Aku merasakan jemariku digenggam dengan sangat erat. Om Bram yang tadi pergi mengurus administrasi , menghampiri duduk menemaniku dalam ruangan. Ia melihat ke arah mama yang terbaring di brankar, lalu menghela nafas. Kami memutuskan membawa mama ke dokter karena khawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Erlangga sempat ikut, meski tante Sherly berkeras melarangnya. Namun, pria itu memilih mundur dengan wajah kecewa karena melihat om Bram yang tak henti merangkulku sejak tadi. Bagaimanapun aku menunggu peristiwa ini, aku tetap tak ingin terjadi sesuatu pada mama. Tak bisa menampik, aku memang khawatir. Sebencinya aku, mama adalah wanita yang telah merawatku lepas dari apapun tujuannya. Aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran tentang luka pengkhianatan yang tak akan mudah untuk d

