Makan Siang

2079 Kata
"Ih, Yena! Nggak boleh!" Gia berteriak histeris. Saat ini Yena tengah memegang lengan baju sebelah kiri gadis itu, ia ingin melihat apakah ada bekas kebiruan atau tidak di sana hingga mengakibatkan Gia terpojok di sofa dengan Yena yang berada di atasnya. Tak tahan melihat adegan mengerikan di depannya membuat Arhan menggaruk kepalanya menggunakan dua tangan frustasi. Sungguh, apakah kedua gadis cantik ini tidak tau bahwa ada seorang laki-laki di sini? Apakah mereka tidak takut jika Arhan akan melakukan hal yang gila? Batin Arhan. Namun sepertinya tidak, mengingat bahwa Yena adalah mantan atlet taekwondo ketika SMA membuat Arhan tidak berani walaupun sekedar berpikir yang tidak-tidak kepada mereka. "Udah, Yen. Ada cowok disini, mata gue ternodai," lerai Arhan setelah sebelumnya berdiri seraya berkacak pinggang. Yena menghela nafas, Gia ternyata memiliki tenaga yang lumayan kuat jika dipaksa seperti tadi. Pada akhirnya, ia mengalah dan tak menuntut sang teman untuk berkata jujur lalu kembali ke tempat duduknya yang semula. Gadis berbalut blouse biru tua tersebut kemudian menatap Arhan yang kini duduk diantara dirinya dengan Gia. Dari sisi sebelah kiri, Yena bisa melihat bahwa Arhan tengah mengelus punggung Gia sembari mengucapkan kata-kata manis. Yena mendecak, "Jangan ambil kesempatan ditengah kesempitan!" sindirnya. Sedangkan Arhan yang merasa tersindir kemudian ikut mengeluarkan decakan, "Ini mah masih longgar, nggak ada yang kesempitan." Ingat akan suatu hal yang seharusnya menjadi topik utama mereka bertiga, membuat Yena tak menghiraukan ucapan Arhan yang memang tak perlu dipedulikan. Ia kembali menyingkirkan laki-laki tersebut agar bisa menghadap ke arah Gia. "Jadi gimana? Lo rencananya mau balikin wadah makan itu sekarang?" tanya Yena yang dijawab anggukan kepala oleh empunya. "Sopan nggak sih kalau balikin tapi nggak pakai isinya sekalian? Ya, saling memberi ke sesama tetangga kan baik, siapa tau kak Gemilang lagi nggak masak," tutur Yena panjang lebar. Mendengar ucapan tersebut membuat Gia kembali berpikir seraya menyatukan kedua alisnya, "Tapi aku nggak bisa masak. Terus mau ngasih apa ya," gumam gadis itu. "Ya, udah. Kita masak ini bareng-bareng aja!" Seru Arhan sembari mengangkat tinggi-tinggi kantung plastik berwarna putih berisi berbagai makanan instan yang sempat ia beli sebelum menjemput Yena. Kedua wanita itu kemudian mengulas senyum, ternyata Arhan adalah lelaki yang berguna dan sangat mudah diandalkan dalam berbagai kegiatan entah itu mengantar jemput atau menjadi samsak kekesalan. 1 jam kemudian, setelah melewati kegiatan memasak dengan teriakan serta adu mulut, akhirnya mereka bertiga bisa menghela nafas lega sembari menyenderkan punggung di kursi makan. Demi tuhan, ternyata memasak bersama rasanya lebih melelahkan karena setiap kepala tak memiliki pikiran yang sama. Di meja makan kini terhidang spaghetti carbonara, nugget berbentuk dinosaurus, sosis, macaroni cheese, dan yang terakhir adalah nasi putih karena Arhan tak akan bisa menyebutnya makan siang jika tanpa nasi hingga hampir membuat Yena memukulnya menggunakan spatula. "Itu yang di wadah makan kayaknya udah nggak terlalu panas, ditutup aja terus lo anterin ke kak Gemilang," ucap Yena. Gia menganggukkan kepala, berjalan ke tempat dimana wadah makan itu berada lalu meletakkan penutup di bagian atas dan memasukkannya ke dalam kantung kertas. Entah kenapa perutnya tiba-tiba merasa mulas dan tangannya berkeringat dingin. Gia hanya akan mengantar makanan, berbasa-basi sebentar lalu pergi. Namun, reaksi tubuhnya persis seperti ketika ia berkencan dengan Desta untuk pertama kali beberapa bulan lalu. "Tuh kan, ngelamun lagi. Ayo cepat anterin terus kita bisa makan-makan sambil nonton film," tegur Yena dari kursi. Gia kembali berbalik menghadap ke arah Yena dan Arhan yang memang sedari tadi juga tengah memandanginya. "Temenin sampai depan pintu ya," cicit Gia sembari menundukkan kepalanya. Baiklah, kedua teman gadis tersebut saat ini harus berusaha menahan gemas agar tidak kelepasan mencubit pipi Gia. Setelah berjalan berurutan menuju pintu dengan Gia yang saat ini berada di luar sedangkan Arhan ada Yena di ambang pintu, mereka bertiga kemudian menghembuskan nafas sesuai hitungan beberapa kali agar si gadis merasa sedikit tenang. "Nanti jangan ngintip ya!" perintah Gia, ia tidak ingin teman-temannya yang cukup aneh ini akan membuatnya semakin malu nanti. "Iya-iya. Kalau lo udah sampai depan pintu, nanti kita berdua masuk," ucap Arhan kemudian menyenggol Yena agar mendapat anggukan kepala. Gia lagi-lagi menghela nafas, ia mulai melangkahkan kakinya menyusuri koridor lantai 3 menuju pintu kamar apartemen bernomor C 28, kamar paling ujung sekaligus terakhir karena tidak ada pintu bernomor selanjutnya. Tak perlu memakan waktu terlalu lama, sibuk melamun sembari berjalan membuat Gia tak sadar bahwa dirinya telah berada di ujung lantai yang mengarah pada tangga darurat. Sembari mengutuki kebodohannya, Gia kembali berbalik dua langkah hingga kini tepat berada di depan pintu kamar Gemilang. Tok! Tok! Tok! Tiga sampai enam kali ketukan sudah ia layangkan selama 3 menit terakhir, buku-buku tangannya bahkan sudah kemerahan, namun sosok lelaki sosok penghuni kamar tersebut sama sekali tidak menghiraukannya. Baiklah, satu kali lagi, batin Gia bermonolog. Ia kembali mengetuk pintu itu dengan telapak tangan agar terdengar lebih keras dan brutal hingga tiba-tiba .... Plak! Satu tamparan tak sengaja tepat mengenai wajah Gemilang yang baru saja membuka pintu. Gia tentu saja sangat terkejut sampai tak sadar bahwa tangannya masih berada di wajah lelaki itu. "Bukan temen gue, ayo masuk aja deh!" seru Yena seolah ikut merasakan rasa malu yang dialami oleh Gia lalu berusaha mendorong Arhan masuk ke dalam. Namun bukannya masuk, Arhan justru membalik tubuh Yena agar kembali menghadap ke arah Gia dan Gemilang. Melihat temannya yang polos itu masih terdiam, Arhan yakin pasti akan ada pertunjukan yang menarik setelah ini. Ketika tak ada tanda-tanda Gia akan segera mengalihkan tangannya, akhirnya Gemilang yang sempat terdiam karena terkejut itu bergerak terlebih dahulu. Tangan besar tersebut ia arahkan untuk memegang pergelangan tangan Gia. Perlahan namun pasti, Gemilang menurunkan tangan si gadis dari wajah tampannya hingga membuat kedua teman Gia melongo tak percaya. Gemilang ternyata benar-benar setampan itu. Melvin dan Desta bahkan kalah jauh dari lelaki tersebut, pikir Yena yang saat ini sudah tersenyum sumringah. "Maaf, saya tadi habis mandi. Kamu pasti udah nunggu lama ya?" tanya Gemilang. Laki-laki berbalut kaos tanpa lengan serta bawahan selutut itu kembali mengangkat tangan Gia dengan lembut, mengelusnya perlahan lalu memberi gerakan memutar pada telapak tangan dengan telunjuknya. "Telapak tangan kamu sampai merah gini, sakit nggak?" tanyanya sekali lagi. Gia tetap terdiam menatap manik Gemilang yang selalu berhasil menghipnotisnya tersebut. Sedangkan Gemilang sendiri juga sadar bahwa Gia tengah menatapnya, dan ia sama sekali tak merasa keberatan. Tak lama kemudian, dahinya tiba-tiba mengernyit ketika melihat bekas kemerahan yang menghiasi pergelangan tangan gadis tersebut. "Pergelangan tangan kamu kenapa?" Mendengar pertanyaan itu membuat Gia seketika tersadar dari lamunan dan menarik paksa tangannya dari pegangan Gemilang. Ia juga berusaha menghindari tatapan dari yang lebih tua dengan menundukkan kepalanya. "Gia mau balikin tempat makan kak Gemilang. Di sini juga ada spaghetti sama nugget, barangkali kakak belum makan siang," ucap Gia mengalihkan pembicaraan karena tujuan awal ia kesini adalah untuk mengembalikan wadah makan milik Gemilang. Lelaki itu menghela napas, Gemilang tau bahwa Gia tidak ingin bercerita dan ia tak akan memaksanya. Memangnya siapa dirinya hingga berhak memaksa gadis ini? Pacar saja bukan, batin Gemilang lalu tertawa kecil. "Makasih ya, Gia. Kebetulan saya belum makan siang," ucapnya disertai senyuman lembut. Di satu sisi, Yena yang melihat senyuman maut itu kini tengah berjingkrak karena terlalu senang walaupun gadis tersebut tau bahwa senyuman Gemilang tidak ditujukan untuknya. Tak sadar bahwa di belakang masih ada Arhan yang menatapnya dengan miris, kaki Yena semakin lama semakin mundur hingga menginjak kaki pemuda itu. "Aduh, sakit bodoh!" teriak Arhan dengan keras lalu mendorong tubuh Yena ke depan. "Arhan!" Yena ikut berteriak saat tubuhnya tak seimbang kemudian menarik kaos yang Arhan pakai. Bug! Keduanya tersungkur secara tidak etis di atas lantai. Untung saja kondisi koridor apartemen saat ini tengah sepi, Yena dan Arhan jadi tidak merasa terlalu malu meskipun saat ini ditatap oleh Gemilang dan Gia. "Itu teman-teman kamu?" Gemilang bertanya tanpa mengalihkan pandangan matanya dari kedua orang yang telah bersusah payah untuk berdiri dan memberikan senyuman semanis mungkin. "Iya, kak," jawab Gia lirih, rasa malunya kini menjadi berlipat ganda, atau bahkan berlapis-lapis. Gemilang kemudian tersenyum dan menjawab lambaian tangan dari Yena. Entah kenapa tiba-tiba terbersit keinginan untuk mengenal kedua teman Gia, ia ingin mengulik lebih jauh tentang gadis ini karena diam-diam,Gemilang mulai mengaguminya. Ada sebuah pepatah yang mengatakan, sebelum janur kuning melengkung, maka kesempatan kita untuk merebutnya masih terbuka lebar. Nah, kini Gemilang tengah menggunakan pepatah tersebut. "Saya boleh makan siang bareng kalian nggak?" ucapnya dengan keras agar bisa terdengar oleh Arhan dan Yena. Mendengar ucapan itu membuat Gia membulatkan mata, baru saja ia menggelengkan kepala dan hendak membuka mulut untuk berkata tidak, Yena sudah terlebih dahulu menyelanya. "Boleh! Biar makin rame, ayo kak!" Gemilang kembali tersenyum puas, ternyata teman-teman Gia sangat mudah diajak kerja sama, batinnya. Ia lalu menutup pintu apartemen dan menggandeng tangan Gia untuk berjalan beriringan menuju kamar milik si gadis, modus. Jantung Gia sendiri sudah tak karuan rasanya, bahkan ingin meledak melebihi ledakan yang biasanya diciptakan oleh Desta. Apalagi ketika melihat masih ada beberapa tetes air yang mengalir dari bisep Gemilang membuatnya ingin pingsan saat ini juga. Kemudian, disinilah keempat orang itu berada, duduk melingkar di lantai ruang tamu dengan televisi menyala dan berbagai makanan instan di tengah. Yena dan Arhan memutuskan untuk mengajak Gemilang makan bersama di sini agar bisa lebih santai sekaligus menonton film, walaupun sebenarnya film tersebut lah yang menonton mereka. "Jadi nama kamu Yena, terus kamu Arhan. Kalian satu jurusan?" Tanya Gemilang sembari menggigit sebuah sosis, kedua orang itu mengangguk mengiyakan. "Kalau abang kerja dimana? Baru di Jakarta apa udah lama?" kini ganti Arhan yang bertanya hingga membuat Yena mendelik tak suka, seharusnya ia yang menanyakan hal itu. "Saya kerja di sebuah sekolah dasar, sama jadi tutor buat anak SMP. Udah lama merantau ke Jakarta sejak kuliah," jawab Gemilang dengan lembut. Diam-diam Gia memperhatikan cara bicara Gemilang, gadis tersebut sangat terpesona dengan kesopanan lelaki itu walaupun lebih tua dari kedua temannya, tidak seperti sang kekasih. Ah, ia kembali membandingkan Gemilang dengan Desta. "Kak Gemilang asli mana?" Tanya Yena. Gemilang terdiam sejenak, ia sejak kecil memang lahir di Jakarta. Lalu, apakah ia harus menceritakan sebuah kejadian di masa lalu yang sempat menjadi luka? Sepertinya iya, karena lukanya kini telah sembuh walaupun harus tetap memakai perban, ia juga ingin membagikan kisahnya kepada semua orang agar bisa lebih menghargai apa itu keluarga. "Saya asli Jakarta, tapi tinggal di Sumatera. Kalian mau dengar kisah memilukan saya, nggak?" jawab Gemilang. Gia, Yena, dan Arhan saling tatap ketika mendengar kata memilukan, mereka bertiga kurang percaya karena apa yang dikatakan oleh Gemilang sangat berbeda jauh dengan raut wajah cerianya. "Perlu tissue nggak, bang?" celetuk Arhan, ia termasuk laki-laki yang mudah tersentuh apabila mendengar cerita sedih. Gemilang tertawa kecil, "Kayaknya perlu, tapi nanti saya kasih candaan dikit, deh. Biar nggak terlalu sedih suasananya." Ketiga mahasiswa itu mengangguk paham, tangan Gia dengan cepat mengambil sebuah kotak tissue yang berada di samping televisi lalu meletakkannya bersama dengan sisa makanan mereka. "Waktu itu usia saya masih 13 tahun. Saya ini termasuk anak yang bandel, suka berantem di sekolah dan berakhir dikeluarkan karena bikin anak orang koma," tuturnya hingga membuat mereka bertiga membulatkan mata. (Flashback on) "Gemilang, ayo berangkat," ucap seorang wanita berambut sebahu, di belakang mereka terdapat tiga koper dan satu koper kecil untuk sang adik. Setelah dikeluarkan dari sekolah akibat berkelahi, papa dan mama Gemilang memutuskan untuk pindah ke Australia, mereka akan mengurus bisnis di sana sekaligus mewujudkan impian utama Gemilang dan sang adik, yaitu sekolah di luar negeri. "Ma, maafin aku, ya. Gemilang nggak maksud buat dia koma biar dikeluarin dari sekolah terus pindah ke Australia," jelas Gemilang berulang kali yang hanya mendapat anggukan serta senyuman lembut dari sang mama tercinta. Gemilang remaja memang anak yang cukup nakal, bahkan sangat. Lelaki itu tidak pernah menuruti apa perkataan kedua orangtuanya, ia hanya akan menyesal jika semua hal buruk telah terjadi, seperti saat ini contohnya. Namun, ada alasan dibalik Gemilang yang bersifat kekanakan serta nakal. Sebenarnya ia tidak ingin memiliki adik, ia tidak ingin menjadi seorang kakak yang harus mengalah dengan adik laki-lakinya, belum lagi jika sang adik terus rewel dan haus perhatian. Gemilang benci itu, Gemilang juga ingin diperhatikan! "Pesawat berangkat 50 menit lagi, ayo!" Ucap papanya yang baru saja selesai menutup gerbang rumah lalu merangkul pundak Gemilang. Orang tua Gemilang memang benar-benar masih menyayangi anak laki-laki pertamanya, namun Gemilang sangat sulit untuk mempercayai hal itu, apalagi ketika dirinya dikeluarkan dari sekolah. Keluarga yang beranggotakan 4 orang tersebut akan terbang ke Australia hari ini, 18 Desember 2011. Pesawat yang akan mereka tumpangi akan transit terlebih dahulu di Bandara Changi Singapura. Tok! Tok! Tok! (Flashback off) "Gia!" Mendengar suara teriakan dari luar sontak membuat keempat orang itu saling pandang, Gemilang bahkan belum selesai menceritakan kisahnya namun terpaksa harus terputus begitu saja. "Itu suara kak Desta!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN