Dari Kasus Sengketa Tanah Hingga Narkoba

1229 Kata
Lelaki berambut cepak dengan lengan penuh tato jangkar dan naga berdesis di telinga Erwin, “Erwin Sanputra?” Erwin menatap pria itu tanpa gentar. “Iya, saya sendiri. Ada urusan apa?” Lelaki itu tersenyum sinis. “Santai aja, Bro. Kita ini perwakilan dari orang-orang yang peduli sama kamu.” Satu lagi pria, kali ini lebih tua dan memakai jaket bertuliskan Veteran Angkatan Laut 1987, menyusul, matanya menatap tajam. “Saya purnawirawan Angkatan Laut. Udah makan garam asin di kapal-kapal. Jadi ngerti, lah, orang macam kamu itu butuh uang.” Erwin menyipitkan mata. “Uang?” Pria pertama menyeringai, mendekat hingga hanya berjarak dua jengkal dari wajah Erwin. “Koh Yudi bilang mobil kamu udah nggak jalan. Mogok terus, yah. Katanya, mau dikasih mobil baru, asalkan perkara ini kamu kendurkan sedikit.” Erwin tertawa pendek, getir. “Jadi kalian datang ke toilet pengadilan buat nyuap saya?” “Eh, jangan gitu,” pria yang mengaku purnawirawan menepuk bahu Erwin. “Bukan suap juga. Harga pertemanan di antara sesama orang Cina. Come on, lah, cincai... cincai... kamu masih muda, masa mau ribet sama tanah orang Batak yang ngotot itu? Toh, pada akhirnya, pengusaha pasti menang. Kalau nggak sekarang, yah, bulan depan. Sudah takdirnya begitu.” Erwin menarik napas dalam-dalam. Otaknya berputar cepat. Enam orang. Tubuh besar. Posisinya terjepit. Walaupun demikian, bukan kali ini saja ia diintimidasi. “Kalau Koh Yudi merasa benar, kenapa harus kirim orang buat intimidasi di toilet? Bukannya kirim kuasa hukum ke sidang?” “Waduh, dia galak juga... Yah, udah, lah, inget aja tawaran ini. Mobil baru. Dua ratus juta masuk ke rekening kamu.” “Dan kalau saya tolak?” Mata si purnawirawan mengeras. “Jangan pikir hidup kamu aman sampai selamanya! Kita ini nggak cuma dari Senayan, Koh. Kita punya orang sampai ke rumah kamu di Puri Kembangan. Mama kamu suka masak puyunghai tiap malam, kan?” Darah Erwin mendidih. Hanya saja ia berusaha menahan diri. Dengan suara datar, ia berkata: “Kalau kalian pikir, bisa menakut-nakuti pengacara yang juga bela arwah, kalian salah alamat.” Ia melewati mereka, menyentuh bahu salah satu pria, dan berjalan keluar. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena marah. Ia tahu, kasus ini sudah menyentuh sesuatu yang lebih dalam. Ternyata ini lebih busuk dari yang ia duga. Koh Yudi dan kroni-kroninya jelas bukan hanya pemain properti. Mereka terhubung dengan kelompok berkuasa, veteran, bahkan aparat. Kembali di ruang sidang, Erwin duduk tenang di kursi kuasa hukum. Di seberangnya, Koh Yudi tampak santai dengan setelan jas abu-abu muda, sesekali tersenyum mengejek. Di sampingnya, kuasa hukum dari CV Anugerah Prima membolak-balik berkas dengan percaya diri. Akan tetapi, Erwin punya senjata hari ini. Bukti bahwa tanda tangan Robert Sitorus telah dipalsukan. Hasil lab grafologi menyatakan bahwa tanda tangan itu adalah hasil digital yang di-overlay ke dokumen baru. Tak hanya itu, Erwin juga menyertakan bukti video dari kamera lalu lintas yang memperlihatkan Ferdi Welly berada di flyover Slipi pada malam kejadian. “Majelis hakim yang saya hormati,” ujar Erwin saat gilirannya bicara, “kami tidak hanya berbicara tentang sengketa tanah, tapi juga tentang sistem manipulatif yang mencoba membeli kebenaran dengan uang dan intimidasi.” Hakim menatap tajam. Ruangan menjadi senyap. “Dan saya ingin majelis tahu,” lanjut Erwin, “bahwa satu anak kecil meninggal karena proyek ini. Ia didorong dari flyover oleh seseorang yang terhubung langsung dengan pihak tergugat.” Terdengar bisik-bisik di ruang sidang. Mata Koh Yudi sempat melirik ke arah kuasa hukumnya. Tampaknya pria Cina itu gugup setengah mati. Erwin lalu mengeluarkan flashdisk dan menyerahkannya ke panitera. “Dalam ini ada video dari CCTV lalu lintas, serta laporan forensik tanda tangan yang membuktikan adanya pemalsuan.” ***** Persidangan diskors selama 15 menit. Erwin berjalan keluar ke lorong, dan duduk sendirian di bangku tunggu. Ponselnya bergetar. Ada sebuah pesan dari Anggita: “Koh, dua dari enam orang tadi sudah kita identifikasi. Satu mantan marinir, satu pernah jadi debt collector di Medan. Sudah aku terusin ke teman-teman di LBH.” Erwin tersenyum. Bukan hanya pengacara supranatural, kini ia juga jadi target mafia tanah dan eks aparat. Makanya ia tak gentar. Di kejauhan, seolah bayangan samar, sosok kecil Dede berdiri di bawah jendela kaca besar. Ia tersenyum. Kali ini tak sedih. Wajahnya tampak lega. “Makasih, Kak Erwin...” Erwin tak menjawab. Ia hanya menunduk dan berbisik dalam hati: “Belum selesai, Dek. Tapi aku janji, aku akan teruskan. Sampai keadilan benar-benar datang. Untuk kamu, dan semua korban yang dibungkam secara sadis.” Ketika sidang kembali dimulai, Erwin masuk lagi ke ruangan. Kali ini bukan hanya sebagai pembela hukum, tapi sebagai penantang sistem bobrok yang sudah terlalu lama dibiarkan menang. Perkara ini belum berakhir. Erwin tahu, ia tidak sendiri. Di tengah-tengah itu, di saat jam istirahat, sopir saat itu meneleponnya. Si Jalu itu. Ia menceritakan ke Erwin bahwa dirinya hampir saja mau diperkarakan. Kesialan Jalu bermula saat ia mengantarkan paket ke seorang pelanggan di kawasan Cibubur. Ia sangka paket biasa, yang mana tertulis di bungkusannya: skincare. Nyatanya, kaget juga Jalu. Ternyata tak jauh dari komplek si pelanggan, tak biasanya ada razia. Dua orang polisi mendekati Jalu. Memaksa Jalu untuk membuka bingkisan. Di dalamnya, ada heroin dalam jumlah... jika dijual, Jalu kemungkinan bisa mengganti motor bututnya. “Halo, Bang Jalu?” Di seberang, suara Jalu terdengar bergetar. “Koh Erwin... saya... saya lagi kacau banget sekarang, Koh. Tolongin saya...” Erwin berdiri dari tempat duduknya, mencari tempat yang lebih sepi di selasar pengadilan. “Coba tenang dulu, ceritain satu-satu.” Jalu menarik napas. Lalu bercerita dengan kalimat terbata-bata, seolah masih belum percaya apa yang baru saja ia alami. Semua berawal pagi itu, saat Jalu menerima orderan antar paket dari sebuah akun bernama Dewi Mutiara, dengan alamat tujuan kawasan perumahan elit di Cibubur. Di deskripsi paket, tertulis “skincare Korea – fragile”. Jalu tidak curiga apa-apa, karena memang ia sering dapat orderan semacam itu dari reseller-reseller. Namun, belum sampai ke alamat tujuan, baru dua blok dari tempat pengiriman, Jalu dihentikan dua orang polisi berseragam yang sedang melakukan razia acak. Salah satunya langsung menyuruh Jalu membuka boks motornya. “Saya pikir mereka iseng, Bang... tapi waktu mereka buka, eh... bingkisan skincare itu mereka robek.” Di dalamnya, bukan krim pencerah atau serum anti-aging. Malah Jalu menemukan heroin. Dalam jumlah yang, menurut polisi tersebut, jika ditaksir, bisa mencapai hampir 500 juta rupiah di pasar gelap. Jalu tercekat. “Bang... saya nggak tahu apa-apa, demi Allah, saya cuma ojol!” Akan tetapi, polisi itu menggelandangnya ke pos, menyuruhnya untuk menandatangani surat pengakuan. Diancam akan ditahan. Jalu menolak, lalu minta menelepon seseorang. Ia sontak teringat akan Erwin, seorang pengacara Tionghoa yang pernah diantarnya ke pengadilan. “Bang, saya bener-bener butuh pertolongan. Saya nggak bisa bayangin kalau sampai dituduh sebagai kurir narkoba. Saya punya anak, Bang. Masih dua tahun. Istri saya di rumah, dan dia cuma jaga warung kecil.” Erwin menarik napas berat. Matanya menatap keluar jendela pengadilan. Sepertinya hidup memang sengaja ingin mengujinya dari segala arah. Akan tetapi, ia tahu satu hal bahwa hukum tak boleh menjadi alat untuk menindas yang lemah. Tidak untuk anak kecil yang mati dijatuhkan dari flyover. Tidak juga untuk sopir ojek online yang dijadikan kurir tanpa sadar. Erwin menjawab dengan mantap, “Tenang, Jalu. Aku bisa bantu kamu. Kebetulan aku punya teman-teman yang sering menangani kasus-kasus kriminal seperti ini. Jujur, aku aja spesialis perdata. Ini di luar wewenangnya aku. Tapi pasti aku bantu. Aku janji."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN