Sejak malam ulang tahun mama itu, aku juga merasakan perubahan drastis kedua sahabatku. Kalau biasanya kami saling berkirim chat setiap hari bila ada kesempatan, sejak itu tidak lagi. Sendy dan Chyntia seolah kompak untuk tak memulai komunikasi apapun lagi denganku. Padahal mereka tahu mama masuk rumah sakit, namun jangankan ikut mengantar waktu itu, sekedar menanyakan kabar mama pun tidak. Aku tahu mereka kecewa. Apapun penjelasan yang kukemukakan, bagi mereka, aku tetaplah salah. Aku sendiri mencoba untuk tak terlalu menggubris, meski jujur, ada sedikit rasa sesak yang menggelayuti hati. Seharusnya sebagai sahabatku, mereka bisa memahami perasaan dan keinginanku. Namun, nyatanya mereka tak lebih dari sahabat egois yang menganggap pendapat dan penilaian mereka adalah yang terbaik, bahk

