Tiga bulan kemudian. Semuanya kini telah berubah. Setelah kejadian yang hampir saja merenggut nyawanya, Gia benar-benar berada di dalam pengawasan sangat ketat. Gama menjadi sosok kakak yang posesif, selalu mengawasi dan menemaninya di manapun gadis itu berada. Seperti saat ini contohnya, laki-laki tersebut menatap intens Gia yang baru saja menyelesaikan agenda makan paginya. Sang adik tentu saja merasa risih ketika ditatap seperti itu. Sungguh, Gia bukan seorang tawanan yang akan melarikan diri tatkala Gama mengalihkan perhatiannya. "Kakak nggak sarapan?" tanya Gia. Gamaliel menggelengkan kepala, "Udah di tukang bubur, waktu habis joging tadi. Ayo, obatnya diminum." Gia menghela nafas ketika mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Gama. Selama tiga bulan, ia berteman dengan be

