Beberapa saat kemudian, ia kembali di jalan. Lalu lintas menuju Cibubur mulai padat, tapi pikirannya lebih padat. Ia harus memastikan Jalu keluar dari masalah. Dalam waktu bersamaan, kasus tanah dengan CV Anugerah Prima juga belum kunjung selesai. Ancaman terus berdatangan, termasuk intimidasi enam orang bertubuh besar yang ia temui di toilet pengadilan.
Entah mengapa, suara lembut ibunya dan kenangan tentang Om Tasman menenangkannya.
Setibanya di depan Polsek Cibubur, Erwin melihat Jalu berdiri agak jauh di dekat pos satpam. Wajahnya kusut. Helm tergantung di tangan, dan tas selempangnya tampak sobek sedikit di bagian bawah.
Erwin menghampiri dengan langkah mantap.
“Koh,” panggil Jalu pelan.
“Udah nunggu lama, Bang?”
“Baru setengah jam. Tapi tadi ada polisi yang nanya-nanya terus. Aku takut banget, Koh.”
Erwin tersenyum tipis. “Nggak usah takut. Aku udah bawa surat kuasa. Kita masuk bareng.”
Di dalam Polsek, udara sedikit pengap. Aroma kopi murah dan berkas lama bercampur jadi satu. Erwin menemui seorang penyidik bernama Pak Laurentius, sosok pendek, agak gelap, dan berkumis dengan kaca mata tebal. Tatapan Pak Laurentius cukup waspada.
“Selamat pagi, Pak. Saya Erwin Sanputra, pengacara dari client saya ini, Jalu.”
Pak Laurentius menyambut dengan canggung. Ia mengangguk, meneliti surat kuasa yang disodorkan. “Kami nggak bilang dia tersangka. Tapi dia terlibat pengiriman paket mencurigakan. Harus kami klarifikasi.”
“Dan saya yakin, client saya tidak tahu menahu isi paket itu. Menurut undang-undang, khususnya dalam perkara penyalahgunaan narkotika, niat dan pengetahuan terhadap isi paket sangat penting untuk membuktikan unsur pidana.”
Pak Laurentius mengangguk, lebih profesional dari yang Erwin bayangkan. “Kami belum menetapkan tersangka, Pak Erwin. Tapi karena Anda hadir, kami bisa mulai pemeriksaan dengan pendampingan.”
Erwin menepuk bahu Jalu. “Tenang, kita jalani semua sesuai prosedur, Bang Jalu. Kamu coba buat jawab sejujur-jujurnya aja.”
Pemeriksaan berlangsung selama hampir dua jam. Erwin duduk mendampingi, sesekali menulis catatan. Ia tahu benar apa yang harus dicari dalam kasus semacam ini. Paket yang dikirim tanpa sepengetahuan kurir, pengirim yang tak bisa dilacak, dan klaim herbal yang ternyata heroin. Semuanya terlihat mencurigakan. Terlalu rapi untuk sekadar kebetulan. Apalagi, Jalu bukan satu-satunya kurir yang pernah dijebak seperti ini.
Ketika pemeriksaan selesai, Pak Laurentius menepuk-nepuk berkas.
“Untuk sementara, kami tidak menahan Jalu. Tapi jika nanti diperlukan, akan kami panggil lagi. Kami akan coba selidiki pengirim paket itu lebih lanjut.”
“Terima kasih atas kerjasamanya, Pak,” ujar Erwin sambil berdiri dan menjabat tangan Pak Laurentius.
Begitu mereka keluar dari ruang penyidikan, Jalu langsung menarik napas panjang.
“Koh, aku nggak tahu harus gimana ngucapin terima kasih...”
Erwin tersenyum, “Tapi kita belum selesai. Tapi yang penting sekarang kamu aman terlebih dahulu. Jangan dulu ambil orderan dari pengirim yang kamu nggak kenal, atau yang kelihatannya mencurigakan, apalagi kalau barangnya aneh-aneh. Sekarang pulang dulu. Abang istirahat dulu aja, gih. Nanti kita koordinasi lagi.”
“Siap, Koh.”
Di parkiran, Erwin duduk sejenak di dalam mobil. Ia belum menyalakan mesin. Masih ada roti sisir di kantong kertas. Ia membuka dan menggigit satu. Hangat, manis, dan... nostalgia yang tiba-tiba menamparnya.
Tiba-tiba, kaca jendela bagian kanan diketuk seseorang.
Erwin menoleh. Seorang lelaki kecil, bertubuh pendek, berdiri di luar. Memakai topi hitam. Kacamata hitam. Wajahnya tidak asing. Orangnya bertubuh pendek.
Si Cebol dari mimpi itu. Orang yang disebut Dede dalam penglihatan seminggu lalu. Orang yang melempar Dede dari flyover.
“Erwin Sanputra?” tanya lelaki itu dengan suara serak.
Erwin menatapnya tajam.
“Ya, itu saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?”
Lelaki itu tersenyum. Bibirnya menyeringai seperti tokoh wayang jahat.
“Jangan ikut campur dalam urusan CV Anugerah Prima. Apalagi soal flyover. Kalau tidak... bukan cuma Avanza kamu yang saya bikin mogok. Tapi kamu juga, saya bikin patah kaki."
Sebelum Erwin sempat menjawab, lelaki itu berbalik dan masuk ke dalam mobil hitam yang menunggu di seberang jalan. Platnya ditutup kertas koran.
Mobil itu melaju perlahan, lalu menghilang.
Erwin menggenggam roti sisir erat-erat. Wajahnya dingin, tapi matanya menyala. Sekarang, permainan sudah berubah. Ini bukan hanya perkara hukum atau supranatural.
Di dalam mobil, tangan Erwin masih gemetar. Tidak karena takut, melainkan karena sesuatu yang lebih kuat. Ada amarah yang luar biasa. Ancaman itu bukan lagi main-main. Seorang pria bertubuh cebol, yang muncul dalam mimpi Dede, kini nyata-nyata menghampirinya. Dengan wajah santai dan tatapan licik. Persis seperti yang digambarkan dalam penglihatan yang Erwin terima tempo lalu.
Ia mengambil napas panjang, lalu membuka catatan kecil dari saku ranselnya. Di situ sudah tertulis nama-nama penting dari CV Anugerah Prima:
1. Koh Yudi – direktur operasional
2. Rivo Nadapdap – pengacara internal
3. Ricky Tan Lee – komisaris
4. Antonius Ponidi alias Gareng – staf lapangan (diduga orang suruhan)
5. Ferdi Welly – saudara ipar Koh Yudi, diduga pelaku pendorongan Dede
Ferdi Welly. Ya, nama itu yang selalu muncul di laporan-laporan intel kecil yang ditelusurinya lewat teman-teman lamanya. Termasuk seorang mantan wartawan yang kini bekerja sebagai private investigator.
Erwin lalu menyalakan mobil, menepi di tempat lebih tenang, dan mengirim pesan suara ke kontak bernama: Ci Julia Anwar.
"Ci, saya butuh info lengkap soal Ferdi Welly. Terutama riwayat keuangannya, properti, transaksi mencurigakan, dan rekam jejak kriminal. Saya tunggu segera."
Tidak sampai lima menit kemudian, balasan datang.
"Beres, Koh. Ferdi Welly itu punya catatan lama di Semarang, pernah terlibat premanisme. Tapi lolos terus karena hubungan dekat sama beberapa perwira kepolisian dan angkatan darat. Saya usahakan kirimkan semuanya dalam dua hari. Tapi hati-hati, Koh. Dia dikenal nggak segan pakai kekerasan."
Erwin hanya membalas:
"Terima kasih, Ci. Saya juga punya alasan pribadi untuk tuntaskan ini."
Balasan lagi dari Ci Julia.
"Kamu selalu seperti itu, yah, Koh. Pantas seret jodoh. Siapa juga cewek yang mau dekat-dekat sama cowok yang kerjaannya ngurusin masalah-masalah bahaya."
"Apaan sih, Ci? Jaka Sembung bawa celana, nggak nyambung, lah."
Erwin mengetikkan itu sambil tertawa.
"Terserah kamu, lah, Koh. Hati-hati. Ingat kata orang-orang jaman dulu. Jangan suka bangunin macan yang lagi tidur."
"Macannya dulu yang ngusik tidur kita."
Pesan terakhir Erwin itu terkirim dan centang dua. Tak lama, muncul lagi balasan dari Ci Julia, meskipun kali ini hanya stiker yang bergambar macan ngamuk dengan tulisan “Wani piro?”.
Erwin tertawa sendiri di dalam mobilnya, yang saat itu terparkir di halaman rumahnya. Malam sudah turun, dan udara cukup sejuk karena hujan baru saja reda.
Meskipun pikirannya penuh tekanan, Ci Julia selalu berhasil membuatnya sedikit rileks. Mereka sudah kenal sejak masa kuliah, dan meski sempat dekat, hubungan itu tidak pernah benar-benar jadi sesuatu. Mungkin karena Ci Julia terlalu dominan, atau karena Erwin selalu merasa bahwa kehidupannya tidak akan pernah cukup aman untuk orang lain.
Setelah membalas dengan stiker senyum-senyum konyol, Erwin menarik napas panjang, lalu membuka kembali map merah berisi dokumen yang ia bawa pulang dari kantor hari ini. Ia memindai lembar demi lembar, mencocokkan cap dan tanda tangan, mencatat tanggal-tanggal penting di memo kecil yang diselipkan ke dalam ransel.
Hanya saja pikirannya melayang. Kalimat Ci Julia tadi terus terngiang. “Jangan suka bangunin macan yang lagi tidur.”
Apakah ia terlalu jauh masuk ke urusan CV Anugerah Prima? Apakah ia benar-benar sanggup berhadapan dengan mereka yang bukan hanya punya uang dan kuasa, tapi juga kekuatan yang lebih gelap?
Tak lama kemudian, ada suara ketukan pelan dari jendela depan. Erwin terkejut, tapi segera mengenali sosoknya. Itu Papa.
“Erwin, udah malam. Masuklah. Jangan kelamaan di mobil.”
Erwin tersenyum dan mengangguk. Ia mengemas lagi dokumen-dokumen itu, lalu turun membawa ransel dan map merah ke dalam rumah.
Di ruang tamu, Bu Liana sudah menyiapkan segelas teh jahe dan kue kering. Aroma jahe menguar menenangkan.
"Kalau kamu terus begini, Win," ucap sang Ibu lembut, "bisa-bisa kamu bukan cuma dimusuhi manusia. Tapi juga bakal terus diganggu sama makhluk halus.”
Erwin hanya nyengir. "Bukannya aku sekarang malah jadi pengacara mereka juga, Ma?"
Mereka tertawa kecil.
Tapi jauh di dalam dirinya, Erwin tahu.
Tertawa itu hanya sementara. Karena esok hari, para harimau itu mungkin akan terbangun. Bagaimanapun Erwin harus siap. Ini bukan sebagai korban, melainkan sebagai orang yang berani berdiri di antara dua dunia.
Bagi Erwin, keadilan harus ditegakkan.