Kalau boleh memilih, mungkin aku lebih mengharap agar tak perlu tahu semua ini. Tentang asal-usulku yang ternyata bukanlah anak kandung mama. Kalau bisa juga, aku inginnya berharap agar rumah tangga orang tuaku tetap terjalin dengan baik dan harmonis. Kami tetap hidup dengan damai bersama hingga aku tak perlu merasakan sakit seperti ini. Sakit yang membuatku harus menyimpan dendam pada orang yang selama ini kuanggap sebagai ibu. Kalau boleh jujur, itu pun menyesakkan. Orientasiku seketika berubah, hanya menyisakan pikiran tentang bagaimana caranya membalas semua itu. Aku mungkin tak mengenal mama kandung dan tak memiliki ikatan batin apapun dengannya. Tapi mendengar kenyataan sepahit itu tentangnya, darahku serasa mendidih. Aku seolah turut merasakan luka hebat yang menimbulkan kesakitan

