Pukul setengah 5 sore Gia harus saja menyelesaikan seluruh aktifitasnya sepulang dari kampus. Seperti melipat baju yang sedari pagi hingga sore ia jemur di balkon apartemen, membersihkan ruangan dengan penyedot debu, dan mandi air hangat agar pikirannya kembali segar.
Dengan berbalut celana pendek serta atasan kaos polos karena sore ini cukup gerah, Gia duduk menatap dirinya di depan cermin, menyisir rambut panjangnya dengan lembut sembari sesekali bersenandung mengikuti lirik dari music box yang disetel, lalu teringat akan sesuatu.
Tangannya terulur mengambil tas ransel yang berada di gantungan, membuka resletingnya lalu mengeluarkan sebuah dadi hitam milik sang senior yang belum sempat ia kembalikan tadi, padahal mereka bertemu ketika sepulang kuliah.
"Langsung dibalikin atau dicuci dulu ya," gumam Gia kemudian membolak-balik dasi mahal itu dan sedikit mendekatkannya ke hidung berniat untuk mencium aroma tersebut.
Gia sedikit mengernyitkan dahi ketika parfum yang menempel di dasi milik Melvin sangat berbeda dengan yang biasa lelaki itu pakai. Tidak, Gia tidak menghafal atau berusaha berdekatan dengan Melvin. Tetapi parfum yang digunakan lelaki itu mirip dengan sang kakak dan yang berada di dasi ini baunya cukup menyengat bagi Gia.
"Di cuci aja, deh. Kayaknya nempel sama parfum aku," ucapnya bermonolog.
Andai saja gadis tersebut tau, pemilik asli dasi itu kini tengah memarahi sang anak, karena pada akhirnya Melvin ketahuan diam-diam mengambil dasi papanya lewat sebuah rekaman CCTV yang sengaja diletakkan di ruang khusus baju dan aksesoris. Papa lelaki itu sudah tau betul tabiat anak lelakinya ini.
Sedangkan di sisi lain, ada Gemilang yang saat ini baru saja pulang dari tempatnya mengajar para murid les. Lelaki berusia 26 tahun tersebut memiliki dua pekerjaan, di pagi hari dirinya menjadi seorang guru di sebuah sekolah dasar, dan pada pukul 2 siang ia harus sudah berada di tempat bimbingan belajar anak SMP hingga SMA untuk menjadi tutor.
Cukup lelah, namun mengingat bahwa cicilan apartemennya belum lunas serta motor kesayangan yang masih berada bengkel, Gemilang harus bekerja ekstra. Toh, mengajar adalah salah satu hobinya, walaupun terkadang harus penuh kesabaran ketika menghadapi murid yang super menjengkelkan.
Setelah lift terbuka, Gemilang berjalan lunglai menyusuri koridor lantai tiga menuju kamarnya yang berada di ujung.
Sebenarnya ia juga tidak memilih kamar di lantai tiga yang biaya perbulannya lebih mahal, tetapi karena semua kamar di lantai dua penuh dan kontrakan tempatnya tinggal dulu akan ditempati oleh sang pemilik beserta keluarga barunya, mau tak mau lelaki tersebut mengambil kamar ini dan berdoa semoga bisa terus membayarnya.
Langkah kaki malasnya kemudian berhenti tepat di kamar Gia, Gemilang menolehkan kepalanya sejenak lalu melanjutkan perjalanan. Namun belum sampai lima langkah, laki-laki bermata sipit itu kembali berjalan ke arah depan pintu kamar si gadis.
Gemilang bingung, ia ingin mengambil wadah makan miliknya yang sejak kemarin belum sempat ia ambil, tetapi takut menganggu kegiatan gadis yang entah apakah berada di dalam kamarnya atau tidak.
Jika kembali menunda, Gemilang juga takut apabila wadah makannya akan tertukar atau bahkan Gia lupa meletakkannya dimana. Ia sudah mengalami berbagai macam hal kehilangan tempat makan selama tinggal di kontrakan dulu.
"Sekarang aja deh, daripada hilang nanti," monolog lelaki itu kemudian mulai menggerakkan tangannya untuk mengetuk pintu.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi, Gia."
Pintu masih tidak ada tanda-tanda akan terbuka dalam waktu cepat, tetapi Gemilang tak menyerah begitu saja, ia akan melanjutkannya hingga sampai pada sepuluh ketukan.
Sejenak meninggalkan Gemilang yang masih asik mengetuk pintu, ada Desta dengan wajah masih sama seperti pagi tadi walaupun telah mandi kini tengah berada di dalam lift.
Tangannya yang mengepal lelaki itu arahkan ke indra penciumannya, lalu ia hirup dalam-dalam sembari sesekali memejamkan mata berusaha menikmati efek nikmat serta rileks dari benda yang berada dalam genggaman tersebut.
Tak lama kemudian pintu lift terbuka, karena suasana cukup sepi, Desta masih melakukan aktivitasnya seperti biasa hingga kemudian langkah kaki berbalut sandal khas pria itu berhenti.
Manik matanya menangkap seorang lelaki jangkung tengah berdiri sembari sesekali mengetuk pintu dan mengarahkan telinganya untuk menempel ke arah pintu kamar milik Gia.
Siapa? Batin Desta sembari mengerutkan keningnya lalu berjalan dengan langkah panjang menghampiri pemuda itu setelah sebelumnya memasukkan benda yang ia genggam ke dalam kantong celana.
"Siapa lo?" tanyanya tanpa sopan santun sedikitpun.
Gemilang memutar tubuhnya menghadap lelaki dengan sebagian wajah membiru yang ia lihat pagi tadi di dalam mobil bersama Gia. Sembari tersenyum manis, ia mulai memperkenalkan dirinya, "Nama saya Gemilang, penghuni baru di–"
"Gue nggak butuh data diri lo, urusan lo kesini mau ngapain? Gia pacar gue," bantah Desta sinis, melihat wajah pria bernama Gemilang itu membuatnya tak senang, ia merasa tersaingi.
Gemilang masih bisa tersenyum dan berusaha sabar walaupun sempat terkejut akan nada bicara lelaki dihadapannya ini, benar-benar tidak tau tata krama, padahal mereka baru bertemu beberapa menit lalu.
"Mau ambil wadah makan yang kemarin malam."
Desta terkejut ketika mendengar hal itu karena Gia sama sekali tak bercerita tentang apapun pada dirinya.
Melihat pintu yang masih tertutup rapat, Desta mulai mengetuk pintu tersebut dengan cukup keras serta berteriak menyalurkan kekesalannya, "Gia, buka pintunya!!"
Gemilang membulatkan matanya tak percaya. menurutnya, apa dilakukan Desta saat ini benar-benar sangat tidak sopan. Ia bahkan harus meminta maaf atas nama pemuda itu kepada salah satu penghuni apartemen dengan tatapan sukar yang hendak masuk ke dalam kamar.
"Maaf, mas. Saya nggak buru-buru kok, nggak usah kasar gitu," tutur Gemilang hingga membuatku Desta kembali menatapnya tak suka.
Tak lama kemudian, suara pintu terbuka berhasil mengalihkan atensi keduanya. Gia dengan rambut yang di kuncir asal-asalan karena baru saja menyelesaikan agenda mencuci dasi sang senior menatap Desta dan Gemilang bergantian.
Kini, ada dua pangeran tampan nan berkharisma berada di hadapan Cinderella yang tidak memakai gaun, melainkan hanya sebuah pakaian kebesaran.
"Halo, Gia!" Sapa Gemilang penuh senyuman seraya melambaikan tangannya seakan telah berteman lama. Laki-laki berkemeja tersebut agaknya lupa bahwa jelaga Desta tengah menatapnya dengan tajam.
Gia hanya menganggukkan kepalanya ragu sembari tersenyum tipis, ia takut sang kekasih akan marah jika dirinya terlalu merespon sapaan dari tetangga barunya yang ramah ini.
"Gemintang mau ambil wadah makan yang kemarin katanya," tutur Desta.
"Maaf, nama saya Gemilang," koreksi sang pemilik nama dengan senyum yang masih sama seperti tadi.
Tak menghiraukan ucapan dari Gemilang, lelaki itu justru mendorong Gia masuk ke dalam apartemen untuk segera mengambil barang milik Gemilang dengan Desta yang ikut masuk ke dalam.
"Tunggu sini aja!"
Brak!
Sungguh, baru kali ini Gemilang diperlakukan seperti tadi. Untung saja stok kesabarannya berlipat ganda karena sudah teruji oleh kenakalan para siswa-siswi dan murid di tempat bimbingan belajarnya.
Sedangkan di dalam apartemen Gia dengan gesit langsung berlari menuju dapur untuk mencari wadah makan milik Gemilang. Ia tidak berani menatap wajah Desta yang kini memegang kenop pintu dan akan membukanya kapan saja jika Gia telah menemukan barang yang dicari.
"Kamu kenapa nggak bilang kalau dikasih makanan sama orang itu?" tanya Desta.
"Pagi tadi aku mau ngomong, tapi kak Desta udah bentak aku duluan," jawab Gia sembari mengerucutkan bibirnya karena tak kunjung menemukan wadah makan milik Gemilang.
Pemuda itu kemudian terdiam, tak menyalahkan namun juga tak ingin disalahkan.
Setelah kurang lebih 5 menit berkutat di dapur, Gia kembali berjalan ke arah pintu dengan rantang plastik berwarna merah muda di genggaman tangannya hingga membuat Desta menatap heran. Apakah ini benar-benar milik lelaki itu? Batinnya.
Pintu dibuka cukup kasar oleh Desta hingga hampir saja membuat Gemilang yang menyenderkan tubuh di balik pintu bagian luar terjatuh ke belakang.
"Ini bukan, kak?" Tanya Gia mengangkat tinggi-tinggi rantang itu di depan wajah yang lebih tua.
Nah, kan, pikiran buruk Gemilang ternyata menjadi kenyataan, gadis tersebut benar-benar lupa bagaimana bentuk serta warna wadah makanan miliknya.
"Bukan, Gia. Bentuknya agak lebar, warna abu-abu," jelas Gemilang.
Gia lalu mengangguk dan kembali masuk ke dalam dapur, meninggalkan Desta dan Gemilang yang saling tatap karena pintu tak lagi ditutup namun juga tak mengizinkan siapapun masuk.
"Ini?" Gia lagi-lagi keluar sembari membawa rantang plastik lain yang berwarna abu-abu, namun Gemilang juga menggelengkan kepalanya sekali lagi.
"Bukan rantang, lebih tipis tapi beranak. Ada banyak sekat juga didalamnya."
Mendengar penuturan dari Gemilang membuat Desta menghela nafasnya, apalagi ketika melihat raut wajah tak mengerti dari sang kekasih yang justru semakin membuatnya bertambah kesal.
Tak ada cara lain, mau tak mau Desta harus membiarkan Gemilang masuk dan mencari sendiri barang antah berantah itu. Ia tidak ingin Gia terus menerus berinteraksi dengan lelaki yang lebih tinggi serta mungkin lebih mapan dan tampan dari dirinya.
"Lo mending masuk terus cari tempat bekal itu," ucapnya kepada Gemilang lalu membuka pintu apartemen lebar.
Gemilang tentu saja mengangguk setuju atas usul Desta, dengan cepat laki-laki tersebut membuka sepatu yang ia pakai dan masuk ke dalam apartemen milik Gia, seketika aroma citrus menguar memenuhi indra penciumannya.
Gia memang telah mengganti pengharum ruangannya dari lavender menjadi citrus atas saran dokter Rachel minggu lalu agar gadis tersebut bisa mendapat ketenangan ketika merasa lelah dengan perkuliahan ataupun dunia luar.
Gemilang berjalan pelan menuju dapur diikuti oleh Desta dan Gia yang berada di belakangnya hingga membuat aura dingin kembali terasa, jika seperti ini dirinya lebih mirip seorang pembantu yang sedang diuji coba kinerjanya, batin Gemilang.
Matanya menyapu seluruh perabot rumah tangga yang tak begitu lengkap namun juga tidak bisa dibilang sedikit, semuanya tertata sangat rapi seakan tidak pernah disentuh, dan memang benar. Tetapi ia tak melihat keberadaan wadah makan miliknya sama sekali.
"Saya boleh buka?" Tanya Gemilang sembari memegang gagang sebuah lemari gantung berwarna putih yang berada tepat di atas kompor digital.
"Boleh, Gia ambil kuncinya dulu," ucap yang lebih muda.
Tak sampai dua menit, setelah berlari mengambil kunci di dalam guci yang terletak di buffet ruang tamu, Gia kembali mendekat ke arah lemari gantung tersebut lalu berusaha memasukkan kuncinya.
Melihat si gadis yang terlihat kesusahan membuka lemari yang sedikit tinggi dari tubuh kecilnya membuat Gemilang merasa iba.
Lelaki tersebut berniat akan mengambil alih gagang serta kunci yang dipegang oleh Gia. Namun belum sampai terpegang, pintu lemari itu berhasil terbuka hingga membuat tubuh Gia sedikit mundur ke belakang lalu tak sengaja menginjak kaki seseorang..
"Aduh!"
Gemilang mengerang kesakitan kemudian menarik paksa kakinya dari telapak kaki Gia yang juga ikut terkejut, gadis tersebut hilang keseimbangan hingga hampir saja terjatuh ke samping jika Gemilang tidak menahan tubuh kecilnya dengan sigap.
Pose keduanya saat ini sangat mirip seperti ketika Gia ditangkap oleh Melvin saat hendak jatuh di koridor kampus pagi tadi.
Keduanya saling diam menatap, entah kenapa baik Gia maupun Gemilang seolah tidak asing ketika mata madu mereka sama-sama bertemu di satu titik.
Seperti pernah bertemu tapi tak tau dimana.
Gemilang terus menatap lekat mata Gia hingga sebuah suara dentuman tiba-tiba diikuti dengan teriakannya dan tangis seakan memenuhi isi kepalanya, lalu ....
"b******k!"
Kejadian itu terjadi begitu cepat seperti pikiran Gemilang yang berkelana beberapa detik, Desta menarik tubuh Gia dan mendorong Gemilang dengan keras ke arah meja makan hingga membuat beberapa sendok dan garpu yang tertata menjadi sedikit goyah.
Ada apa dengan lelaki ini? Pikir Gemilang menatap Desta tak percaya sekaligus emosi, karena sejak tadi sikap lelaki yang lebih muda darinya ini benar-benar tidak menunjukkan keakraban sama sekali.
"Lo di diemin malah makin jadi ya! Kamu juga kenapa mau-mau aja disentuh sama dia?" bentak Desta.
Lelaki itu baru saja selesai mengangkat telepon dari ruang tamu, lalu kembali ke dapur dan langsung disuguhkan oleh adegan romantis kedua orang tersebut. Siapapun pasti akan merasa sangat marah jika kekasihnya disentuh orang lain, kan?
Namun di posisi ini, Desta tak sadar bahwa ia sendiri juga telah membiarkan dirinya disentuh oleh para wanita lain selain kekasihnya.
"Pergi lo!" bentaknya sekali lagi dengan tangan kanan kiri yang masih memegang erat pergelangan tangan Gia.
Gemilang melihat itu, ia melihat bagaimana reaksi ketakutan dari Gia saat mendengar Desta berteriak.
Wajah manis gadis itu meringis, keringat membasahi dahinya serta kedua tangan dan bibirnya bergetar. Cukup tidak wajar jika hanya takut akibat mendengar teriakkan, pasti ada sesuatu hal yang akan atau pernah terjadi di saat-saat seperti ini.
Karena tak ingin menambah masalah dengan berkelahi di dalam apartemen, akhirnya Gemilang memilih untuk mengalah dan pergi dengan tangan kosong tanpa membawa wadah makanannya yang belum ditemukan.
Hanya untuk kali ini, karena jika ia melihat Desta melakukan hal-hal buruk kepada Gia di depan matanya lagi, Gemilang pasti akan ikut campur urusan kedua pasangan itu. Ia berjanji.