Makan Malam

1715 Kata
Di depan Desta, berdiri dua orang lelaki dan perempuan dengan motif pakaian yang sama. Sang lelaki mengenakan sebuah vest bermotif kotak-kotak serta dalaman kemeja lengan panjang, sedangkan sang wanita memakai jaket dan dalaman kaos yang sama persis, tak lupa rok span hitam yang juga senada dengan celananya. Desta menaikkan sebelah alisnya ke atas, apakah Arhan dan sosok wanita di sebelah lelaki tersebut memiliki hubungan khusus hingga memakai pakaian yang sama? Batinnya heran. "Kita makan malamnya di depan pintu ya, Kak?" tanya Yena sarkas saat yang lebih tua tak kunjung menyuruh keduanya untuk masuk ke dalam, hingga membuat Arhan menyenggolnya pelan. "Masuk aja, Gia masih ganti baju di kamar. Alas kaki jangan lupa dilepas dan taruh di rak sana." Perintah Desta berjalan terlebih dahulu, lalu menunjuk sebuah rak sepatu yang berada di dekat pintu. Yena mencebik, tanpa disuruh pun ia juga memiliki adab untuk melepas sepatu di dalam sebuah rumah. Entah kenapa, gadis tersebut benar-benar kesal ketika melihat wajah tampan Desta, padahal ia tidak tau bagaimana sifat asli lelaki itu. "Kalian pacaran?" tanya Desta dari arah dapur. "Iya, Kak. Baru beberapa hari sih," jawab Arhan sembari tertawa canggung. Tidak, Arhan dan Yena sebenarnya tidak berpacaran. Ini hanya sebuah rencana yang dirancang oleh kedua orang tersebut dan juga Gia agar sang kekasih tak menganggap Arhan sebagai sosok musuh, atau lelaki yang akan merebut Gia kapan saja. Dan dengan sangat amat terpaksa, Yena menyetujuinya. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu yang terbuka dari arah kamar. Ketiganya dengan kompak mengarahkan pandangan mata masing-masing, menatap Gia yang kini memakai sweater rajut berwarna cokelat serta bawahan rok hitam hingga membuatnya terlihat dua kali lebih menggemaskan. Apalagi di mata kedua temannya yang tak pernah melihat gadis tersebut memakai rok. Gia berjalan mendekati Arhan dan Yena dengan senyum yang merekah, apalagi saat melihat mereka berdua mengenakan baju yang bermotif sama. "Ih keren banget bajunya, jadi pengen," ucapnya, Arhan yang mendengar pujian itu seketika tersenyum bangga sembari menepuk dadanya pelan. "Tau nggak sih, Gi. Baju ini punya Arhan semua loh. Katanya dulu mau beliin pacarnya, eh keburu putus duluan. Jadi disimpan deh sama dia," tutur Yena hingga membuat si lelaki menatapnya tak percaya. Padahal, Arhan hanya menceritakan hal ini kepada Yena yang sudah berjanji tidak akan menceritakannya lagi kepada siapa-siapa. Gia dan Yena kemudian tertawa kecil menatap wajah protes Arhan yang merasa dikhianati. Sedangkan Desta yang sejak tadi seakan tidak dipedulikan keberadaannya kini sengaja mengeluarkan suara batuk dibuat-buat hingga suasana menjadi hening. "Udah, ayo buruan duduk," suruh Arhan dengan suara berbisik lalu mendorong tubuh Yena hingga membuat gadis tersebut beralih mendorong Gia. Mereka bertiga pun berjalan menuju meja makan secara berurutan, layaknya anak sekolah yang tengah mengantre untuk diberi makan siang. Namun, belum sampai Gia duduk, suara ketukan pintu lagi-lagi terdengar, tetapi lebih tenang tak seperti yang dilakukan oleh Arhan dan Yena tadi. Gia tau, pasti dokter Rachel yang berada di luar apartemennya saat ini. "Kalian duduk aja, kenalan sama kak Desta. Gia mau buka pintu dulu," ucapnya lalu berlari ke arah pintu masuk. Arhan ternganga, ia memang belum sempat memperkenalkan dirinya secara formal kepada Desta, bahkan mungkin Desta juga belum tau. Tetapi mengingat hubungannya dengan lelaki tersebut kurang baik di setiap pertemuan, membuat Arhan enggan untuk memperkenalkan dirinya, pun sama seperti Yena. Sebelum menyambut tamunya, Gia ingin memastikan lewat sebuah lubang yang berada di atas pintu. Gadis tersebut sedikit berjinjit lalu menutup sebelah matanya dan seketika memundurkan badan ke belakang ketika netranya melihat sosok Melvin yang tengah menautkan kedua alisnya, tepat menatap ke arah lubang tersebut. Tunggu, kenapa seniornya itu ikut datang? Gia tidak mengundangnya, tetapi juga tak bermaksud untuk tidak mengundang. Ini hanya masalah, bagaimana acara makan malam nanti bisa berjalan jika kedua orang —atau mungkin ketiga, termasuk Arhan— yang pernah bertengkar hebat kini kembali bertemu? Tak mau mengulur waktu semakin lama dan berdoa semoga makan malam ini berjalan baik, Gia kemudian mulai membuka pintu tersebut, menyambut kedatangan Melvin dan dokter Rachel yang membawa sebuah bingkisan entah berisi apa. "Halo Gia," sapa Rachel yang selalu hangat seperti biasanya. "Maaf ya, dokter ajak Melvin kesini. Soalnya saya kurang suka kalau perjalanan malam nggak ada yang temenin," imbuh Rachel saat melihat Melvin dan Gia saling tatap. Gia mengangguk, "Nggak apa-apa kok, dok. Semakin banyak orang malah jadi makin ramai nanti," ucapnya. Ya, semoga saja yang Gia katakan ramai bukan ramai karena pertengkaran, namun juga mustahil apabila ramai karena candaan. Setelah mempersilahkan kedua kakak beradik itu masuk ke dalam dan menuntun mereka menuju tempat makan, adegan selanjutnya tentu saja sangat mudah di prediksi, ketiga orang yang berada di meja makan tersebut kompak menatap Melvin heran. Kenapa pemuda itu bisa berada disini? Adalah batik ketiganya. "Temen-temen, ini dokternya Gia. Namanya dokter Rachel, terus yang di sebelah dokter Rachel ini kak Melvin, adiknya," tutur Gia memperkenalkan. Arhan dan Yena terkejut saat Gia berkata bahwa ia memiliki seorang dokter sendiri, apakah gadis tersebut sedang sakit saat ini? Atau hanya dokter pribadi keluarganya? Tetapi jika itu dokter pribadi milik keluarga Mauren, kemungkinannya sangat kecil jika ikut diundang makan malam bersama, apalagi bersama sang adik. Sedangkan Desta sendiri pun kaget bukan main, melihat Melvin yang tengah berdiri tanpa menatapnya seakan dirinya tidak berada di sini. Apalagi saat mengetahui fakta bahwa lelaki tersebut adalah adik dari dokter Rachel. Kemudian tunggu, apakah semua yang pernah Desta lakukan kepada Melvin pemuda itu ceritakan pada sang kakak? Jika iya, tamatlah riwayatnya. "Wah, baju kita berempat warnanya sama. Udah kayak kencan bareng aja, nih," seru Arhan tiba-tiba. Ia baru menyadari bahwa Melvin saat ini mengenakan baju lengan panjang berwarna cokelat yang dipadukan dengan celana jeans serta aksesoris berupa kalung di lehernya. Suasana menjadi hening, Arhan yang baru sadar bahwa ucapannya salah kini menundukkan kepala karena tak berani menatap Desta. Gia dan Melvin sendiri menjadi canggung, dalam hati Melvin bahkan telah siap apabila tiba-tiba disuruh ganti baju oleh Desta, ia tidak ingin bertengkar malam ini. "Kita mulai makan malamnya, yuk. Keburu dingin nanti." Di luar dugaan, Desta justru berkata demikian. Kata-kata yang membuat keempat orang tersebut kompak menatap Desta secara bersamaan dengan Rachel yang mengernyitkan dahinya heran, kenapa ekspresi wajah kedua teman Gia seakan takut dengan Desta? Tanyanya dalam hati. Pada akhirnya, makan malam pun dimulai dengan tenang. Sangat tenang hingga suara kunyahan pun tak terdengar. Mereka semua saling diam karena merasa canggung dan takut di waktu yang sama, hanya suara denting sendok sembari sesekali bunyi kursi yang di geser meramaikan makan malam kali ini. Hingga 15 menit kemudian, dokter Rachel mengawali pembicaraan dengan mengomentari masakan yang lezat lalu berbasa-basi kepada kedua sahabat Gia dan Desta tentunya. Hanya sekedar percakapan ringan tentang kehidupan sehari-hari tanpa ingin bertanya terlalu dalam karena tidak ingin membuat suasana kembali hening. Di tengah obrolan antara Yena dan Rachel, mata Arhan menangkap Gia yang terlihat kesulitan mengambil sebuah sosis yang tepat berada di hadapan lelaki tersebut. Dengan gerakan reflek Arhan langsung menusuk sosis tersebut menggunakan garpu lalu meletakkannya di atas piring Gia. "Nih neng Gia, abang Arhan bantuin ambil," celetuknya. Arhan tidak sadar bahwa kalimat yang ia lontarkan tersebut kembali membuat keadaan kembali hening. Ia memang seperti itu, hobi menggoda seseorang tanpa tau bahwa ada kekasihnya yang saat ini menatap tajam. "Aduh!" pemuda itu sedikit meringis ketika kakinya di tendang oleh dua kaki dari dua arah sekaligus, Yena dan Melvin. Arhan kemudian menatap Melvin, sang senior tersebut memberi isyarat agar Arhan mengikut pergerakan matanya yang mengarah pada Desta hingga membuatnya tersedak ludah sendiri ketika melihat jelaga yang lebih tua menatapnya dengan tajam. "Kok kamu ambil buat Gia aja sih, yang. Aku juga mau!" rengek Yena lalu menjatuhkan kepalanya di atas pundak Arhan. Gadis tersebut berusaha mengalihkan perhatian, agar Desta mau untuk sekedar meneduhkan matanya yang tajam seakan menusuk siapapun yang berani melihatnya. "Oh iya, Gia. Dokter punya hadiah buat kamu loh!" seru dokter Rachel kemudian mengambil bingkisan yang sempat ia letakkan di bawah kursinya. Bingkisan berupa paper bag berwarna dasar merah muda dengan motif boneka bear, serta bentuk hati tersebut diterima dan langsung di buka oleh Gia dengan penuh semangat. Apalagi ketika mengetahui bahwa isinya adalah sebuah boneka kelinci bergaun pengantin yang memang ia inginkan sejak bulan lalu. "Cantik banget! Makasih, Gia sayang dokter," serunya lalu berdiri dari kursi makan dan memeluk dokter Rachel dengan erat. Melvin, Arhan, dan Yena lagi-lagi dibuat heran dengan sikap Gia yang begitu senang hanya karena di beri boneka kelinci. Dokter Rachel sendiri tau jika Gia menginginkan boneka kelinci tersebut dari Gama kemarin malam. Namun, Gia juga berkata bahwa belum sempat membelinya padahal Gama telah mentransfer uang lebih entah karena apa, sang kakak pun juga tak tau. Padahal, dulu ketika Gama masih berada di Indonesia, semua keinginan Gia pasti akan segera terkabul bahkan tidak sampai sehari gadis tersebut meminta. "Kakak tau kamu pengen boneka ini dari kak Gama. Kenapa nggak beli dari dulu? atau jangan-jangan emang sengaja nunggu dibeliin sama dokter atau kak Gama sendiri ya?" tanya Rachel dengan sedikit memberikan godaan pada kalimat terakhirnya. Gia menggelengkan kepala, "Kata kak Desta, belum dikasih uang sama kak Gama. Jadi Gia harus sabar nunggu uang buat beli bonekanya di transfer." Sungguh, bahkan harga boneka kelinci tersebut tak lebih dari setengah juta, dan Desta tidak membelikannya untuk Gia? Bukan, bukan itu yang Rachel pikiran. Tetapi tentang ucapan Gama yang berkata telah mentransfer sejumlah uang untuk membeli boneka namun Gia bilang belum menerima uang tersebut, lalu dimana uangnya? Apakah gadis itu tak memegang kartu ATM-nya sendiri? Tak ingin bertanya lebih dalam karena obrolan mereka saat ini didengar oleh orang lain, membuat Rachel mengurungkan niatnya untuk kembali memberikan Gia pertanyaan. Ia kemudian beralih menatap Desta yang saat ini terlihat fokus dengan makanan miliknya, atau mungkin terlihat berusaha menghindar dari tatapan Rachel. "Kalau gitu, Gia taruh bonekanya di kamar dulu ya," ucap Gia. "Eh, ikut dong, Gia!" seru Yena yang memang tengah berusaha lepas dari genggaman tangan erat dari Arhan. Gia mengangguk, keduanya lalu pergi menuju kamar dengan bergandengan tangan. Namun, belum sampai sepuluh langkah, interupsi Arhan menghentikan langkah kaki mereka. "Ikut dong!" serunya yang kemudian kembali mendapat tatapan tajam, bukan dari Desta saja, melainkan dari Melvin juga. Pemuda tersebut akhirnya tertawa canggung lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sembari berkata, "Nggak jadi deh. Kita main uno aja yuk, bang Melvin. Gue tadi bawa dari rumah." Melvin ikut mengangguk mengiyakan ajakan juniornya untuk bermain uno di sofa ruang tamu, ia sendiri juga tidak ingin terus berada di dalam pandangan mata Desta. Biar saja sang kakak yang berbincang dengan lelaki tersebut, batinnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN