Mendengar perkataan tersebut, seketika Hana terbelalak. Menatap Sabna dengan tidak percaya. Bukan karena dia meremehkan, melainkan ini suatu keputusan berat dan dengan waktu yang singkat. “Kamu beneran, Sab?” tanya Hana, memastikan. Gadis itu mengangguk seraya tersenyum, lalu memegang kedua tangan Hana dan duduk tepat di kursi yang berada di samping ranjang rumah sakit. “Gue bener-bener mau hijrah, Han. Ajari gue untuk menjadi muslimah yang taat. Selama ini, gue udah keluar jalur. Lo bisa, kan, bantu gue?” Mata Hana menghangat, seperti banyak embun menggenang di pelupuk. Dia mengangguk seraya tersenyum harus. Kemudian, memeluk Sabna dengan erat. “Aku pasti bantu kamu, Sab.” “Terima kasih,” ujar Sabna, melerai pelukan. Keduanya samasama tersenyum. Tak lama, Sabna mengeluarkan

