Seorang lelaki dengan atasan kemeja kain kotak-kotak serta bawahan celana jeans hitam lengkap berserta sandal khas hotel dan senyuman manis berhasil kembali menghipnotis Gia untuk beberapa saat.
Pahatan wajahnya sangat tampak dan sempurna, namun bukan itu yang membuat Gia menatapnya dengan lamat.
Melainkan sepasang yang dimiliki oleh pemuda tersebut sama seperti milik Gia, mata madu yang berbinar indah hingga membuat gadis itu seakan tengah menatap matanya sendiri hingga membuatnya terlihat familiar, atau mungkin memang mereka pernah bertemu sebelumnya?
"Permisi, halo," ucapnya sekali lagi sembari melambaikan tangannya ke kanan dan ke kiri persis seperti apa yang dilakukan Desta dua bulan lalu ketika pertemuan pertama mereka.
Gia tersadar, mengerjapkan mata berkali-kali lalu kembali menatap lelaki itu dengan tatapan bertanya namun tak bersuara.
Seolah tau akan apa yang berada di pikiran Gia, lelaki itu pun memperkenalkan diri, "Nama saya Gemilang, baru aja pindah ke kamar apartemen di pojok sana." Ucapnya seraya menunjuk ke sebuah pintu apartemen yang berada di paling ujung lantai empat, tepat disamping tangga darurat.
Gia menganggukkan kepala, sebenarnya ia tidak ingin memperkenalkan diri, tetapi hal tersebut sepertinya kurang sopan apalagi ketika melihat pria dihadapannya ini bahkan mungkin lebih tua dari Desta.
Gia harus memiliki sedikit tata krama kepada tetangga baru, itu adalah ucapan sang kakak ketika gadis tersebut baru saja pindah ke apartemen bulan lalu.
"Gia," balas yang lebih muda dengan bola mata bergerak ke sana kemari karena tak ingin ditatap oleh lelaki bernama Gemilang itu.
Gemilang tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah namun berhasil membuat darah Gia berdesir entah kenapa. Senyuman yang Gemilang berikan sendiri juga seakan memiliki keajaiban hingga membuat badan Gia terasa lebih menghangat.
Mungkin karena perubahan suasana dari takut akan sikap mendominasi sang kekasih beberapa saat lalu, hingga tiba-tiba berubah menjadi sapaan serta senyuman bersahabat dari lelaki ini, tidak lebih, batin Gia bermonolog.
Setelah hening kembali menyelimuti, Gia pikir semuanya sudah selesai, ia berbalik badan ke arah pintu dan bersiap untuk memutar gagangnya ke bawah.
Terlalu hanyut memandangi gadis kecil yang berada di hadapannya membuat Gemilang lupa apa tujuannya datang kemari. Ketika melihat Gia hendak membuka pintu, dengan cepat tangan Gemilang terulur untuk memegang lengan gadis itu.
Merasa perbuatannya kurang sopan saat mengingat bahwa mereka berdua baru saja berkenalan beberapa menit lalu dan wajah terkejut yang dipancarkan oleh Gia, lelaki itu langsung melepaskan pegangan tangannya lalu menundukkan badan.
"Ah, maaf. Saya kurang sopan," ucapnya.
Gia kembali terkejut mendengar permintaan maaf dari Gemilang. Apa yang dilakukan olehnya tadi adalah hal yang sebagian banyak orang anggap wajar di masa sekarang. Tetapi Gemilang justru meminta maaf, sopan santunnya sungguh patut diacungi jempol.
"Nggak apa-apa. Ada apa ya, kak?" tanya Gia dengan nada yang sangat lirih hingga membuat Gemilang terpaksa harus sedikit menajamkan indra pendengarannya. Dipanggil dengan sebutan 'kak' juga diam-diam berhasil menciptakan seulas senyuman di wajah tampan pria itu.
"Ini, saya bawa beberapa makan malam sebagai bentuk perkenalan ke tetangga baru." Jawabnya sembari mengulurkan sebuah tas cokelat berbahan dasar kertas tebal yang langsung diterima oleh Gia.
Namun, belum sempat gadis yang saat ini tengah memakai kaos serta celana training tersebut mengucap kalimat terimakasih, dering telepon yang berasal dari ponsel milik Gemilang tiba-tiba berbunyi.
Lelaki berambut legam itu kemudian berbalik membelakangi Gia untuk mengangkat telepon, "Iya, yang dikerjakan ada di halaman 163. Kan sudah bapak beri tau waktu di tempat les tadi. Jadi sistem ...."
Mendengar ocehan itu membuat Gia dapat dengan mudah menebak bahwa Gemilang adalah seorang tenaga pengajar entah di sekolah atau di sebuah lembaga bimbingan belajar.
Tak ingin terus berdiam diri tanpa tau apa yang harus dilakukan, gadis itu pun akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam apartemen tanpa mengucap sepatah kata apapun kepada Gemilang yang masih asik bertukar pendapat dengan salah satu muridnya.
Setelah kurang lebih 5 menit, panggilan telepon akhirnya berakhir, lelaki tersebut memasukkan ponselnya ke dalam saku celana lalu berbalik.
"Maaf, ya. Tadi– loh, kok hilang?" Gemilang terkejut sekaligus heran ketika melihat gadis bernama Gia itu sudah masuk ke dalam kamar tanpa pamit kepada dirinya terlebih dahulu.
Gemilang tidak mempermasalahkan hal itu sebenarnya, karena dari sikap Gia membalas perkenalan singkat mereka saja ia sudah tau bahwa perempuan manis tersebut adalah sosok pemalu.
"Padahal mau minta balikin tupperware-nya sekarang, besok aja deh," gumam Gemilang lalu berjalan kembali menuju kamar miliknya.
Di dalam ruangan apartemen bernomor C 25 dengan nuansa cat berwarna putih tersebut, kini ada Gia yang menatap beberapa wadah berisi makanan dari nugget hingga cap jay pemberian dari sosok tetangga barunya tadi.
Gadis itu ragu, apakah Gemilang adalah orang baik atau justru seorang penjahat yang akan meracuninya lewat makanan?
Setelah berpikir demikian, Gia menggelengkan kepala. Mengingat senyum serta perilaku sopan dari Gemilang membuat ia tak yakin bahwa lelaki itu adalah orang jahat, tetapi semuanya tidak bisa dinilai hanya dari penampilan, apalagi mereka baru pertama kali bertemu.
Buktinya, sang kekasih saja dulu terlihat begitu manis, namun semakin kesini sikap tegas Desta semakin kentara, kartu ATM milik Gia saja sudah benar-benar ditahan olehnya. Belum lagi jika marah, sangat menyeramkan, gerutu Gia dalam hati.
Krukk!!
Suara perut tersebut berhasil menyadarkan Gia dari lamunan serta kebisingan otaknya, cacing di dala. perut rata miliknya sudah meraung-raung meminta makan.
"Nggak bisa order makanan online," gumamnya lesu karena ia tidak memegang uang sama sekali.
Sepasang manik indahnya kembali menatap makanan di atas meja, aroma serta penyajiannya yang cukup menarik membua makanan tersebut seolah tengah melambaikan tangan, mengundang agar segera dimakan hingga tak bersisa.
Masa bodoh, pikirnya. Apabila makanan ini benar-benar beracun, Gia akan menuntut atau bahkan menghantui tetangga barunya itu jika ia tiba-tiba ditemukan tak bernyawa di dalam apartemen.
Setelah berdoa singkat, Gia langsung memegang sendok dan garpu lalu mulai mengambil potongan kecil nugget beserta nasi dan beberapa helai sayuran dari cap jay, kemudian memasukkannya ke dalam mulut.
"Enak!" seru Gia saat telah menyelesaikan beberapa kali kunyahan lalu kembali mengambil suapan berikutnya hingga benar-benar bersih.
——
Di sisi lain, Melvin, Arhan, Nanon, dan beberapa anggota inti ekstrakulikuler futsal kini tengah berada di sebuah kelab malam yang biasa dikunjungi oleh Melvin sekaligus tempatnya bertengkar dengan Desta kala itu, Jenja.
Untuk merayakan kemenangan tim futsal mereka ketika bertanding melawan fakultas lain, Nanon sebagai ketua memutuskan mengajak para anggota timnya agar sedikit bersantai di kelab malam, dengan aturan tidak boleh menghabiskan lebih dari dua botol untuk sekitar 8 orang anggota yang hadir malam ini.
"Kok nggak dibales sih sama Gia," gerutu Arhan yang sebenarnya bukan anggota tim inti namun merengek meminta ikut, dan berakhir dimintai iuran.
Ucapan tersebut mungkin sudah dilontarkan lebih dari 5 kali oleh Arhan sejak 10 menit lalu hingga membuat Melvin dan Nanon merasa risih.
"Ada apa sih? Dari tadi Gia mulu." Omel Nanon seraya mendekatkan dirinya ke arah Arhan.
"Gue kirim pesan sejak lima belas menit lalu, tapi cuma dibaca aja, bang. Padahal kan pengen tau lokasi dia dimana, kalau di apartemen gue mau pinjem flashdisk buat pembelajaran besok," celoteh sang junior dengan cukup keras karena suaranya hampir hilang termakan dentuman keras yang berasal dari musik.
"Emang lo kirim pesannya kayak gimana? Coba lihat!" Melvin yang sejak tadi terdiam kemudian mengambil alih ponsel Arhan begitu saja tanpa menunggu perizinan dari empunya.
Lelaki berkalung rantai dengan warna perak itu mengernyit, "Terus lo ngapain berbagi lokasi ke Gia? Mau suruh dia anterin flashdisk ke sini?" tanya Melvin hingga membuat Nanon berpindah mendekat ke arahnya dan ikut membaca isi pesan yang dikirim oleh Arhan.
"Enggak, ya maksud gue tuh biar dia tau kalau lokasi gue disini. Jadi nanti Gia bisa mikir gitu jarak dari Jenja ke apartemennya berapa menit," tutur Arhan polos.
Melvin dan Nanon kini saling tatap, juniornya ini sengaja memicu pertengkaran dengan kekasih Gia atau memang benar-benar bodoh? Pikir keduanya.
"Terus kenapa lo malah tanya dia lagi malam mingguan atau enggak? Kan bisa kasih pertanyaan yang lain. Ini itu terkesan kayak ngajak Gia main kesini, lo belajar bahasa dimana sih?" kini ganti Nanon yang memberikan omelan panjang lebar kepada sang junior.
"Sini lo!"
Belum sampai Arhan kembali memberikan alasannya, sebuah cengkeraman di kerah kemeja yang tengah ia pakai membuat dirinya ikut tertarik beberapa langkah.
Tubuh Arhan ditarik lalu dihantamkan pada dinding dengan cukup kasar hingga membuatnya meringis. Nafasnya terasa tercekat karena cengkeraman tangan itu terasa semakin erat.
"Lepas!" Ucapnya lirih sembari terus berusaha menendang tubuh sosok lelaki yang ada kini ada dihadapannya.
Dia adalah Desta.
"Maksud lo apa ajak Gia main kesini? Lo bisa denger suara manusia nggak sih? Udah gue suruh jauhi Gia masih aja dipepet!" bentak Desta. Setiap kata yang ditekankan oleh lelaki, maka akan semakin erat cengkeraman yang diberikan.
Srak!
Dengan sekuat tenaga, Arhan menendang perut Desta hingga berhasil membuatnya terjatuh tepat di tengah arena dance floor yang penuh dengan pengunjung lain. Namun bukannya terbebas, Arhan juga ikut tersungkur tepat di atas lelaki itu karena Desta masih memegang erat kerah kemejanya.
Suasana semakin ricuh, semuanya berlangsung begitu cepat. Melvin dan Nanon bahkan tak dapat menahan ketika Desta menarik sang junior beberapa saat lalu.
Kini, kedua orang tersebut justru saling memberi pukulan dan u*****n kasar di tengah lingkaran para pengunjung bar malam ini, seakan Desta dan Arhan adalah pertunjukan mendadak yang begitu menarik.
"Oh, lo mau nantang gue?" ucap Desta ketika satu pukulan berhasil mendarat di ujung bibirnya.
Arhan menggelengkan kepala, ini adalah salah satu bentuk pertahanan diri walaupun ia sama sekali tidak memiliki dasar-dasar pukulan seperti yang Desta berikan padanya.
Tetapi Arhan juga tak bisa diam saja jika terus menjadi samsak bagi lelaki kasar itu, bisa berakhir di rumah sakit atau bahkan di liang lahat dirinya nanti.
"Lo pegangin bang Desta, biar gue yang jaga Arhan," seru Melvin kemudian mendorong Nanon yang belum melontarkan ungkapkan protesnya ke arah Desta.
Melvin sendiri juga enggan mengambil resiko, ia tidak ingin dihajar oleh kekasih Gia untuk yang ketiga kali, pukulannya benar-benar sangat menyakitkan.
Ketika keduanya kembali mendekat dan hendak melemparkan pukulan, Melvin dan Nanon dengan cepat langsung menarik keduanya agar menjauh.
"Tenang bang, bisa kita bicarakan baik-baik," ucap Nanon sembari menepuk bahu Desta agar emosinya sedikit mereda.
"Apaan sih lo!" Bentak lawan bicaranya seraya mendorong tubuh Nanon dengan cukup kasar hingga mengakibatkan lelaki berwajah oriental tersebut ikut tersulut emosi.
Bug!
Satu pukulan dari orang berbeda tepat mengenai hidung Desta.
"Otak tuh dipakai, jangan banggain otot aja!" cibir Nanon.
Desta yang tak terima kembali mendekati Nanon dan melayangkan satu pukulan ke wajahnya, suasana yang tadinya sempat hening kini kembali riuh karena mereka berdua bertengkar tepat di depan meja bartender.
"Jagain Arhan bentar, biar gue yang urus Nanon sama bang Desta," ucap Melvin kepada beberapa temannya lalu berlari ke arah kedua orang tersebut sembari berdoa semoga tidak ada barang-barang atau minuman mahal yang berantakan.
Dari arah meja bar, ada bang Te selaku bartender yang menatap Melvin dengan tatapan tajam, sedangkan Melvin sendiri berusaha untuk tetap fokus melerai Nanon tanpa ingin menatapnya kembali.
Lelaki berambut panjang itu tau bahwa dua orang yang bertengkar di depannya ini adalah teman Melvin, dan ia juga tidak berniat memisahkan sama sekali karena lebih memilih untuk menjaga gelas-gelas dihadapannya sembari menghitung berapa denda bagi mereka berdua.
Biarlah para staf dan Melvin yang mengurusnya. Ketika semua telah kembali normal, ia akan mulai memberikan wejangan beserta nota ganti rugi kepada Desta dan Nanon.