Hilang

2072 Kata
"Iya, Pa. Enggak, kok, Melvin nggak ada masalah apa-apa. Mau nginep aja katanya. Iya, makasih pa, selamat malam." Setelah 10 menit, akhirnya panggilan telepon yang dilakukan Rachel kepada sang papa untuk mengizinkan Melvin menginap di apartemennya pun disetujui. Ada nafas lega yang tercipta diantara keduanya ketika Rachel menganggukkan kepala kepada Melvin. Malam ini, Melvin akan menginap di apartemen milik Rachel untuk yang pertama kalinya setelah wanita tersebut pindah sejak awal kuliah. Entah apa yang akan direncanakan sang kakak hingga melibatkan dirinya, ia pun tak tau. "Jadi gue bisa bantuin lo apa? Udah di apart nih," ucap Melvin yang kesal karena perkataan Rachel berhenti begitu saja ketika berada di dalam mobil beberapa waktu lalu. Dokter Rachel kemudian berjalan duduk di sofa setelah sebelumnya memasukkan ponsel pintar miliknya ke dalam saku celana kain yang ia pakai. "Bukan masalah besar, kok. Kalau diizinkan sama Gama, nanti kamu bantuin kakak ambil alih rekaman CCTV di rumah Gia. Mau, nggak?" tawarnya hingga membuat sang lelaki menaikkan sebelah alisnya heran. Bukan heran dengan perkataan Rachel, tetapi heran tentang apa sebenernya peran Gia dan Gama dalam kehidupan sang kakak, hingga membuat wanita tersebut benar-benar ingin mencari bukti kelakukan buruk Desta kepada Gia sampai mengambil alih rekaman CCTV? Agaknya Melvin juga lupa bahwa ia berhasil membuat heran banyak mahasiswa dengan sikapnya yang ingin menjaga Gia lewat sebuah pin elang kala itu. Melvin menganggukkan kepala tanpa ingin tau apa alasannya, toh ini juga demi Gia. "Terus, misal si Gama nggak mau, gimana?" Rachel melengos, "Gama itu usinya udah sama kayak kakak, dia kakak Gia, Vin. Panggil yang lebih sopan dikit!" koreksi sang kakak. Bisa-bisanya di tengah perbincangan serius seperti ini, sang kakak justru mengoreksi gaya bahasanya, batin Melvin yang lelah memiliki sosok kakak perfeksionis. "Kemungkinan besar bakal dibolehin sih kalau masalah Gia, nanti kakak bilang buat bahan penelitian sifat Gia selama dia nggak ada. Kalau misal nggak boleh ya ...." kalimat terakhir yang diucapkan oleh Rachel terdengar lirih lalu menggantung, membuat pemuda itu merasa sedikit penasaran. "Kita ambil diam-diam. Jangan lupa, kakakmu ini jago banget cari alibi!" Lanjut yang lebih tua sembari menyenderkan punggung tuanya ke sofa karena lelah. Siapa bilang bahwa umur hanyalah angka? Buktinya, semakin bertambah umur Rachel, semakin mudah lelah pula tubuhnya saat ini. Pukul 11 malam, setelah selesai berganti pakaian dan mencuci wajah sekaligus menggosok gigi, Rachel duduk di atas kasur miliknya, menatap layar laptop yang tengah menampilkan panggilan video masuk dadi seseorang. Seseorang yang ia tunggu sejak tadi tapi beralasan sedang sibuk lalu kembali lagi beralasan sedang menelepon sang adik, dan seseorang yang —mungkin— sedikit berhasil mengambil perhatiannya, ia adalah Gama. Setelah mengambil nafas lalu mengeluarkannya perlahan, Rachel kemudian menekan tombol hijau berlogo telepon untuk menjawab panggilan tersebut. Dan tak butuh waktu lama, wajah seorang Gamaliel kini memenuhi layar laptop miliknya lengkap dengan piyama tidur berbahan satin dengan warna merah bata. "Hei!" tanya sang lelaki sembari menampilkan senyuman yang hampir saja membuat Rachel lupa akan tujuannya yang sebenarnya. "Hai, gimana kabar kamu di sana, Gam?" tanya wanita tersebut berbasa-basi sebelum mulai melancarkan aksi. Gama tertawa mendengar ucapan teman semasa kuliahnya ini, "Kita kemarin abis telponan loh, kabar gue masih baik. Jangan tanya kabar tiap hari," jawabnya disertai candaan di kalimat terakhir. "Salah, tuh. Tanya kabar setiap hari justru benar. Karena kita kan nggak tau apa yang akan terjadi besok. Bisa aja hari ini kabar kita baik-baik aja, eh besoknya justru kenapa-napa, makanya aku mau memastikan gitu," protes Rachel panjang lebar. Lagi-lagi Gama tertawa, namun kali ini lebih keras dari awal tadi, "Iya, deh. Gue mah selalu kalah sama bu dokter Rachela Amanda, M.Psi," balas Gama yang lagi-lagi sukses membuat Rachel terdiam akibat tawanya, apalagi ketika tau bahwa lelaki tersebut mengingat nama panjang dan gelarnya juga. "Eh, lo mau ngomong apa emangnya? Penting banget kah? Tentang Gia?" rentetan pertanyaan tersebut membuat wanita itu sukses kembali ke permukaan, setelah sebelumnya sempat tenggelam di dalam tawa manis Gama. "Ah iya. Aku mau ambil rekaman CCTV di rumah kamu dari mulai kamu pergi sampai seterusnya, boleh nggak, Gam?" tanyanya. Gama mengernyit, "Buat apa?" pertanyaan kembali dilempar. "Buat lihat perubahan Gia aja sih selama kamu pergi sampai sekarang, apalagi dia kan udah pindah ke apartemen. Jadi, kalau aku tau kelakuannya pas di rumah, itu bisa buat pertimbangan bahan terapi aku ke dia," tuturnya. Gama tentu saja tidak sepenuhnya paham akan penjelasan dari wanita tersebut, selagi itu baik untuk Gia, maka ia akan menyetujuinya. Toh, yang meminta rekaman CCTV di rumah adalah Rachel, teman sekaligus psikolog sang adik. "Oke, gue sih setuju-setuju aja. Mau minta bantuan siapa? Atau gue suruh orang kantor biar bisa bantu lo?" tawar Gama. Rachel melambaikan tangan serta menggelengkan kepala sebagai isyarat tolakan lalu berkata, "Adik gue bisa, kok. Nanti kamu kirim aja password-nya." Setelahnya, percakapan kedua orang dewasa tersebut hanya seputar membahas masalah pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Tak terlalu penting, namun juga tak bisa dilewatkan begitu saja oleh Rachel yang memang jarang berhubungan dengan Gama. *** Pukul setengah 9 pagi, Rachel dan sang adik, Melvin, kini telah berada di dalam mobil yang berhenti tepat di depan gerbang kediaman Gama. Keduanya sudah berada di sana sekitar 15 menit lalu, namun tak kunjung masuk ke dalam karena pembantu yang bertugas untuk membersihkan rumah belum juga datang. "Gue jam 10 ada kelas, pembantu apaan jam segini belum datang?" omel Melvin tak sabar. Apalagi ketika tau bahwa ada kelas dadakan yang dilaksanakan pada hari libur kali ini untuk mengganti kosongnya mata kuliah minggu lalu. Hal itu semakin membuatnya kesal. Sedangkan Rachel sendiri tidak memiliki jadwal temu dengan siapapun hari ini, wanita tersebut akan mengecek seluruh rekaman CCTV dan pergi menjemput Arsa ke sekolah dengan mengandalkan transportasi online. Tak lama kemudian, pembantu rumah tangga yang kini juga telah pindah ke sebuah kontrakan bersama dengan keluarganya dari kampung terlihat berjalan dari arah berlawanan. Rachel dan Melvin yang melihat perempuan paruh baya tersebut langsung turun dari mobil dan menyambutnya di depan gerbang. "Loh, Mbak Rachel, Mas Melvin?" Pembantu tersebut memang mengenal Rachel dan Melvin, ia adalah salah satu dari beberapa pembantu yang pernah bekerja di rumah papa kakak beradik tersebut. Rachel memberikan seulas senyum kemudian berjabat tangan dengan pembantu itu. Sedangkan Melvin hanya mengangguk singkat dengan tetap membiarkan kedua tangannya berada di dalam jaket, bahkan mantan pembantunya pun sudah biasa dengan sikap apatis pemuda tersebut. "Bi, saya mau masuk ke ruang CCTV boleh? Udah izin sama pak Gama, kok," izin Rachel yang kemudian mendapat jawaban anggukan kepala dari pembantu tersebut. Rumah Gama dan Gia memang sangat luas jika harus dihuni oleh dua orang saja. Melvin bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana kesepiannya Gia ketika sang kakak pergi ke Singapura. Pantas saja gadis itu memilih untuk pindah ke apartemen yang berukuran lebih kecil dari rumah ini, batinnya. Itu belum seberapa, merasa sendirian di rumah sebesar ini memang hal yang cukup menyedihkan. Tetapi lebih menyedihkan ketika Gama pulang sendirian dari rumah sakit, dengan banyak sambutan berupa bunga duka dari kolega papa dan mamanya ketika kecelakaan pesawat belasan tahun lalu. Bayangkan saja, sang adik tidak sadarkan diri dan kedua orangtuanya meninggal dunia. Itu benar-benar masa yang sangat sulit bagi Gama, dan mungkin juga akan ia alami di masa mendatang, entah kapan. Netra Melvin kemudian menangkap sebuah foto keluarga yang berada di ruang tengah, sepasang suami istri dengan wajah yang tampan dan cantik tengah berdiri bersama kedua anaknya, Gia kecil serta Gama remaja. Setelah itu, mata pemuda tersebut beralih pada bufet kecil yang berada tepat di bawah pigura besar. Ada foto berbingkai kecil yang berisi gambar Gia tengah tersenyum menatap kamera, sembari membawa es krim di tangan kanannya. Cantik. Namun ada yang berbeda, senyum Gia tak menggemaskan seperti biasanya. Senyum yang lebih terlihat dewasa tapi membuat Melvin lebih menyukainya. "Gia cantik, ya? Sampai kamu lihatin kayak gitu," ucapan sang kakak seketika menyadarkan Melvin dari kegiatan mengamati foto Gia yang tidak seperti Gia tersebut. Lelaki tersebut kemudian mengangguk. Tak berusaha mengelak, karena faktanya Gia memang cantik. "Kayak bukan Gia, lihat deh senyumnya," ujarnya hingga membuat Rachel ikut mengalihkan atensinya menatap foto tersebut. "Iya, tatapan matanya juga beda. Mungkin efek kamera kali ya, masa iya Gia punya kembaran," opini wanita tersebut disertai tawa pada kalimat terakhir, lalu kembali berjalan mengikuti pembantu menuju ruang CCTV mendahului sang adik yang masih terpaku pada foto itu. Melvin kemudian mengambil ponsel pintar yang berada di dalam saku celananya, memotret foto tersebut lalu mengirimkannya kepada seseorang. @Melvin [Cantik.] Semua orang punya rahasia, bukan? Begitupun juga dengan Melvin, Rachel, dan Gama yang sampai sekarang berhasil menyembunyikan rahasia masing-masing. Padahal rahasia yang mereka pendam hanya berputar dalam satu kubangan yang sama. Setelah mengirim pesan tersebut, Melvin lalu buru-buru mengejar sang kakak yang kini telah menghilang di balik dinding pemisah antara ruang tamu dengan area berisi ruangan-ruangan kamar yang entah digunakan untuk apa saja. Lorong penghubung ini juga menghubungkan dengan taman belakang yang ditanami berbagai macam bunga, hingga dapat terlihat dari jarak jauh karena lagi-lagi dilapisi oleh pintu kaca dan akan ditutup dengan gorden ketika malam hari. "Ini ruangan CCTV nya, mbak Rachel," ucap sang pembantu yang berhenti di depan pintu berukuran lebih kecil dari lainnya dan berada di paling ujung. Keduanya mengangguk, seusai pintu terbuka, pembantu itu membiarkan mereka masuk ke dalam dan ia mulai membersihkan rumah bagian lain. Ruangan berukuran lebih kecil dari ruangan yang berada di sisinya tersebut ternyata cukup lengang, hanya ada satu komputer lengkap beserta meja dan kursi. Lalu, terdapat juga beberapa alat elektronik yang tak terpakai seperti DVD, televisi analog, dan speaker yang berjumlah sekitar lebih dari 5 buah. Melvin pikir salah satu diantara kakak adik tersebut ahli dalam merusakkan barang-barang. "Nih password nya, Vin, coba buka," ucap Rachel ketika baru saja mendapat pesan berupa password yang digunakan untuk mengunci komputer tersebut. Melvin kemudian duduk di kursi, mulai menyalatkan komputer dan mengetikkan password yang sama. Tak butuh waktu lama, benda besar tersebut telah terbuka, menampilkan tampilan berwarna biru dengan berbagai aplikasi di dalamnya, termasuk sebuah aplikasi penyimpan rekaman CCTV yang saat ini tengah Melvin buka. "Dari tanggal berapa?" tanya yang lebih muda. Tidak mungkin kan, mereka berdua mengecek seluruh rekaman CCTV dari tanggal ketika Gama baru saja pergi ke Singapura? Dokter Rachel tidak tau pasti kapan saja Desta tertangkap kamera tengah melakukan hal buruk kepada Gia. Tetapi wanita tersebut telah mengantisipasi hal itu dengan membawa sebuah flashdisk dengan ukuran masing-masing penyimpanan yang cukup besar. "Mulai dari setelah Gama pergi, tanggal 14 bulan lalu. Copy aja ke sini, bisa kan?" ucapnya kepada sang adik yang terheran-heran. Ini bahkan sudah satu bulan. "Jangan aneh-aneh deh, kak. Rekaman satu CCTV dalam satu minggu aja bisa makan 128 giga memori. Kalau satu bulan jadi 512, dan disini ada dua CCTV, bakal lama mindahinnya. Gue nggak mau telat kuliah," protes Melvin panjang lebar karena tak terima. Rachel menghela nafas, "Terus gimana? Kakak juga nggak tau kapan kejadiannya. Kamu bisa cari solusi?" Lelaki itu melengos pelan, mau tak mau Melvin harus menuruti permintaan sang kakak karena ia juga tidak punya alternatif lain. Jemarinya kemudian mulai bergerak untuk menyetel tanggal yang dimaksud oleh Rachel begitu juga tanggal kemarin sebagai batas. Tak lama kemudian, matanya mengernyit ketika melihat penyimpanan yang tertera pada bagian bawah layar monitor tak menampilkan jumlah yang semestinya, lebih sedikit dan bahkan tak sampai setengah dari penyimpanan normal satu bulan. "Kak, ada rekaman yang hilang," lirih pemuda itu hingga membuat Rachel yang awalnya memandang ke sekitar ruangan, kini beralih mengikuti arah jari Melvin menunjuk. Tampilan layar yang berisi berbagai video mulai dari kepergian Gama hingga kemarin malam tidak sama dengan jumlah hari dalam satu bulan, yang artinya ada beberapa rekaman hilang. "Lihat deh, satu minggu setelah bang Gama pergi, rekaman masih utuh 7 hari. Tapi tiga minggu kemudian ada beberapa yang hilang dan gak sampai 7 rekaman. Sekitar 3 yang hilang," tutur Melvin dengan mata yang masih fokus menatap komputer. Hal ini menjadi lebih mudah untuk disimpulkan bagi Rachel dan Melvin. Kemungkinan ada oknum yang menghapus rekaman ketika CCTV tersebut sedang merekam sesuatu entah apa. Namun siapa yang menghapus, mereka juga tidak ingin menuduh terlebih dahulu karena Gama sempat berkata bahwa tak ada yang tau password di dalam komputer tersebut. Melvin sejenak berpikir, ia telah dua kali bertemu dengan Desta dan dua kali pula terlibat perkelahian atau sekedar adu mulut. Ia ingat hari itu, hari dimana Gia ditarik paksa oleh Desta untuk segera pulang tepat dimana rekaman tersebut hilang. "Nggak, kayaknya ada dua," gerutu Melvin, ia memang suka berbicara sendiri ketika pikirannya tengah bekerja ekstra hingga membuat Rachel kebingungan. "Ada apa sih, Vin?" tanya sang kakak. "Dua dari tiga rekaman hilang tanggalnya pas sama acara kampus, pas gue lihat Desta genggam erat tangan Gia sampai kesakitan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN