, kini Gemilang akhirnya bisa mengetahui bagaimana sifat asli dari dua orang yang baru saja ia kenal beberapa saat lalu. Yena yang gegabah, dan Arhan yang mudah gugup serta takut.
"Jangan buru-buru, kamu juga nggak punya banyak bukti. Kalau foto gini doang Desta pasti bakal ngelak walaupun ada tiga saksi di sana. Apalagi Arhan takut kena pukul sendirian," tutur Gemilang sembari melirik Arhan yang menganggukkan kepalanya setuju.
Yena menghela nafas, iya juga, pikirnya. Lalu sampai kapan ia akan diam tentang masalah ini? Haruskah gadis tersebut diam saja ketika melihat temannya yang sangat polos itu dicurangi dari belakang oleh sang kekasih?
Ah, tunggu. Bukankah ia memiliki orang lain lagi yang juga tidak menyukai Desta? Benar, sang kakak dan seniornya, Melvin. Hal ini bisa menyatukan mereka semua untuk bersama-sama mencari bukti perlakuan buruk serta perselingkuhan Desta terhadap Gia.
Namun, Melvin dan Nanon pasti tidak tau apa-apa tentang Gia. Jalan terakhir adalah mendekati sosok dokter cantik yang pernah Gia undang di acara makan malam kala itu, dokter yang sepertinya sempat bertengkar dengan Desta.
"Dokter Rachel!" seru Yena yang sejak tadi melamun hingga membuat kedua lelaki di sisi kanan dan kirinya terkejut.
Tau bahwa baik Gemilang maupun Arhan tidak ada yang mengerti ucapannya tadi, Yena kembali berkata, "Kita bisa minta bantuan ke dokter Rachel, dokter pribadinya Gia. Apalagi dia kakaknya kak Melvin."
Gemilang yang tidak tau siapa itu dokter Rachel, Melvin, dan apa penyakit yang diidap oleh Gia hanya menganggukkan kepala. Jika ia rasa itu baik untuk gadis manis yang berhasil mengambil secuil hatinya, maka Gemilang akan menyetujuinya.
"Gue tau bang Gemilang pasti bingung, kan? Nggak apa-apa, bagi nomor lo aja. Nanti kita adain konferensi meja bundar." Celoteh Arhan seraya mengulurkan ponselnya agar lelaki yang lebih tua darinya ini bisa memasukkan nomor telepon.
Setelah bertukar nomor ponsel, Yena dan Arhan pun pamit pulang lalu berdiri dari kursi plastik yang sempat mereka duduki. Namun, belum sampai berbalik, sebuah interupsi dari belakang membuat ketiganya kembali terkejut.
"Yena, lo belum pulang?"
Pemilik suara tersebut adalah Desta yang baru saja keluar dari kamar Gia untuk membeli minuman di kantin. Ia bisa melihat bahwa gadis dihadapannya ini Yena adalah dari sebuah pantulan kaca kecil yang berada di wastafel terdekat.
Yena berbalik, kemudian meringis diikuti Arhan yang mau tak mau harus ikut menghadap Desta. Bisa lebih curiga nanti jiga pemuda itu tiba-tiba melarikan diri, apalagi ada Gemilang disini. Tamat sudah riwayat mereka.
"Lo kenal sama dia?" Tanya Desta menunjuk Gemilang.
"Arhan juga kenapa ada disini, bukannya dia nggak ikut? Atau jangan-jangan kalian ...."
Belum sampai Desta menyelesaikan kata-katanya, Gemilang sudah terlebih dahulu ikut berdiri dan menyela ucapan lelaki itu.
"Mereka pernah jadi murid les saya waktu SMA. Tadi nggak sengaja ketemu Arhan disini, ternyata mau jemput Yena yang katanya lagi main ke apartemen Gia," tutur Gemilang dengan santai hingga tak terlihat kebohongan sama sekali.
Setelah berkata demikian, Gemilang tiba-tiba tertawa meremehkan, "Emang kenapa sih kalau Arhan main ke tempat Gia? Takut dia selingkuh ya?"
Mendengar ucapan dari Gemilang membuat Desta mengepalkan tangannya erat, ternyata ada satu orang lagi yang gaya bicaranya lebih mengesalkan daripada Melvin, batinnya.
"Kalau kata saya nih, selagi hubungan kalian cuma pacaran, ya berarti Gia masih milik kita bersama," imbuh Gemilang.
Amarah Desta yang ia pendam sejak tadi akhirnya telah sampai ubun-ubun, dengan gerakan cepat tangannya meraih kaos Gemilang dan akan langsung memukul lelaki itu jika saja Arhan tidak kembali menahan lengannya.
"Udah bang, udah. Dilihatin sama satpam apartemen tuh, katanya kalau berantem kena denda," ucap Arhan kemudian menjauh ketika melihat tatapan sinis dari Desta, ia tidak mau perutnya kembali menjadi samsak laki-laki arogan tersebut.
Tanpa disangka, Desta ternyata menuruti perkataan Arhan. Setelah menatap ketiganya bertanya, ia lalu berjalan begitu saja menuju salah satu stand kantin untuk membeli air mineral serta satu kotak rokok.
Sedangkan Yena dan Arhan dengan cepat menyuruh Gemilang untuk kembali ke atas, mereka kemudian berlari menuju tempat parkir mobil bawah tanah yang berada di belakang gedung apartemen dan pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan lega namun nafas tersengal.
——
Keesokan harinya, tepat pada sore hari ketika Gia baru saja keluar dari ares kampus dan menunggu sang kekasih di depan gerbang seperti biasanya.
Kedua insan Tuhan yang sepertinya masih saling mencintai tersebut sudah kembali berbaikan pagi tadi, dan Gia tentu saja sebagai pelaku utama yang selalu menyalahkan dirinya sendiri kemudian meminta maaf kepada Desta.
"Sampai jumpa neng Gia, jangan kangenin abang Arhan!" Seru Arhan yang baru saja keluar dari tempat parkir sepeda motor dengan Yena di belakang sembari melambaikan tangannya heboh.
Gia menjawab lambaian tangan tersebut dengan senyum yang tak kalah merekah, kedua temannya memang sangat ahli dalam membuat suasana hatinya selalu bahagia.
Namun, sepersekian detik kemudian datanglah sebuah mobil hitam familiar yang membuat Arhan dengan segera melajukan sepeda motornya menuju jalan besar.
Senyum Gia sejenak berubah menjadi heran, ia lalu menengokkan kepala ke arah yang berlawanan. Ada mobil miliknya di sana, tentu saja di dalam juga pasti ada Desta, senyuman manis tersebut kembali merekah, namun tak selebar sebelumnya.
Setelah masuk ke dalam mobil, Gia menatap Desta yang menampilkan wajah datar. Tak biasanya, batin gadis tersebut. Netra madu itu mulai menyapukan pandangan ke seluruh mobil, mencari sesuatu yang pagi tadi sempat Desta janjikan padanya, dua buah croissant isi cokelat.
"Kak Desta nggak lupa bawain Gia croissant, kan?" tanya Gia.
Jelaga sang dominan menatap madu Gia, tangannya terlihat tengah mengambil sesuatu dari balik saku celana, hingga kemudian si gadis membulatkan mata ketika melihat sebuah dasi hitam milik sang senior kini berada dihadapannya.
Tunggu, apa yang terjadi? Kenapa dasi tersebut bisa berada di genggaman Desta?
"Kenapa dasi punya Melvin bisa ada di kamu? Habis ngapain kamu sama dia?" tanya Desta dingin.
Setelah mengantar Gia kuliah pagi tadi, mata lelaki itu tak sengaja menangkap sebuah dasi hitam berada di kursi penumpang yang kekasihnya duduki. Desta hampir memanggil Gia jika saja indra penciumannya tak menghirup aroma yang aneh dari dasi ini.
Ini bukan aroma parfum milik Gia, batin Desta.
Siapa lagi gadis berusia 20 tahun yang memakai parfum kekanakan selain Gia, dan hal itulah yang membuat Desta hafal. Aroma dasi ini berbeda, walaupun telah dicuci, parfum milik papa Melvin ternyata masih menempel.
Desta membolak-balik dasi tersebut hingga menemukan sebuah nama bertuliskan "Melvin" yang ditulis menggunakan spidol berwarna emas, terletak tepat di balik logo Louis Vuitton.
"Kamu mau balikin dasi ini ke Melvin dan ternyata malah jatuh di kursi mobil, kan? Ternyata Tuhan masih baik banget sama aku sampai akhirnya bisa tau kelakuan kamu," cibir Desta.
Gia tidak tau semua ini akan terjadi, ia kira dasi milik Melvin tertinggal di apartemen. Dengan wajah panik, gadis itu berkata, "Waktu itu Gia dipinjami kak Melvin dasi karena lagi ada kuis, dan hari ini rencananya mau Gia balikin. Semua yang kakak pikir itu nggak bener."
Desta tertawa, "Mana ada maling yang ngaku, Gia? Bisa penuh penjara," ucapnya, ia bahkan tak sadar bahwa kini telah menyindir dirinya sendiri yang selalu berbohong kepada Gia, Gama, dan beberapa orang lain.
Suasana kampus sore ini benar-benar sepi, tak ada orang sama sekali, satpam pun tak terlihat di pos luas. Hingga tak lama kemudian, mata Desta berhasil menatap seorang laki-laki yang berjalan sembari menuntun sepeda motornya keluar dari area parkir.
Itu Melvin. Lengkap dengan jaket serta helm yang berada di lengan tangan kanannya.
Tanpa menunggu waktu lama, Desta dengan angkara menggebu-gebu turun dari mobil meninggalkan Gia yang juga ikut panik ketika tau ka arah mana tujuan kekasihnya itu pergi.
"Heh, sini lo. b******k!"
Bug!
Satu pukulan berhasil mengenai pipi Melvin yang tak sempat mengelak karena semua terjadi begitu cepat. Sepeda motornya pun harus ikut terjatuh karena tubuhnya tak bisa menahan berat sekaligus reaksi dari pukulan Desta.
"Lo kenapa sih? Ada masalah apa lagi sama gue?" bentak Melvin tak terima.
Sungguh, ia bahkan dua hari ini tak bertemu dengan Gia sama sekali. Lalu, apa agaknya yang membuat lelaki ini memukulnya secara tiba-tiba?
"Dasi ini punya lo, kan? Lo pasti ada apa-apa sama Gia!" tuduh Desta dengan dasi hitam yang berada di telapak tangan.
"Jangan asal tuduh, gue cuma bantu Gia biar bisa ikut kuis. Dia nggak bawa dasi waktu itu," jabar Melvin.
"Halah, jangan banyak alasan lo!"
Desta yang buta dengan amarah tentu saja tidak akan menerima alibi itu begitu saja. Ia kembali mengambil ancang-ancang, mengangkat kepalan tangannya sedikit ke belakang dari kepala dan bersiap memukul pemuda itu untuk yang kedua kalinya.
Bug!
"Aduh!"
Desta dan Melvin membulatkan matanya ketika melihat Gia tersungkur di atas paving. Gadis itu berhasil menahan serangan Desta agar tak mengenai sang senior, tetapi ia terpaksa harus mengorbankan dirinya sendiri. Tak apa, jika sudah seperti ini, pertengkaran pasti akan selesai, pikir Gia.
"Gia lo nggak apa-apa?" Dengan cepat Melvin ikut berjongkok menatap wajah Gia, ada luka kecil di sudut bibir Gia akibat pukulan tadi
Gia mengangguk, bibir hingga beberapa giginya terasa sangat nyeri saat ini. Pukulan Desta memang benar-benar sangat kuat, ia tak bisa membayangkan bagaimana Melvin, Arhan, serta Nanon yang menerima pukulan berulang kali dari kekasihnya.
"Nggak usah deket-deket pacar gue!" Sentak Desta kemudian menuntun Gia berdiri dan masuk ke dalam mobil setelah sebelumnya membuang dasi milik Melvin ke sembarang arah.
Pemuda itu menatap kepergian mobil hitam tersebut pergi dengan kecepatan yang cukup tinggi lalu menggelengkan kepalanya. Desta memang sudah tidak waras, ia harus segera menceritakan hal ini kepada sang kakak atau Gia akan dalam situasi bahaya jika terus-menerus berada di sisi laki-laki gila itu.
Namun, tidak sekarang. Setelah mengangkat sepeda motor yang sebelumnya terjatuh, Melvin mendapat panggilan masuk dari Nanon agar memajukan kegiatan mengerjakan tugas besar hari ini, di rumah temannya itu. Dan dengan sangat terpaksa, Melvin harus menunda pertemuannya bersama dokter Rachel.
Sedangkan di dalam mobil yang saat ini sudah terparkir di baesment apartemen, Desta mengeluarkan sebuah masker medis berwarna hitam kemudian ia berikan kepada sang kekasih yang sejak tadi terdiam sembari sesekali meringis kesakitan.
"Pakai, aku nggak mau ya sampai lebam biru itu ketahuan banyak orang. Itu salah kamu sendiri karena sok jadi pahlawan buat cowok gak jelas itu," omel Desta.
Gia mengangguk, menerima uluran masker tersebut lalu memakainya dengan segera dan berjalan beriringan menuju lift basement yang mengarah ke lantai tiga.
Suasana di dalam lift cukup hening, hanya ada empat orang termasuk Gia dan Desta. Namun tak sampai tiga menit, benda ruang tersebut berhenti di lantai satu, kemudian terbuka dan menampilkan sosok laki-laki dengan masker medis yang menutupi setengah wajahnya masuk ke dalam lalu berdiri di samping kiri Gia.
Baik Gia maupun Desta tak menyadari bahwa laki-laki berpostur tubuh tinggi itu adalah Gemilang. Tetapi Gemilang tau bahwa di samping kanan tempat ia berdiri, ada gadis manis yang menjadi tetangga kamarnya sejak beberapa hari terakhir.
Bagaimana cara Gemilang menghafal? Tentu saja, dari mata madu yang persis dengan miliknya. Baru pertama bertemu saja Gemilang juga berhasil mengetahui berapa kisaran tinggi si gadis, gaya rambut Gia, aroma parfum permen karet, serta pakaian yang Gia kenakan di pagi hari ketika kuliah.
Karena jika telah menaruh hati, kalian akan semudah itu mengingat apapun tentang dia, mulai dari ukuran sepatu hingga merek pasta gigi yang dipakai.
Tiba-tiba, terbesit sebuah ide konyol dari kepala Gemilang hingga membuatnya tertawa pelan di balik masker. Dengan perlahan laki-laki itu menempelkan tubuhnya di dinding lift, berusaha mengambil botol minum berbentuk kotak milik Gia lalu menjatuhkannya ke lantai.
Tau bahwa benda jatuh itu adalah miliknya, dengan gerakan cepat Gia langsung berjongkok diikuti Gemilang yang juga berpura-pura membantu mengambil botol tersebut.
Gia sempat terkejut ketika melihat sebuah tangan lain tengah menyentuh ujung botolnya. Gadis tersebut kemudian menoleh ke arah pemilik tangan, matanya seketika membulat saat melihat manik milik lelaki itu.
Gemilang membuka maskernya, sembari tersenyum tipis ia berkata, "Kamu kenapa pakai masker? Lagi flu atau alergi debu?"
Melihat wajah Gemilang dari dekat membuat jantung Gia merasa tak karuan. Namun ia tak bisa menjawab pertanyaan lelaki tersebut karena bunyi lift yang sudah sampai di lantai tiga membuat Desta dengan segera menarik Gia agar kembali berdiri.
Gemilang ikut berdiri, ia berjalan di belakang Desta kemudian memegang lengan tangan yang menarik pergelangan gadis itu pergi, "Jangan kasar sama cewek!" titahnya.
Desta mengangkat sebelah alis seolah tak peduli, "Bukan urusan lo. Gue lagi nggak mau berantem," ucapnya lalu berjalan lebih cepat bersama Gia, meninggalkan Gemilang di dalam lift yang akan tertutup.
Sadar bahwa dirinya juga berhenti di lantai tiga, Gemilang segera menekan tombol agar lift itu agar kembali terbuka lalu meminta maaf kepada beberapa penghuni lain.