Tak Ingin di Panggil Om Lagi

1747 Kata

Sepanjang perjalanan pulang, aku lebih banyak terdiam. Tak henti, om Bram selalu membujuk dan membesarkan hatiku agar tak terlalu mengambil hati perkataan bundanya tadi. Mungkin, pria itu menganggap kalau sikap diamku itu karena merasa sedih dengan pembicaraan kami bersama keluarganya. Tentang sikap penolakan terselubung sang bunda serta anak-anaknya. Huh, aku tahu semua tak akan mungkin semudah itu. Tak hanya karena gap di antara kami yang memang terlalu banyak, mereka juga sudah terlanjur menganggap kalau calon om Bram adalah mama. Lalu, tiba-tiba saja, semua berubah mengagetkan dan lebih tak masuk akal. Siapa yang akan percaya seorang gadis belia yang terpaut umur sangat jauh darinya, akan memiliki keseriusan dan ketulusan tanpa sebab materi yang mengimingi? Ditambah lagi, aku ada

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN