Bola matanya membulat seiring cengkeraman tangan mama yang mengencang pada pergelanganku. Bibir wanita itu bergerak-gerak, seolah ada berjuta kata yang berlomba akan keluar namun tak tahu harus memulai dari mana. Rona wajahnya pun semakin memerah sempurna. Aku berusaha tak meringis saat cekalan tangannya semakin ketat terasa. Bahkan kuku panjangnya ikut bermain mengoyak kulit. Sebagai anak, aku akan membiarkannya. Tapi sebagai perempuan yang menghendaki pria yang sama, aku memilih bertahan tak akan mengalah. Sampai batas ia merasakan frustasi sehingga memilih ingin mati saja. Apakah mungkin? Benarkah wanita yang hanya memikirkan materi seperti mama, masih memiliki cinta yang suci? “Kau! Teganya kau lakukan ini pada mama, Adrianna! Apa salah mama padamu? Kau bersikap seolah tak ada lelak

