Sabna Datang

1224 Kata

Hana bergeming, menatap sang suami dengan penuh arti. Tampak ketulusan jelas tersirat di mata Hanan. Lekas dia menarik bibir ke samping. “Aku baik-baik saja, Mas. Kenapa, sih? Kan kamu udah lihat kondisiku, sudah membaik,” ujar Hana dengan suara yang masih lemah, tak lupa senyum terindah selalu dia sematkan di akhir kalimat. Bukan tanpa sebab dia melakukan hal itu. Dia hanya tidak ingin jika Hanya terus menerus khawatir padanya. Hanan harus bekerja, tidak mungkin jika harus terus di rumah sakit menjaga Hana, bukan? “Syukurlah. Saya ke luar dulu. Kalau ada apa-apa, pencet saja bel itu,” ucap Hanan, menunjuk beliau yang berada di atas kepala ranjang. Hana mengikuti arah tunjuk lelaki itu, lalu mengangguk pelan. Mengiyakan apa yang Hanan perintahkan. Bel itu memang dikhususkan bagi pas

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN