Curiga 2

2107 Kata
Pagi ini Gia terbangun dengan seluruh badan yang terasa sakit karena tertidur dalam keadaan menangis. Tak ingin bermalas-malasan atau tubuhnya akan semakin kaku, gadis itu memilih untuk beranjak dari peraduan, berjalan beberapa langkah namun tiba-tiba berhenti ketika kepalanya terasa pening. Kejadian kemarin benar-benar membuat Gia terkejut, namun itu juga sudah biasa, batinnya. Lagi-lagi ia mengalahkan dirinya sendiri karena tidak berhati-hati dalam melangkah dan berakhir menginjak kaki Gemilang lalu terjadilah kesalahpahaman antara ia dengan sang kekasih. Walaupun salah paham, tapi tentu saja Desta hanya percaya dengan apa yang lelaki itu lihat dengan matanya sendiri, sama sekali tidak mau mendengar penuturan yang bahkan belum Gia jelaskan sama sekali. Setelah rasa pening di kepalanya perlahan menghilang, Gia berjalan membuka gorden kamar yang akan menyajikan pemandangan jalanan ibu kota di pagi hari sembari meregangkan otot-otot tubuhnya. "Aduh!" ringis gadis berbalut pakaian yang sama seperti kemarin sore itu ketika tulang bahunya berbunyi lalu menghasilkan efek nyeri. Gia sebenarnya lelah, bukan lelah karena Desta. Tetapi karena dirinya yang selalu ceroboh dan tak bisa apa-apa, Gia ingin melawan, Gia ingin berani, namun hal itu agaknya sangat sulit baginya. Ia hanya bisa menangis dan pasrah sembari berdoa agar kekerasan yang Desta berikan padanya akan segera berakhir. Di tengah kegiatannya meratapi nasib dengan mata yang mulai sendu dan siap mengeluarkan air kapan saja, suara ketukan pintu berhasil kembali membawa Gia ke dunia nyata, ke dunia dimana semua orang hanya memakai topeng sebagai pelindung kesedihan wajahnya. Dengan cepat Gia berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan berkumur kemudian berlari ke luar dari kamar, melihat dari lubang pintu siapa sosok tamunya pagi ini dan membulatkan mata ketika sang kekasih ternyata sudah rapi di depan sana. Ceklek! "Pagi, sayang!" Satu kecupan ringan berhasil Desta berikan kepada dahi si gadis. Gia tersenyum, seolah melupakan kesedihannya kemarin malam hingga beberapa saat lalu setelah bangun tidur. Ia juga membalas ciuman Desta dengan mengecup pipi sebelah kanan pemuda itu. Sejak kemarin, Desta juga tak sempat merawat luka yang ia miliki dan akan membiarkannya sembuh seiring berjalannya waktu. Toh, dengan adanya luka ini, ia bisa mendapatkan cuti 2 hari dari sang manager di tempatnya bekerja. Setelah mencium Desta, mata Gia beralih ke bawah, ia tak melihat tas jinjing berisi rantang sarapan yang biasa kekasihnya itu bawa ketika datang ke apartemen di pagi hari. Apakah kali ini Desta akan menyuruhnya untuk membeli sarapan sendiri? Gia tidak tau, namun yang jelas ia tidak memiliki uang sepeserpun sekarang. "Lagi nggak ada kelas, kan? Kakak juga nggak kerja, makan di kantin bawah mau nggak?" ajak Desta tersenyum manis lalu memegang pergelangan tangan Gia. Apartemen ini memang dilengkapi dengan sebuah kantin berukuran cukup besar namun tak sebesar kantin di gedung fakultas kampus Gia. Harga makanan di sana cukup murah dan selalu menjadi alternatif utama para penghuni apartemen yang masih menyewa atau berada di tanggal tua. "Tapi Gia belum mandi, kak," ucapnya lirih. "Ganti baju aja, nggak kemana-mana kok kita hari ini. Nanti jam 10 kakak juga mau keluar bentar ke rumah temen." Tutur Desta seraya mengelus puncak kepala Gia. Layaknya anak kucing, Gia langsung menurut begitu saja setelah mendapat perlakuan manis dari sang kekasih dan kembali masuk ke dalam apartemen untuk berganti baju dan gosok gigi tentunya. Sekitar 10 menit kemudian, kedua pasangan kekasih yang menurut semua orang terlihat sangat romantis dan cocok tersebut kini telah duduk manis di salah satu bangku kantin. "Aku mie goreng pakai toping kornet sama nugget, minumnya ikut kak Desta aja," ucap Gia yang kemudian mendapat anggukan kepala dari kekasihnya. Suasana kantin yang cukup ramai kali ini membuat Desta harus mengantre lebih lama dari biasanya. Namun tak apa, selagi harga makanan disini lebih murah di banding tempat lain, Desta rela mengantre agar tak menghabiskan uang terlalu banyak, padahal ia akan membayar dengan uang milik Gia. Sedangkan Gia sendiri saat ini tengah fokus menatap seluruh penjuru kantin dari ujung hingga ujung lainnya. Ada sekitar 5 stan yang penuh dengan barisan para pembeli, karena selain ditujukan bagi penghuni apartemen, kantin ini juga terbuka untuk umum. Meskipun telah tinggal selama satu bulan, Gia belum pernah sama sekali makan di tempat ini dengan alasan takut dan malu. Ia memang tak mau mencoba hal baru sendirian jika tidak terpaksa, baginya itu merupakan kegiatan yang sangat menakutkan dan membuat seluruh badannya bergetar akibat gugup. "Halo, Gia. Ketemu lagi kita." Sapaan familiar tersebut sukses membuat gadis yang sempat memandang ke arah berlawanan kembali mengalihkan atensinya menuju sumber suara. Gemilang berdiri tepat di depan Gia, berbalut setelan khas seseorang yang tengah atau selesai berolahraga sembari membawa nampan makanan. Ah, dan jangan lupakan pula senyuman manis yang hampir saja membuat jantung Gia melompat. Tunggu, perasaan apa ini? Batinnya bermonolog. "Saya boleh duduk di sini, nggak? Tempatnya penuh semua," lanjut Gemilang ketika tak ada balasan dari si gadis. Gia kembali menyapukan pandangannya ke sekitar. Memang benar, seluruh bangku kini penuh, sedangkan di tempatnya duduk tersedia 4 kursi dan meja yang lumayan lebar. "Boleh," ucapnya setelah cukup lama berpikir. Tidak mungkin 'kan ia menolak Gemilang duduk di depannya? Ini adalah tempat umum dan seharusnya sang kekasih tak akan mempermasalahkan hal tersebut. Gemilang kembali tersenyum lalu dengan segera menggeser kursi plastik itu ke belakang agar ia bisa duduk. Menu sarapannya pagi ini adalah sayur sop dengan perkedel isi irisan daging serta air mineral. Hari ini Gemilang juga memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah dimana tempatnya mengajar, karena tugas lelaki tersebut memberi materi kini digantikan oleh mahasiswa magang selama beberapa minggu. Sungguh, Gemilang patut mensyukuri hal ini karena pada akhirnya, ia bisa merasakan bagaimana rasanya terbebas dari belenggu murid-murid nakal yang membuat kepalanya pening. "Kamu kesini sama siapa? Sendirian?" tanyanya lalu memasukan satu potongan kecil perkedel ke dalam mulut. Gia menggelengkan kepalanya seraya menunjuk ke arah dimana sang kekasih kini tengah fokus mengantre sembari bermain ponsel, "Gia sama kak Desta." Lelaki tersebut mengikuti arah telunjuk si gadis, ia baru tau bahwa kekasih Gia bernama Desta. Wajar saja, perkenalan pertamanya dengan lelaki itu saja sangat buruk hingga lupa menanyakan nama atau sekedar menyapa hangat. "Oh, iya. Kamu kemarin nggak apa-apa? Maaf ya," Gemilang kembali bertanya menyinggung masalah ketika Gia ditarik paksa dari pegangannya oleh Desta. Gia terdiam, bisa-bisanya setelah di dorong cukup keras oleh sang kekasih, pria ini justru meminta maaf. "Nggak apa-apa. Maafin kak Desta ya, kak Gemilang." Lirihnya sembari mengatupkan kedua telapak tangan dan memejamkan mata sejenak. Sangat menggemaskan, batin Gemilang. Tak lama kemudian, seseorang yang baru saja selesai mengantre dengan nampan berisi dua piring serta es teh dalam cup, berjalan lebih cepat ke arah bangku tempatnya duduk ketika tau bahwa kekasihnya saat ini tengah berbincang dengan lelaki lain. "Ngapain lo kesini?" tanya Desta ketus namun tetap menjaga nada suaranya agar tidak meninggi. Keduanya sama-sama mendongakkan kepala, bagi Gemilang, ia sudah tidak perlu menunjukkan sopan santunnya kepada laki-laki itu karena bahkan Desta sendiri sama sekali tidak menyambutnya dengan baik sejak kemarin. "Sopan santun kamu ada dimana? Saya ini lebih tua loh daripada kamu, harusnya bisa ngomong baik-baik, kan?" tanya Gemilang santai. Hanya melihat dari wajah dan sikap, Gemilang bisa tau seseorang itu lebih tua atau muda darinya, namun tidak berlaku untuk para artis layar kaca. Walaupun Gemilang lebih tua, tetapi wajah lelaki tersebut tetap terlihat muda dan tampan layaknya seorang model. Para murid les di tempat bimbingan belajar saja sering mengirimi Gemilang surat cinta atau sekedar bertanya tentang materi melalui sambungan telepon agar bisa lebih dekat. Citranya di depan para gadis sekolah memang sudah tidak perlu diragukan lagi. "Saya duduk disini karena semua bangku penuh. Ini tempat umum, memangnya saya nggak boleh makan bareng kalian?" imbuhnya. Desta meremas ujung nampan yang ia pegang, bisa-bisanya lelaki ini tidak memiliki rasa takut sama sekali ketika telah ia dorong dengan cukup keras kemarin. Tak mau merusak suasana hatinya di pagi hari, dengan mengandalkan kemampuannya membawa nampan berisi dua porsi makanan dengan satu tangan, Desta lalu memegang tangan kiri Gia dan menariknya agar berdiri. "Makan tuh sama meja!" ketusnya. Pemuda itu kemudian berjalan pergi dengan terus memegang tangan Gia serta memperhatikan langkah baik-baik supaya nampan yang ia pegang tidak terjatuh ke bawah. Sedangkan Gemilang sendiri menatap Gia yang terus diam tanpa melakukan perlawanan sama sekali. Sudahlah, batinnya, urusan perut saat ini lebih penting dan ia juga tidak ingin bertengkar atau adu mulut dengan siapapun di depan umum. Di dalam ruang makan sebuah apartemen bernomor C 25, Desta dan Gia kini tengah mengunyah makanan masing-masing dengan tenang. Gia tidak menyangka bahwa kekasihnya ini tetap diam tak meluapkan amarahnya sama sekali, padahal gadis tersebut sudah siap jika kembali menerima pukulan atau pegangan erat dari Desta. "Kak Desta nggak marah?" tanya Gia yang pada akhirnya berani membuka suara setelah beberapa menit terdiam. Dengan mulut penuh makanan, Desta meletakkan sendok yang ia pegang dengan cukup keras lalu mengunyah makanannya lebih cepat. "Kakak lagi nggak mau marah, dan kamu jangan banyak omong, ngerti?" jawabnya penuh penekanan dalam semua kalimat yang diucap hingga membuat Gia kembali diam mengangguk. —— Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 10 pagi, Desta benar-benar melakukan ucapannya tadi, yaitu pergi ke rumah sang teman yang entah berada di mana. Di satu sisi, Gia juga bersyukur karena sang kekasih tak memarahinya dan lebih memilih untuk pergi. Untuk sekarang, gadis tersebut bahkan merasa lebih aman jika Desta tidak berada di sampingnya, tetapi itu bukan berarti ia sudah tak menuruti ucapan lelaki itu. Desta tetaplah pangeran bagi Gia, hanya saja saat ini ia ingin sedikit menjauh karena sang pangeran telah berubah menjadi monster yang menyeramkan ketika sedang marah. Ketika tengah meletakkan piring milik salah satu stand kantin yang dibawa oleh Desta tanpa persetujuan penjualnya, manik mata Gia menangkap sebuah wadah makan berwarna abu-abu dibawah rak tersebut. "Astaga, kenapa bisa ada disini ya?" ucapnya bermonolog kemudian mengulurkan tangan untuk mengambil benda yang sejak kemarin ia cari. Itu adalah tempat makan milik Gemilang, penghuni baru yang tinggal di kamar apartemen paling ujung. Belum sempat Gia memasukkannya ke dalam kantung kertas, suara ketukan pintu membuat gadis itu mengurungkan niatnya sejenak dan langsung berjalan ke sumber suara. Karena jika tidak segera dibuka, ia yakin ketukan tersebut akan terdengar semakin keras. Ceklek! "Gia!!" Sapa Yena dan Arhan berbarengan sembari melambaikan tangannya. Kedua teman Gia memang memiliki rencana akan bermain ke apartemen gadis tersebut. Sebenarnya hanya Yena, tetapi ketika mendapat kabar dari Gia bahwa sang kekasih tengah pergi keluar, Arhan pun turut hadir sebagai satu-satunya lelaki disini. Setelah mempersilahkan Arhan dan Yena masuk ke dalam, Gia mulai bercerita tentang sosok baru yang sempat bertengkar dengan Desta kemarin malam dengan penuh semangat. Namun tentu saja ia tak menceritakan kejadian ketika dirinya disakiti oleh Desta karena takut kedua temannya marah. "Jadi namanya Gemilang? Ganteng nggak?" tanya Yena menghadap ke arah Gia, sedangkan Arhan kini sibuk mengemil cookies mini yang disediakan namun tetap ikut dalam obrolan mereka. Gia menganggukkan kepala, "Ganteng, dia kayak ada keturunan China gitu deh, Na. Terus putih banget, apalagi warna bola matanya sama kayak punya aku!" Mendengar penjelasan dari Gia membuat kedua orang itu saling tatap lalu tersenyum jahil. "Hayo, Gia suka ya sama si Gemilang itu?" tuduh Arhan. Gadis itu membulatkan matanya kemudian menggeleng dengan cepat, "Enggak. Kan aku cuma cerita, bukan berarti suka dong!" bela Gia. "Ih Gia! Lo mah jarang banget puji cowok selain kak Desta. Pasti dikit-dikit, kak Desta ganteng, kak Desta manis, Arhan aja nggak pernah tuh lo puji," tutur Yena berusaha menyadarkan apa yang baru saja Gia jelaskan tadi kepada mereka. Gia terdiam karena ucapan Yena adalah benar, ia memang jarang memuji orang secara terang-terangan seperti tadi kecuali kepada Desta, dan kali ini ia juga memuji tetangga barunya tersebut. Ada apa? Batinnya, walaupun baru kenal beberapa hari, tetapi ada suatu hal dari Gemilang yang membuat Gia menjadi nyaman dan merasa dilindungi. Ini tidak benar. Tidak mungkin 'kan dirinya menyukai lelaki tersebut? "Gia!!" Goncangan serta teriakan yang berasal dari Yena berhasil membuat Gia tersadar dari lamunannya. Kedua teman gadis tersebut takut ia kerasukan setelah sekian lama terdiam hingga tiba-tiba menggelengkan kepalanya sendiri. "Aduh, pelan-pelan. Bahu aku sakit," keluh Gia yang sejurus kemudian membuat Yena mengernyit heran, ia bahkan tak mengeluarkan tenaga terlalu banyak ketika mengguncang bahu temannya ini. Tak peduli bahwa ada seorang laki-laki disini, Yena dengan cepat langsung menarik kaus yang Gia pakai hingga menampilkan sebagian bahunya. Gadis tersebut membulatkan mata ketika melihat ada bekas kebiruan di sana. "Ih Yena! Kamu kenapa sih, ada Arhan loh!" protes Gia tak terima lalu kembali membenarkan letak lengan bajunya yang sempat turun ke bawah. "Bahu lo kenapa bisa sampai biru gitu?" tanya Yena. Setelah terdiam beberapa saat untuk mencari alibi yang tepat, Gia kemudian berkata, "Itu, kemarin sempat kena ujung meja makan pas mau ambil sendok yang jatuh. Jadinya biru gini." Ia memang bukan seseorang yang pandai dalam melakukan sebuah kebohongan, dan semoga saja kebohongannya kali ini tidak akan menimbulkan rasa curiga yang lebih panjang terhadap Yena. "Masa sih? Sini gue lihat bahu yang satunya!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN