Keluar dari ruangan usai ujian mata kuliah kekayaan intelektual, aku memilih langsung pergi ke pelataran parkir. Aku bermaksud menunggu om Bram di sana saja. Semalam, setelah kehilangan ide untuk menghindar, aku terpaksa menyetujui saja keinginannya itu. Kalau boleh jujur, sungguh, aku sedang merasa panas-dingin sekarang. Meski sudah mantap akan berencana meninggalkan om Bram kelak, tak urung, aku tetap merasakan sensasi khas para gadis yang akan berkenalan dengan keluarga kekasihnya. Deg-degan dan khawatir, kerap menghantui sejak kemarin. Aku tak tahu apakah aku memang sesiap itu kala menyatakan setuju. Bagaimanapun, ini adalah pertemuan yang sifatnya setengah resmi. Satu tahap menuju serius yang sebenarnya. Entah, bagaimana kira-kira reaksi bunda om Bram dan anak-anaknya tentang aku.

