Mobil hitam itu berhenti tepat di depan gerbang kampus. Tak mempedulikan banyaknya mahasiswa yang protes karena tak bisa memasukkan kendaraannya ke dalam, hingga menimbulkan sedikit kemacetan di belakang.
Ulah siapa lagi jika bukan Desta. Lelaki itu memang selalu menghentikan mobilnya di depan gerbang. Walaupun sang kekasih telah berkata agar berhenti sedikit jauh, namun tetap saja tak dihiraukan.
"Jangan deket-deket cowok lain, ya." Ucapan yang selalu dilontarkan oleh Desta sejak tiga hari lalu, semenjak mereka berdua bertengkar akibat buket bunga mawar. Atau lebih tepatnya hanya Desta yang membuat ulah.
Gia mengangguk, seraya memasukkan oleh-oleh dari sang pembantu yang baru saja pulang kemarin untuk diberikan kepada Arhan dan Yena ke dalam tas kecilnya.
Entah kenapa, melihat tas hitam bertuliskan Channel pada bagian tengahnya tersebut, mengingatkan Desta akan tas selempang miliknya yang ia cari sejak kemarin namun tetap tidak ada di apartemen. Tas yang juga berhasil membuat pemuda itu kalut setengah mati karena tak kunjung menemukannya.
"Gia, kamu tau tas yang selalu kakak bawa biasanya, nggak?" tanya Desta.
Gia menggelengkan kepala. Tetapi ia tau tas yang dimaksud oleh sang kekasih, "Sejak nginap di rumah Gia tiga hari lalu, Kakak kayaknya udah nggak pernah bawa tas itu, deh."
Sang lelaki kembali berpikir, "Mungkin nggak ya kalau ketinggalan di kamar tamu?" gumamnya pada diri sendiri yang tak sengaja terdengar oleh Gia.
"Mungkin aja sih, mau Gia telepon pembantu nggak? Supaya di cek, biar Kakak nggak jauh-jauh balik ke rumah lagi," ucap si gadis yang kemudian membuat Desta sedikit panik.
"Nggak usah, biar Kakak cek aja sendiri," bantahnya.
Gadis tersebut kembali mengangguk lalu membuka pintu mobil dan turun. Tak biasanya, belum sampai Gia benar-benar masuk ke dalam area kampus, Desta sudah terlebih dahulu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk kembali menuju rumah Gia, seakan lupa bahwa pagi ini adalah jadwalnya bekerja.
Di tempat lain, kini pembantu rumah tangga Gia tengah membersihkan area kamar tamu, membuka gorden sekaligus jendela agar sinar mentari bisa masuk dan udara berganti, kemudian menyapu lantai.
Namun, sebelum menyapu lantai, wanita tua itu lebih dahulu menata sprei yang terlihat cukup berantakan. Ketika membuka selimut, terdapat sebuag tas hitam yang juga sama berantakannya dengan beberapa barang keluar seperti penyuara jemala, power bank dan benda asing yang berhasil menyita perhatian.
"Apa ini?" ucapnya bermonolog.
Tangan cokelat tersebut mengambil sebuah tabung Erlenmeyer yang biasa digunakan dalam praktik kimia atau laboratorium dengan heran. Bagian ujung tabung tersebut tertutup tak seperti yang biasa, ditambah lagi ada dua selang yang tertempel di atasnya.
Masih dengan memegang tabung tersebut, kedua matanya tak sengaja menangkap beberapa bungkus plastik klip dengan isian bubuk berwarna putih. Sebagian berisi setengah, sebagian lagi tersisa sedikit, bahkan ada juga yang sudah kosong.
Baru saja sebelah tangannya yang masih menganggur hendak terulur untuk mengambil kumpulan plastik klip tersebut, seorang laki-laki terlebih dahulu mengambil tabung yang berada di tangan kanan serta memasukkan semuanya ke dalam tas.
"Loh, ini punya Mas Desta?" ucapnya terkejut.
Setelah memastikan bahwa tak ada yang tertinggal, Desta dengan nafas memburu menutup resleting tas tersebut, lalu dengan segera memakainya.
"Itu punya saya, Mbok. Ketinggalan waktu nginep kemarin lusa," jelas Desta sedikit bergetar pada setiap katanya ketika melihat tatapan selidik dari sang pembantu.
"Mas Desta kerja di labolatorium? Saya kayak pernah lihat kayak gitu di televisi, tapi kok beda ya, Mas?" tanya pembantu itu dengan polos.
"Punya teman saya yang lagi ada praktek kimia. Susah deh Mbok kalau dijelasin, saya pamit kerja dulu ya, permisi!" jawabnya asal lalu segera pergi keluar dari kamar.
Ada sedikit rasa lega saat tau bahwa tas yang berhasil membuatnya panik setengah mati dari kemarin ini ternyata berada di rumah Gia. Desta tidak bisa membayangkan jika tas tersebut jatuh atau bahkan tertinggal di cafe, mungkin ia akan menjadi buronan saat ini.
Berniat meregangkan otot-otot lehernya, sepersekian detik kemudian netra jelaga milik Desta berhenti tepat pada sebuah kamera CCTV yang berada di sudut pintu rumah.
Sungguh, lelaki tersebut baru tau bahwa rumah ini dilengkapi oleh kamara CCTV. Ucapannya kepada Arhan tempo lalu bahkan hanya kebohongan semata. Namun, apa yang dilihatnya saat ini benar-benar membuat Desta terkejut.
"Sial!" umpat pemuda itu lalu masuk ke dalam mobil.
@Destaa
[Maaf, gue nggak bisa masuk kerja dulu. Lagi ada urusan penting.]
Setelah mengirim pesan tersebut kepada salah satu staf jaga yang berada di cafe, Desta kembali keluar dari komplek perumahan dengan kecepatan tinggi. Ia hendak menemui seorang teman yang bisa menolongnya saat ini juga.
***
"Lo minta gue sadap CCTV terus hapus beberapa rekamannya?" tanya seorang lelaki yang diketahui bernama Fian tersebut kepada Desta.
Desta mengangguk mantap, pemuda itu saat ini tengah berada di sebuah toko yang menjual berbagai macam alat elektronik. Ukurannya tak terlalu besar, namun juga tidak bisa dikatakan kecil.
"Gue cuma pemilik toko, Bro. Nggak ada dasar hacker atau penyadap kayak gitu," lanjut Fian yang membuat lawan bicaranya mengeluarkan decakan.
"Tapi ini penting, sini deh gue bisikin," ucap Desta. Ia kemudian bergerak, sedikit menempelkan tubuhnya ke arah etalase kaca agar bisa menjangkau telinga sang teman.
Kalimat singkat yang dibisikkan oleh Desta sontak membuat lelaki tersebut terkejut, matanya membulat sempurna dan ekspresi paniknya jelas kentara.
"Gini aja deh. Lo cari alibi ke kakak pacar lo biar bisa dapet akses ke komputer yang terhubung sama CCTV."
Ucapan tersebut membuat Desta mengangguk setuju. Ia bukan merupakan lelaki yang cukup buruk dalam mencari alasan, dan seharusnya Gama pasti akan memberinya akses jika berhubungan dengan sang adik, sesederhana apapun itu.
Dengan cepat pemuda tersebut langsung mengambil ponselnya di dalam saku celana, mengetikkan sebuah nama penerima sekaligus pesan panjang yang langsung ia kirimkan kepada Gama.
@Destaa
[Mas Gama, maaf. Gue bisa minta akses buat lihat rekaman cctv, nggak? Soalnya ada kurir taruh paket punya Gia di depan rumah tapi tiba-tiba hilang. Takutnya ada orang lain yang bawa terus Gia rewel.]
Tak butuh waktu lama, atau mungkin juga Desta tengah beruntung karena tak biasanya Gama bisa dihubungi ketika hari kerja, sebuah balasan pesan dari kakak lelaki sang kekasih berhasil membuatnya tersenyum puas.
@Gamaliel
[Oke, sandinya : 3GMaureen. Kalau nggak ketemu, beli lagi aja.]
Desta menepuk pundak sang teman dengan cukup keras, "Udah dapet, ayo pergi sekarang!" Ajaknya yang langsung mendapat jawaban anggukan kepala dari lelaki itu.
Sekitar 30 menit kemudian, kedua laki-laki tersebut kini telah berada di dalam ruangan CCTV milik Gama. Entah hal ini merupakan keberuntungan atau tidak, semesta seolah merestui mereka, kunci berbagai ruangan yang biasa dipegang oleh pembantu justru menancap di pintu ruangan CCTV.
Sedangkan pembantu rumah tangga tersebut tak tau kemana, Desta bahkan datang ketika pintu utama masih terbuka dan gerbang yang tak digembok. Benar-benar mengundang kejahatan.
"Lo bisa, kan?" tanya Desta frustasi.
Fian menganggukkan kepala dengan mata dan tangan yang fokus melakukan pekerjaannya masing-masing. Ia tidak berniat membantu Desta, tetapi jika temannya itu terjerumus dalam masalah, otomatis dirinya juga akan ikut terseret.
Setelah memasukkan password yang sempat dikirim oleh Gama, berbagai macam rekaman CCTV yang terekam setiap hari kini memenuhi layar monitor komputer.
"Yang mana videonya?" Fian balik bertanya.
Desta merupakan lelaki yang memiliki daya ingat cukup tinggi. Ia berusaha menggunakan otaknya sebaik mungkin untuk mengingat kapan saja dirinya memperlakukan Gia cukup kasar, sekaligus melakukan sebuah transaksi gelap kala itu.
Setelah berhasil mengingat, sembari berdoa Desta mengetik beberapa tanggal yang ia rasa benar, lalu mulai melihat rekaman tersebut dengan latar waktu malam hari. Ia jarang masuk ke dalam area rumah Gia saat pagi kecuali ketika ingin sarapan bersama.
Kegiatan tersebut berlangsung sekitar 15 menit hingga membuat keduanya membuang nafas lega setelah menghapus satu rekaman terakhir.
"Ayo buru balik, beresin semuanya," ucap Desta membantu sang teman untuk mematikan komputer, lampu ruangan, sekaligus mengembalikan kursi ke tempat semula.
Desta keluar lebih dahulu diikuti Fian yang berada di belakang. Mereka berdua sukses dibuat terkejut ketika melihat sosok pembantu rumah tangga Gia yang berdiri di depan pintu, sembari membawa keranjang belanja di tangan kanannya.
"Ya Tuhan Yesus!"
"Astagfirullah!"
Teriak kedua orang itu bersamaan seraya memegang d**a masing-masing.
"Mas Desta kok kesini lagi?" tanya pembantu tersebut.
Desta menggaruk tengkuknya yang tak gatal kemudian berkata, "Tadi saya disuruh mas Gama buat cek memori CCTV, takutnya penuh. Dan lagi, Mbok jangan tinggalin rumah dalam keadaan terbuka ya, kalau ada maling nanti repot!"
"Baik mas Desta, saya minta maaf," ucap perempuan tersebut lalu menundukkan kepalanya berulang kali.
Salah satu cara membuat seseorang berhenti bertanya adalah dengan mencari kesalahannya, dan Desta menggunakan hal tersebut agar sang pembantu tidak terus menerus memberinya pertanyaan.