Untuk kasus yang satu ini, terbilang agak lama. Sudah 1,5 minggu, masalah sengketa tanah antara Pak Robert Sitorus dan CV Anugerah Prima masih saja berlangsung. Erwin dan tim dari Sanputra Siagian Associates sering bolak-balik pengadilan.
Ternyata di hari ke sembilan, Erwin merasa ada yang janggal. Di hari itu, arwah bernama Dede tidak lagi datang ke dirinya. Malah Erwin bermimpi tentang kecelakaan tersebut. Dede ternyata berkata jujur. Dede didorong, dan pelaku sebenarnya adalah orang suruhan dari CV Anugerah Prima. Pelakunya bertubuh cebol. Kisaran tinggi badannya adalah 150-155 cm. Orang ini adalah saudara ipar dari Koh Yudi, salah satu anggota dari CV Anugerah Prima.
Erwin terbangun dengan napas memburu, keringat dingin membasahi dahinya. Jam dinding menunjukkan pukul 03.27 WIB. Mimpi itu terasa begitu nyata. Ia melihat dengan sangat jelas bagaimana seorang anak kecil berlari ketakutan di flyover Slipi, sebelum akhirnya didorong oleh seorang pria bertubuh pendek hingga tubuh mungilnya terjungkal ke jalan raya yang padat kendaraan. Darah mengucur. Klakson meraung. Dunia menjadi hitam.
"Saudara iparnya Koh Yudi..."
Erwin mengulang kalimat itu dalam pikirannya, perlahan menyambungkan satu per satu potongan informasi yang selama ini seperti berdiri sendiri. Ia tahu Koh Yudi. Sosok yang selalu hadir di persidangan, duduk tak jauh dari pihak CV Anugerah Prima, bertampang dingin dan tatapan yang menurut Erwin, agak aneh. Namun Erwin tak pernah melihat siapa saja yang terkait secara personal dengannya. Sejauh ini, belum.
Pagi itu, tanpa menunggu jam kerja dimulai, Erwin langsung menuju kantor lebih awal dari biasanya. Ia menelepon dua junior associate-nya. Ia meminta Anggita dan Anthony mengumpulkan seluruh dokumen terkait kepemilikan tanah CV Anugerah Prima, termasuk data administratif internal perusahaan yang bisa didapat dari database publik dan media sosial.
Di ruang kerjanya, Erwin duduk dengan mata menatap tajam ke layar laptop. Data demi data dikumpulkan. Akta perusahaan, nama-nama pengurus, dan...
...akhirnya ia menemukan nama Ferdi Welly, lelaki bertubuh 152 cm, pernah terlibat kasus penganiayaan ringan di kawasan Glodok tahun 2015, dan merupakan suami dari adik kandung Koh Yudi.
“Ternyata insting aku dari awal,” bisik Erwin.
Rasa lapar dan lelah tak lagi terasa. Rasa keadilan dan kemarahan yang meletup dalam dadanya menenggelamkan semuanya. Ia tahu sekarang bahwa kasus tanah yang sedang ditanganinya tak sesederhana perjanjian yang tak ditepati atau hak milik yang kabur. Ini lebih dari itu. Ada kematian yang sengaja ditutupi. Ada nyawa anak kecil yang menjadi korban keserakahan manusia.
Jam menunjukkan pukul 10.15 pagi ketika Anggita masuk ke ruangannya dengan setumpuk dokumen di tangan.
“Koh Erwin, ini dokumen terkait surat jual beli awal antara keluarga Sitorus dan CV Anugerah Prima. Ada yang aneh.”
“Aneh gimana, Nggi?”
“Suratnya ditandatangani sama Pak Robert. Tapi tanggalnya beda dua hari sama surat yang dipegang CV. Tanda tangannya juga, menurut aku yah Koh, agak janggal. Seperti di-scan dari dokumen lama dan ditempel ke surat baru.”
Erwin mengernyit. “Pemalsuan dokumen?”
“Bisa jadi, Koh. Kita perlu lab forensik untuk pastikan hal ini.”
Erwin bangkit dari kursinya. “Oke, Anggi. Kirim salinannya ke lab grafologi. Kita harus pastikan semuanya.”
Hari itu berlalu dengan intensitas tinggi. Sore menjelang, Erwin mengambil jeda sejenak di balkon belakang kantor. Angin SCBD sore menyapu jasnya, membawa sedikit ketenangan. Akan tetapi, tiba-tiba, ia mendengar suara kecil.
“Kak Erwin…”
Erwin menoleh. Di sana Dede muncul lagi. Dalam samar-samar kabut yang agak tipis. Matanya tampak lebih tenang.
“Kakak udah tau?”
Erwin mengangguk. “Kamu didorong seseorang bernama Ferdi Welly. Saudara iparnya Koh Yudi.”
Dede tersenyum sendu. "Makasih banyak, Kak.”
“Belum selesai, Dek, tapi. Aku janji akan meneruskan kasus kamu ini. Kamu pasti akan dapat keadilan.”
Dede mengangguk, lalu sekali lagi menghilang begitu saja. Ini sungguh menyisakan hawa dingin dan firasat bahwa malam ini akan menjadi malam yang panjang.
*****
Di rumah, usai makan malam, Erwin kembali membuka berkas perkara. Ia tak bisa tidur. Dalam pikirannya, semuanya bergerak cepat. Fakta, nama, motif, dan kemungkinan. Ia menulis semuanya di papan tulis yang biasa ia gunakan untuk mengurai kasus.
1. Tanah sengketa di Cipayung.
2. CV Anugerah Prima ingin bangun ruko di atas tanah tersebut.
3. Keluarga Sitorus menolak jual.
4. Tiba-tiba ada seorang anak tewas.
5. Ferdi Welly terlihat berada di flyover Slipi dua hari sebelum kejadian.
6. CV Anugerah Prima tiba-tiba dapat surat jual beli bermaterai dari Pak Robert, padahal ia bersumpah tak pernah menandatangani.
7. Tanda tangan diduga palsu.
8. Ferdi Welly adalah suami dari adik Koh Yudi.
Kepingan itu membentuk satu skema besar: intimidasi, manipulasi, dan pemalsuan demi keuntungan bisnis.
Erwin tahu, jika ini terbukti, CV Anugerah Prima bisa didakwa bukan hanya karena wanprestasi, tapi juga untuk beberapa tindak pidana lainnya. Itu seperti penipuan, pemalsuan dokumen, bahkan pembunuhan bila bukti kuat mendukung.
Ia membuka laptop dan mulai menulis kronologi investigasi, menggabungkan data lapangan, mimpi-mimpinya tentang Dede, dan semua logika hukum yang bisa dipakai. Ia tahu, jika menggunakan visi supranatural sebagai bukti, maka kasus ini akan ditertawakan hakim. Tapi jika ia bisa membalik semua informasi itu ke dalam logika dunia nyata, maka kemenangan bukan perkara mustahil.
*****
Keesokan paginya, Erwin dan timnya membawa berkas pemalsuan ke pengadilan, sekaligus mengajukan laporan pidana baru ke kepolisian. Kali ini bukan sekadar sengketa perdata, tapi unsur pidana berat.
Ketika Koh Yudi dipanggil ke sidang mendatang, Erwin sudah menyiapkan jebakan: pertanyaan-pertanyaan licin yang akan menggiringnya membuka fakta bahwa Ferdi pernah dipekerjakan sebagai mediator lapangan. Istilahnya seperti itu.
Di luar ruang sidang, Erwin melihat sesosok tubuh kecil berdiri di bawah pohon trembesi. Dede yang terlihat samar, tapi jelas.
Kali ini, Erwin tak perlu berkata apa-apa. Senyum yang diberikan Dede sudah cukup untuk menyemangatinya. Untuk kali pertama, sejak semua ini dimulai, Erwin merasa bahwa bukan hanya manusia yang ia bela, tapi juga arwah yang tak sempat didengar suaranya oleh segelintir manusia-manusia di dunia fana ini.
Ia berjalan masuk ke ruang sidang dengan kepala tegak. Pengacara Supranatural Erwin siap bertarung.
Toilet pengadilan siang itu terasa lebih pengap dari biasanya. Aroma kapur barus bercampur dengan bau keringat dan deterjen yang setengah larut. Erwin baru saja membasuh wajahnya, mencoba menyegarkan diri setelah mendengarkan argumentasi panjang di ruang sidang.
Ketika ia berbalik hendak keluar, enam pria bertubuh besar sudah berdiri di dekat pintu. Mereka tak memakai atribut resmi, tapi aura militer dan preman terasa kental dari sikap tubuh mereka. Salah satu dari mereka melangkah maju.