Pagi-pagi sekali, Erwin sudah meninggalkan rumahnya. Untungnya, Daihatsu Avanza keluaran 2013 sudah selesai diperbaiki. Belum benar seratus persen, tapi... it's okay.
Di saat Jalu menelepon lagi, ibunya, Bu Liana beringsut ke arah dirinya.
"Nanti aku telepon lagi, Bang," ucap Erwin tegang. "Yah, ada apa, Ma?"
"Ada yang mau Mama omongin," ujar Bu Liana. "duduk dulu..."
Erwin menyusul mamanya duduk di bangku yang ada di teras.
"Mau ngomongin apa, Ma?"
"Kerjaan kamu pegimana, Win?"
"B-baik, Ma..."
"Puji Tuhan, Mama senang dengarnya. Sebetulnya, Win, Mama sama Papa kamu senang-senang saja dengan keputusan kamu ambil jurusan Hukum, dan menjadi pengacara."
Erwin bahkan tak berani mengangkat wajahnya. Ia mendesah, "Aku juga minta maaf, karena belum bisa memuaskan keinginan Papa yang ingin aku jadi akuntan publik. Tapi, apa boleh buat, Mama tahu sendiri, aku lemah banget dalam hal hitung menghitung. Termasuk soal Akuntansi."
"Bagi Mama, apa pun jalan hidup yang kalian ambil, selama tidak aneh-aneh, tidak menjahati orang lain, semuanya sama mulianya. Masih ingat kata-kata Mama, kan?"
Erwin mengangguk dan terkekeh. "Masih, Ma. Basically, every profession is a noble profession. It is people's ambition that makes a profession dirty. Begitu, kan, Ma? Nggak akan aku lupakan, bahkan jika nanti aku sudah berkeluarga."
Mamanya terkekeh-kekeh. "Dari jaman kung-kung kamu masih hidup, kata-kata itu sering dicetuskan, Win."
Lalu, ada hening. Antara ibu dan anak sulung bersitatap.
"Win,"
"Yah, Ma,"
Bu Liana berdeham. "Ehem... Win, akhir-akhir ini Mama suka lewat kamar kamu. Suka denger kamu ngomong sendiri."
DEG!
Selama ini, tak semua tahu tentang kehidupan lain Erwin yang bersinggungan dengan alam lain. Tentang arwah-arwah. Tentang mimpi-mimpi. Tentang penglihatan-penglihatan, yang Erwin keberatan disebut sebagai, maaf, waham.
"Jangan tersinggung, yah, Win. Bagaimanapun, tidak ada satu orang ibu mana pun yang mau anaknya itu dianggap sakit jiwa. Cuma..."
Hening.
Di saat itu Erwin minum air dari botol minuman yang sebelumnya sudah tersimpan di dalam ransel. Sampai sekarang, di usianya yang ke-35, ia masih suka menenteng ransel.
"Mama keinget adik Mama itu,"
Erwin tercekat. "Maksud Mama, Om Tasman?"
Bu Liana mengangguk. "Apa mungkin kemampuan batiniah pamanmu yang waktu 2019 itu meninggal, nurun ke kamu? Bahkan seminggu lalu, Mama sempat didatengin Om kamu itu, si Tasman. Dia cerita, kamu lagi ada yang ngancem-ngancem."
Erwin kembali menenggak air putih dari botol aluminium tersebut.
“Mama tahu, kamu mirip sama dia. Cara kamu bicara. Cara kamu kadang termenung lama. Dan... kemampuan batiniah itu. Tasman, sebelum meninggal... dia juga suka dengar suara. Kadang suka tahu hal-hal yang belum kejadian.”
Erwin mulai bernapas cepat. d**a sesak.
“Seminggu lalu,” sambung Bu Liana, “Mama mimpi, Win. Didatangi Abner.”
“Beneran, Ma?” gumam Erwin.
“Yah, iyalah, Win. Dia duduk di kursi itu,” Bu Liana menunjuk ke bangku kosong di seberang. “Dia bilang... kamu lagi diancam. Kamu sedang di tengah dua dunia. Dan kamu... dia minta, harus kuat. Karena kamu punya utang ke adik kecil yang pernah dilempar dari flyover.”
Erwin menutup mulutnya. Wajahnya pucat.
Bu Liana meraih tangan Erwin. “Win, Mama tahu. Kamu bukan orang gila. Tapi kamu juga bukan orang biasa. Kamu dititipkan sesuatu. Kalau ini memang anugerah, jangan disia-siain. Kalau ini beban, Mama dan Papa akan tetap sayang kamu. Coba proteksi kamu sebaik-baiknya."
Erwin tak mampu berkata apa-apa. Hanya bisa memeluk tangan ibunya erat-erat.
Beberapa menit kemudian, Erwin duduk di balik kemudi. Mobil tua itu akhirnya melaju perlahan meninggalkan Puri Kembangan. Ia menyeka air mata dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya masih gemetar menggenggam setir.
Kepalanya penuh. Kasus CV Anugerah Prima belum selesai. Intimidasi di toilet pengadilan terus menghantui. Kini, Jalu terjebak kasus narkoba, dan ternyata, roh Om Tasman, yang sudah meninggal lima tahun lalu, ikut campur.
Akan tetapi, satu hal jadi jelas bahwa Erwin tidak sendirian. Ia mungkin hanya pengacara biasa, lulusan kampus swasta biasa, naik mobil biasa, tapi, sayangnya, hatinya tidak pernah biasa.
Di tengah perjalanan, ponselnya berdering. Mobil itu dipinggirkan dulu. Di dekatnya, ada sebuah bakery. Erwin ingat Om Tasman sering mengajak Erwin dan adiknya yang bernama Edwin, mampir ke bakery tersebut.
Erwin cepat-cepat mengangkat. “Halo, Bang…”
“Koh... aku lagi ada di luar Polsek. Tapi polisi kayaknya mulai curiga saya ini tahu pengacara. Barusan ada satu yang nyamperin nanya-nanya apa aku kenal sama Kokoh. Aku jawab aja, kenal dikit...”
“Bagus, Jalu. Pokoknya jangan panik. Tunggu aku, setengah jam lagi aku sampai. Aku udah bawa surat kuasa.”
“Oke, Bang. Makasih banyak sekali lagi. Semoga Gusti Allah melindungi Kokoh dan keluarganya Kokoh."
Erwin menatap layar ponselnya beberapa detik setelah telepon ditutup. Napasnya ditarik panjang. Ada rasa berat yang tak bisa dijelaskan di dadanya. d**a mobil Avanza tua itu mengeluarkan suara mendengung kecil, seolah mengerti ketegangan yang menyelimuti pemiliknya.
Ia melirik ke arah bakery tua di seberang jalan. Masih ada di tempatnya sejak dua dekade lalu. Namanya Bakery Caramel Nia Bakery. Ah, sungguh tempat penuh kenangan.
Dulu, saat Erwin masih SMP, Om Abner sering membawanya dan Edwin ke sana tiap kali pulang gereja. Biasanya mereka membeli roti sisir, kue bolu klasik, atau kue tart mini yang diberi lilin kecil meskipun bukan hari ulang tahun siapa pun.
Erwin membuka pintu mobil dan melangkah ke sana. Di balik kaca jendela, tampak masih ada etalase kayu tua berisi roti dan kue yang sama. Aroma mentega dan s**u langsung menyambutnya saat ia masuk.
Seorang perempuan tua yang tampaknya pemilik sekaligus penjaga toko tersenyum melihatnya.
“Selamat pagi. Mau cari apa?”
Erwin memaksakan senyum. “Roti sisir, Bu. Masih ada?”
“Masih. Mau yang mentega biasa atau keju?”
“Mentega biasa saja. Dua.”
Perempuan itu membungkusnya dengan kertas roti bergaris merah tua, khas toko lawas. Sambil menunggu, Erwin menatap ke langit-langit toko. Catnya mulai mengelupas. Waktu terasa beku di tempat ini. Mungkin memang begitu. Bagi Erwin, ini bukan sekadar toko roti. Ini kuil kenangan. Ini tempat di mana Om Tasman pernah berkata pelan-pelan padanya, "Jangan pernah takut dengan hal yang kamu lihat, Win. Mereka hanya ingin didengar."
Saat roti dibungkus dan pembayaran selesai, Erwin keluar dan kembali ke mobil. Ia duduk di kursi pengemudi tanpa menyalakan mesin. Matanya terpejam. Kenangan, tekanan, dan tanggung jawab menumpuk dalam benaknya.