Bab 13

2010 Kata
Mounara kaget saat Candra ingin menemuinya. Surbhi dan Nesa nyengir sembari menghampiri nya. "Umm, enggak usah deh Dra soalnya kami mau pulang juga nih..." "Hey Candra! Ayo susul aja!" Nesa langsung memotong pembicaraan Mounara. Mounara menepak wajahnya lalu menutupi mulutnya dan menyeretnya sampai tertabrak Surbhi. "Ahh, iya bener kok Dra. Tadi tu Nesa bercanda saja hehehe," pungkas Mounara nyengir lalu melotot ke Nesa. Surbhi pun kesal juga kepada Nesa dan mendorongnya. "Haduhh, gua bete banget nih di rumah Moun. Gua di suruh Mamah gw layanin tamu ga jelas di luar, gimana coba malesnya," sahut Candra cemberut. "Iya lagian elo punya Mamah yang baik hati lembut dan tidak sombong nggak pernah nurutin perintah beliau. Ya turutin aja, kan sekalian jaga-jaga kalau-kalau tamu itu punya niat nggak baik. Kan kita nggak tau," jawab Mounara menyalahkan Candra. Memang Mounara tahu tentang Ibu Hertanti yang sangat ramah dan baik hati, maka dari itu ia juga sebal mendengar perkataan Candra yang manja. "Iyaa..., Gimana ya. Nggak juga sih Moun. Tamu itu datang sama manajer Mamah juga," Candra mengelas malas. "Oh ya udah, lain kali aja ya. Aku juga mau sibuk habis ini, lain kali aja ya Dra maaf aku matiin dulu," jawab Mounara. Mounara pun mematikan telponnya. Candra semakin sedih, Candra pun melangkah memasuki kamarnya kesal. Riza pun melihat Candra saat berjalan. "Ohh hehe iyaa Riza, itulah anak saya yang saya maksud denganmu. Panggil saja dia Mas Candra ya." Hertanti refleks memperkenalkan Candra ke Riza, Riza pun memonyongkan mulutnya tanda kagum dan mengiakan. "Oohh benarkah?, waah gagah dan tampan sekali. Mirip sama Ibunya," puja Riza. Hertanti pun tersenyum dan berterima kasih kepada Riza, ia balik memuji Riza. Karu hanya tertawa mendengar semua percakapan atasan dan gebetannya itu. Bude Inem pun datang kembali namun ia terlihat sedang membawakan sebuah tas kain spunbond yang lumayan besar, sepatu hitam dan sebuah jam tangan lalu menyerahkannya kepada Hertanti. "Saya sudah menyiapkan semuanya, jadi Riza kamu tinggal bawa saja ya," ucap Hertanti sembari menyerahkan semua itu ke Riza. Betapa terkejutnya Riza saat melihatnya, Karu juga tercengang saat ia melihatnya Karu bahkan tidak menyangka. "Ya ampun, apa ini nggak salah Bu? Baju nya sangat bagus dan mahal, terus? Sepatu sama jam tangannya?" Riza kaget mengerutkan dahinya melihat semua barang yang di kasih Hertanti dan seakan tak bisa menerimanya. "Tidak Riza, tidak apa-apa ambil saja. Saya sudah bilang ke Candra dan dia memang tak memakainya lagi, karena Candra sudah beli yang baru lagi dan sangat banyak, jadi sayang kalau itu tidak terpakai," jawab Hertanti. Riza meneguk air liur nya saat mendengar Candra membeli lagi baju yang lebih bagus dari semua ini, Riza benar-benar kagum dengan orang kaya seperti mereka. Dia pun menatap Hertanti dengan penuh keluguan. "Wahh, kamu pakai ya nanti di pesta. Aku juga mau lihat, pasti bagus cocok buat kamu. Karena, badan kamu sama badan Candra terlihat sama besar kok," sahut Karu senang sembari mengangkat bahunya. Riza pun tersipu malu, dia benar-benar merasa sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang sebaik mereka. "Ba-baik Bu. Terima kasih banyak atas semuanya, saya hanya bisa berterimakasih saja kepada Ibu," ucap Riza terbata-bata. "Iyaa sama-sama nak, ingat. Jangan sampai tidak datang ya," jawab Hertanti sembari mengingatkan. Riza pun terkekeh. Karu tertawa mendengar hal itu. "Okee, ya sudah. Apa kamu mau istirahat Riza? Udah sore juga kok, kamu nggak usah lagi balik ke kantor soalnya kamu juga sudah menyelesaikan tugasmu tadi." "Ahh iya silahkan saja Riza kalau kamu mau pulang, istirahat saja nanti kamu besok masuk kerja lagi kan?" sambung Hertanti. Akhirnya mereka pun berpamitan kepada Hertanti dan pulang dengan hati yang begitu gembira sampai dia sudah lupa dengan Meri.                              *** "Candra memang benar-benar cinta ya sama lu Moun," kata Surbhi sembari berjalan bersama Mounara dan Nesa, mereka sudah tak lagi berada di tempat game. "Iya ya ampun emang cocok sih kalian, padahal dulu pernah lo tinggalin sama Hendri, tetepp aja setia sama lu," Nesa menyanjung. "Duhh udaah, apaan sih kalian. Gua itu udah nganggep Candra saudara gw sendiri tau nggak, gua udah lama banget kan sejak kami kuliah udah kenal," potong Mounara "Justru itu bos dia udah kenal sama diri lu dan lu juga udah kenal sama diri nya, jadi enak kan," celoteh Surbhi. "Benerkan?, sampai dulu aja kan nih Nesa pernah ngedeketin dia karena lo suruh juga, dia nolak Nesa sist demi elu lu ingat kan," sambung Surbhi.  "Iya hmm betull tuh," jawab Nesa kesal. Mounara hanya mendengus pelan, ia lalu melupakan perkataan sahabatnya itu lalu memeriksa handphone nya. Tak menyangka panggilan tak terjawab dari Ibu nya tiga kali. Ia hanya mengacuhkannya namun Ibu nya ternyata juga menchat nya. "Sayang, nanti malam Mamah mau bicara sama kamu ya, ini penting tolong kamu usahain ya?"  Isi pesan itu. Mounara pun akhirnya mau menuruti Ibu nya. "Iya iyaa tau. Tapi kalau gue nggak ada rasa gimana, mau di paksa?" tanya Mounara datar. Surbhi dan Nesa hanya saling berpandangan. "Iya, kami tau kok. Lu masih mau ngelajang buat happy-happy sama kami kaan," sahut Nesa nyengir sembari memangku leher Mounara. Surbhi pun menutup mulutnya menahan tawa. "Nahh, tu kan kalian tau aja," sahut Mounara nyengir sembari menepuk pipi mereka lalu beranjak melangkah duluan. Mereka pun hanya saling pandang heran lalu menyusul Mounara juga. . Malam telah tiba, dengan janji nya Mukti menunggu putri kesayangannya itu di meja makan rumah nya. Di situ juga ada Meri, sepertinya mereka sedang ngumpul keluarga. Tak lama Mounara keluar dan terlihat sangat rapi seperti waktu siang tadi hanya saja pakaian nya saja yang berganti lebih bagus , sepertinya ia ingin kembali keluar lagi. Raut wajahnya memang terlihat bosan dan agak kesal, saat menatap mereka Mounara membuang mukanya dari arah mereka. Ia menatap seluruh keluarga nya yang sedang berkumpul bahagia di meja makan. "Ehh heyy Mounara, ayo sini gabung sayang," sapa Paman tertuanya kakak dari ibunya dan Meri itu. Mounara hanya mengacuhkannya lalu berjalan dan Mukti menghentikannya. "Sayang, kan kamu sudah baca chat dari Mamah sore tadi. Kamu ikut Mamah dulu ya?"  Mukti dengan nafas ter engal mengejar anaknya. Mounara membalikkan badannya ke arah Mamah tercintanya. "Maaf Mah, lain kali aja aku males," "Mounara, semua keluarga kita sedang ngumpul sekarang. Mamah juga mau ngomong sama kamu soal perusahaan kita, kita akan bekerja sama sayang sama Ibu Hertanti dan akan mengadakan pesta besar-besaran malam besok lusa kamu bisa kan?" cegat Mukti memegang bahu indah anaknya itu. Meri pun merasa bahwa Mounara tak ingin bertemu dengannya. Ia mencoba mendekati kakaknya dan keponakannya yang sebenarnya ia sayangi itu. "Ohh, jadi itu yang pengen Mamah bilang? Oke Mah, aku akan dateng kok," jawab Mounara sembari tersenyum lalu berbalik. "Ah Nak, masa kamu langsung mau pergi aja. Kamu makan dirumah aja ya sayang? Ada tante Meri juga loh kamu pasti mau tau kabar kantor kan dan tanya sama dia?" ucap Mukti lirih sembari terus menahan anak kesayangan nya itu agar tak pergi dan mau makan bersama nya karena ia memang sangat merindukan momen itu. Meri mendengar jelas semua itu, ia sekarang berada di dekat Mounara dan Mukti. "Justru itu Mah aku nggak mau ngumpul sama kalian," sahut Mounara. Meri menatap tajam ke arah Mounara. "Ta, tapi Nak..." "Tante Meri itu selalu malu-maluin keluarga kita Mah, dia nggak mikir kalau keluarga nya itu adalah keluarga yang terpandang, tapi dia selalu aja cari cowok berondong dan cowok tampan lainnya! Aku nggak suka Mah aku juga kasian sama Om..." "MOUNARA!!"  Meri menghentikan Mounara, ia terlihat sangat marah dan menghampiri dengan lambat Mounara dengan tatapan tajam. Mukti pun agak panik. Mounara memalingkan wajahnya ke tante nya itu sembari membalas tatapan Meri dengan penuh kebencian dalam dirinya. Keluarganya ikut terkejut dan tegang dengan kejadian itu. Mereka juga tahu perselisihan yang ada pada Meri dan Mounara, suami Meri pun sekarang juga sedih dan merasa bersalah bingung sendiri. Dia hanya duduk sedih sembari menatap mereka. Mounara menatap tajam ke arah Meri. "Kenapa? Tante marah sama aku?" tanyanya sinis melotot. Mereka pun kini berhadapan. Mukti pun mundur dan berada di belakang Meri sekarang, ia bingung harus bagaimana dan ia sangat takut terjadi adu fisik lagi Mounara dengan Meri seperti kemarin. "Harusnya kamu juga tetap menghormati saya KARENA SAYA INI ADIK KANDUNG IBU KAMU!" teriak Meri sangat marah di akhir kata nya sembari menunjuk diri nya sendiri dan menunjuk Mukti.  "BAGAIMANA AKU BISA MENGHORMATI TANTE SEDANGKAN TANTE NGGAK BISA MEMBERI CONTOH YANG BAIK SAMA AKU?"  "Aku nggak salah kan?, tante selalu bermain cowok muda dan selalu mencari cowok banyak untuk nafsu tante dan selingkuh sama Om Angga!" balas Mounara marah melotot dan memajukan wajahnya melawan Meri. Mukti hanya menangis melihatnya dan terus mencoba memisahkan mereka berdua. Suami Meri hanya menangis sembari mengingat apa yang telah membuat Meri salah paham dengannya dahulu. Saat dia pergi ke sebuah seminar di salah satu hotel ternama, dia tak sengaja bertemu dengan mantan kekasihnya yang juga seorang pengusaha. Dia mengikuti seminar itu dan tak sengaja bertemu dengan Angga. Namun, saat seminar sudah berakhir. Angga dan mantan kekasihnya itu tak sengaja bertabrakan lalu Angga menangkapnya dan membuat mereka seperti sedang b******u mesra. "Astagaa, kamu nggak papa Lidia?" tanya Angga panik sembari terus mendekap Lidia. Dan saat seperti itu juga Meri datang di hadapan mereka dan melihat semua kejadian itu. Dilihatnya jelas di kedua matanya Angga sedang mendekap Lidia sangat dekat dan mesra. Betapa marahnya Meri melihat itu, Angga pun masih belum tersadar bahwa Meri ada di depannya. Meri pun menghampiri mereka dan marah. "Ohh, jadi ini kelakuan kamu saat jauh sama aku Mas?" tanya Meri marah. Angga kaget setengah mati saat Meri tiba-tiba ada di depannya. Lidia pun takut dan langsung bangun meski ia terjatuh lagi karena masih dalam keadaan begitu. "Enggak Mah ini enggak seperti yang Mamah lihat kok aku cuman nggak sengaja ketemu dia Mah," lirih Angga menjelaskan. "HALAH!! KAMU PASTI JANJIAN KAN SAMA MANTAN KAMU INI DAN MASIH BERHUBUNGAN BAIK DENGAN DIA!!!" teriak Meri marah tak terima sembari menunjuk Lidia, Lidia hanya ketakutan dan heran sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Mamah, Papah beneran nggak bohong Mah. Kami benar-benar ketemu di sini nggak sengaja dan tadi Lidia terjatuh dan aku tak sengaja juga menolongnya,"  "Iya Meri sumpah Meri aku tak sengaja bertemu dengan Angga kamu jangan salah paham ya?" HALAH!! NGGAK USAH BERALASAN KALIAN!! MAS!! SEMENTANG ANAK KITA BARU SAJA MENINGGAL DUNIA KAMU SEKARANG BEGINI YA SAMA AKU!! AKU NGGAK AKAN TERIMA MAS! AKU JUGA SEORANG PENGUSAHA TANPA MAS AKU PUN BISA!!" ucap Meri marah dengan nada mencekam, amarahnya benar-benar meledak. Angga menangis karena dia tak percaya Meri benar-benar salah paham dan menuduh dia seperti itu karena memang saat setelah anak laki-laki mereka meninggal akibat kecelakaan saat mabuk mengendarai mobil. "YA ALLAH MAH SUMPAH DEMI TUHAN AKU NGGAK SELINGKUH DARI KAMU MAH AKU NGGAK BEGITU," jawab Angga menangis sembari menarik Meri untuk percaya. Meri menghempaskan tangannya lalu mendorongnya kuat hingga Angga terjatuh Dan menunjukki dirinya dan Lidia. "AKU JUGA AKAN CARI LAKI-LAKI SEPERTI MAS!!! AKU INI PENGUSAHA MAS AKU NGGAK BERGANTUNG SAMA KAMU INGAT ITU INGAT!!!!" teriak Meri menunjuk Angga dengan amarah yang meledak-ledak, ia pun akhirnya meninggalkan Angga dan Lidia di sana tanpa rasa iba. Angga hanya bisa menangis sembari mencengkram kepalanya tanda kesal. Dia memukul lantai tak tahu harus bagaimana dan hanya bisa menangis. "Andai kamu tahu Mounara, sejak saat itulah Meri menjadi salah paham denganku dan terus mencari laki-laki lain, tapi aku tak ingin bilang kepada kamu juga keluarga mu karena aku takut akan semakin rumit," gumam Angga sembari menangis sendiri tak tahan menahan air matanya. "KAMU SUATU SAAT PASTI AKAN TAHU KENAPA TANTE BERALASAN SEPERTI ITU!!!" "ALAAHH! YAA! Aku emang nggak perlu tau soal itu. Karena itu nggak baik buat aku," pungkas Mounara marah sembari menyodorkan wajahnya melotot ke Meri. Meri membalas menatapnya sinis dan mencoba menahan amarahnya untuk menampar Mounara. Mounara terus menatapnya marah. "MERI! MOUNARA! SUDAH!! KENAPA KALIAN BEGINI!" gertak Mukti sembari terisak, ia menarik tangan Meri mencoba menjauhkannya dari Mounara. Mounara pun melotot dan terus menatap tajam ke Meri lalu berbalik pergi meninggalkan mereka. Meri melototinya sangat dendam dan marah, Mukti pun terus menatapnya sembari menggelengkan kepalanya tanda sedih. Meri hanya menatapnya heran dan terlihat kesal kepada Mukti lalu juga pergi sembari mengangkat tangannya tanda tak perduli. Semua keluarganya pun ikut tegang dan tak tau harus bagaimana karena mereka semua memang takut kepada Mukti, Mounara juga Meri. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN