Sad Night

2054 Kata
Satu bulan kemudian. Semuanya berjalan dengan normal, baik perkuliahan Gia maupun pekerjaan Desta. Namun, yang berbeda kali ini Desta lebih ketat kepada Gia, apalagi jika itu bersangkutan dengan pengeluaran. Gia sendiri tidak mempermasalahkan hal tersebut, selagi Desta bersama dirinya dan ia bisa membeli satu barang setiap satu bulan, gadis tersebut cukup bersyukur. Hubungannya dengan sang kakak juga tetap membaik, Gama bahkan lebih sering menghubunginya daripada bulan lalu. Satu bulan terakhir ini Desta juga berhasil membayar uang muka sebuah rumah berukuran cukup luas jika hanya ditinggali oleh ia sendiri, rumah tersebut berada tak jauh dari 'Mula Cafe', dan tentunya tanpa sepengetahuan sang kekasih maupun teman-temannya yang lain. Tabungan Desta dari Gama serta bekerja di Cafe tentu saja tak cukup untuk membayar uang muka rumah tersebut mengingat ia masih harus membayar biaya listrik, air, serta sewa apartemen setiap bulan. Apalagi jika sedang suntuk, lelaki tersebut selalu pergi ke kelab malam lalu menghabiskan uang sedikitnya lima ratus ribu hingga satu juta. Itulah alasannya mengapa Desta menekan pengeluaran Gia, karena uang sang kekasih juga terpaksa harus ia ambil sebagai tambahan DP rumahnya yang baru. "Hore, ayang kalah lagi!" Seru lelaki berbalut jaket tersebut sembari menempelkan telunjuknya ke arah wadah berisi bedak, bersiap untuk sekali lagi mencoret wajah manis Gia. Mereka berdua saat ini tengah berada di ruang tamu apartemen milik si gadis. Awalnya, Desta dan Gia berencana akan pergi bersama ke taman kota untuk menikmati berbagai makanan pinggir jalan, namun karena hujan tiba-tiba turun dari pukul 6 sore hingga sekarang, keduanya pun memutuskan untuk bermain domino setelah sebelumnya menonton sebuah film terbaru. "Sini wajahnya. Jangan kabur!" Lagi-lagi Desta berteriak lalu berdiri mengejar Gia yang berniat pergi. Sejak permainan dimulai hingga masuk ke ronde kelima, Gia hanya menang satu kali dan sisanya dihabiskan oleh Desta. Wajah gadis tersebut sudah penuh dengan bedak berwarna putih, ia tidak mau melanjutkan permainan ini tetapi Desta terus merengek. Jadi, siapa yang terlihat seperti bayi saat ini? Keduanya saling mengejar memutari seluruh ruangan apartemen dari mulai meja makan hingga kembali berakhir di ruang tamu, Gia juga terus berteriak ketika sang kekasih hampir menangkapnya sembari membawa wadah bedah di genggaman tangannya. Hap! Satu tangkapan dari depan berhasil membuat Gia berhenti tepat di pelukan Desta. "Kakak, lepas," pinta gadis tersebut ketika Desta memeluknya dengan erat hingga membuatnya memberontak. Karena tak siap mendapat reaksi yang terlalu tiba-tiba, tubuh ideal pemuda itu menjadi tak seimbang dan berakhir jatuh di sofa dengan Gia yang berada di atas pangukan Desta serta bedak yang jatuh berceceran di lantai. Suasana menjadi hening, teriakan yang sempat mendominasi tadi seakan menghilang begitu saja diikuti suara rintik hujan yang ternyata juga mulai mereda. Desta dan Gia saling tatap, binar netra jelaga serta manik madu dari keduanya seakan menghipnotis diri masing-masing, menciptakan letupan di hati si gadis hingga kupu-kupu yang dari dalam perut terbentuk. Desta menatap wajah manis sang kekasih yang walaupun kini telah penuh dengan bedak namun tetap terlihat cantik, bahkan mungkin terlihat seperti anak kecil, menggemaskan. Perlahan, tangan sang dominan mulai bergerak memindahkan anak rambut gadisnya ke belakang telinga, lalu mengelus puncak kepala Gia dengan lembut. Tatapan Desta lambat laun juga mulai sendu bersamaan dengan tangan yang kini telah bertengger indah di leher sang kekasih. "Cantik banget sih, pacar kakak ini," puji Desta secara terang-terangan tak peduli dengan Gia yang mulai salah tingkah. Jarak kepala mereka berdua kini semakin dekat karena si lelaki sengaja sedikit mencondongkan kepalanya ke arah Gia, bahkan gadis itu bisa merasakan nafas segar dari Desta yang menyapu sebagian wajahnya. Hening lagi-lagi mengambil alih. Hingga tiba-tiba .... "Hat–chih!!" Suara bersin dari Gia sukses memecahkan suasana hening nan romantis yang sempat Desta bangun, lelaki tersebut dengan segera menutup wajahnya menggunakan telapak tangan, sedangkan Gia menyembunyikan kepalanya di d**a Desta karena malu. "Hei, mana mukanya. Sini coba kakak lihat," ucap sang kekasih dengan lembut walaupun ia juga sedikit merasa canggung akibat perbuatannya yang gagal tadi. "Cantiknya kakak ...." Bukannya mengangkat kepala, Gia justru menggerak-gerakkan kepalanya pada d**a Desta ke kanan dan ke kiri karena semakin merasa malu. Ia tidak ingin wajah putih bercampur merah merona membuat lelaki tersebut tertawa. Jaket berwarna hitam yang dipakai oleh Desta pun sudah dipastikan sebagian permukaannya kini berubah menjadi warna putih akibat kelakukan menggemaskan Gia. "Kakak jangan ngomong dulu, Gia malu!" Ujarnya lalu memukul ringan bahu yang lebih tua hingga membuat Desta tertawa kecil. "Iya deh, kakak diem nih." Setelah 3 menit kemudian, kepala Gia lambat laun mulai terangkat. Namun belum sempat Desta berhasil melihat wajah si gadis, ia terlebih dahulu melompat dari pangkuan Desta lalu berdiri dan hampir saja berlari jika sang pangeran tak memegang lengannya. "Bedaknya jatuh di lantai, kalau kamu lari nanti jatuh," imbau Desta yang kemudian bangkit dari duduknya lalu berdiri di belakang Gia. Gia hanya mengangguk canggung, tak ingin lagi larut dalam suasana romantis karena takut kembali bersin membuat gadis tersebut menggeleng-gelengkan kepala agar bisa berpikir jernih hingga membuat Desta heran. "Gia, mau cuci muka dulu di kamar mandi," pamitnya. "Iya, boleh. Tapi bisa balik badan dulu, nggak? Masa kakak ngomong sama punggung kamu," balas Desta dengan nada sedikit merengek. Gia lagi-lagi menggelengkan kepala, "Nggak boleh. Nanti Gia malu lagi!" ceplosnya tanpa malu. Sedangkan Desta saat ini tengah berusaha menahan tawanya agar tidak keluar, ia takut Gia nanti akan semakin merasa malu dan berakhir terus mengurung diri di dalam kamar seperti yang lalu-lalu, hingga terpaksa membuatnya harus membujuk gadis tersebut menggunakan makanan atau barang-barang yang Gia inginkan. "Oke deh kalau kamu nggak mau balik badan, biar kakak aja yang hadap kamu," ucap lelaki tersebut lalu dengan cepat beralih ke hadapan Gia, sedikit menunduk karena tinggi mereka tak sama kemudian mencuri satu kecupan ringan di bibir sang kekasih. Gia membulatkan matanya tak percaya akan apa yang baru saja dilakukan oleh Desta. Ini memang hal biasa, tetapi degup jantungnya seolah berkata bahwa ini luar biasa, padahal mereka juga biasa saling mengecup. Tapi entah kenapa malam ini sedikit berbeda, ada sedikit tekanan yang diberikan oleh si lelaki hingga Gia dapat lebih merasakan bagaimana tekstur bibir Desta. Ingat akan apa tujuannya lepas dari pangkuan Desta beberapa menit lalu, Gia langsung menyingkirkan tubuh besar di hadapannya tersebut lalu langsung berjalan dengan cukup cepat masuk ke kamar dan menguncinya dadi dalam. Desta tertawa, kali ini terdengar lebih keras dan juga terkesan seperti menertawai dirinya sendiri. Lelaki itu sudah dua bulan menjalin hubungan dengan Gia, tetapi mereka berdua belum pernah berciuman dengan dalam dan penuh perasaan layaknya pasangan kekasih di luar sana. Padahal pergaulan di masa kini bisa dikatakan cukup bebas, banyak orang yang baru kenal satu minggu saja sudah melakukan hubungan badan tanpa memikirkan konsekuensi kedepannya. Desta dan para mantan kekasihnya dulu juga seperti itu, sampai sekarang pun masih, namun bersama dengan wanita-wanita yang ia temui di kelab malam. Bermodal uang, wajah tampan, dan kata-kata manis, bisa dipastikan ia dan wanitanya akan berakhir di ranjang semalaman. Tapi entah kenapa, bersama dengan Gia rasanya berbeda. Gia terlalu polos seperti anak sekolah yang harus ia jaga dan juga ia manfaatkan, uangnya. Desta sebenarnya tidak terlalu menyukai tipe gadis yang terlalu manis dan polos seperti Gia. Lelaki itu mengakui bahwa kekasihnya saat ini memang sangat cantik, ia juga tak keberatan jika harus terus menjadi kekasih Gia, tetapi Desta membutuhkan wanita lain sebagai tempatnya memuaskan nafsu. Lalu, bagaimana kondisi Gia di dalam kamar setelah mendapat sengatan listrik ringan dari sang kekasih tadi? Bukannya membersihkan wajah, Gia saat ini justru berguling-guling di atas kasur hingga tubuhnya terlilit selimut. Gadis tersebut sesekali berteriak tanpa mengeluarkan suara lalu kembali membenamkan wajahnya ke bantal. Tak seberapa lama kemudian, Gia terduduk di atas kasur dengan rambut yang sangat berantakan akibat tingkahnya selama 5 menit tadi. Ia menepuk-nepuk wajahnya sendiri agar tidak mengingat kejadian beberapa saat lalu sekaligus namun tetap saja otaknya selalu memutar ingatan yang sama setiap detiknya. "Tarik nafas ... hembuskan ...," ucapnya bermonolog sembari mengangkat kedua tangan ke atas dan ke bawah. Gia tidak bisa keluar jika wajahnya terus memerah seperti ini. Setelah sekali lagi menepuk wajahnya, Gia kemudian beranjak dari peraduan lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa bedak yang masih menempel. Ia tak tau, bahwa sejak tadi ada setitik cahaya merah yang bertugas untuk mengawasi tingkah lakunya. Kembali lagi kepada sosok Desta yang kini tengah membersihkan area ruang tamu menggunakan penyedot debu agar lantai tidak licin akibat bedak yang sempat terjatuh. Kegiatannya ini berlangsung sekitar lima menit, hingga tiba-tiba suara dering pesan dari ponsel yang berada di atas meja membuatnya berhenti sejenak. Ponsel milik Gia lagi-lagi tertinggal, gadis tersebut memang cukup teledor dan Desta juga cukup lancang dengan langsung mengambil ponsel tersebut itu tanpa meminta izin sang pemilik. Dahinya seketika mengernyit ketika tau siapa sosok pengirim pesan itu. @Arhan [(Berbagi Lokasi) Gia, lagi malam mingguan?] Jari Desta menekan titik lokasi yang dikirim oleh pemuda itu lalu kembali mengernyit tak suka saat tau bahwa lokasi tersebut berada di kelab malam yang sering ia kunjungi. Untuk apa Arhan berbagai lokasi kepada Gia? Dan sejak kapan kekasihnya itu menyimpan nomor ponsel Arhan yang jelas-jelas telah Desta blokir kala itu? Ceklek! Pintu kamar terbuka, menampilkan Gia dengan sisa-sisa air yang masih ada di sebagian wajah dan rambutnya. Desta menatap si gadis dengan tatapan dingin hingga membuat Gia bingung. Ia tidak sedang melakukan kesalahan, kan? Tanyanya dalam hati. "Ada ap–" "Kamu simpan nomor Arhan?" Belum sempat Gia menyelesaikan ucapannya, Desta sudah terlebih dahulu memotong dengan nada suara yang tak sehangat biasanya. Gia terdiam, apa salahnya menyimpan nomor teman laki-lakinya sendiri? Ia juga belum tau siapa sosok dibalik orang yang mendaftar hitam nomor Arhan kala itu. Apakah Desta? "Kenapa?" tanyanya polos. Tatapan tajam itu berubah menjadi ekspresi tak percaya, Desta kemudian mendekat ke arah pintu kamar dimana Gia berdiri lalu memegang bahunya cukup erat. "Gia, emang kakak pernah bolehin kamu simpan nomor cowok lain? Apalagi di Arhan yang suka banget godain kamu itu, kakak nggak suka ya!" ucap Desta dengan penuh penekanan. "Kak, tapi Arhan itu cuma teman Gia," bantah si gadis. Desta tertawa, "Udah berani bantah kamu? Siapa yang ajarin kamu bantah ucapan kakak? Pasti teman-teman kamu itu, kan?" "Oh, atau kamu beneran emang ada hubungan sama dia?" imbuhnya. Tunggu, kenapa jadi seperti ini? Ini hanya masalah nomor telepon, kan? Kenapa reaksi Desta kembali seperti dulu? Gia mulai takut, ia menundukkan kepalanya tak berani menatap jelaga sang dominan. "Apalagi sekarang dia ngajak kamu malam mingguan ke kelab malam. Dia pasti bukan anak baik-baik, Gia, kakak capek ngasih tau kamu. Jangan-jangan tabiat kamu emang kayak gini aslinya?" Desta terus mendesak Gia dengan kata-kata yang menurut gadis itu cukup tak mengenakkan hati. Penjelasan dari Desta juga seakan tengah menjelaskan definisi tentang dirinya sendiri tanpa ia sadari. Jika terus berada disini, membentak Gia saja rasanya tidak cukup, mungkin emosi Desta akan kembali meluap seperti dulu. Setelah tak mendapat jawaban dari Gia, atau lebih tepatnya tak membutuhkan jawaban dari gadis yang masih menunduk tersebut, Desta langsung melepaskan pegangan tangannya pada bahu Gia dan berjalan begitu saja ke arah pintu keluar. "Kak Desta mau kemana?" "Bukan urusan kamu." Ketus Desta sembari memakai sepatunya lalu membuka pintu dan berjalan menuju lift jika saja Gia tidak tiba-tiba menahan lengannya. Mereka berdua kini berada di depan pintu apartemen. "Kak Desta, katanya mau makan malam bareng?" cicit Gia menyinggung janji sang kekasih yang akan mengajaknya makan malam bersama di warung nasi goreng terdekat jika hujan telah reda. Desta tentu saja tak mempedulikan hal itu, ia melepaskan tangan Gia dari lengannya dengan cukup kasar lalu berbalik menatap mata gadis tersebut. "Lupain makan malam atau apalah itu. Kakak udah males sama kamu. Kalau sekali lagi kamu halangi kakak pergi ...," ucapan Desta sengaja dibuat menggantung agar lawan bicaranya merasa penasaran. Dengan menampilkan sebuah senyuman miring yang cukup menyeramkan, lelaki itu mendekatkan kepalanya ke arah telinga Gia lalu melanjutkan kata-katanya. "Kamu masih ingat kan gimana sakitnya waktu kakak jambak rambut kamu dulu?" Gia membeku, tentu saja ia ingat karena itu adalah pertamakali rambut panjangnya dijambak, apalagi oleh sang kekasih. Bukan hanya itu, ingatan tentang bagaimana buket bunga mawar dari Yena dan Arhan yang diinjak oleh Desta kembali berputar hingga membuat rasa sesak kembali melanda. Desta lagi-lagi tak peduli akan air muka Gia yang berubah. Ia pergi begitu saja lalu menghilang di balik pintu lift meninggalkan si gadis sendirian di depan kamar dengan pikiran yang berkelana jauh, bahkan matanya sudah mulai berkaca-kaca. Tak lama kemudian, sebuah tepukan tangan ringan pada bahu Gia membuatnya langsung tersadar, dengan gerakan cepat ia langsung memutar badan ke arah belakang setelah sebelumnya mengelap air mata yang tak sengaja turun. "Halo, selamat malam!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN