Aku mengamati ‘kekacauan’ sisa semalam yang belum dibenahi seluruhnya oleh bik Yuyun. Jelas saja, mana sanggup wanita paruh baya itu menangani semuanya sendirian. Makanan dan minuman masih banyak yang tak tersentuh, karena pesta yang bubar tak lama setelah pembukaan dimulai. Semua masih teronggok begitu saja di meja prasmanan. Bik Yuyun hanya memilah yang bisa bertahan lama dan menyimpannya dalam kulkas. “Bibik kenapa nggak bagi-bagiin ini ke tetangga? Dari pada mubazir begini?” “Bibik takut, Mbak Dri. Nanti ibu marah.” Bik Yuyun tertunduk, mungkin merasa tak enak mendengarku yang seolah memprotesnya. “Mama mana sempat mikirin ini semua, Bik. Ya udah, kalau gitu. Apa yang tersisa bisa Bibik sedekahkan saja ke orang. Terserah sama siapa.” Aku mengambil inisiatif untuk menyuruhnya. Dari

