Bentakan

1800 Kata
Di dalam sebuah fasilitas ruang karaoke yang disediakan oleh pihak kelab, terdapat seorang bartender berambut sebahu yang akrab disebut bang Te. Lelaki berbalut apron hitam itu menghadap ke ketiga pemuda pembuat onar malam ini, Desta, Arhan, serta Nanon dengan wajah lebam tak terkecuali pula Melvin yang ikut terseret sebagai penanggung jawab sekaligus wakil kedua temannya. "Melvin, ini yang terkahir kalinya ya gue lihat lo atau antek-antek lo bikin onar disini. Udah bayar setengah harga, malah pecahin barang-barang, siapa lo? Pemilik Jenja?" omel bang Te kepada Melvin dan kedua temannya yang kini tengah menunduk. Tatapan lelaki berusia sekitar 31 tahun tersebut beralih menatap Desta yang duduk sendirian di sofa single, "Lo juga." Tunjuk bang Te. "Biarpun lo langganan main kesini, tapi nggak memungkiri bakal gue daftar hitam. Jangan mentang-mentang banyak uang terus bisa ngapain aja, gue nggak butuh uang lo, masih banyak pelanggan yang bisa bayar lebih," cecarnya, ia memang sangat lihai dalam mengkritik seseorang. Setelah mendapat anggukan kepala paham dari keempatnya, bang Te yang tengah berdiri sembari berkacak pinggang layaknya seorang guru menghadapi keempat murid nakal akhirnya menghela nafas panjang. "Satu juta. Masing-masing 500.000, Arhan sama Nanon bisa iuran," Ucapan yang menyebutkan nominal dengan itu sontak membuat keempatnya mendongakkan kepala terkejut. "Apa mau gue list aja mana yang rusak? Ini nggak seberapa loh, malah makin bengkak kalau gue hitung satu-satu. Atau mau gue hubungi bokap lo aja, Vin?" ancam bang Te ketika melihat wajah tak terima dari mereka. Melvin sontak menggelengkan kepala, bisa dipenggal kepalanya nanti oleh sang papa jika ketahuan merusak fasilitas kelab. Lelaki itu kemudian menyenggol pelan Arhan dan Nanon yang berada di sisi kanan dan kirinya agar segera membayar denda. Arhan tentu saja dengan mudah mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah serta satu lembar uang berwarna biru dari dalam dompetnya. Namun, Nanon kini justru memasang wajah mengharap ke arah Melvin karena uangnya telah habis. "Gue pinjam uang ke lo dulu deh, Vin. Uang gue udah bersih ini," pinta lelaki itu lalu menunjukkan isi dompet yang hanya berisi kartu tanda penduduk serta kartu identitas Mahasiswa. Jika minuman yang sempat Nanon beli tadi bisa dikembalikan, maka tentu saja akan ia berikan kepada bang Te agar diganti dengan uang untuk membayar denda. Melvin berganti menatap Arhan. Seolah tau apa yang akan dikatakan oleh seniornya itu, Arhan dengan cepat menggeleng, "Sumpah uang gue tinggal itu aja, bang. Sisa 50.000 buat isi bensin nanti," ujarnya. Melvin menghela nafas, mau tak mau ia harus membantu Nanon karena tak ingin masalah ini sampai di dengan oleh papanya. Lelaki itu kemudian mengambil sebuah dompet dari saku celananya lalu mengeluarkan uang yang sama seperti nominal uang Arhan. "Hutang lo buat bayar nasi goreng tiga kali, dua minggu yang lalu, belom lunas ya. Jadi totalnya lo bisa hitung sendiri, kan?" tegas Melvin hingga membuat Nanon malu namun tetap mengangguk. Setelah menerima uang dari kedua orang tersebut, kini bang Te kembali menatap Desta sembari menengadahkan telapak tangannya dengan bergerak-gerak tak sabar. "Kok gue bayar banyak banget sih!" protes Desta tak terima. Nominalnya memang cukup kecil, tetapi ia tidak ingin membayar cuma-cuma hanya untuk ganti rugi dan tak mendapatkan apapun. "Makanya bawa temen, biar bisa iuran. Nggak punya temen sih, lo!" cibir Nanon hingga membuat Desta mengepalkan tangan lalu hendak berdiri jika saja bang Te tak menghalangi. Sungguh, lelaki ini benar-benar sangat mudah terpancing emosi, batin Nanon setengah takut. Tak mau semakin lama berada disini, Desta langsung melakukan apa yang tadi dilakukan oleh Arhan dan Melvin, mengeluarkan sejumlah uang dari dalam dompet lalu memberikannya kepada bang Te. "Oke senang bekerja sama dengan kalian. Jangan begitu ya, lain kali," ucap bartender itu sembari tersenyum puas, tak menghiraukan wajah masam dari mereka berempat apalagi Desta yang kini telah berjalan keluar dari ruangan karaoke. Brak! Pintu tertutup cukup kasar karena ulah kekasih Gia tersebut hingga Melvin bersama kedua temannya yang hendak keluar dibuat cukup terkejut saat pintu itu tertutup tepat di wajah Arhan. "Desta!" baru saja sang pemilik nama hendak melangkah, seruan seorang wanita dari arah yang berlawanan membuatnya berhenti sejenak. "Eh, muka kamu kenapa?" tanya wanita dengan dress di atas lutut berwarna merah menyala sama seperti warna bibir dan sepatu hak tingginya. Desta tersenyum seakan beban yang sejak tadi berada di bahunya hilang begitu saja ketika di rangkul oleh wanita berambut panjang itu, "Ada sedikit masalah, bisa sembuh kalau dikasih ciuman. Apalagi kalau sama ...." Ucapan Desta menggantung, namun digantikan dengan isyarat mata yang memandang dari bawah hingga atas lalu memainkan sebelah alisnya ke atas hingga membuat wanita itu tau apa maksud dari lelakinya ini. "Oke," jawabnya lalu mengecup ringan pipi sebelah kiri Desta. Keduanya pun mulai berjalan beriringan dengan sang wanita yang terus merangkul pundak Desta, begitupun sebaliknya sampai menghilang di balik pintu kamar. Desta tidak tau, bahwa ada tiga lelaki yang sedari tadi menatap serta mendengarkan percakapannya dari belakang dengan tatapan tak percaya. "Nggak beres nih," gumam Arhan. Sedangkan Melvin dan Nanon tetap diam. Bukan hal aneh jika seorang lelaki yang gemar bermain di kelab malam memiliki banyak wanita, termasuk Desta. Hanya kebanyakan, tidak semuanya. Melvin juga tak termasuk dalam jejeran itu, karena ia selalu bersikap dingin kepada semua wanita, kecuali sang kakak, Gia, dan satu lagi. —— Rutinitas pagi hari bagi Gia tetap sama seperti biasanya, hanya sedikit yang berubah, yaitu sarapan yang dulu selalu dimasakkan oleh sang pembantu kini berubah menjadi Desta yang memasaknya. Itupun tidak setiap hari, terkadang ia harus sarapan dengan roti bakar buatannya sendiri lalu membeli makan siang serta makan malam di luar jika sang kekasih tengah sibuk bekerja atau malas memasak. Dan sebulan terakhir, Desta sangat jarang sekali memasakkan Gia, ia selalu memberinya beberapa uang untuk membeli makanan. Seperti pagi ini, Desta lagi-lagi tak datang ke apartemen Gia untuk memasak, Gia sendiri juga tidak ingin menghubungi kekasihnya terlebih dahulu. Ia akan pergi ke kamar apartemen Desta di lantai dua setelah dua sisir roti bakarnya matang dan siap dimakan selama perjalanan menuju kampus nanti. Ting! Dua roti menyembul bersamaan dengan bunyi pada mesin pemanggang tersebut. Dengan cepat Gia langsung mengambil roti itu lalu mengolesinya dengan selai strawberry dan memasukkannya ke dalam kantung kertas kecil, tak lupa juga mengambil satu kotak s**u. Setelah memastikan bahwa tak ada barang yang tertinggal, Gia kemudian memakai sepatu kets hitam miliknya lalu membuka pintu apartemen dan berjalan cepat menuju lift yang kebetulan tengah terbuka. "Eh Gia, tunggu!" Terlambat. Pintu lift telah tertutup, meninggalkan Gemilang yang telah memanggil gadis tersebut berulang kali dari depan kamarnya hingga berlari menyusuri lorong apartemen namun tetap tak membuat Gia menoleh ke arahnya. "Padahal mau ambil tempat makan, udah deh nanti sore aja," gerutu Gemilang yang sekali lagi gagal mengambil tempat makannya kembali. Ia adalah tipe lelaki yang tidak terlalu suka jika barang-barang miliknya dibawa oleh orang lain dalam waktu lama, dan hari ini Gemilang bertekad akan mendapatkan itu kembali. Ketika lift berhenti di lantai dua, Gia keluar digantikan oleh sekitar 3 orang lain yang masuk. Ketukan sepatu kets menemani hening lorong lantai ini, tidak ada orang yang ia temui sama sekali, mungkin karena setiap pagi cukup sibuk dan beberapa orang sudah berangkat ke tempat kerja masing-masing. Langkahnya kemudian berhenti di sebuah pintu bernomor B26, kamar apartemen yang dihuni oleh sang kekasih. Tok! Tok! Tok! Biasanya Desta akan membuka pintu bahkan sebelum Gia menyelesaikan ketukannya yang ketiga, namun sudah sampai 5 ketukan sang empu belum juga membukanya hingga membuat Gia tak sabar. Ia ada kuis hari ini. "Kak Desta!" serunya dari luar tetapi tetap tidak ada jawaban, hingga tak lama kemudian sebuah panggilan telepon berhasil membuat Gia mengehentikan aktifitasnya sejenak. Dahi gadis itu mengernyit ketika mengetahui sosok penelepon tersebut adalah Desta. "Halo, kak Desta dimana?" ucapnya. "Kakak udah dibawah, kamu langsung turun aja." Jawab Desta di seberang telepon. "Loh kenap–" Tut! Belum sampai Gia kembali bertanya, sambungan telepon tersebut sudah terlebih dahulu dimatikan sepihak oleh sang lelaki. Gia lalu kembali melihat jam yang tertera di layar ponsel miliknya, 15 menit lagi kuis akan dimulai, dengan segera ia langsung berjalan menuju lift dan memencet tombolnya. Merasa pintu lift tak kunjung terbuka dan tidak ingin membuat Desta marah, Gia mengeluarkan decakan kesal kemudian berlari ke lobi menggunakan tangga darurat yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Sepersekian detik kemudian lift terbuka tepat ketika tubuh kecil Gia telah hilang dibalik belokan yang mengarah ke tangga darurat. Gemilang yang kebetulan berada di dalam ruangan berbentuk kubus tersebut sedikit mencondongkan kepalanya untuk melihat apakah ada orang di depan sana. Koridor lantai dua sepi, tak ada orang sama sekali. Tak ingin menunggu lebih lama atau ia akan telat datang ke sekolah tempatnya mengajar, Gemilang mengangkat kedua bahunya acuh seraya kembali menutup lift tersebut. Di tempat lain, Gia yang tadi sempat berlari kini telah berada di dalam mobil miliknya. Ada Desta di sana, masih memakai jaket kemarin malam dengan wajah yang penuh lebam hingga membuat Gia terkejut, ini adalah kedua kalinya ia melihat sang kekasih dalam kondisi yang cukup mengenaskan. "Kak Desta kenapa?" Tanya Gia seraya mengulurkan tangannya hendak menyentuh luka kecil yang berada di sudut bibir Desta. "Nggak apa-apa." Namun tanpa diduga, tangan Gia tiba-tiba ditepis oleh yang lebih tua dengan keras hingga membuatnya membulatkan mata. Ada apa dengan kekasihnya hari ini? Tidak biasanya Desta marah dalam waktu selama ini, batin Gia. "Kak, ini harus diobatin. Gia kasih plester dulu aja ya? Tunggu, Gia ambil sebentar." Tak menyerah, Gia terus berceloteh sembari membuka tas ransel miliknya untuk mencari plester kecil yang memang selalu ia sediakan. "Udah, nggak usah," cegah Desta melirik si gadis yang kini justru mengeluarkan seluruh benda yang ada di dalam tas tersebut. "Gia, udah." Sekali lagi, ucapan Desta sama sekali tidak dihiraukan oleh Gia hingga membuat lelaki itu menjadi geram. Walau lukanya saat ini terasa nyeri, tetapi ia tidak ingin diganggu dan diobati oleh siapapun. "Gia stop! Kamu denger nggak sih kakak ngomong apa!?" bentakan keras tersebut sukses membuat Gia terjingkat lalu mengalihkan pandangannya menatap Desta. "Kalau kakak bilang nggak usah ya berarti jangan. Bisa dibilangin pakai bahasa manusia, nggak?" lanjut lelaki itu dengan nada yang sama kerasnya seperti tadi, mereka berdua agaknya lupa bahwa kaca mobil masih terbuka. Gia menganggukkan kepalanya patuh kemudian menunduk memasukkan kembali barang-barangnya ke dalam tas dengan tetap mengatupkan mulutnya karena takut. Sedangkan Desta saat ini mulai menjalankan kuda hitamnya tersebut keluar dari area apartemen, setelah sebelumnya memukul kemudi mobil dengan cukup keras untuk menyalurkan kekesalannya terhadap Gia dan seluruh orang yang membuatnya marah sejak kemarin malam. Baik Desta maupun Gia tak tau bahwa sejak tadi ada seorang laki-laki berpakaian kemeja biru muda serta bawahan celana kain hitam yang tak sengaja mendengar percakapan mereka berdua. Sosok itu adalah Gemilang, lelaki tersebut memang tengah menunggu ojek online yang ia pesan karena sepeda motor miliknya harus masuk bengkel sejak dua hari lalu. Ketika melihat Gia berada di dalam mobil, hampir saja Gemilang menanyakan perihal tempat makannya kemarin, namun hal itu segera ia urungkan saat mendengar suara bentakan dari seseorang di samping Gia. "Kasar banget," gumamnya merujuk pada Desta seraya menggelengkan kepala pelan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN