“Kita emangnya mau ke mana?” tanya Adhira yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Ke mana aja, lu maunya ke mana?” Exel menghampiri kekasihnya dan mengambil handuk yang ada di tangan Adhira, kemudian ia menyuruh Adhira duduk. Exel mengeringkan rambut Adhira dengan telaten.
“Kalo gue maunya di rumah aja hehe, tapi gak papa kok kita jalan-jalan malem ini,” Adhira merasa tak enak jika harus menolak ajakan Exel, mungkin ia akan tahan dulu rasa pegalnya atau besok ia bisa meminta Renna dan Zella untuk memijatnya.
“Beneran? Kayaknya lo ga semangat gitu? Capek?” tanya Exel yang memperhatikan wajah Adhira dari kaca yang ada di depannya. Terlihat wajah Adhira yang lesu dan kantong matanya juga besar. Adhira juga terlihat menguap beberapa kali, bahkan ia juga terlihat menahan matanya agar tetap melek.
“Enggak kok, udah kering ini yuk berangkat,” Adhira mengambil alih handuk dari tangan Exel, kemudian ia menyisir rambutnya sebentar. Ia segera menarik tangan Exel untuk segera keluar dari kamar dan berangkat jalan-jalan. Namun Exel hanya diam tak bergerak.
“Kenapa?” Adhira menghadap ke arah Exel dan mengerutkan dahinya.
“Aaaa....” tubuh Adhira terangkat melayang, karena Exel yang menggendongnya tiba-tiba. Exel membawa Adhira kembali ke kamar dan menidurkannya di kasurnya. Ia memandangi wajah lelah kekasihnya, kemudian tersenyum manis.
“Tidur,” titah Exel, sembari mencegah Adhira yang akan bangun dari tempatnya.
“Tapi kan-“ ucapan Adhira terhenti ketika jari telunjuk Exel berada di bibirnya, menyuruhnya diam.
“Tadi abis kegiatan sosial kan? Capek kan? Sekarang istirahat,” ucap Exel,
“Pacarnya Exel ga boleh bandel,” Adhira baru akan membuka mulutnya untuk protes lagi, namun Exel sudah menginstruksi lagi. Jadi mau tak mau, Adhira menurut saja. Ia menarik leher Exrl untuk dipeluknya.
“Gak mau ah Dhir, Lo kalo tidur kek kuda lumping gak bisa diem,” Exel akan melepaskan tangan Adhira dari lehernya, namun Adhira buru-buru mencekik leher tersebut.
“Enak aja!!” ucap Adhira.
“Buss-set, iya ma-ap,” ucap Exel tercekat, karena cekikan Adhira yang tak main-main. Kemudian Adhira melepaskan tangannya dari leher Exel, ia pun mengecup kedua sisi leher Exel. Kemudian ia memeluknya sayang dan tidur nyaman di sana.
Exel tersenyum melihat kekasihnya yang sudah tidur nyenyak di dekapannya. Kemudian setelah di rasa Adhira sudah tertidur pulas, Exel pun menyingkirkan tangan Adhira yang membelit lehernya dengan hati-hati sekali. Ia pun beranjak pergi setelah mengecup dahi Adhira dan menyelimutinya sampai d**a. Exel mengambil bantal sofa dan meletakkannya di kasur yang ada di sebelah ranjang Adhira, kemudian Exel tertidur di sana. Ia memang tak ingin tidur satu kasur dengan Adhira bukan karena polah Adhira yang banyak saat tidur, tapi karena ia tak ingin terjadi hal yang tak diinginkan nantinya. Ia juga hanya seorang laku-laki biasa yang mempunyai nafsu, apa lagi dengan orang dia cintai.
“Xel bangun, udah pagi. Lo gak sekolah apa yak?” Adhira mencoba membangunkan Exel dengan cara menggoyang-goyangkan lengan kekar Exel. Namun si empunya ternyata tak merasa terfanggu sedikit pun, bahkan bergumam pun tidak. Adhira menempelkan tangannya di depan hidung Exel, untyk memastikan bahwa pacarnya ini masih hidup atau sudah mati.
“Huft syukurkah masih udip nih anak, kebo banget sih kalo tidur,” gumam Adhira tak jelas. Kemudian ia mencari cara lain agar bisa membangunkan kekasihnya itu dengan cepat. Apa lagi saat ini sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, yang di mana tiga puluh menit lagi bel sekolah akan masuk.