Keempat orang berada di dalam unit apartemen tersebut sontak terkejut dan kalut di waktu yang bersamaan. Arhan dan Yena membantu membersihkan kekacauan yang keempatnya buat seperti piring bekas makanan dan gelas minum.
Sedangkan Gemilang bertugas untuk mencari tempat persembunyian yang tepat. Tidak mungkin kan mereka akan mendatangi maut begitu saja? Apalagi kondisi Gemilang saat ini hanya berpakaian serba pendek.
@Gianefa
[Kak Desta jangan ketuk pintu terus, Gia lagi di kamar mandi.]
Gia sengaja mengirim pesan tersebut agar Desta berhenti membuat kebisingan di depan, gadis itu kini juga ikut membersihkan area ruang tamu menggunakan penyedot debu.
@Destaa
[Ya udah, kakak minta pin apartemen kamu.]
"Aduh kak Desta minta kode apart aku nih!" seru Gia hingga membuat semua orang kembali panik.
Gia memang tidak memberikan nomor pin apartemennya kepada siapa pun, ia juga ingin memiliki ruang sendiri tanpa diganggu oleh orang lain, dan Desta pun menyetujuinya sejak awal.
"Aduh!!"
Yena adalah gadis yang tidak bisa melakukan suatu pekerjaan dengan terburu-buru, ia berteriak frustasi hingga tak sadar bahwa teriaknya terdengar di telinga Desta.
"Gia, kamu kenapa? Udah selesai? Buka atau kakak dobrak nih!" ancam Desta dengan kenop pintu yang terus bergerak.
"Udah, kamu bukain pintu aja dulu. Kalian berdua ayo ikut saya!" perintah Gemilang mengambil alih mesin penyedot debu yang gadis tersebut pegang.
Gia menganggukkan kepala kemudian berjalan ke arah depan sembari mengucap kepada Desta bahwa dirinya akan segera membuka pintu, sedangkan Arhan dengan gesit menarik tangan Yena mengikut arahan dari Gemilang untuk bersembunyi di area balkon.
Ceklek!
Pintu dibuka dari dalam, Desta langsung masuk begitu saja tanpa mengucap salam karena sudah terlanjur kesal. Lelaki berbalut kemeja kotak-kotak tersebut menyapukan jelaganya ke seluruh penjuru apartemen untuk memastikan bahwa tidak ada yang salah di sekitar sini.
"Kamu habis ngapain sih? Kok sampai keringatan gini?" tanya Desta curiga ketika melihat sebagian rambut Gia yang berada di dahi basah akibat keringat.
"Hah? Itu ... habis olahraga bareng sama Yena tadi, dia baru aja pulang. Emang kakak nggak ketemu di lobi?" Jawab Gia berusaha tenang sembari menyeka keringatnya sendiri.
Desta menggelengkan kepala, ia sudah pulang sejak 15 menit lalu dan berada di dalam kamarnya apartemen miliknya sendiri.
Setelah puas memandangi area sekitar, lelaki tersebut baru ingat bahwa ia masih memakai alas kakinya. Ketika kembali berjalan menuju rak sepatu yang berada di dekat pintu, mata Desta mengernyit heran lalu kembali menatap Gia yang kini sibuk menata cucian piring ke dalam rak.
Ingat bahwa sang kekasih tidak pernah meletakkan sepatunya di rak luar, Desta pun kembali bertanya, "Alas kaki kamu kemana, Gi? Kok cuma ada sepatu di sini?"
Pertanyaan itu sukses membuat Gia mematung, kemana alas kakinya pergi? Dan tunggu, kemana pula hilangnya alas kaki milik ketiga orang itu?
"Ah itu, tadi kaki Yena lecet karena sepatunya kekecilan. Jadi dia pinjam alas kaki aku, dan sepatunya di tinggal," tuturnya, dalam hati Gia meminta maaf karena telah menjual nama temannya tersebut.
Sedangkan di tempat lain, Arhan mengerang tanpa suara ketika kepalanya di pukul menggunakan sapu oleh Yena. Gadis itu kesal saat Arhan salah mengambil alas kaki, bukannya sepatu, justru sandal Gia lah yang pemuda itu bawa.
"Kenapa ada penyedot debu di samping meja? Ada banyak makanan juga, katanya kalian habis olahraga?"
Desta memang sangat teliti, ia tidak biasanya melihat penyedot debu berada di samping sofa, dan lelaki itu juga tidak akan percaya begitu saja dengan semua alasan yang Gia buat kecuali itu sangat logis.
"Jadi, Gia tadi habis masak-masak sama Yena, terus makan di ruang tamu sambil nonton film. Habis itu kita ingat kalau mau diet, jadi habis bersihin makanan, kita olahraga bareng di ruang tamu," tutur Gia panjang lebar sembari tetap menampilkan senyuman.
"Kamu nggak lagi bohongin kakak, kan?" sang dominan kembali bertanya penuh selidik.
Gia menggelengkan kepala, sedangkan Desta menghela nafas panjang lalu mulai mengambil beberapa makanan yang berada di meja makan. Jika saja dirinya tidak lapar, ia pasti akan mengintrogasi Gia lebih dalam.
Tau bahwa teman-temannya masih berada di balkon dan Desta yang selalu lama ketika makan bersama dengan dirinya, Gia kembali memutar otak agar kekasihnya ini bisa pergi sejenak entah kemana.
"Kak Desta udah cuci tangan belum?" tanya Gia, lelaki itu hanya menjawab dengan gelengan kepala tak peduli.
"Ih, ada kumannya! Aku tadi habis nonton film, nanti jadi zombie loh, ayo cuci tangan dulu!" imbuhnya dengan heboh.
Tak mau melihat gadis kecilnya rewel di tengah rasa lapar yang menjalar, akhirnya Desta mengalah dan bergerak dari kursi makan untuk pergi mencuci tangan di wastafel.
"Eh kak, jangan disitu! Gia punya sabun antiseptik baru di kamar mandi, sekalian tolong ambil dong!" seru si gadis sembari menampilkan wajah menggemaskan yang selalu menjadi andalannya ketika membujuk Gama, dan berhasil.
Desta mengelus puncak kepala Gia lalu mencium keningnya ringan, "Kamu kalau lagi mode imut gini bikin kakak nggak bisa apa-apa. Kakak cuci tangan dulu, kamu tolong siapin makanan kakak, oke?"
Gia kembali tersenyum kemudian mengangkat kedua jempolnya dan kembali menuju meja makan untuk menyiapkan makanan untuk sang kekasih.
Setelah memastikan bahwa sang kekasih benar-benar telah masuk ke dalam kamar, dengan langkah cepat Gia berlari menuju balkon untuk memanggil ketiga orang yang saat ini saling berhimpitan agar tidak terlihat dari pintu kaca.
"Ayo, cepetan!"
Sungguh, Gemilang tidak menyangka bahwa akan berada di situasi yang sangat menegangkan sekaligus lucu bersama para anak-anak muda seperti mereka saat ini, tetapi ia juga cukup senang karena pada akhirnya bisa akrab dengan ketiganya hanya dalam waktu singkat.
Gemilang, Arhan, dan Yena segera berlari secepat mungkin keluar dari apartemen Gia, sedangkan sang pemilik apartemen juga dengan segera langsung menutup pintu setelah menjawab lambaian tangan dari Gemilang.
"Kamu ngapain di sana?"
"Ya Tuhan!" Gia terjingkat ketika mendengar suara Desta dari arah kamar depan kamar
"Oh, tadi ada kurir yang salah nomor kamar, kak. Kakak sendiri ngapain masih berdiri di situ? Ayo makan!" jawab gadis tersebut sesantai mungkin lalu berjalan mendekati sang kekasih dan menggandengnya menuju meja makan.
Sedangkan tiga orang yang sempat bermain kucing-kucingan kini tengah berada di kantin apartemen lantai satu, ketiganya memutuskan untuk berbincang ringan sembari memesan minuman karena tidak sempat minum ketika berada di apartemen Gia tadi.
Tak lama kemudian, Arhan datang sembari membawa tiga botol air mineral serta satu piring kentang goreng di atas nampan, lelaki tersebut lalu duduk diantara Gemilang dan Yena.
"Ada bakat jadi pelayan nih, kalau lulus lamar di sini aja, Han," celetuk Yena memulai perdebatan.
Arhan hanya diam tak membalas ucapan gadis tersebut, ia hanya mengacungkan jari tengahnya lalu menengguk air mineral dengan kasar.
"Kalian ngerasa ada yang salah nggak sih sama si Desta itu?" Gemilang membuka percakapan yang awalnya ringan ini dengan topik cukup berat hingga menjadi Arhan dan Yena saling pandang.
Lihatlah, Gemilang yang baru saja bertemu dengan Desta saja sudah bisa berpikir bahwa lelaki itu tidak beres, tetapi kenapa Gia masih ingin berada di dekat Desta hingga saat ini?
Yena mengangguk terlebih dahulu, "Kak Desta itu kayak nggak suka kalau Gia dekat sama cowok lain, kak. Desta sama senior gue aja dihajar," tuturnya,
Gadis tersebut memang tidak terbiasa menggunakan bahasa formal dengan orang lain kecuali kepada dosen, orang tua, dan beberapa orang yang memang ia anggap tidak terlalu dekat.
Sedangkan Gemilang sendiri sudah ia anggap teman dekat sejak pertemuan mereka tadi, toh lelaki itu juga tidak keberatan dengan sikap frontal mereka berdua.
"Nggak cuman itu, tadi gue juga lihat ada memar di bahu Gia. Lo lihat nggak, Han?" imbuh Yena.
Arhan mengangguk setuju, karena diam-diam ketika duduk diantara Yena dan Gia tadi, ia juga melihat ada memar biru di bahu sebelah kanan Gia.
"Tadi saya juga sempat lihat pergelangan tangan Gia kemerahan, semua ini ada hubungannya sama Desta nggak sih?" ucap Gemilang dengan alis yang bertaut seolah tengah berpikir keras.
Yena dan Arhan memang sejak dulu sudah memiliki pemikiran yang sama, namun mereka berdua ragu karena tidak ada bukti pendukung. Bisa saja kan Gia menyakiti dirinya sendiri dengan berpura-pura menjadi korban? Semua kemungkinan pasti bisa terjadi.
"Kalian sudah kenal Desta lama? Sifatnya emang kayak gitu atau gimana?" lanjut Gemilang.
Arhan yang sejak tadi membisu dan diam-diam memendam sebuah rahasia besar yang pernah ia lihat bersama Melvin dan Nanon ketika di kelab malam pun mulai membuka suaranya, "Dia kayaknya suka main cewek deh, bang."
Plak!
Bahunya di pukul ringan oleh Yena, "Lo kalau ngomong yang bener. Kak Desta aja kelihatan ketat banget sama Gia, mana mungkin selingkuh?" bantahnya tak percaya.
Lelaki tersebut mendecak ringan lalu mengeluarkan ponselnya, tak lama kemudian ia memberikan ponsel yang menampilkan foto seorang lelaki tengah berpelukan di koridor ruang karaoke tersebut kepada Yena dan Gemilang.
"Kejadiannya waktu gue berantem sama kak Desta di Jenja. Waktu keluar dari ruang karaoke, gue, bang Nanon, sama bang Melvin lihat dia pelukan sama cewek terus masuk ke kamar!" tutur Arhan dengan penuh semangat.
Gemilang menatap Arhan, tidak ada kebohongan di mata pemuda itu. Bisa saja seseorang yang terlihat begitu menyayangi dan membatasi kekasihnya untuk dekat dengan orang lain, justru malah bermain curang di belakang.
"Gue harus ngasih tau Gia!"
——
Kembali lagi ke dua sejoli yang saat ini tengah menghabiskan waktu di depan televisi, Desta merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan bantalan paha sang kekasih yang duduk sembari memakan camilannya ditemani oleh boneka kelinci pemberian dokter Rachel.
Teringat akan sesuatu yang pernah dikatakan oleh sang senior kala itu, agar ia sesekali harus bertanya tentang bagaimana hari-hari yang dilewati oleh sang kekasih membuat Gia mengehentikan aktifitasnya sejenak.
"Kak Desta, Gia mau nanya boleh nggak?"
Desta mengarahkan matanya ke atas untuk menatap Gia, tak biasanya gadis ini meminta izin terlebih dahulu sebelum bertanya. Tanpa banyak pikir, lelaki itu menganggukkan kepala setuju.
"Kakak kalau lagi main gitu kemana sih?" tanyanya bersemangat.
"Ke rumah temen," jawab Desta cuek, ia saat ini tengah membagi fokusnya antara menonton film dan mendengarkan pertanyaan Gia.
Merasa kurang puas dengan jawaban sang kekasih, Gia kembali bertanya, "Namanya siapa? Terus, rumahnya dimana?"
Laki-laki tersebut mengerutkan keningnya kemudian beranjak duduk lalu menatap Gia, "Namanya Dika, kakak rasa kamu nggak perlu tau rumahnya."
Gia ikut menyatukan kedua alisnya tak terima ketika Desta berkata demikian, "Emangnya kenapa? Gia kan juga pengen tau kehidupan kak Desta!" Tak sadar, gadis itu sedikit meninggikan suaranya.
"Atau jangan-jangan kakak main sama cewek lain ya?" tuduh Gia sekali lagi hingga membuat Desta yang awalnya tak memiliki minat untuk bertengkar kini mulai marah.
"Gimana bisa kakak punya cewek lain kalau setiap hari cuma ngurusin kamu? Tau nggak sih gimana capeknya kakak antar jemput kamu kuliah, masakin kamu, berangkat kerja, pulang kerja ya sama kamu lagi. Masa nggak bisa mikir sih?" Bentak Desta seraya berdiri dari tempatnya duduk.
Tunggu, kenapa jadi seperti ini? Pikir Gia. Ia hanya membahas masalah kehidupan Desta ketika sedang tidak bersamanya, mengapa Desta justru seakan sangat tertekan berada di sisinya?
"Kakak kok jadi bahas masalah lain sih? Tapi kakak juga sering ke kelab malam, kan? Kakak bertengkar sama Arhan dan kak Nanon juga gara-gara masalah pesan yang sepele banget loh!" Gia ikut berdiri, menatap tanpa takut sosok yang berada di depannya saat ini.
Desta mengernyit, Gia sekarang benar-benar berbeda seperti yang dulu. Gia dulu akan tetap diam atau bahkan menangis jika dirinya bentak, apakah ini efek karena Desta tidak pernah menggunakan nada caregiver miliknya? Atau ada hal lain yang membuat Gia menjadi seperti pemberontak?
"Kamu yang mancung kakak buat ngomong kayak gitu. Sadar nggak sih kalau kamu itu berubah, Gia? Kamu nggak kayak dulu lagi. Oh, atau emang kamu niat buat cari kesalahan kakak biar bisa selingkuh sama Arhan?" Ucapan saling menuduh pun tak terelakkan.
"Kak Arhan juga– aw!!"
Belum sempat Gia membalas, bahunya yang masih membiru kembali dipegang dengan erat oleh Desta. Jika terus membiarkan kekasih kecilnya ini membantah, maka ia akan kalah dan Gia pasti akan terus mengoceh hingga besok.
"Kamu bisa diam, nggak? Kakak nggak mau nyakitin kamu. Ngerti?" ucapnya dengan penuh penekanan serta menggunakan nada caregiver yang biasanya ia pakai untuk membuat Gia terdiam, dan berhasil.
Gadis yang sejak tadi mengoceh tak terima kini diam membisu, manik madu yang awalnya menantang kini kembali menjadi sendu, ekspresi wajahnya jelas menunjukkan rasa takut dan sakit.
"Anak pintar, kakak pergi dulu," lanjut Desta kemudian berlalu pergi dari apartemen Gia.
Sedangkan Gia sendiri menjatuhkan tubuhnya ke sofa, ia menangis entah untuk yang ke berapa kalinya. Gadis tersebut memukuli dan menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa berkutik di depan sang kekasih.
"Gia capek!" teriaknya di sela isak tangis.