Perusahaan Asahi Nexus, Bryan duduk di kursi kebesarannya. Memeriksa pekerjaan yang cukup banyak, karena sudah cukup lama ia meninggalkan perusahaan. Tapi meskipun begitu, Melvin sebagai tangan kanannya di perusahaan bekerja dengan baik, sehingga ia tidak begitu sibuk.
Bryan tidak begitu suka jika terlalu lama di perusahaan, maka dari itu Bryan selalu meminta Melvin untuk mengerjakan pekerjaannya di perusahaan sebagai asisten/tangan kanannya.
“Ayah anda beberapa kali datang dan memaksa masuk ingin menemui anda, bahkan setelah diberitahu jika anda tidak ada, seakan beliau tidak percaya,” ucap Melvin memberikan laporan kejadian beberapa hari kebelakang dimana Marcel sangat ingin menemui anaknya yang sudah lama tidak berjumpa.
Bryan tersenyum tipis, mendengar laporan dari Melvin. “Dia sudah tidak sabar untuk memanfaatkanku.”
“Tuan Marcel menitip pesan agar anda segera menemuinya,” ucap Melvin kemudian.
Bryan terdiam, berpikir apakah dia harus menemui ayah kandungnya, dalam dirinya tidak ada rasa rindu untuk ingin bertemu Marcel justru ia ingin semakin menjauh. Tapi jika terus menjauh ia tidak akan pernah tahu, apa yang mereka rencanakan, dibalik keinginan mereka untuk merebut harta kekayaannya.
“Apa anda akan menemuinya?” tanya Melvin kembali karena Bryan tetap diam tidak memberikan jawaban.
“Aku harus menemuinya, untuk mendapatkan apa yang aku inginkan dan kucari!”
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya, dimana Souta memberikan informasi kegiatan Laura yang sedang melakukan perawatan bersama dengan Mery sebagai asistennya.
Bryan tersenyum, Laura mau melakukan hal yang akan membuatnya senang.
Rasa kesalnya seolah hilang ketika melihat Laura. “terus awasi, jangan sampai dia terkena masalah!” ujar Bryan memberikan pesan pada Souta.
Bryan menyimpan ponselnya dan terlihat senyum tipis di wajahnya. “Kita lihat, jalan ini akan dibawa kemana?”
***
Laura yang sedang berada di salon, atas usulan Mery jika ingin membuat Bryan menyukainya. Meski sempat ragu apa ia harus membuka hati pada Bryan yang memberinya kesempatan hidup lebih baik tapi Laura merasa harus karena ia tidak punya pilihan lain.
Tentu Laura tidak mau dijual atau bahkan diperlakukan tidak baik oleh Bryan, karena uang dua milyar yang akan sangat sulit didapatkan untuk menggantinya. Walaupun dalam hatinya ia masih meragukan Bryan yang dengan mudah ingin membuatnya menjadi istrinya. Dalam pikirannya, Laura mengira ada sesuatu yang Bryan inginkan darinya meski ia tidak tahu itu apa, karena ia menyadari satu hal dimana tidak ada pria tampan dan kaya akan rela menikahi gadis desa sepertinya.
Apapun itu, Laura harus siap dengan kemungkinan yang akan terjadi nanti.
Laura telah selesai dalam melakukan perawatannya, suasana salon yang tadinya sepi mendadak ramai, karena kedatang seorang model cantik. Salon yang memang sudah menjadi langganannya.
“Model?” gumam Laura yang terdengar oleh Mery.
“Jessica, anda mengetahuinya, Nona?” tanya Mery pada Laura.
“Tidak, aku tidak begitu tau soal model terkenal atau bahkan tidak, jika mungkin artis sinetron aku sedikit tau,” balas Laura tersenyum canggung, karena ia memang tidak begitu mengikuti hal-hal seperti itu.
Hidupnya sudah cukup sulit saat itu, tidak ada waktu untuk hal-hal dimana ia ingin mencari tahu tentang dunia model atau hal lainnya yang menurutnya tidak begitu penting.
Mery mengangguk mengerti tapi, ia tentu tahu siapa Jessica selain seorang model tapi juga wanita yang sempat ingin dijodohkan dengan Bryan. Mery tidak tahu jika sampai Laura mengetahuinya, apa yang akan terjadi setelahnya, meski pernikahan mereka belum dilandasi oleh cinta.
“Baiklah, kita pulang saja,” ujar Laura karena semua sudah selesai.
“Anda tidak ingin berbelanja?” tanya Mery memastikan.
“Tidak, barang-barangku di rumah masih banyak yang baru, untuk apa lagi berbelanja, aku tidak begitu suka, aku ingin beristirahat.” Laura terlihat lelah, meski hanya duduk dan menikmati perawatan.
Mery tersenyum dan mengikuti langkah Laura untuk keluar dari salon tersebut, tapi saat akan keluar, ia berpapasan dengan Jessica, yang terlihat tersenyum ramah padanya.
“Dia memang cantik, pasti banyak yang menyukainya,” bisik Laura pada Mery.
Mery pun tersenyum tipis, mendengar Laura yang memuji wanita yang mungkin akan menjadi saingannya. Tapi Mery tentu saja dilarang untuk memberitahu Laura.
Saat dalam perjalanan pulang, Laura berpikir satu hal yang membuatnya heran, setelah pembicaraan Bryan di malam itu. “Kau tahu sesuatu, Mery, mengapa Bryan ingin menyembunyikan status pernikahannya, jika memang pernikahan ini bukan main-main?”
“Apa dia malu padaku?” tambah Laura bertanya pada Mery.
“Bukan seperti itu,Nona. Apa Nona ingin pernikahan kalian di publikasi?” tanya Mery.
“Tidak maksudku, apa yang terjadi jika pernikahan ini diketahui banyak orang, apa Bryan seterkenal itu?” tanya Laura yang penasaran tentang Bryan.
“Ya, sangat, jika itu memang dikalangan bisnis, bahkan di Jepang,” ujar Mery.
“Jepang?” heran Laura.
“Selama ini tuan Bryan tinggal di Jepang, Nona. Jika dipublikasi saya kira anda pun akan dikenal banyak orang, apa anda siap?”
“Tidak, ok lebih baik seperti ini,” ucap Laura membuat Mery tersenyum.
“Nona, yang lebih berbahaya jika sampai musuh tuan Bryan tahu tentang Anda, itu akan membahayakan nyawa anda.” Mery berbicara dalam hatinya, mengkhawatirkan situasi terburuk yang mungkin akan terjadi.
Laura bergidik ngeri jika sampai dikenal banyak orang, ia sungguh tidak siap dengan sudut pandang mereka melihat orang desa sepertinya menikahi pria tampan dan sangat kaya.
“Mengapa pria seperti Bryan mau menikahiku, jika itu untuk menolong bukankah bisa memperkerjakan aku saja. Itu opsi terbaik bukan?” gumam Laura heran.
Mery tersenyum dan menggelengkan kepalanya, “bayangkan dua milyar, kau akan bekerja dengannya berapa lama? dan selama itu anda tidak akan bebas dengan hidup nona sendiri?”
Laura membeku mendengar perkataan Mery. Membernar hal itu, hingga ia teirngat kata Bryan akan menjual atau memperlakukan dirinya sesuka hatinya.
“Tidak, tidak, tidak ada pilihan yang baik!” ucap Laura membuat Mery tersenyum.
Bagi Laura ia terjebak di antara pilihan yang sama-sama tidak menguntungkan. Hidupnya kini berada di tangan Bryan. Tapi ia merasa lebih baik daripada harus menikahi pria yang sudah beristri dua.
Bryan sudah memperlakukannya baik, hidup mewah, bahkan memberikan kesempatan untuk membuka hati.
Pada malam hari, Bryan kini sudah berada di depan rumah yang sudah lama tidak ia datangi, rumah yang sebetulnya menjadi peninggalan ibunya tapi diambil oleh ayah dan ibu tirinya tanpa rasa malu.
Ia memasuki rumah itu dengan langkah yang tegas, hingga Marcel datang padanya ketika mendapat laporan jika anaknya datang padanya.
“Kau datang juga, dasar anak kurang ajar!”
Bryan tersenyum mendengar kalimat sambutan dari Marcel yang tidak pernah bisa bersikap ramah padanya.
“Aku kira aku akan disambut dengan kalimat yang baik, ayah merindukanmu, atau apa kau baik-baik saja?”
Bryan menggelengkan kepalanya lemah, “ekspektasi terlalu tinggi padamu, kau memang tidak pantas dipanggil ayah!”
“Sayang tenang lah kita baru bertemu dengan Bryan, jangan membuatnya kesal kembali. Bryan masuklah, kita bicara di dalam,” ujar Donita menenangkan Marcel jika tidak rencananya akan gagal.
Bryan menatap datar pada Donita yang bersikap baik padanya, rasa bencinya tidak pernah hilang meski sudah lama tidak bertemu.