Jantungku serasa berhenti berdetak saat Zaira mengatakan kalimat itu. Gadis yang hanya terpaut 3 tahun di bawahku itu, yang di pertemuan pertama kami terkesan begitu welcome dan hangat, kini berubah drastis bak sedingin salju. Sorot mata itu juga tampak mengisyaratkan ketidak sukaan yang jelas. Tak beda jauh dengan sorot saudaranya, Zain. “Ira benar, Pa. Kalau boleh jujur, sebenarnya kami pun tak begitu sreg dengan tante Navia, entah kenapa. Tapi karena kami pikir dia adalah pilihan Papa dan mungkin Papa sangat mencintai dia, kami memilih mengalah. Tapi ini Adrianna, Pa. Maaf, kami tidak menyangka sama sekali. Bagaimana mungkin kami bisa menerima orang yang hampir sebaya dengan kami untuk menjadi isteri Papa?” Zain ikut mendukung kalimat penolakan sang adik. Aku hanya berani menelan ludah

