Pada akhirnya, keenam orang yang tadi sempat makan malam bersama kini terbagi menjadi tiga kelompok. Gia dan Yena berada di dalam kamar yang entah kenapa belum keluar hingga 15 menit lalu.
Melvin dan Arhan bermain uno di ruang tamu bersama Rachel yang diam sembari menatap sekitar. Sedangkan Desta berada di balkon apartemen untuk menikmati udara malam, sekaligus menjauh dari para teman-teman dekat Gia.
"Dok, mau ikutan main, nggak?" Ajak Arhan seraya mengangkat tinggi-tinggi kartu tersebut.
Rachel menggelengkan kepalanya pelan, ia tidak mengerti bagaimana cara main permainan seperti itu.
Setelah dirasa semua orang mulai benar-benar sibuk dengan kegiatan masing-masing, wanita tersebut kemudian berdiri, berjalan menuju balkon tempat di mana kekasih Gia berada.
"Bang, kakak lo deket sama Kak Desta?" Arhan kembali bertanya ketika melihat kakak Melvin menggeser pintu kaca, menemui Desta.
Melvin menggeleng, "Nggak tau. Lo juga jangan banyak penasaran, nggak baik!" ucapnya persis seperti apa yang dikatakan Yena tempo lalu. Berbeda kata, namun memiliki makna yang sama.
Ketika telah sampai di balkon, terlihat Desta tengah duduk di kursi rotan sembari menikmati satu cangkir kopi yang sempat ia buat sebelum keluar.
Matanya masih fokus menatap benda pipih yang ia pegang hingga tak menyadari bahwa Rachel telah berada di sampingnya. Tenang saja, Rachel tidak memiliki kebiasaan buruk untuk melihat isi ponsel orang lain, tak seperti adiknya.
"Halo, Desta. Kita bisa bicara sebentar, nggak?"
Ucapan tersebut sontak mengagetkan Desta hingga membuat ponselnya hampir terjatuh. Setelah berusaha menormalkan detak jantung dan ekspresinya, Desta kemudian mengangguk, menegakkan badan seolah akan diintrogasi.
"Tenang aja, saya nggak mau bicara apa-apa kok. Jangan tegang gitu, duduk aja di kursi," imbuh Rachel.
Bagaimana Desta tidak tegang sedangkan ia sudah bisa menebak pertanyaan apa yang akan dilontarkan oleh dokter tersebut. Rachel sendiri juga semakin tidak sabar ingin menanyakan berbagai hal kepada lelaki itu apalagi saat melihatnya gugup seperti tadi.
Setelah membiarkan suasana hening sejenak untuk menenangkan pikiran masing-masing, akhirnya dokter Rachel mulai melontarkan pertanyaan.
"Kartu ATM Gia yang dari Gama dimana? Dia pegang atau ...?"
Nah kan, benar, batin Desta. Ia yakin setelah Gia berkata demikian pasti perempuan satu ini akan bertanya. Ini bukan salah Gia, tetapi salahnya karena tidak memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi saat membiarkan kekasihnya mengundang sang psikolog datang ke apartemen.
Gama memang memberi masing-masing dua kartu ATM untuk Desta dan Gia. Uang yang selalu masuk setiap bulan di rekening Gia hanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari gadis tersebut, kecuali biaya untuk kuliah yang sudah ditangani oleh orang kepercayaan Gama di kantor.
Sedangkan Desta juga mendapat uang tiap bulan yang lebih dari gajinya bekerja di 'Mula Cafe', namun lebih sedikit dari punya Gia.
"Saya pegang, Dok," jawabnya.
Sebenarnya baru akhir-akhir ini Desta memegang kartu ATM milik Gia, karena selain untuk mengajari sang kekasih berhemat. Desta juga terkadang mengambil beberapa uang milik Gia entah untuk membeli makanan atau mentraktir teman-temannya di kelab malam.
Dokter Rachel hanya mengangguk-angguk paham dengan mata yang masih menatap Desta, mencari secuil kebohongan apapun di sana, "Kalau uang yang Gama transfer khusus untuk beli boneka, memang belum ditransfer atau bagaimana?" dokter Rachel lanjut bertanya.
Desta yang sudah mulai tenang kini mengangkat satu kakinya di atas kaki yang lain kemudian berkata, "Udah di transfer, sih. Cuma belum saya kasih ke Gia, niatnya bulan depan aja, biar dia tau apa itu susahnya cari uang. Biar hemat juga, Dok."
Dokter Rachel mengernyitkan dahi, Gia tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya oleh sang kakak. Sebenarnya, wajar-wajar saja jika ingin membuat gadis tersebut sedikit berhemat, karena memang sejak kecil semua kemauannya selalu dituruti hingga membuat Gia menjadi seperti ini.
Namun di satu sisi, jika terlalu menekan kemauan Gia hingga tak membelikannya barang yang diinginkan bahkan sejak satu bulan lalu, bukankah itu sudah cukup? Kenapa harus menunggu bulan depan lagi? Batin Rachel. Gia pasti masih belum terbiasa dengan hal tersebut, Rachel takut jika nanti ia akan memberontak.
"Kamu jangan terlalu menekan kemauan dia, ya. Pelan-pelan aja, jangan langsung dadakan nggak turuti semua yang dia pengen. Semua butuh proses," tutur Rachel dengan lembut yang kemudian dijawab dengan suara tertawa kecil oleh Desta.
"Kalau nggak gitu, Gia bakal rewel minta hal yang nggak penting. Saya pacarnya Dok, saya tau gimana cara didik Gia supaya bisa jadi dirinya sendiri dan sadar bahwa semua permintaannya nggak harus dikabulkan. Dia bukan Cinderella," ucapnya tak kalah panjang.
Dokter Rachel lagi-lagi mengernyit tak suka, "Desta, gimana caranya kamu didik Gia kalau basic pendidikan kamu sendiri saja bukan psikolog? Memang mungkin masalah mental terkesan sepele, tetapi nggak sembarangan orang bisa langsung menangani," ujar dokter Rachel yang mungkin tak begitu didengarkan oleh Desta.
Kenapa? Apa yang membuat masalah mental sulit ditangani oleh orang biasa? Ia juga orang biasa, namun buktinya bisa membuat Gia menjadi patuh dengan segala ucapan yang dirinya lontarkan.
"Kamu pernah bertengkar sama dia ya?"
Seketika Desta langsung memutar kepalanya menghadap ke wanita yang berusia lebih tua. Tau darimana? Apa Gia menceritakan semua kejadian kala itu kepada dokter Rachel ketika berada di rumah sakit?
"Kalau dokter tau dari Gia, itu bohong. Saya nggak pernah bertengkar sama dia, cuma terkadang ngomong lebih tegas aja biar dia nggak rewel," jawabnya.
Kini berganti dokter Rachel yang tertawa kecil seolah meremehkan, "Saya tau dari ekspresi terkejut kamu barusan, jangan bohongin psikolog, Desta. Bisa juga loh, kamu bilang nggak apa-apa, tapi nanti saya kasih surat rujukan ke rumah sakit jiwa."
Desta terdiam, rahangnya mengeras diikuti dengan kepalan tangan yang semakin erat berusaha agar tidak memukul wanita di sampingnya saat ini.
"Kamu jangan membodohi Gia. Jangan memintanya untuk tidak membicarakan keburukan kamu dengan menggunakan nada caregiver. Gia itu gadis polos, tatapan matanya sudah bisa menjelaskan semua," lanjut Rachel namun kali ini lebih lembut agar Desta tak merasa kesal dengan ucapannya.
Lelaki tersebut masih tetap terdiam hingga membuat Rachel merasa bahwa dirinya memang dipersilahkan untuk terus melanjutkan perkataannya.
"Bahkan Gama saja tidak pernah menghalangi Gia untuk menceritakan keburukannya di depan saja agar bisa berubah. Tapi, siapa kamu? Kenapa berani sekali meminta Gia untuk menutupi semuanya? Atau jangan-jangan yang kamu lakukan itu sangat buruk hingga takut saya ketahui?"
Brak!
Merasa terus menerus diintimidasi, Desta akhirnya menggebrak meja dengan cukup keras, tak peduli jika semua orang yang berada di dalam mendengar suara itu.
"Itu urusan saya, Gia pacar saya. Mas Gama titipin Gia ke saya itu karena dia percaya saya bisa. Seharusnya saya yang harus bertanya, punya hubungan apa Dokter dengan Gia hingga begitu perhatian? Atau karena mengincar Mas Gama?"
Berbeda dengan Desta yang emosinya mudah tersulut, dokter Rachel hanya tersenyum. Walaupun dalam hati sudah memberi sumpah serapah pada lelaki muda yang sama sekali tidak memiliki rasa kesopanan.
"Saya psikolog Gia sejak kecil, dan bisa dipastikan Gama lebih percaya dengan omongan saya daripada kamu. Tunggu suatu saat ketika saya sudah memiliki bukti perlakuan buruk kamu ke Gia, permisi."
Usai berkata seperti itu, Rachel kembali berjalan masuk ke dalam rumah diikuti dengan Desta yang berusaha mencegahnya.
Namun, belum sampai lelaki tersebut berhasil mencekal lengan Rachel, mereka berdua disambut oleh keempat orang di ruang tamu yang kini tengah menatap keduanya.
"Dokter Rachel sama Kak Desta bertengkar? Tadi Gia denger suara keras banget dari arah balkon," tanya Gia.
Sang wanita menggelengkan kepalanya lalu tersenyum menatap mereka semua, "Enggak, kok. Tadi ponsel Desta hampir jatuh, jadi dia reflek gebrak meja. Kita baik-baik aja, iya kan, Desta?" ucapnya sembari menatap Desta yang jelas-jelas tengah menahan emosi tersebut.
Desta kemudian mengangguk, membuat seulas senyuman lega tercetak di wajah Gia.
Tak terasa, jam telah menunjukkan pukul setengah 9 malam. Karena masih ada pekerjaan dan janji temu dengan Arsa, dokter Rachel pun pamit terlebih dahulu kepada sang pemilik apartemen.
"Dokter sama Melvin pulang dulu ya, Gia. Kamu jaga diri baik-baik disini. Dan ingat, kalau ada masalah, langsung hubungi dokter, Melvin, sama temen-temen kamu," ujarnya lalu mengelus pelan bahu Gia.
"Kalau gitu kita ikut pamit ya, besok kan masih ada kuliah pagi," imbuh Arhan yang memang tidak ingin jika terus menjadi korban tatapan tajam dari Desta.
Gia pun mengangguk, memeluk hangat semua orang kecuali Melvin dan Arhan, tentunya. Lalu mengantar mereka semua hingga keluar dari ruangan diikuti oleh Desta yang entah kenapa tiba-tiba ikut kembali ke apartemen miliknya di lantai satu, padahal kekasihnya itu berjanji akan membantu Gia mencuci piring.
***
Ketika berada di dalam mobil yang sudah mulai melaju keluar dari area parkir apartemen, Rachel langsung menengguk air mineral hingga tersisa setengah dalam sekali tegukan hingga membuat Melvin yang kali ini menyetir menjadi terheran-heran.
"Udah, jangan banyak-banyak. Gue nggak mau kalau nanti lo minta berhenti karena kebelet." Cegahnya sembari mengambil alih botol tersebut.
"Ada apa, sih? Beneran berantem ya sama pacarnya Gia itu?" tebakan Melvin memang benar. Ia tentu saja tau apa kebiasaan sang jika tengah kesal atau menahan emosi, yaitu meminum air sebanyak mungkin berharap agar kekesalannya segera larut dan otaknya kembali dingin.
Rachel mengangguk lalu mulai bercerita secara detail mengenai percakapannya dengan Desta tadi tanpa melewatkan atau menambahkan sedikit pun bumbu.
"Kalau menurut kamu, Desta itu gimana sih, Vin?" tanyanya setelah bercerita panjang lebar yang hampir memakan waktu 15 menit.
Melvin sedikit berpikir, apa yang diceritakan oleh sang kakak bahwa wanita tersebut menuduh Desta telah melakukan perbuatan buruk kepada Gia, memang ada benarnya. Melvin juga melihat sendiri bagaimana tangan Gia dicengkeram oleh Desta pada saat malam bulan dan bintang kampus beberapa hari lalu.
"Kepribadiannya buruk, arogan, sombong, sumbu pendek, tapi bisa manis juga di suatu waktu," jelas pemuda itu setelah otaknya dengan terpaksa kembali berputar pada sosok Desta.
Rachel menolehkan kepalanya ke arah Melvin dengan tatapan aneh, "Apa sih? Manis di mata cewek maksud gue. Jangan mikir yang enggak-enggak dong, Kak!" selanya yang justru membuat dokter tersebut tertawa.
"Kak," Melvin kembali membuka suara, sedangkan Rachel hanya menjawab dengan dehaman ringan karena masih sibuk membalas sebuah pesan dari salah satu pasiennya.
"Lo masih ingat nggak, waktu gue cerita kejadian pas berantem di kelab sama di kampus itu?"
Kali ini Rachel kembali menengok kan kepalanya ke arah Melvin lalu berucap, "Oh, yang si cowok anggap ceweknya uang berjalan itu, ya?"
Melvin mengangguk.
"Itu Desta."
Menurut pemuda itu, ia harus menceritakan masalah ini dengan Rachel karena mereka berdua memiliki rasa curiga kepada orang yang sama, orang yang terlihat manis di depan namun busuk di belakang, Desta.
"Nggak cuman itu, tentang lo yang mikir kepribadian Desta itu buruk emang bener. Gue sempat lihat dia genggam tangan Gia erat banget, itu di depan gue sama temen-temen, coba kalau di belakang kayak gimana?" tuturnya.
Rachel terdiam, jika memang tebakannya benar, ia harus segera melaporkan hal ini pada Gama agar bisa memberi peringatan kepada Desta. Tetapi ia juga tidak memiliki bukti yang kuat, hanya bermodal bicara saja bisa langsung dipatahkan oleh Desta yang pandai dalam berkata-kata.
Ah, tunggu.
Perkataan sang adik kembali terngiang, jika di publik saja Desta bisa memegang erat tangan Gia, maka ketika di rumah saat mereka bertengkar pasti akan terjadi hal yang lebih dari itu, kan?
Apalagi jika mengingat Desta yang hampir memegang lengannya tadi. Satu-satunya bukti kini hanya ada di dalam kamera CCTV di rumah Gama.
"Melvin, kamu mau bantuin kakak?" tanya Rachel kemudian.
"Apa?"