Retak?

1982 Kata

Aku hanya bisa terpaku dalam rasa tak percaya yang sayangnya memang nyata. Bagaimana mungkin om Bram bisa bersikap sedingin itu? Bagaimana mungkin … dia hanya sekedar melirik dan melewatiku begitu saja? Serbuan rasa cemas seketika saja menerjang. Alih-alih cemburu, aku malah lebih khawatir memikirkan nasib rencanaku nanti. Setelah susah payah hingga sejauh ini, apa yang harus kulakukan bila om Bram ternyata berubah pikiran? Apa dia memang type pria yang seplin-plan itu? Aku bisa mengerti kekecewaannya. Tapi bukan berarti, ia bisa seenaknya berbuat hal itu tanpa menyelesaikan dulu masalah sebelumnya. Maksudku, kalau akhirnya ia ‘sadar’ dan lebih memilih mama, bukankah seharusnya ia memutuskan hubungan kami terlebih dahulu? Apakah aku terlalu tinggi menilai om Bram selama ini? Hanya begit

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN