Om Bram Menghindar?

1723 Kata

Perasaanku mulai tak enak. Aku yakin, om Bram tengah marah padaku. Sikap diamnya sejak tadi sangat memperjelas itu. Dan itu terasa sedikit menyentil hati. Apa lagi yang salah sekarang? Toh, bukan salahku kalau Erlangga datang menjemput dan mereka harus berdebat, kan? Diam-diam, aku meliriknya yang tengah konsentrasi menyetir. Entah kenapa, leher duda ganteng itu juga mendadak kaku. Padahal biasanya, dia paling sering menggangguku, entah mengacak rambut atau sekedar menggenggam tangan dengan sebelah jemarinya. Kali ini, ia bahkan jarang menoleh dan berlagak seserius itu fokus pada jalanan di hadapannya. Aku dikacangin. Bah! “Om kenapa, sih?” aku bertanya tanpa menoleh padanya. Namun, dari sudut mataku, aku dapat melihat pergerakan sedikit pada lehernya, meski hanya sebatas melirik spion t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN