Kampus

2092 Kata
Mengingat bahwa jarak apartemen menuju kampus tak begitu jauh, kurang lebih setelah 15 menit memulai perjalanan dengan saling diam, mobil yang ditumpangi Desta dan Gia berhenti di dekat gerbang masuk. Kali ini tidak tepat di depan gerbang karena lelaki itu sudah mendapat dua kali teguran dari satpam kampus. "Akhir-akhir ini kakak sibuk. Kamu harus bisa masak sendiri atau beli makanan di kantin bawah," ucap Desta membuka suara. Gia mengangguk, namun tak lama kemudian ia teringat akan sesuatu, "Kalau gitu, biar kartu ATM-nya Gia bawa aja, gimana?" tawarnya. Tentu saja, bagaimana ia bisa membeli makanan atau bahan-bahan dapur jika dirinya saja tidak membawa uang sama sekali. "Nggak bisa," jawab Desta mutlak. Enak saja, batin lelaki itu. Bisa-bisa ia tidak bisa melunasi rumah barunya jika kartu ATM milik Gia di ambil alih, Desta harus segera melunasi kekurangannya menggunakan uang sang kekasih karena uang miliknya bahkan sudah habis untuk kegiatan tidak bermanfaat seperti malam kemarin. "Kalau kamu butuh uang buat beli makanan, kasih tau kakak aja. Nanti biar kakak transfer lewat e walet kamu," tutur lelaki itu. Lagi-lagi Gia menganggukkan kepalanya, tak mempermasalahkan hal itu padahal kartu ATM tersebut sebenarnya adalah miliknya dan ia berhak untuk mendapatkannya, toh Desta juga sudah mendapat miliknya sendiri. Setelah turun dari mobil, Gia berjalan cukup cepat menyusuri lorong kampus karena kuis akan dimulai sebentar lagi, ia tidak ingin mendapat C dari sang dosen yang sangat amat tertib tersebut hanya karena telat datang. Gia memiliki sebuah kebiasaan yang untuk sebagian orang mungkin aneh. Yaitu ketika berlari, bukannya menatap ke arah yang dituju, gadis itu justru menatap ke arah bawah dan tak jarang pula kelas yang ia tuju selalu terlewat. Seperti saat ini, ketika masih fokus menatap ke arah lantai keramik, ia tak melihat bahwa ada seorang lelaki berjalan dari arah berlawanan yang juga tak memperhatikan jalan karena tengah berbincang dengan temannya, hingga kemudian .... Bug! "Eh, hati-hati!" Dengan kecepatan sepersekian detik, lelaki itu berhasil menangkap tubuh Gia yang hampir saja terjengkang ke belakang hingga menghasilkan sebuah pose yang indah seperti sedang berdansa. "Gea?" lagi-lagi nama itu disebut oleh si lelaki, padahal ia tau bahwa yang dipegangnya saat ini bukanlah pemilik nama tersebut. Cekrek! "Wah, cakep nih!" seru temannya yang berada di samping lelaki itu setelah mengarahkan satu tembakan kamera ke arah mereka berdua. Kedua lelaki itu adalah Melvin dan Nanon dengan wajah lebam serta beberapa plester kecil di sebagian wajahnya. "Makasih, kak Melvin. Dan maaf, nama saya Gia, bukan Gea," Ucap Gia seraya berdiri agar terlepas dari pegangan tangan Melvin. Melvin sendiri mengangguk kepalanya dengan wajah yang tetap datar seperti sedia kala, sedangkan Nanon justru tertawa cekikikan ketika melihat hasil foto keduanya. Bukan lucu, namun terlalu sempurna mengingat bahwa lelaki itu memotret Gia dan Melvin secara tidak sengaja. "Nanti gue kasih versi gambar sama cetaknya ya, sekalian sama foto-foto yang dikirim Arhan waktu itu. Mumpung boleh cetak gratis," celoteh Nanon yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Melvin. Tau bahwa ada yang salah dari wajah sang senior, Gia kembali mengeluarkan suara, "Kak Nanon wajahnya kenapa? Habis berantem ya?" Melvin dan Nanon diam saling tatap. Bukannya ingin merahasiakan hal ini, tetapi sepertinya Gia tak perlu tau atau gadis tersebut akan merasa bersalah nantinya. Dan kejadian ketika Desta membawa perempuan lain masuk ke dalam kamar, mereka rasa itu juga urusan percintaan keduanya, kedua lelaki itu tak ingin mencampuri karena takut kembali dihajar oleh Desta. "Biasa, anak jantan. Eh, lo mau kemana, Gi?" tanya Nanon berusaha mengalihkan pembicaraan. Gia kemudian memukul dahinya ringan, "Mau ke kelas B4, Gia ada kuis sekarang. Duluan ya, kakak-kakak," ucapnya lalu menundukkan kepala dan hendak kembali berlari jika tiba-tiba Melvin tidak memegang lengannya agar berhenti. "Kelas Bu Venya?" tanya si lelaki. Setelah mendapat anggukan kepala sebagai jawaban, Melvin kemudian melepaskan sebuah dasi hitam yang berlogo Gucci pada bagian tengahnya lalu ia berikan kepada Gia. Pagi ini Melvin dan Nanon memang memakai setelan hitam putih lengkap karena hendak berfoto bersama untuk keperluan organisasi BEM fakultas maupun ekstrakurikuler futsal. "Lo nggak bakal boleh ikut kuis Bu Venya kalau nggak pakai dasi. Nanon aja dulu sampai mohon-mohon di ruang dosen," tutur Melvin hingga mendapat tatapan tak terima dari Nanon yang entah kenapa ikut dibawa-bawa. Gia yang baru sadar bahwa lupa memakai dasi dengan cepat menerima uluran dari Melvin dan memakainya sembari berjalan menuju kelas setelah sebelumnya kembali berpamitan dan mengucap terimakasih. "Terus lo mau pakai dasi siapa?" tanya Nanon. Tak biasanya lelaki ini terlihat seperti pahlawan, batinnya. Dasi tersebut adalah milik sang papa yang ia ambil secara diam-diam minggu lalu. Dan untuk menghindari tuduhan, Melvin langsung menulis namanya sendiri di bagian belakang agar bisa menjadi miliknya secara mutlak. Melvin mengangkat kedua bahunya acuh lalu berjalan mendahului Nanon, "Di ruang BEM mungkin ada." Tak lama kemudian, Gia telah sampai di depan kelas. Berhubung pintu yang digunakan berupa pintu kaca, gadis tersebut bisa melihat kedua sahabat melambaikan tangan agar ia segera masuk karena kuis akan dimulai dalam 2 menit. Setelah memastikan bahwa pakaian yang ia gunakan rapi dan lengkap, Gia pun masuk ke dalam ruangan tak lupa memberi salam terlebih dahulu lalu duduk di kursi single yang lagi-lagi berada di antara Yena dan Arhan. "Lama banget sih, ada masalah?" tanya Yena setengah berbisik. Gia menganggukkan kepala lalu mengarahkan jari telunjuk serta jempolnya mendekat satu sama lain namun tak menempel, kemudian berkata, "Ada sedikit, tapi gak apa-apa." "Gia, pinjam pena dong. Punya gue tiba-tiba abis nih." Kini ganti Arhan yang berseru seraya menepuk-nepuk pundak Gia dengan cepat. Gia menoleh menatap Arhan sembari mengacungkan pena berwarna ungu, namun senyumannya tiba-tiba memudar begitu saja ketika melihat wajah lelaki itu yang dua kali lebih mengenaskan dari Desta dan Nanon. Bahkan ada perban di bagian dahinya. "Arhan kenapa?" tanya Gia cukup keras hingga membuat dosen perempuan yang tengah membagikan lembaran berisi kuis tersebut menatap mereka bertiga tajam. Setelah meminta maaf dan mengarahkan telunjuknya ke arah bibir sebagai isyarat agar Gia mengecilkan suaranya, Arhan justru menampilkan senyuman semanis mungkin berusaha menahan rasa sakit di ujung bibirnya. "Gue nggak apa-apa. Nanti aja pas selesai kuis, abang Arhan cerita sambil makan mie ayam di kantin," tutur lelaki itu menepuk dadanya yang tak terlalu bidang. Satu jam kemudian, setelah dihadapkan oleh 6 pertanyaan yang sangat menguras otak serta tenaga hingga membuat perut lapar, Gia, Yena, dan Arhan kini berada di kantin dengan tiga porsi mie ayam serta es jeruk yang tertata di atas meja. "Gila, kalian berdua lama banget. Pasti saling contek kam pas dosen lagi gak merhatiin," tuduh Arhan yang sejak 5 menit lalu sudah keluar dari kelas. "Kita keluar paling akhir gara-gara mikir jawaban pakai logika. Daripada lo, keluar cepet tapi ngasal! Kayak gini nih bibit-bibit mahasiswa abadi," cibir Yena membuat Arhan terdiam namun menggerutu dalam hati. Sedangkan Gia saat ini mulai memakan mie ayamnya, tak peduli dengan pertengkaran Yena dan Arhan. Sarapan dua sisir roti bakar tadi benar-benar tak terasa mengenyangkan karena sang kekasih membentaknya, ia bahkan tak bisa fokus mengerjakan kuis yang padahal sudah gadis tersebut pelajari ketika di rumah hanya karena suara cacing di perutnya. "Aduh!" suara erangan dari lelaki di depannya sontak membuat kedua wanita itu mengalihkan atensinya menatap Arhan. Lelaki berkemeja putih itu tengah mengerang kesakitan karena panasnya kuah mie ayam berhasil mengenai luka di ujung bibirnya hingga kembali terasa perih. Arhan menyesal telah memakannya sebelum kuah tersebut benar-benar dingin. Namun baginya, makan mie ayam ketika dingin juga tidak akan terasa enak. Tangan Gia terulur menyerahkan tissue kepada Arhan, sedangkan Yena kini tengah mengipasi mangkuk mie ayam milik lelaki tersebut agar tidak terlalu panas. Pertemanan mereka bertiga benar-benar kompak hingga membuat iri siapa saja yang melihat. "Itu kenapa sih, Han? Katanya tadi mau cerita," ucap Gia ketika melihat Arhan sudah sedikit lebih tenang dari pada tadi. Sembari mengipasi mulutnya, Arhan akhirnya mulai bercerita setelah mendapat anggukan kepala dari Yena, "Dihajar sama kak Desta di kelab gara-gara kirim pesan ke lo kemarin. Waktu itu gue lagi rayain kemenangan tim futsal bareng bang Melvin, bang Nanon, sama anggota lain," tuturnya panjang lebar. "Berarti wajah lebam kak Nanon juga karena dihajar kak Desta?" Gia kembali bertanya ketika mendengar nama Nanon, kedua orang itu mengangguk. Raut wajah Gia seketika berubah menjadi sedih, ia tidak tau sang kekasih akan melakukan ini semua hanya karena pesan masuk dari Arhan. Ia benar-benar menyayangkan perbuatan Desta kali ini. "Maafin kak Desta ya, Arhan. Tolong bilangin minta maaf juga buat kak Nanon ya, Yena," ucapnya mewakili sang kekasih. "Nggak usah minta maaf, Gi. Yang harusnya minta maaf ya kak Desta sendiri," bantah Yena yang memang tidak terima jika Gia harus meminta maaf pada hal yang bukan kesalahan gadis itu sendiri. "Lagian Arhan juga salah, ngapain coba pakai berbagi lokasi ke lo? Abang gue juga salah sih, sok-sokan mau misah, eh malah ikutan dihajar," imbuhnya agar tidak terkesan membela salah satu diantara kedua pihak. "Iya, Gia nggak usah sedih. Mending bantuin pasang plester di bibir abang Arhan sini." Seakan tidak memiliki rasa kapok sama sekali, Arhan justru mencondongkan tubuhnya ke arah Gia hingga mendapat pukulan botol minum pada dari Yena yang sudah lelah. —— Pukul 5 sore, akhirnya kelas selesai. Hari selasa memang merupakan hari yang cukup padat bagi mereka bertiga, namun hari-hari berikutnya akan terasa lebih ringan karena hanya ada beberapa mata kuliah yang diajarkan. "Kita pulang dulu ya, dah!" seru Arhan dan Yena secara bersamaan yabg tak sengaja bertemu Gia ketika berada di gerbang kampus. Keduanya memang sering berangkat dan pulang bersama menggunakan motor matic milik Arhan karena rumah mereka searah. Walaupun selalu bertengkar di tengah jalan, tetapi Yena tetap mau-mau saja jika dijemput atau ditawari pulang bersama. Kembali lagi ke gadis yang kini tengah berdiri sembari terus menatap tampilan sebuah aplikasi di dalam ponselnya. Karena sang kekasih tak menjemput, Gia terpaksa harus memesan kendaraan online. Sebenarnya gadis itu hendak memesan mobil, namun lagi-lagi salah memencet hingga motor yang akan datang menjemputnya kali ini. "Jangan main ponsel di pinggir jalan, nanti dicuri," ucap Melvin yang entah sejak kapan berada di belakang Gia, lelaki itu pun tentu saja sudah melirik ponsel milik juniornya terlebih dahulu tadi. "Maaf, kak. Nanti kalau nggak dilihatin terus, takut motor abang ojeknya nggak jalan." Ucap Gia seraya mengangkat ponselnya yang menampilkan simbol sepeda motor tengah berjalan menuju rutenya di depan wajah Melvin. Lelaki yang sudah berganti setelan dari hitam putih menjadi almamater dengan dalaman kaos berwarna hitam itu membulatkan matanya. Gia benar-benar sangat polos, dan mungkin jika ditawari permen oleh seorang penjahat, gadis ini pasti akan menerimanya, batin Melvin. "Nggak perlu dilihatin kayak gitu, kalau udah jalan kesini ya bakal jalan terus!" Gia sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang ketika telunjuk Melvin mengenai dahinya. Gadis itu kemudian mengangguk paham lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku kemeja yang dilapisi oleh jaket rajut. Suasana kembali hening seakan tak ada siapapun di sisi mereka masing-masing hingga tiba-tiba Melvin teringat akan sesuatu. "Pacar lo kemana? Biasanya dijemput," tanyanya. "Lagi sibuk di cafe, kak. Jadi saya disuruh naik ojek aja katanya," jawab Gia. Melvin menaikkan sebelah alisnya, "Kan dulu juga sibuk tapi masih tetap dijemput. Lo nggak ngerasa aneh? Sekali-kali tuh tanyain, seharian kemana dan sama siapa aja, jangan mau dibuat kalah mulu," tutur lelaki tersebut layaknya seroang ayah yang tengah menasehati sang anak. "Emang harus ya kak? Saya nggak berani tanya-tanya gitu," balas Gia dengan polos. Ia memang tak pernah menanyai kemana saja kekasihnya itu pergi karena sudah terlalu percaya sepenuh hati, dan mungkin juga akan menutup mata serta telinganya dari semua orang yang berbicara buruk tentang Desta. Ketika Melvin telah membuka mulutnya hendak menjawab pertanyaan polos dari Gia, sebuah sepeda motor tepat berhenti di depan keduanya hingga membuat pemuda itu kembali mengatupkan bibir. "Dengan mbak Gia?" tanya supir ojek tersebut. Gia menganggukkan kepala lalu kembali menatap sang senior, "Saya pulang dulu ya, kak Melvin. Selamat sore," ucapnya kemudian menaiki jok motor matic itu. "Oh iya, Gia," cegah Melvin tiba-tiba. Keadaan hening sekali lagi mengambil alih, baik Gia dan supir ojek sama-sama menatap Melvin yang masih terdiam sedangkan awan mendung di langit sudah tertata rapi, keduanya tidak ingin kehujanan di tengah perjalanan pulang. "Kalau kita berangkat dari Belanda jam 9 pagi, sampai Indonesia jam berapa?" Supir ojek tersebut menatap lelaki di sampingnya dengan tatapan tak percaya dan kesal menjadi satu. "Aduh kak, maaf. Saya nggak tau, mas tau nggak?" Gia balik bertanya kepada orang didepannya yang hanya dijawab gelengan kepala. Melvin menghela nafas, pasti menurut tukang ojek itu pertanyaannya sangat kurang bermutu. Ia juga sebenarnya ingin memberi tau masalah Desta, tetapi karena takut Gia tak percaya, akhirnya Melvin melontarkan pertanyaan aneh tadi. "Ya udah. Kalau udah ketemu jawabannya, kasih tau gue, ya." Gia tersenyum sembari mengacungkan jempol lalu sepersekian detik kemudian berubah menjadi lambaian tangan heboh ketika motor mulai menjauh dari area gerbang kampus. Melvin tentu saja menjawab lambaian tangan Gia dengan tersenyum tipis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN